Selasa, 20 November 2007

Remaja Indonesia Diteror!


Oleh: Ken Ratih Indri Hapsari

Masalah seks bebas dikalangan remaja memang sudah menggejala di negeri ini. Di kabupaten Indramayu beberapa waktu lalu, diketemukan lagi rekaman adegan persetubuhan remaja SMP yang tersebar luas melalui internet maupun HP milik siswa. Maraknya rekaman adegan hubungan seks luar nikah yang dilakukan oleh para pelajar sebelumnya direspon bupati Indramayu. Untuk mengatasi hal tersebut bupati Indramayu menganjurkan supaya sekolah melakukan pemeriksaan keperawanan pada siswi SMU dan hasilnya harus disampaikan kepada orang tua murid yang bersangkutan. Tentu rencana tersebut langsung disambut protes keras masyarakat dan LSM perempuan. Pemeriksaan keperawanan yang—dipaksakan—sepihak oleh sekolah merupakan tindakan pelanggaran HAM berat dan justru melecehkan perempuan serta membuat kondisi kejiwaan para siswi tertekan dan malu.
Menurut Giddens dalam Transformation of intimacy, keterbukaan seksual tidak seluruhnya sama dengan pembebasan. Keterbukaan seksualitas belum tentu sebuah kondisi yang membebasakan, tapi lebih merupakan cerminan gaya hidup liberal yang dipengaruhi oleh sistem ekonomi pasar bebas dikampanyekan secara halus melalui tanyangan televisi. Televisi layak diperhitungkan sebagai salah satu aktor yang bertanggung jawab, karena sebagai media yang secara intens dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Kaum remaja adalah kalangan yang paling banyak terkena imbas dari maraknya gaya hidup liberal. Kaum muda yang dalam fase pencarian jati diri akan mudah sekali terbawa arus. Terlebih dengan semakin menjamurnya tempat hiburan malam yang tak lain adalah dunia hedon dan rawan pergaulan bebas, juga gaya hidup yang diimitasi dari media TV yang sering menyuguhkan kehidupan para selebritis dimana gaya hidupnya berganti-ganti pasangan serta kawin cerai. Menurut Louis Althusser, seorang filsuf Prancis, media termasuk termasuk dalam kelompok institusi ideologis tertentu, selain tempat ibadah sekolah, dan lembaga keluarga.
Yang terakhir misalnya konfrontasi tidak sehat yang diekspos secara vulgar oleh tayangan infoteimen. Misalnya, konflik yang terjadi antara Ahmad Dani dan Maya Ratu, sang istri, Maya tidak diijinkan pulang malam, dihukum dengan tidak diijinkan pulang ke rumah. Belum lagi penyataan Dani yang terkesan otoriter dan patriarkis meski dibungkus dogma agama, misalnya: “Istri itu harus cantik dan nurut, percuma kalau cantik tapi tidak nurut suami”. Sayangnya sikap arogan Dani sama sekali tidak mempengaruhi kedigdayaannya dalam bermusik. Remaja-remaja putri justru berebut minta dicium oleh Dani yang saat itu posisinya sebagai komentator dalam acara Mamia.
Sikap selalu ingin benar, sempurna dan dipuja merupakan karakter khas selebritis, meski dengan cara menjatuhkan dan melecehkan orang lain. Fenomena tersebut sedana dengan karya Fromm dalam bukunya yang berjudul akar kekerasan, bahwa watak masyarakat modern yang teralienasi dari dunia riil ditandai dengan sadisme dan narsisme akut. Manusia yang terjangkiti sadisme sulit konformis dengan mudahnya melecehkan untuk mempermalukan orang lain. Sedangkan narsisme adalah keyakinan subyektif mengenai kesempurnaan dirinya, keunggulannya atas orang lain, dan perasaan bangga atas citra dirinya, maka ia secara terus-menerus berusaha mempertahankan citra dirinya. Jika orang lain melukai perasaan narsistiknya dengan meremehkannya, mengkritik dan meralat ucapannnya yang salah maka akan direspon dengan kemarahan yang amat sangat dengan atau tanpa memperlihatkan kemarahannya itu.
