Kamis, 03 Juli 2014

SEPATU KULIT MURAH KEREN *tugas workshop KWU 3 juli 2014

Sepatu adalah pelindung kaki disaat kita melakukan aktivitas. Sepatu adalah salah satu hal terpenting yang bisa dimiliki seseorang. Tidak sedikit  yang rela mengeluarkan uang banyak demi menambah koleksi sepatunya, bahkan ada yang sampai niat berburu ke luar kota bahkan ke luar negeri.

TIPS MEMILIH SEPATU
Ketika dicoba kaki dapat bernapas, lentur dan mengikuti bentuk kaki Anda.
Bantalan sepatu mampu menahan sentakan saat dipakai berjalan pada permukaan yang kasar.
Ketika memakai  sepatu tersebut badan dapat berdiri dengan seimban dan berjalan dengan nyaman
Sebaiknya Anda membeli sepatu pada malam hari. Mengapa begitu? Pada malam hari, kaki berada pada kondisi mengembang. Pastikan kaki Anda merasa nyaman saat mengenakan sepatu.

KESULITAN MEMILIH SEPATU, MEMESAN & MEREPARASI SEPATU KESAYANGAN ?
Terkadang kita sudah berkeliling dan berpindah dari satu toko ke toko lain tapi tidak menemukan sepatu yg pas.
IDOLA, yang beralamat di Jl. Sersan Suharmaji 239 Manisrenggo-Kota Kediri membantu anda menyediakan berbagai model sepatu kulit pria & wanita.
IDOLA, menerima pesanan sepatu kulit dengan mode sesuai pesanan.
IDOLA, juga menerima jasa reparasi sepatu kulit, sandal, jaket, maupun tas kulit.

PESAN ONLINE:
Di  IDOLA: .http//www.idola.co.org
PIN: 76BD4F6D
Fb: kipas_hapsari@yahoo.com
Atau
datang langsung ke toko sepatu IDOLA Jl. Sersan Suharmaji 239 Manisrenggo Kediri
Telp. 081 2343 5087




Sabtu, 09 Juni 2012

Lebih Kreatif Dengan Kemudahan Pendidikan Berbasis TI



Lebih Kreatif Dengan Kemudahan Pendidikan Berbasis TI
Oleh: Ratih Indri Hapsari, S.Sos

Teknologi informasi yang merupakan produk kemajuan peradaban manusia, pada perkembangannya memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mendukung proses kreativitas manusia. Kreativitas manusia modern tidak pernah terlepas dari Teknologi Informasi sebagai penunjangnya. Misalnya di dalam dunia pendidikan, sangat penting pemanfaatan teknologi dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) untuk lebih memudahkan dalam penyampaian materi agar pemahaman peserta didik bisa menjangkau sedekat mungkin dengan fakta obyektif  ilmu pengetahuan. 

Berikut ini adalah sekilas mengenai cara pembelajaran di Indonesia, yang pertama pembelajaran dengan metode konvensional, yaitu ceramah dan variasi diskusi kelas. Yang kedua, metode pembelajaran secara modern dengan menggunakan alat peraga maupun pemanfaatan teknologi informasi secara massif.

Mengapa KBM Dengan Metode Konvensional?
Mata pelajaran “Sosiologi” tingkat SMA. Di semester awal, terdapat pokok bahasan mengenai “Masyarakat Multikultural dan Konflik Sosial”. Jika pilihan proses KBM secara konvensional, maka pembelajaran yang dilakukan di kelas pada umumnya yaitu: menganalisa konsep Multikulturalisme dan konsep  Konflik Sosial. Kemudian bisa saja berdiskusi, sebagai referensi awalan diskusi adalah situasi lingkungan yang diperoleh siswa dari pengalaman sehari-hari siswa  maupun informasi yang didapatkan melalui media massa. 

Sejauh ini memang tidak adil rasanya jika KBM konvensional seperti contoh di atas  diposisikan sebagai model pembelajaran yang kuno yang sekarang juga harus dirubah. Terlebih melihat kenyataannya teknik pembelajaran konvensional tersebut masih berlaku di sekolah-sekolah yang secara teknologi belum memadai karena keterbatasan sarana dan prasarana. Misalnya, gedung sekolahnya saja mau roboh, sekolah-sekolah di daerah yang memang belum tersentuh oleh jaringan listrik. Atau, ada juga sekolah yang memiliki fasilitas Teknologi Informasi modern, tapi fasilitas tersebut  belum digunakan secara maksimal dalam KBM, hal tersebut disebabkan antara lain faktor para pendidik yang belum akrab dengan Teknologi Informasi. Memang sangat disayangkan.

Memutus Mata Rantai Ketertinggalan
Menyadari bahwa dunia begitu cepat mengalami perubahan disebabkan oleh arus globalisasi yang sedemikian pesat. Maka pendidik memiliki kapasitas yang besar dalam pendampingan menyambut era globalisasi tersebut. Atap sekolah mungkin bocor, gedung sekolah mungkin hampir roboh, sebagian dari  pendidik yang berusia lanjut mungkin tidak akrab teknologi, dan mungkin saja sekarang masih banyak daerah yang terisolasi dari terangnya jaringan listrik. Tetapi, bukanlah suatu kemustahilan bagi anak-anak dan peserta didik yang gedungnya mau roboh tersebut sudah sedemikian dekat dengan gadget modern dan internet. Suatu daerahpun tidak akan gelap tanpa listrik untuk selama-lamanya. Pasti suatu saat nanti, cepat atau lambat akan ada pembenahan menuju kesejahteraan, karena perubahan adalah keniscayaan.

Adalah tanggungjawab moral bagi pendidik yang memiliki kesiapan secara teknis dan mental dalam kemajuan teknologi informasi diharapkan bisa  pro aktif  dan semakin antusias dalam pemanfaatan Teknologi Informasi di dalam proses KBM. Tujuannya yaitu, pertama, materi yang disampaikan akan lebih variatif.  Misalnya  matapelajaran Sosiologi SMA dengan pokok bahasan “Sosialisasi” dengan sub bahasan “keluarga”. Dari pengalaman proses KBM di kelas, saya menampilkan cuplikan film yang berjudul “Just Married”( bisa dilihat di: peraga 1).  Siswa saya minta untuk menganalisa fungsi manifest (terlihat) lembaga keluarga dan fungsi latent (tersembunyi) lembaga keluarga yang tersirat dari cuplikan film tersebut maupun dari pengalaman sehari-hari siswa. Teknik KBM secara konvensional tentu tidak akan mungkin menghadirkan abstraksi nyata sebuah keluarga di ruang kelas. Kekurangan tersebut terjawab oleh kemajuan teknologi informasi. Berkat seperangkat laptop dan proyektor guru bisa menghadirkan media peraga pendidikan berupa “film”, dan hasilnya siswa sangat antusias dan tidak bosan.

Kedua, peran pendidik memiliki kapasitas mengenalkan teknologi sebagai basis pengembangan ilmu pengetahuan. Misalnya, menunjang rancang bangun arsitektur, botani planting, membuat rumusan dasar teknologi pesawat, teknik mutakhir rekayasa multimedia, dll.

Ketiga, ketika membutuhkan tambahan referensi sebagai penunjang proses KBM , maka berkat kemajuan teknologi informasi dan internet, maka pendidik bisa dengan leluasa browsing referensi maupun gambar yang dibutuhkan, tentunya dengan catatan tidak boleh lupa mengiformasikan kepada siswa alamat domain asal data tersebut didapat. Hal ini penting untuk menanamkan sikap sportif bukan plagiatif (bisa dilihat di: peraga 2).

Keempat, melalui pemanfaatan kemajuan Teknologi informasi,  pendidik dan peserta didik  bisa lebih intens berdiskusi dalam konteks dunia akademis. Misalnya, melalui jejaring sosial  facebook, twitter, blogger, dll. 

Kelima, pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan juga bisa mengurangi bahaya global warming secara efektif.  Misalnya, membiasakan mengumpulkan tugas makalah melalui email. Bisa dibayangkan, jika tugas-tugas tidak lagi ditulis di kertas, berapa banyak pohon yang terselamatkan. Selain itu kelebihan membiasakan mengerjakan tugas menggunakan perangkat teknologi modern akan memberi jalan bagi peserta didik untuk meng-upload  dan menyebarluarkan karya ilmiahnya. Efeknya, betapa ramainya iklim ilmiah, siswa perlahan juga tidak akan malu-malu untuk ikut dalam berbagai perlombaan. Apalagi informasi mengenai lomba, beasiswa, festival menulis sangat erat dengan sistem informasi internet,  jadi dengan demikian tidak ada lagi ketertinggalan informasi.  