Selain TV, media cetak juga mengambil peran penting dalam pembentukan arah kesadaran masyarakat. Tidak diperhatikannya target konsumen oleh para penjual dan distributor majalah-majalah dewasa, membuat para remaja dengan mudahnya mendapatkan bahan bacaan yang tidak cocok dengan kebutuhan usia. Berbeda kondisi di Amerika, batasan umur konsumen bacaan, dikontrol secara ketat.
Belum lagi cara penyampaian berita di tanah air pun tidak sesuai UU penyiaran. Seksisme dalam media yang tertuang dalam bentuk peyoratif, aturan semantik dan penamaan. Pada pemberitaan kriminal, melulu perempuan yang menjadi korban adalah suguhan di halaman utama dengan judul besar. Misalnya, Janda Muda Imut-Imut Digagahi Sopir. Memperkosa sebagai tindakan asusila justru terdistorsi maknanya dengan kata-kata digagahi, seolah pelakunya adalah sosok yang kuat dan gagah, kemudian kata janda dan imut-imut sendiri menempatkan perempuan seolah hanyalah objek. Pemberitaan tersebut sama sekali tidak berpihak pada perempuan. Maka bukan mustahil, jika di kesehariannya semakin tinggi saja angka kekerasan terhadap perempuan.
Mungkin perfilman tanah air mengalami kebangkitan secara kuantitas maupun substansi alur dan jalan cerita yang dimotori oleh sineas muda seperti Nia dinata, Mira Lesmana, Riri Reza dan sutradara muda lainnya melalui Soe Hok Gie, Berbagi Suami, Jablai dll. Namun berkebalikannya, lagu yang dipolulerkan oleh agen-agen industri musik tanah air akhir-akhir ini secara kualitas merosot tajam. Mafia dunia intertamen secara licik menancapkan kesadaran liberal, cuek, dan pasif di tempurung kepala masyarakat—terutama remaja—Indonesia. Misalnya lirik lagu yang diciptakan oleh Eros Sheila On 7: ‘…..hak manusia untuk berpesta..berpesta hinggga jadi gila...ampuni aku DJ di tengah lautan pesta..ampuni aku DJ di tengah para wanita’, Matta yang menyanyikan Ketahuan dan Lobow lagunya yang berjudul Salah, Kangen Band dengan lirik lagunya yang cengeng. Seolah-oleh di dunia ini kebutuhan yang paling mendesak di dunia remaja adalah pacaran, perselingkuhan dan balas dendam, Juga Jadikan Aku Yang Kedua yang dinyanyikan Astrid dimana perempuan dengan kerelaan hati mau saja dimadu, sama sekali tidak punya posisi tawar selain mengabdikan diri pada cinta buta.
Sedangkan dangdut remix pasca Kucing Garong diramaikan oleh Lolita yang menyanyikan Emang Gue Pikirin, dengan liriknya: ‘emang gua pikirin elu ga setia..elu punya gebetan baru gua juga bisa gitu, emang gua pikirin elu mau apa…elu punya cewek sepuluh..gua punya cewok seribu…e..ge pe- e ge pe.. emang gua pikirin..emang elu siapa…’ Keke dengan Capek Dech, dengan liriknya: ‘Capek dech ngurusin kamu… capek dech terserah kamu…capek dech bete bete aku, capek dech aku ga kuku..’ . Sepintas lirik lagu yang dinyanyikan Lolita dan Keke menunjukkan kemampuan perempuan untuk tegar meski dikecewakan dan diabaikan, namun jika jeli maka lirik lagu tersebut tak ubahnya ekspresi kefrustasian (capek dech mikirin kamu) dan balas dendam (elu punya cewek sepuluh…gua punya cowok seribu).