Keenam, manfaat secara budaya. Apabila pendidik bersama-sama dengan konsisten menggunakan perangkat teknologi informasi secara efektif dalam proses pembelajaran, maka secara perlahan akan terkonstruk di dalam pikiran siswa bahwa pemanfaatan teknologi erat kaitannya dengan proses kreatif yang produktif. Dengan demikian, penyalahgunaan teknologi di kalangan pelajar akan berkurang. Karena di mindset  peserta didik sudah lebih tertata mengenai pemanfaatan kemajuan teknologi informasi secara cerdas dan terarah.** 


Tulisan ini disertakan dalam lomba penulisan artikel guru di Guraru: http://www.guraru.org/news/2012/05/09/499/lomba_penulisan_artikel_guraru_quotpemanfaatan_teknologi_untuk_ruang_kelas_yang_kreatif.html

Tema “Pemanfaatan Teknologi Untuk Pendidikan”


 



Sabtu, 21 April 2012

Mewarisi Fisafat Hidup Kartini

 “… Aku sangat bangga, Stella, disebut satu nafas dengan rakyatku ”.
( surat Kartini kepada Stella, pada 17 Mei 1902)

Mengenang kembali sosok Kartini, berarti mengingat kembali riwayat mengharukan mengenai perempuan muslim yang taat, seorang  pribumi berdarah biru yang hidup ketika Indonesia dalam cengkraman kolonialisme Hidia-Belanda. Kartini, pada dekade itu adalah seorang perempuan pejuang sekaligus pelopor pembebasan yang konsisten. Terbukti, sepanjang hidupnya, semenjak usianya belasan tahun hingga kematian menjemput, tanpa henti dan tak pernah menyerah terus bergelut dalam aktivitas perjuangan untuk kemajuan masyarakat. Begitu gigihnya Kartini mengajari membaca dan menulis para perempuan, sedangkan Ia sendiri, pada masa itu dihadapkan pada lingkungan yang sangat kental dengan feodalisme. Dimana perempuan dikondisikan hanya berkutat pada sektor domestik.
Dulu tidaklah mudah, bahkan bagi seorang Kartini sekalipun untuk memulai suasana kelas yang diidam-idamkan. Banyak sekali rintangan dan sabotase. Selain dilarang  keras oleh pemerintah Hindia Belanda, antara lain halangan tersebut berasal justru dari ayahnya sendiri_seorang yang sangat Kartini hormati dan cintai. Penghalang tersebut kian nyata ketika Kartini dijodohkan dengan seorang Bupati. Kartini menuruti saran sang Ayah untuk menikah di usia muda, dan dalam kondisi psikologis yang penuh angan tentang pembebasan.
Kartini paska menikah, hidupnya relatif nyaman dan serba tercukupi. Namun, diakuinya tidurnya tak pernah nyenyak. Karena, ketika semakin banyak Ia berdialog dengan rakyat semakin berkembang kesadarannya tentang cita-cita pembebasan. Kartini menyadari realitas kehidupan disekitarnya semakin rapuh. Itulah yang membangkitkan jiwa dan semangat Kartini menjadi bertambah kokoh, tekat semakin bulat dan cita-cita mengenai pendidikan untuk pembebasan tidak boleh ditunda-tunda.
Tentu kesadaran yang dimiliki Kartini adalah kesadaran tertinggi. Meskipun status sosialnya mapan namun tidak lantas menutup mata terhadap kondisi objektif masyarakat yang masih tertindas. Sikap Kartini jelas sungguh berbeda dengan kisah pejuang dan aktivis paska kolonial. Misalnya, aktivis di era roformasi_meskipun tidak semuanya. Aktivis yang sebelumnya sangat garang memprotes pemerintahan otoriter Orba, setelah menduduki posisi yang mapan di salah satu partai politik atau lembaga pemerintahan, kini justru menjadi tumpul kesadaran kritis dan macet sentimen kerakyatan, alias tidak berkutik.Aktivis kacangan” tersebut jelas masih jauh dari standart capaian kesadaran Kartini, yang notabene bangsawan/berdarah biru namun tidak menduplikasi mentalitas dan kesadaran orang yang menindas mereka. Kartini justru memilih menjadi pendidik, sebab salah satu misi dan tugas pendidikan adalah bagaimana membebaskan alam pikir kaum tertindas dari kekaguman terhadap kaum penindas, yang terkadang itu terjadi tanpa disadari.

Memang kondisi pendidikan untuk mayoritas rakyat pribumi pada waktu itu,  jelas jauh berbeda dari situasi pendidikan di era sekarang, dimana lembaga pendidikan menjamur dan tidak ada lagi hambatan yang cukup signifikan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan.
Namun ironis, pendidikan yang dulu merupakan barang langka yang mencatatkan proses sejarah panjang dan melelahkan untuk mencapai tahapan yang lebih maju, kini kondisi pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan dan carut marut. Pendidikan, kini adalah komoditas instan semata-mata untuk mendapatkan ijasah dan pengetahuan dianggap seperti “barang jadi” yang siap ditelan peserta didik tanpa melalui proses seleksi dan refleksi bersama. Padahal manusia memiliki kapasitasnya untuk berfikir. Kapasitas inilah yang memungkinkan mereka terlibat di dunia dengan maksud dan tujuan yang jelas. Kapasitas reflektif membuat manusia mampu menjaga jarak dengan dunia dan mampu untuk memberi makna kepada dunia serta memungkinkan manusia untuk reserve. Kapasitas berfikir membuat manusia mampu memproblematisasi kontradiksi-kontradiksi yang terjadi dalam realitas kehidupan dan bagaimana mengubahnya. Mereka juga mampu menamai dan mengubah dunia lewat bahasa-pikirannya untuk menciptakan sejarah masa depan.
Perlu diketahui, Kartini tidaklah pernah berpendapat negatif mengenai peran domestik yang diemban oleh perempuan. Justru Kartini ingin menambah kapasitas perempuan pribumi dibidang pengelolaan rumahtangga, ketrampilan, kesenian, emansipasi, pengetahuan politik melalui tatacara filsafat pendidikan kritis. Pendidikan adalah sarana penting yang dijadikan alat oleh Kartini untuk mentransformasikan pengetahuan objektif yang bertujuan mengubah situasi penjajahan dan feodalisme menuju pembebasan dan egaliter. Oleh karena itu penting pendidikan kritis berbasis pada keadilan dan kesetaraan. Melalui pendidikan yang tidak hanya berkutat pada pertanyaan seputar sekolah, kurikulum, tapi juga mewacanakan tentang keadilan sosial dan kesetaraan.
Kartini melihat masyarakat Jawa adalah masyarakat yang kental hierarki, namun belum memiliki konsep utuh mengenai hak dan kemanusiaan. Mayarakat pribumi dan jumlahnya mayoritas justru berada di kasta paling rendah, di atasnya adalah kaum bangsawan dan golongan timur jauh (Cina, Arab), sedangkan posisi puncak kasta adalah bangsa Eropa. Itu artinya ada kesalahan dan penderitaan rakyat yang diakibatkan dari sistem pranata tersebut.
Pergumulan Kartini dengan aktivis dan intelektual asal Eropa sangat mempengaruhi cara pandang Kartini, opini tersebut menjadi dominan disebabkan terbit sebuah buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang merupakan kumpulan surat Kartini kepada sahabatnya yang berasal dari Eropa. Hal itulah yang kemudian memunculkan “prasangka” oleh beberapa pihak. Antara lain, label bahwa emansipasi Kartini terlalu barat, tidak cocok jika diadopsi oleh bangsa Indonesia. Jika ditelusuri dengan teliti, prasangka tersebut hanyalah upaya kelompok patriarkal yang memiliki destinasi penghancuran semangat emansipasi di Indonesia.
Kartini bukanlah seorang yang menelan mentah sebuah cara pandang tanpa merefleksikan terlebih dahulu.  Proses refleksi penting untuk dilakukan merupakan akulturasi ajaran budaya Jawa dengan budaya Hindu Budha. Yaitu, cara pandang dalam mencari kebenaran tidak semata demi kebenaran.  Agar manusia terhindar dari keinginan yang menimbulkan penderitaan, maka manusia perlu meningkatkan pengetahuan dan menyadari adanya berbagai ilusi serta cara menghindarinya. Untuk dapat menghilangkan ilusi dan ketidaktahuan, pertama-tama manusia harus meluruskan pengertian tentang kenyataan.
Dengan pengetahuannya tentang kenyataan, ia kan menyadari hal- hal apa saja yang merupakan ilusi dan hal-hal apa yang merupakan kebaikan kebenaran. Pemahaman Kartini terhadap pengetahuan membutuhkan keseluruhan diri manusia, baik pikiran, perasaan, dan tindakan. Dalam hal ini termasuk pemikiran filosofis, pemurnian seluruh hidup, dan aktivitas kontemplasi sehingga tindakan perjuangan tidak menjauh dari kontradiksi masyarakat, namun bisa menjawab keresahan itu dan merubahnya menuju situasi yang lebih baik. Selain itu Kartini menginginkan emansipasi yang dilakukan perempuan sangat penting, namun tidak benar jika cita-cita emansipasi perempuan adalah menjadi seperti laki-laki borjuis atau terlibat penindasan yang tamak. 

Penulis: Ratih Indri Hapsari (kipas_hapsari@yahoo.com)

Rabu, 29 Februari 2012

Internet Menyehatkan Pelajar Indonesia

Pengaruh kemajuan teknologi terhadap pelajar harus diakui melebihi apa pun, bahkan lembaga keluarga maupun lembaga pendidikan. Meskipun banyak kasus yang menimpa pelajar yang menunjukkan penyalahgunaan kemajuan teknologi komunikasi sehingga membawa dampak terburuk bagi tingkah laku pelajar dalam lembaga pendidikan (sekolah).

Memang dengan kecanggihan teknologi, kini prosedur berinteraksi tidak harus face to face atau kontak langsung. Berinteraksi eksklusif maupun kolektif seiring perkembangan zaman mulai difasilitasi oleh gadget yang mudah dan murah. Mau sekedar bergosip, tertawa, menangis, berdiskusi, jatuh cinta, bahkan loe-gue end (putus cinta) bisa saja terjadi meskipun tanpa melalui kontak langsung.

Fenomenanya sudah sampai pada tahapan menjadi sistem budaya. Kalangan pelajar memang memiliki ketergantungan kuat terhadap internet, terutama sebagai sarana tampil di dunia maya. Bagi sebagian besar kalangan pelajar, berselancar di dunia maya sangat penting, disamping berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang riil. Menjadi populer dan sempurna di dunia maya adalah prioritas, selain tentunya diimbangi berkompetisi dan berorganisasi secara nyata.

Keniscayaannya, teknologi semakin mendekatkan kesadaran pelajar akan pentingnya budaya literatif. Budaya literatif adalah nuansa antusiasisme membaca dan kemampuan menuangkan ide baru dalam bentuk tulisan ilmiah. Membaca adalah aktivitas penting untuk dilakukan siapapun terutama oleh kalangan pelajar. Karena pelajar adalah generasi yang memikul tanggung jawab besar sebagai penentu arah kemajuan bangsa dan bertanggung jawab terhadap nasib yang menimpa masyarakat luas. Membaca berita, artikel, esai, karya sastra, buku melalui internet kini adalah kewajaran, seiring kemajuan teknologi dan akses internet yang mudah sekali dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia pada umumnya.

Semoga dengan banyak membaca, pengetahuan akan semakin luas dan akan memacu pelajar untuk lebih kreatif, inovatif. Selain itu budaya literatif akan membentuk karakter yang lebih matang dan kontempelatif. Menghalangi dan melarang para pelajar tidak menyentuh gadget canggih dengan alasan untuk mencegah akibat-akibat buruknya bukanlah pemecahan jangka panjang, justru sebaliknya hal tersebut tergolong pemasungan. Lebih rasional jika kalangan pendidik bersedia terjun langsung memantau perkembangan kalangan siswa dalam kaitannya dengan kemajuan teknologi. Misalnya, sekolah menyediakan pelanyanan dan memperbolehkan penggunaan internet, namun memblokir situs yang dapat merusak iklim akademis. Pendidik dan siswa bergabung dalam jejaring sosial, sehingga bisa lebih intens dalam berdikusi persoalan seputar pelajaran, cara lainnya yaitu membiasakan menyelesaikan tugas sekolah dan mengirimnya melalui email.

Tugas yang dikirim melalui pesan elektronik memiliki beberapa kelebihan, selain lebih modern, efektif waktu, juga akan menghemat kertas. Penghematan kertas sangat penting mengingat ancaman global warming. Dengan metode dan cara pandang demikian mudah-mudahan ada  kemajuan di kalangan pelajar dalam menghadapi kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi adalah tantangan dan ujian bagi kita semua. ****


Ratih Indri Hapsari; Mengajar di SMA Kertanegara Kediri & SMK Bhakti Indonesia Medika Kediri; Pengamat pop culture; (menetap di: kipas_hapsari@yahoo.com)
*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Writing Competition: Eksis Dengan Internet yang diselenggarakan oleh Dunia Axis (http://duniaaxis.co.id/)

Minggu, 19 Februari 2012

Menjemput Manusia Kecil

Tentang berita anak kecil..belum belasan tahun. Tapi dia punya ide dan melakukan penusukan terhadap temannya sendiri. Penyebabnya ha-pe. . Yah! Penyebabnya telpon genggam.Ironi. Dan setiap pertemuanku dengan anak2ku..aku semakin ngeri tehadap kenyataan di sekitarku. Anak-anak sekarang: lebih penting membawa HP daripada membawa otak. Ketika membawa HP, keliatannya seringkali mereka seperti tidak membawa otak kreatif. Oooooohhh! Tak bisakah manusia manusia kecil yang lucu dan enerjik itu sekaligus membawa otak dan HP???? Tak bisakah??? Seharusnya bisa.

Kamis, 11 Maret 2010

Suatu Ketika

Sebagai seorang yang religius bangun di pagi hari menjelang subuh itu adalah yang biasa, tapi seorang yang bangun pagi dan dia tidak religius, bahkan tidak shalat itu baru luar biasa.

Aku bertanya-tanya apa gerangan yang akan ia kerjakan sehingga bangun terburu-buru. Ternyata dia tidak tergesa-gesa untuk keluar rumah dan mencari uang, bukan itu, dia dengan santai malah menyapu rumah, membuka jendela sehingga udara pagi yang sejuk masuk ruangan menggantikan udara pengap semalaman di ruangan yang tertututup. Lalu, setelah selesai dia melangkang ke kamar mandi dan jebar-jebur memperlakukan tubuhnya untuk kedinginan yang menyegarkan. Setelah itu barulah dia akan membaca koran, dua koran dia lahap dalam waktu kurang lebih satu jam, bergantian membacanya dengan kawan-kawan lainnya termasuk aku.

Untuk kawan2 jalanan yang telah "meninggal", terimakasih pelajaran bangun pagi. Semalam aku bermimpi tentang kalian..

Minggu, 19 April 2009

Cerpen Lagi: Keputusan

KEPUTUSAN
(Dulu, Kartini meninggal karena pendarahan setelah melahirkan)

Sengaja kucecerkan, di kasur, di lantai, di kamar mandi, di tembok, kemudian kubungkus kau sebagian dan kubuang ke kali di belakang rumah.

Terkadang aku ingin terlihat gila, berteriak-teriak melengking hingga tenggorokanku kelu, menangis tersedu hingga mataku bengap dan syaraf-syaraf di sekitar mata terasa sakit dan berdenyut, aku selalu ingin bersedih hingga dadaku kram dan tulang punggungku terasa kaku, atau menjambak rambutku sendiri hingga kulit kepalaku semakin terlihat botak.

Lalu aku akan berjalan mengelilingi rumah, mengelilingi kampung, mengelilingi kota dan menyinggahi pantai jika aku merasa kehausan. Tapi aneh pantai pun berubah berwarna merah, ombak berbuih merah, dan ikan-ikan semakin besar saja badannya.

Aku suka membuat orang-orang berkerudung itu marah dengan caraku sendiri, mereka menyebutku perempuan gila, ketika aku cecerkan juga sebagian di lantai masjid.
Aku ingin semua tahu bahwa aku masih merah, aku masih menstruasi bulan ini, Meskipun sebulan yang lalu, malam itu di ujung gang buntu aku diperkosa oleh bajingan jalanan yang kotor.
Entah, mereka berjumlah empat atau lima orang lelaki bangsat. Aku memang perempuan yang pernah diperkosa dan semua boleh mencapku sebagai sosok hina. Sedangkan empat atau lima begundal itu adalah orang-orang yang gagah, mereka berhasil menggagahiku dengan cara binatang yang gagah (ah, meskipun gagah kalau binatang apa bagusnya?).

Lagi.
Sengaja kucecerkan, di kasur, di lantai, di kamar mandi, di tembok, kemudian kubungkus kau sebagian dan kubuang ke kali di belakang rumah.

Terkadang aku ingin terlihat gila, berteriak-teriak melengking hingga tenggorokanku kelu, menangis tersedu hingga mataku bengap dan syaraf-syaraf di sekitar mata terasa sakit dan berdenyut, aku selalu ingin bersedih hingga dadaku kram dan tulang punggungku terasa kaku, atau menjambak rambutku sendiri hingga kulit kepalaku semakin terlihat botak.

Lalu aku akan berjalan mengelilingi rumah, mengelilingi kampung, mengelilingi kota dan menyinggahi pantai jika aku merasa kehausan. Tapi aneh pantai pun berubah berwarna merah, ombak berbuih merah, dan ikan-ikan semakin besar saja badannya.
Aku suka membuat orang-orang berkerudung itu marah dengan caraku sendiri, mereka menyebutku perempuan gila, ketika aku cecerkan juga sebagian di lantai masjid.

Aku ingin semua tahu bahwa aku masih merah, aku masih menstruasi bulan ini, Meskipun sebulan yang lalu, malam itu di ujung gang buntu aku diperkosa oleh bajingan jalanan yang kotor. Tapi hari ini akan kubuktikan pada orang-orang itu, aku yang akan menentukan bayi-bayi yang (tidak) berbapak pemerkosa tidak akan pernah menempel pada rahimku, tidak akan pernah keluar melalui kelaminku. Aku yang menentukannya, bukan pemerkosa yang tidak tahu diri itu, atau perempuan-perempuan berkerudung yang fanatiknya mencapai titik khayalan. Ini adalah keputusanku, keputusan perempuan korban perkosaan, yang meskipun tidak memutuskan apapun, aku telah dicap hina. Kali ini biarkan aku menentukan bahwa akulah yang berkehendak hina, bukan dipaksa untuk menjadi hina.


Tuk Luhpari(ku)
01.15 (12/04/09)

Senin, 10 November 2008

OPINI

Mencari Pemimpin Berjiwa Pahlawan
Oleh: Ratih Indri Hapsari*

Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat yang baru disambut dengan euforia oleh mayoritas masyarakat Amerika Serikat. Kemenangan Obama yang mewakili partai demokrat tersebut diharapkan membawa angin segar perubahan dimana pada saat ini dunia tengah mengalami krisis ekonomi global dengan titik episentrumnya di Amerika Serikat (AS). Ketika hasil penghitungan selesai dan dinyatakan Obama unggul atas McCain, maka seketika para pendukung Obama merayakannya dengan penuh suka cita. Di Indonesia sendiri, proses pergantian presiden AS menyita perhatian berbagai pihak. Pemberitaan di TV terus menerus mengupas latar belakang sejarah hidup Obama, perjalanan karier politiknya, kehidupan pribadinya, termasuk ketika Obama kecil pernah tinggal selama kurang lebih empat tahun di Indonesia. Di Indonesia juga terdapat beberapa kelompok pendukung Obama, selain kawan-kawan kecil Obama semasa tinggal di Indonesia, bahkan artis-artis Indonesia yang pernah tinggal di AS, maupun yang—hanya sekedar—bersuamikan orang Amerika juga ikut hiruk pikuk berkumpul, sengaja membuat pesta kecil dengan balon-balon berwarna-warni untuk merayakan kemenangan Obama. Memang tidak sedikit penduduk Indonesia yang sangat mengharapkan Obama menjadi presiden baru Amerika. Ketika ditanya apa alasannya mendukung Obama sebagai Presiden Amerika yang baru, rata-rata mereka menjawab, mengharapkan perubahan baru yang lebih baik untuk Amerika dan dunia, khususnya Indonesia.Fakta tersebut memang secara logika sedikit ganjil, apalagi ketika kita menenggok kondisi perpolitikan di tanah air yang dalam waktu yang tidak jauh berbeda juga sedang berlangsung agenda politik Pilgub. Tapi sangat berkebalikan, antusiasme spontan rakyat justru serentak terfokus pada agenda politik luar negeri yang secara tidak langsung tidak berpengaruh pada perbaikan kehidupan, sedangkan pada event pilgub dalam negeri justru kering. Hal tersebut terbukti dari kemenangan angka golput di berbagai daerah pemilihan gubernur di beberapa provinsi di tanah air. Contoh yang terakhir adalah Pilgub di Jawa Timur (Jatim) yang keberlangsungannya bersamaan dengan pemilihan presiden AS. Estimasi pemilih pada Pilgub Jatim hanya sekitar 55% yang memilih, sedang 40 % lebih penduduk yang terdaftar sebagai calon pemilih tidak menggunakan hak suaranya. Hal tersebut menunjukkan angka apatisme rakyat semakin meluas terhadap agenda pemilihan (dan politik)di tanah air, sedangkan kemeriahan yang ditunjukkan oleh rakyat Indonesia dalam merespon pemimpin baru di negara lain justru lebih spontan, seolah agenda tersebut sangat mempengaruhi keseharian mereka.

Krisis Kepemimpinan di Tanah Air
Pemilu di Indonesia merupakan agenda besar, terlebih karena menelan biaya yang sangat besar (bahkan konon kabarnya, bila dihitung ongkos kampanye pilgub Jatim lebih besar daripada ongkos kampanye pemilihan presiden AS). Orasi dan kampanye politik calon elite melalui pemasangan iklan di TV, memasang spanduk, dan baliho gambar ternyata bukan agenda yang besar menurut rakyat meskipun hal tersebut jelas menelan anggaran besar. Pilgub yang tidak lain memilih calon gubernur di daerah sendiri ternyata bukanlah hal penting bagi masyarakat, mereka juga tidak antusias, bahkan cenderung acuh dan meremehkan kesungguhan calon-calon pemimpin rakyat tersebut.Ketika angka apatisme rakyat terhadap pemilu semakin signifikan, apakah pilihan untuk tidak memilih adalah kesalahan?. Sering sekali kita mendengar statement, bahwa golput (golongan putih) berarti tidak nasionalis, tidak cerdas, dan menyiakan anggaran pemilu yang begitu besar, tidak memilih berarti tidak menyukai perubahan menuju kondisi lebih baik. Demikianlah seringkali golput dijustifikasi sebagai sebuah sikap yang tidak bertanggungjawab. Padahal seharusnya bila ingin mengerti psikososial massa rakyat pemilih, kurang pas bila sekedar menyalahkan dan menyalahkan, tetapi bertanya mengapa hal tersebut bisa terjadi adalah langkah terbijak untuk mengevaluasi mengapa begitu banyak angka golput, dengan mempertanyakan diharapkan nantinya ditemukan sebuah formula solusi yang tepat.

Pemimpin Baru = Pahlawan Baru
Membincangkan calon pemimpin, sama halnya membicarakan pahlawan baru yang diharapkan bisa menjadi patner rakyat menuju kepada peri kehidupan yang maju dan sejahtera. Pahlawan yang ditunggu rakyat bukanlah pahlawan yang hanya pandai berorasi, namun tidak memiliki visi konkrit. Pahlawan yang dirindukan rakyat bukanlah sekedar soal umur, jenis kelamin, maupun ras. Jenis pahlawan baru yang kompeten menjadi pemimpin baru, adalah pahlawan yang mau memberikan gambaran besar perubahan dan mampu mewujudkannya secepatnya, karena rakyat bosan menunggu janji-janji kosong. Rakyat butuh kehidupan yang terbaik, bukan kaos bergambar partai atau iklan-iklan calon pemimpin.

Selasa, 28 Oktober 2008


"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa
dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia"

(Kahlil Gibran: Cinta, Keindahan, Kesunyian. Page: 270)

Sabtu, 27 September 2008

BUANG KE TONG SAMPAH SEKARANG JUGA RANCANGAN RUU APP !!

MENOLAK RUU TENTANG PORNOGRAFI & REVISINYA !!

RUU APP = TERROR BESAR TERHADAP BERBEDAAN

NEGARA & HUKUM TIDAK BOLEH DIJADIKAN ALAT OLEH PERATURAN AGAMA TERTENTU

RUU APP ADALAH PENYANGKALAN NYATA TERHADAP FAKTA KONDISI LATAR BELAKANG SOSIAL, BUDAYA dan TRADISI MASYARAKAT YANG BERBEDA

RUU APP = MEMBERI PELUANG DOMINASI MAYORITAS TERHADAP MINORITAS


RUU APP = PELANGGARAN HAM BERAT

Sabtu, 12 Juli 2008

Catatan

Harapan dan masukan korban 65-66 di ...., catatan hasil diskusi korban 65 yang diadakan pada tanggal 8 Juli 2008


Harapan untuk Indonesia:

  1. Melaksanakan pancasila dan UUD 1945 secara konsisten
  2. Adanya pelurusan sejarah Indonesia
  3. Adanya pemulihan hukum dan nama baik karena korban merasa tidak pernah ada proses pengadilan pada saat mereka ditahan dan dibantai
  4. Jangan pernah ada diskriminasi baik hak sipol maupun ekosob terhadap para korban 65
  5. Adanya Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi

Harapan dan masukan korban tragedi 65

1. Tindakan tahun 1965 bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945

2. Pembunuhan ,massal tahun 1965-1966 dalah bukan perang agama dan perang kelompok, tetapi tragedi politik1965 adalah sebuah proses kudeta Suharto terhadap Soekarno dan pembunuhan massal 65-66 adalah imbas dari kudeta Suharto tersebut

3. Semua yang terlibat pada peristiwa 65 adalah korban dari sebuah arus konspirasi politik besar yang melibatkan berbagai kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar negeri (CIA, Suharto Militer/ Angkatan Darat)

4. Yang disayangkan adalah kenapa kelompok-kelompok agama ikut dalam arus jahat yang terjadi pada waktu itu

5. Kekuatan-kekuatan besar pada waktu itu adalah kelompok yang mengkhianati Pancasila

6. Tidak dirasakan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang terjadi pada tahun 1965 adalah suatu proses pembunuhan dari Pancasila yang merupakan teori-teori dari Soekarno mengingat pada waktu itu adanya proses pembantaian massal selalu menggunakan alasan adalah untuk menyelamatkan Pancasila tetapi justru setelah tahun 1965 Pancasila malah tidak dilaksanakan lagi secara murni dan lurus

7. Dalam usutan tahun 1965 ada pertanyaan “masuk sukarelawan apa tidak?”, ternyata yang di habiskan terlebih dahulu pada waktu itu adalah kelompok sukarelawan (Trikora,Dwikora) dan juga aktivis-aktivis 45

8. Peristiwa tahun 1965 membunuh demokrasi, Pancasila dan UUD 1945, militer adalah pelaku utama dari perbuatan ini

9. Pasca tahun 1965 terjadi berbagai proses demoralisasi keimanan dan kebudayaan nasional, contoh maraknya diskotik, narkoba dll sebagai akibat dari masuknya berbagai budaya barat tanpa ada batas

10. Kejadian tahun 1965-1966 bertentangan dengan nilai-nilai agama yang selalu mengajarkan cinta kasih

11. untuk saat ini Indonesia harus memperkuat kebudayaan nasional dan dalam hal perekonomian harus dimiliki dan dikerjakan oleh bangsa Indonesia sendiri

12. PKI tidak pernah berontak terhadap republik, PKI hanya pernah berontak terhadap kolonialisme Belanda

13. Harus ada berbagai kesaksian-kesaksian sejarah baik dari pihak yang kalah maupun dari pihak yang menang, hal ini berguna untuk pelurusan sejarah dan membongkar konspirasi besar mengenai GESTOK

14. Kenapa pada waktu itu Soekarno yang menurut tuduhan Suharto akan dikudeta oleh PKI akhirnya ikut ditahan dan dihabisi??, berarti ada pihak-pihak ketiga yang akan melakukan Kudeta secara halus terhadap kepemimpinan nasional dibawah Presiden Soekarno

15. Disinyalir ada berbagai kekuatan-kekuatan yang menyusup ditubuh NU sehingga NU kemudian berbalik memukul PKI, padahal NU sendiri adalah kawan baik di dalam kekuatan Front Nasional

16. Buku-buku sejarah perlu diperbanyak dan perlu ada banyak data-data dari luar negeri (contoh Buku karya John Roosa), karena berbagai sumber-sumber dari dalam negeri sendiri banyak memakai teori-teori dari kelompok-kelompok yang menang pada waktu itu yang akhirnya menindak dan menghancurkan PKI

17. Ada banyak praktek-praktek kerja paksa yang dilakukan terhadap para tahanan politik mulai dari penjara Nusakambangan sampai kamp-kamp di Pulau Buru

Selasa, 01 Juli 2008

Baru tahu loh!

Jarang ngenet, baru tahu klo ada tulisanku yang dimuat Batam Post:http://kepritoday.com/content/view/10147/36/
Semoga bermanfaat bagi khalayak banyak. Amin

Rabu, 25 Juni 2008

Mendesak

Sampai mati: Tolak Kenaikan Harga BBM..!!!
Usut tuntas kematian Maftuh Fauzi, kalau berani jangan pake isu picik & Moralis. kena AIDS?! Otak Pemerintah yang kena AIDS, awas menular ke masyarakat!!

Coretan

Politik Perempuan dan Pemilu
Oleh: Ratih Indri Hapsari

Ada sesuatu yang baru pada pilgup Jateng yang belum lama usai. Bibit-Rustri menang telak—meski angka golput tidak boleh dibaaikan—dari pasangan cagup lain. Rupanya sosok perempuan kembali menjadi tumpuan kepercayaan rakyat. Jika ingin hidup tentram, maka serahkan semuanya pada ibu, sehingga muncul semboyan vote for women di kalangan masyarakat konstituen. Bahkan Megawati, mantan presiden perempuan pertama RI, terang-terangnya ingin dipanggil ‘mama’ oleh massa pedukungnya.
Di negara lain, sosok perempuan seperti Aung San Suu Kyi, Vandana Shiva dll, adalah sosok perempuan kuat yang menjadi inspirassi perlawanan terhadap kekurangajaran militer dan ekspansi borjuis kapitalis.
Di Indonesia, pada situasi yang tidak menentu seperti sekarang ini, dimana masyarakat kesulitan beradaptasi dengan kenaikan harga minyak, rakyat yang tidak nyenyak tidur karena takut di PHK, was-was akan lonjakan harga sembako, apalah yang paling menenangkan selain mengadu pada ibu, dan merajuk dipangkuannya. Seperti layaknya masa-masa balita—sebuah fase yang dialami seluruh manusia. Dimana sosok ibu adalah sosok yang tenang, pengasih, selalu membela, dan menjaga maka demikianlah keunggulan karakter perempuan dalam memenangkan posisi kepemimpinan di hati rakyat.
Mengenai teori psikologis tersebut menurut Erich Fromm pada manuskrip yang berjudul "Cinta, Seksualitas, dan Matriarki". Menurutnya, perempuan secara seksualitas memiliki fungsi reproduksi melahirkan anak. Sehingga perempuan lebih dahulu belajar menebarkan cinta dan kasih sayang terhadap makhluk melampaui batas ego, dan menggunakan kelebihan yang dimilikinya untuk memperbaiki eksistensi orang lain. Cinta, perhatian, tanggung jawab terhadap sesama merupakan dunia seorang ibu. Kasih ibu adalah benih yang tumbuh di setiap cinta altruisme. Bahkan lebih dari itu, kasih ibu adalah dasar bagi perkembangan humanisme universal.
Selain karena melahirkan, potensi kepekaan perempuan akan cinta juga disebabkan oleh pengalaman psikologis, terutama karena kodrat tubuhnya, menstruasi yang membuat perempuan menahan sakit hampir sepanjang hidupnya setiap bulan. Pengalaman merasakan realitas material tersebut membuat perempuan begitu tanggap akan rasa sakit dan peka untuk merasakan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Perasaannya terlatih untuk merasa. Demikian juga, pikirannya begitu peka dan teliti dalam merespon realitas.
Sayang sekali, potensi psikologis tersebut dalam kurun sejarah tidak didukung oleh syarat-syarat material yang kondusif. Seiring dengan terjadinya perubahan menuju hubungan produksi yang eksploitatif, ternyata perempuan tergeser dari posisi produktifnya menuju ke ranah domestik atau peran-peran yang sempit. Pada hal seandainya perempuan diberikan posisi sebagai pemimpin atau tokoh publik, mungkin kemampuan hati dan otaknya akan sangat berguna. Kodrat alam dijungkirbalikkan dan, sayangnya, citra ibu yang peka akan kasih sayang tersebut telah terdistorsi oleh masyarakat yang narsis dan herois. Citra yang dilekatkan pada perempuan adalah manusia yang sentimental, lemah, dan posesif, serta stereotip negatif lainnya.
Perkembangan psikososial manusia dalam masyarakat kapitalis. Kapitalisme sebagai penyebab dari penjungkirbalikan citra perempuan tersebut, yaitu menempatkan perempuan sebagai objek pemuas dan jenis kelamin kedua (second sex) dengan menekan upah buruh perempuan atau mengeksploitasi tubuhnya di bagi pasar kecantikan, di sisi lain roda kapitalisme merujuk sistem matriarki dalam memasarkan produknya. Misalnya, kini manusia dininabobokan oleh TV, atau antar individu dilengkapi kemudahan berkomunikasi dengan adanya telephone mobile.
Kapitalisme memasarkan produknya untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi manusia seperti ketika masa kanak-kanaknya ketika masih dalam belaian cinta kasih sang ibu. Namun pembedanya adalah kapitalisme melakukan itu semua untuk memupuk keuntungan dan terkadang mengabaikan bahkan berusaha mematikan dan kritik dan kreatif manusia.
Pada akhirnya, kemenangan kader perempuan pada panggung perpolitikan tanah air merupakan angin segar akan perbaikan kehidupan rakyat. Semoga politik bisa menjadi alat perempuan dalam mewujudkan cinta kasih universal, sebaliknya, apabila sosok perempuan yang digadang-gadang justru menjadi alat kepentingan politik sekelompok golongan yang mudah disetir oleh kekakuan ala militer atau keculasan ala borjuis kapitalis maka itu akan menciderai kepercayaan rakyat.

Jumat, 06 Juni 2008

surat

Surat untuk Munarman

Havel dan Kafka,Ini kali bukan kisah untuk kalian. Tapi, sepucuk salam untuk seseorang bernama Munarman.

Assalamualaikum,

Munarman, apa kabar? Saya dengar, polisi sudah mencari Anda.Mudah-mudahan sehat selalu. Jaga fisik senantiasa. Bukankah itu modalutama Anda belakangan ini?! Hal yang Anda sebut "perjuangan" mungkinmasih akan panjang.Nah, soal catatan kiprah Anda di ranah publik, agaknya belum cukuppanjang. Saya ingat bahwa Anda pernah menjadi Koordinator Komisi untukOrang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras). Anda menggantikan almarhumMunir, yang kemudian juga menjadi korban para durjana. Anda sendirimemasuki lingkungan LSM sejak 1995 saat menjadi relawan di LBHPalembang.Lepas dari lingkungan LSM hukum, belakangan Anda bergabung denganHizbut Tahrir Indonesia–sebuah organisasi massa yang relatif jauh daripraktik kekerasan. Tapi, Ahad lalu, saya lihat Anda memimpinsegerombolan orang yang dengan bersemangat menghajar sekelompok orang.Tak ada perlawanan sama sekali dari pihak yang diserang. Darahbercucuran dari kepala. Wajah yang bengap. Tulang hidung yang patah.Seorang perempuan menderita gegar otak. Ya, seorang perempuan–kaum yangmelahirkan kita.Munarman, saya masih ingat, Anda pernah menjadi Koordinator Kontras.Kini, Anda menjelma pelaku kekerasan. Sungguh kontras. Sungguh sayadibelit rasa penasaran, "guncangan besar" apa yang membikin Andabersalin watak?Tak lama setelah insiden Monas, Anda berujar, "Kenapa merekamengadakan aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB jugamemasang iklan di koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya merekamenantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang."Bung, setahu saya, Anda adalah seorang sarjana hukum. Bahkan, pernahmemimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Denganluncuran kata-kata itu, saya kira Anda telah menaruh hukum sebagaikeset, yang setiap saat Anda injak-injak, Anda rendahkan. Jika ada yangbersuara lain, itu Anda anggap sebagai ajakan berperang. Lalu, Anda punmenyerbu dengan pentungan dan tinju. Sejak kapan hukum mengenal moduspenyelesaian perkara seperti itu?Ah, soal penyelesaian perkara, saya jadi ingat satu hal. Pada 2007, Anda terjerat kasus hukum ecek-ecek. Mobil Anda diserempet taksi Blue Bird di kawasan Limo, Depok. Lalu,Anda menempuh cara ini: merampas kunci mobil, SIM pengemudi, dan STNKtaksi tersebut. Kabarnya, Kejaksaan Negeri Depok menyatakan kasus inisiap disidangkan. Tapi, saya tak pernah mendengar kelanjutannya.Di hari-hari ini, Anda agaknya sulit lolos. Aparat hukum sudahmengincar. Banyak kalangan juga mengharapkan Anda diadili. Harapanmereka: hukum ditegakkan sehingga republik ini masih layak huni,ditinggali secara beradab bin manusiawi.Akhir kata, sejak kemarin, beredar foto Anda sedang mencekikseseorang. Tapi, Anda berkilah justru sedang menghalau seorang anggotaLaskar Islam agar tak anarkis. Oke! oke!Lalu, Anda melanjutkan, akan menyeret sejumlah media yang memajangfoto itu ke polisi. TEMPO secara khusus Anda sebut. Yang mengagetkan,termuat di portal-portal berita hari ini, Anda menyeru agar GoenawanMohamad, jurnalis senior dan pendiri TEMPO, untuk bersujud dan meminta maaf pada Anda. Bersujud?Munarman, jangan terlalu lama mengistirahatkan akal sehat

Wassalam.

*Dicopy dari: IndoProgress

Rabu, 04 Juni 2008

Cerpen

Matahari Orange
Untuk Mezis, Selamat Ultah ke-25. Luv U!

"Obsesiku mudah koq, sayang. Tapi please, jangan kau tertawakan, karena itu akan membuatku malu. Ok, Ehmm….aku hanya ingin duduk-duduk di tepi pantai menjemput senja, menunggui matahari besar berwarna orange meluncur tenggelam ke laut, hingga ombak menjadi berwarna-warni."
Itulah jawabanku, ketika kau bertanya tentang apa sebenarnya obsesi hidupku. Dan sungguh sesuai dugaan, kau malah tertawa ngakak setelah mendapat jawaban jujur dariku. Padahal, kaulah orang pertama yang kuberi tahu dengan jujur mengenai hal ini. Dan mungkin, kaulah orang terakhir yang kuberi tahu mengenai hal ini.
Sumpah sayangku, kaulah orang pertama yang kuberi tahu tentang cita-cita hidupku. Obsesi yang menurut penilaianku sendiri terlalu sangat sederhana, terlalu biasa sekaligus sulit diterima. Juga yang menyadarkanku, bahwa tidak semua hal yang sederhana, mudah terwujud dan mudah mendapat dukungan. Mungkin kini orang-orang sudah terbiasa dengan hal yang serba muluk. Cita-cita muluk oleh anak-anak SD, janji-janji muluk oleh calon gubernur, cinta muluk oleh sepasang kekasih baru, cemburu muluk oleh suami yang ingin mengendalikan istri, kebenaran muluk oleh para penjual ideologi.
Huh, betapa aku membenci segala sesuatu yang muluk. Muluk padanan katanya sok suci! Dan aku benci dengan orang yang sok suci! Kalau tidak salah, dulu aku juga pernah mengutarakan tentang hal itu kepadamu, tengah malam, pada pertemuan kita yang entah keberapa, di perjalanan Jember menuju Surabaya. Di Surabaya kau tempelkan bibir tipismu dengan mesra di keningku, dan kita berpisah, aku melanjutkan perjalanan pulang ke Jawa Tengah dan esok kau harus sudah sampai Malang untuk meeting di sana.
Semasa kecil, guru SD-ku bertanya, seperti umumnya guru-guru lainnya, maka pertanyaan wajib yang terlontar dari guru kesayanganku, menanyakan cita-cita murid-muridnya. Dan menjadi kewajiban rutin murid, maka kami harus menjawab pertanyaan tersebut. Teman-temanku semuanya bercita-cita hebat, menjadi dokter, pilot, tentara, tiga cita-cita itu memang favorit teman-temanku. Hingga tiba giliranku menjawab, dan aku shock, karena sama sekali belum terpikir untuk bercita-cita sesuatu, yang jika kuucapkan akan terdengar menakjubkan. Akhirnya aku memilih salah satu dari tiga cita-cita mayoritas yang diucapkan teman-teman. Semua yang mendengarkan jawabanku meresponnya wajar. Duh, padahal kau tahu sayang, waktu itu di kepalaku, cita-citaku hanya ingin duduk-duduk di pantai sambil bermain pasir hingga langit berwarna orange. Lucu sekali, kalau ingat masa-masa itu.
Semasa kuliah dulu, ketika aku tergabung dalam organisasi mahasiswa ‘x’. Ingatkah, ketika itu aku dan kawan-kawan sibuk berteriak-teriak: Revolusi sampai mati!.Kata salah satu senior di organisasi yang telah seratus kali lebih banyak ikut demonstrasi: " Jalan-jalan, naik gunung, ke pantai adalah dunia hedonisme yang akut".
"Huh, bagaimana mungkin bercakap dengan alam adalah hedon? Setahuku hedon adalah, menjual ideologi dengan harga murah, hedon adalah menghabiskan uang kas organisasi untuk membeli alkohol dan nongkrong hampir tiap malam di kafe dan diskotik seperti yang setiap hari kalian lakukan!", begitulah aku berteriak pada mereka, seraya melakukan perlawanan, memperjuangkan obsesi kita untuk menakhlukkan Semeru.
Tapi tak kusangka salah satu kawan yang paling dekat denganku di organisasi berkata lantang, "Alaaah, paling kau mau bercinta dengan pacarmu yang pelukis itu. Dasar maniak kau, mending bercinta sama aku saja, sesama orang kiri pasti lebih asyik".
Benar-benar keterlaluan keusilan mereka, tidak sadar kalau watak patriarkinya masih sangat kental, tapi mereka sudah merasa tuntas secara ideologi. Kalau diskusi selalu ingin menang, kalau kepepet yang diserang seksualitasku sebagai perempuan. Pada tatanan masyarakat patriarki, menyerang seksualitas perempuan memang senjata paling ampuh sekaligus menghebohkan.
Lalu aku pulang kepadamu dan menceritakan keusilan mereka padamu "Lagi pula aku tidak mau bercinta dengan sebongkah daging, hanya karena ia berlabel intelektualis, progresif-revolusioner, aktivis kiri, nasionalis, laskar jihad, penyair, pelukis, novelis, esais, guru, tapi tidak nyambung secara psikologis." Kataku mengakhiri pucak emosiku.
"Biarkan saja celotehan kawan-kawanmu yang picik dan moralis, sayang. Meski mereka bilang, kau sundal sekalipun. Jangan suka urus hal begituan, mending kita manfaatkan waktu luangmu, ke semeru dan kita bicarakan rencana kita ke depan." kau menyakinkanku sambil tersenyum manis, teramat manis.
Hingga akhirnya kita mencuri-curi waktu luang, mewujudkan rencana mendaki gunung Semeru. Aku masih ingat, waktu itu kau merasa sangat bahagia karena recana yang sudah lama ingin kita wajudkan akhirnya sampai juga. Sedangkan aku? Aku tak kalah bahagia. Aku masih ingat sepanjang perjalanan menuju puncak, aku tersenyum-senyum sendiri mirip orang tidak waras. Dan yang lucu, kita tidak bisa menahan diri untuk tidak mandi di Ranu Gembolo, danau kecil di kaki gunung semeru yang airnya berwana hijau. Kita berfikir, kita adalah sepasang bidadari yang sedang jatuh cinta, sepasang bidadari yang kepanasan turun dari langit untuk mandi bersama di danau yang sejuk.
Kau meyeletuk, "kok sepasang bidadari? bukannya bidadari selalu perempuan, sedangkan aku lelaki dan kau perempuan", Begitu kau ucapkan protes dengan nada serius padaku, sedang tanganmu meyipratkan air danau ke wajahku hingga mataku mengerjap karena tidak siap.
"Gimana, kalau aku jadi Jaka Tarup saja, kau jadi bidadari, nanti selendangmu kucuri, jadi kau tidak bisa terbang kembali ke khayangan dan kau jadi istriku."
"Enggak mau ahh jadi istrinya Jaka Tarup, nanti aku disuruh masak terus ha…ha…ha… "
Kita tertawa terus sampai tak hiraukan tubuh kita yang mulai kedinginan sebab terlalu lama berendam. Hingga kau bersin-bersin tiada henti, kuhitung lebih dari sepuluh kali kau berhatshin-hatshin.
Setelah itu kita singgah di Ranu Pane, mampir warung makan dan memesan dua mangkok mie instant rebus plus telur setengah matang. Aku ingat, kau terlalu lapar waktu itu, hingga kau memesan dua telur. Kita juga memesan dua gelas teh hangat, aku tahu, teh hangat adalah minuman favoritmu. Sambil menyeruput tehmu, kau iseng menuliskan nama kita di dinding warung yang sudah fuul stiker organisasi pecinta alam, katamu sebagai tanda kita pernah menakhlukkan (atau, kita yang ditakhlukkan Semeru? buktinya kita tidak bisa menahan untuk tidak datang ke sana) Semeru.
*
Kini kau tahu sendiri, sayang. Setelah tiga tahun berlalu, mereka memilih berada di gelembung-gelembung kebahagiaaan palsu. Aku tak habis pikir, begitu mudahnya idealisme, ideologi yang siang malam didiskusikan hingga mulut berbusa-busa ternyata berujung penyerahan diri pada kepragmatisan di bawah proyek besar penipuan rakyat semacam: Pemilu.
Sesak, dan kelu melihat dan mendengar kabar tentang mereka, dan pasti jika mereka masih waras mereka akan sadar merekalah orang yang paling tersiksa karena berkhianat dan menyangkal sendiri pemahaman yang mereka miliki mengenai hakekat perjuangan. Sungguh aktivis yang malang. Semenjak awal aku memang tidak terlalu percaya dengan segala-sesuatu yang terlalu. Terlalu baik, terlalu mencintai, terlalu militan, terlalu fanatik. ‘Terlalu’ adalah Bullshit! Omong kosong! Kata temanku Rani, dia salah satu pelacur kampus, "Terkadang aktivis dan ideolog itu aneh, mereka hanyalah borjuis kecil, yang bertingkah meniru malaikat suci!"
Dan tradisi masih saja maskulin, korupsi yang terbukti adalah momok jahat yang memporak-porandakan kehidupan memang ditempatkan sebagai agenda yang mendesak untuk diberantas. Tapi malah lokalisasi, tempat perempuan miskin menggapai kebahagiaan lahir batin yang menjadi agenda prioritas pertama untuk diberantas dan dibumihanguskan oleh Perda Anti Maksiat yang digodhok pejabat dan ulama. Masih saja, isu seksualitas perempuan terbukti senjata ampuh untuk menyucikan siapa saja, juga pejabat dan ulama.
Oleh ulama, pelacur-pelacur itu dipaksa tinggal di pondokan dan berkerudung. Aku masih ingat, ketika salah satu pelacur yang bernama Desy (yang nama aslinya Fauriyah), di acara dialog publik mengenai penutupan lokalisasi dia menolak anjuran ulama.
"Saya mau saya makan, tidur, ngaji di pondokkan. Asal pak pejabat dan pak kyai mau membiayai dua orang anak saya yang masih sekolah, membelikan susu seorang anak saya yang masih berusia empat bulan, dan menjaga ibu saya yang sudah buta dan budhek, mereka semua ada di rumah dan sekarang ini menunggu saya pulang membawa makanan. Dan satu lagi yang mau saya sampaikan, bahwa sebenarnya saya sudah memakai kerudung, tapi sayang hanya orang-orang berimanlah yang bisa melihat kerudung saya, karena kerudung saya ada di hati. Kalau bapak pejabat dan pak kyai tidak bisa melihat, celaka! berarti pak pejabat dan pak kyai perlu meningkatkan iman dan takwa."
Lalu serentak seluruh ruangan aula yang peserta dialognya sebagian besar para pelacur dan aktivis mahasiswa menjadi riuh oleh suara tawa dan tepuk tangan. Waktu itu aku duduk di bangku belakang sendiri bersebelahan dengan tempat duduk Mbak Desy, seorang pelacur yang lincah dan baik.
Sepulang dari dialog publik langsung kuceritakan tentang mbak Desy kepadamu, dan kau menyepakatinya, katamu: "Patriarkilah yang mencetak perempuan menjadi makhluk yang pasif. Makanya, lokalisasi pelacuran, yang tersedia hanyalah lokalisasi pelacur perempuan, sedang lokalisasi gigolo sangat sulit kita temukan. Karena gigolo-gigolo terlalu munafik, mereka bersembunyi di balik topeng ulama, pejabat, pengusaha, intelektualis, bahkan aktivis. "
*
Entah ini pertemuan yang keberapa, duduk-duduk denganmu dipantai ketika langit berwarna orange karena efek matahari yang bulat orange seperti jeruk. Angin laut pelan-pelan membelai pasir-pasir di pesisir laut, hingga pasir-pasir itu bergetar, kita melihatnya dan aku merasakannya getaran itu, sayang.
"Pertemuan kali ini aku ingin membuat sebuah keputusan denganmu. Please dengarkan aku, ini tentang aku tidak akan lagi berbohong tentang cita-citaku. Terserah mau seperti apa kau merespon tentang obsesiku, tapi ini riil. Cita-citaku mudah, Ok, Ehmm….aku hanya ingin duduk-duduk di tepi pantai menjemput senja, menunggui matahari besar berwarna orange meluncur tenggelam ke laut hingga ombak menjadi berwarna-warni. Huh, sebel seperti dugaaan awalku, kau malah menertawakan pengakuanku yang sangat penting ini."
"Ok..ok, sama sekali aku tidak mengejekmu. Aku tertawa karena kamu lucu, sama sekali tidak bermaksud mengejekmu, sayang. Seumur hidup, baru sekali ini aku mendengar obsesi hidup yang begitu sederhana. Memangnya kenapa dengan matahari orange dan pantai, hingga membuatmu begitu tertarik padanya?. Oya, ini kubawakan kaos dan celana pendek, sana ganti baju guru-mu itu, di mobil. Kutunggu di sini."
"Ok!" Aku berlari kecil menuju tempat mobil diparkir.
Setelah berganti dengan pakaian ringan, segera aku menyusul kekasihku ke tepian pantai, bermain pasir, berkejar-kejaran seperti anak kecil. Ketika ombak menjadi berwarna-warni dan matahari orange besar menelusup ke dalam lautan ombak, kami berciuman, berpelukan, lalu membicarakan banyak hal, banyak sekali, lalu bekejar-kejaran sampai lelah. Hingga aku lupa menjawab pertanyaan kekasihku, mengapa aku begitu menyukai pantai dengan matahari berwarna orange? kekasihku juga lupa menanyakannya kembali.
Semuanya sudah terjawab, pantai dengan matahari orange selalu memberi banyak jawaban, memberi banyak harapan.

16.00
3 Juni 2008

Senin, 26 Mei 2008

SGA: Sepotong Cerita Menjelang Pilda, Pilgup, Pilpres

Wakil Rakyat*

Bung,
Seorang Rakyat ketemu Seorang Wakil Rakyat yang sedang nongkrong di warung bajigur di depan TIM.
“Wah, merakyat juga ente,” kata Rakyat.
“Yah, pantes-pantesnyalah, namanya juga Wakil Rakyat.”
“Lho, sebetulnya ente tidak merakyat?”
“Tidak terlalu, saya cuma pura-pura merakyat.”
“Busyet, ente mewakili rakyat mana sih?”
“Natuna, Talaud, dan Sangihe.”
“Astaga, mana tuh?”
“ada kok di peta, kecil-kecil.”
“Ente asal sana?”
“Bukan.”
“Ente pernah kesana?”
“Belum.”
“Ente tahu aspirasi mereka apa?”
“Yah, kira-kira saja, paling-paling soal kesejahteraan kan?”
“Busyet, kenapa ente nggak mengatakan soal kebebasan?”
“Well, siapa yang berani ngomong soal kebebasan sekarang ini, kalu bukan tokoh-tokoh yang penting?”
“Ente kan tokoh penting?”
“Bukan, saya cuma tokoh gombal saja kok.”
“Tokoh gombal bagaimana?”
“Lho saya ini cuma politisi kecil, selalu mengintip kesempatan untuk naik, selalu berpikir tentang jenjang karir, apapun yang bisa jadi batu loncatan, tancap. Pokoknya saya selalu memikirkan diri sendirilah.”
“Tapi ente Wakil Rakyat kan?”
“Yeah, actually, saya mewakili diri saya sendiri.”
“Astaga…”
“Kenapa astaga?”
“Saya kira ente mewakili rakyat.”
“Eh, saya sendiri kan juga rakyat? Boleh dong saya mewakili aspirasi saya sendiri. Pengin dianggap, pengin dipandang, pengin punya makna dalam hidup. Dulu cuma ikut karang taruna, sekarang jadi Wakil Rakyat, yah namanya memburu kemajuanlah.”“Apa sih pemikiran anda tentang kemajuan?”
“Gedung-gedung tinggi.”
“Busyet.”
“Kenapa Busyet?”
“Anda suka membaca pemikiran para negarawan besar, para ahli sejarah, para ahli filsafat tentang negara?”
“Tidak. paling banter saya baca koran. kalau majalah saya baca ramalan bintang. Hahahaha!”
“Tidak biasa baca buku-buku berat?”
“Tidak, untuk apa? hanya orang bego yang buang waktu untuk baca buku.”
“Busyet”
“Kok busyet lagi?”
“Ente hebat”
“Lho kok hebat? Saya ini bukan pemikir, bukan apa itu namanya? Cendekiawan? Nggak Inteleklah! Saya nggak betah baca, nggak bisa nulis dikoran kayak YB Mangunwijaya. Kalau saya baca artikel di koran, suka pusing saya. Dalam forum-forum diskusi saya juga malas berdebat, ngapain, ngabisin abab. Saya cuma orang biasa kok, disuruh jadi wakil rakyat ya mau. lumayanlah daripada cuma di Karang Taruna. Fasilitasnya juga lumayan. Mosok orang yang berpikir kayak saya ini hebat?”
“Lho, ente jelas hebat?”
“Kenapa?”
“Ente orang jujur.”

Bung,
Janganlah anda khawatir bung. Orang yang saya ceritakan itu tidak ada. Itu cuma fiksi di kepala saya sendiri, meskipun faktanya mungkin ada yang mirip ya? Haha! Saya sendiri yakin sepenuhnya, 1.000 Wakil Rakyat yang bakal hilir mudik di gedung UFO itu adalah orang-orang yang sangat capable: membaca buku-buku berat, mengenal pemikiran para negarawan, ahli sejarah, dan ahli filsafat tentang negara. Yang paling penting: memahami penderitaan rakyat, meski barangkali memang belum pernah ke Natuna, Talaud, dan Sangihe. Saya percaya sepenuh-penuhnya kepada mereka. Masalahnya, anda percaya tidak kepada saya? Hahahaha!

Salam dari Palmerah.
SGA

NB. Sukab tidak percaya kepada fiksi. “Berbahaya,”katanya.

*http://sukab.wordpress.com/

Kamis, 22 Mei 2008

Email dari seorang kawan

Di demo mahasiswa dan masyarakat, Jember lumpuh dan bupati MZA Djalal ngacir keluar kota

Sekitar seribuan massa yang menamakan diri aliansi masyarakat jember yang terdiri dari berbagai organ intra dan ekstra mahasiswa, berbagai lembaga swadaya masyarakat di jember, pagusyuban sopir angkot klething kuning dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) jember berdemo di depan pendopo pemkab jember untuk menentang kenaikan harga BBM.

Dalam orasinya para perwakilan pengunjuk rasa mengatakan bahwa efek domino dari kenaikan BBM pasti akan menyengsarakan rakyat seperti mahalnya harga biaya kebutuhan pokok yang diakibatkan oleh mahalnya transportasi, belum lagi kebijakan bantuan langsung tunai yang dinilai tidak memecahkan masalah kemiskinan masyarakat sebagai imbas dari kenaikan harga BBM, malah yang ada kebijakan tersebut dinilai membodohi rakyat dan membuat rakyat Indonesia bermental pengemis.

Para pengunjuk rasa sendiri berkumpul mulai pukul 07.00WIB di tiga titik yaitu bundaran ekonomi universitas jember, terminal tawang alun dan terminal arjasa kemudian bersama-sama menuju pendopo pemkab jember, dan bersama-sama menuntut bupati Jember MZA Djalal untuk memberikan pernyataan sikap menolak kenaikan harga BBM, para pengunjuk rasa juga memblokir jalan raya sultan Agung di depan pendopo pemkab jember untuk memaksa bupati MZA Djalal untuk menemui mereka.

Tetapi setelah ditunggu-tunggu sekitar 4 jam lebih ternyata bupati Djalal tak kunjung turun dan dari pejabat pemkab Jember ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa Bupati MZA Djalal sedang dinas keluar kota, padahal dari pihak protokoler Kabupaten Jember mengatakan bahwa pada hari ini Bupati Jember ada jadwal untuk melantik beberapa guru dan kepala sekolah di pendopo kabupaten Jember dan terpaksa dibatalkan karena ada demonstrasi kenaikan harga BBM. Setelah dikonfirmasi ulang dari pihak protkoler Kabupaten jember juga mengatakan bahwa bupati Djalal pergi ke luar kota, namun ketika ditanya ke mana dan untuk keperluan apa, pihak protokoler pemkab Jember tersebut memberikan jawaban yang kurang jelas dengan mengatakan bahwa “bapak sedang dinas ke luar kot” sambil berlalu begitu saja.