Yang menandakan digandrungi, lagu-lagu tersebut duduk di tangga lagu teratas, sebagai ringtone HP bahkan anak-anakpun pandai menyanyikannya, bukan hanya karena kosa katanya yang dangkal dan mudah dihafalkan, namun juga karena komposisi nada-nadanya yang dibuat sangat sederhana. Sedangkan lagu bertemakan cinta milik Iwan Fals yang lounching albumnya hampir bersamaan dengan lagu-lagu tersebut kalah populer. Kalah populer belum tentu karena kalah secara kualitas, namun lebih dipengaruhi pada pertarungan modal untuk mempromosikannya.
Lirik-lirik lagu yang diciptakan dan dilantunkan sendiri oleh Iwan fals yang bertemakan cinta antara lain berjudul Masih Bisa Cinta, berikut cuplikan liriknya: ‘hari ini kau patahkan semangatku..entah mengapa ku masih bisa cinta..bisa cinta padamu..kumaafkan salahmu..berjanjilah..berjanjilah untuk datang padaku..lihat mataku..akan kucoba perhatikan kamu..datang padaku..rasa hatiku..akan kucoba terus cinta kamu. Air mata tak akan kuuraikan..hanya mengelus dada kumaafkan salahmu..berjanjilah untuk datang padaku. Relasi cinta yang tidak mungkin sempurna dan tanpa konflik dihadapi dengan sikap saling memaafkan, ketabahaan (air mata tak akan kuuraikan), dan yang terpenting instropeksi diri jelas tersirat dalam lirik lagu tersebut.
...Kumaafkan..berjanjilah...’ demikian cuplikan lagu Iwan Fals yang berjudul Masih Bisa Cinta. Kata berjanjilah memiliki makna penting untuk mempererat relasi, karena janji adalah awalan baru setelah relasi mengalami goncangan kepercayaan. Seperti yang diungkapkan Hannah Arendt, Bahwa lewat ke-awalan-baru itu diletakkan sebuah kemungkinan bagi manusia. Kemudian manusia akan membuahkan lagi awal baru-awal baru lainnya. Maksudnya, dengan menerjunkan diri ke dalam dunia, manusia akan selalu menjadi pemula, atau menjadi ”yang memulai”. Jadi, keterlahirannya selalu mengokohkan sebuah kelahiran berikutnya. Dalam hal ini kelahiran atau keterlahiran adalah sebuah keajaiban yang senantiasa datang untuk sejenak menyela perjalanan umat manusia. Maka keterlahiran adalah pengandaian ontologis yang harus ada, sehingga perbuatan atau tindakan manusia dapat terjadi. Karena kelahiran, tindakan manusia adalah unik dan istimewa. Sebab dengan kelahiran itu, tindakan manusia itu berarti memulai sesuatu yang baru, dan menggarisbawahi bahwa manusia itu adalah makhluk yang bisa menyatakan dirinya karena ia mengawali atau memulai kebaruan.
Seperti album Iwan Fals sebelumnya, lagu yang berjudul Negara mengkritik dengan keras kelalaian negara, berikut cuplikan liriknya: negara haru bebaskan biaya pendidikan.. negara harus bebaskan biaya pendidikan., negara harus ciptakan pekerjaan negara harus adil tidak memihak.. itulah tugas negara.. itulah gunanya negara.. itulah artinya negara tempat kita bersandar dan berharap.. kenapa tidak..orang kita kaya raya baik alamnya maupun manusianya..hanya saja kita tidak pandai megolahnya.
Sayang lagu-lagu Iwan Fals tersebut tergusur, kalah populer oleh lagu-lagu cinta yang cengeng dan memabukkan. Padahal usia remaja adalah usia puncaknya energi bersemayam, sangat percuma bila energi terbuang sekedar mengakomodasi watak sadis dan narsistik. Meskipun narsisme pada kondisi tertentu terpenuhi dengan pujian maupun usaha diri, namun jauh dari hakikat kemanusiaan—bahkan cenderung fasis, seperti yang dialami Himmler, Stalin, Hitler, terakhir penembakan massal oleh pelajar yang terobsesi paham nazi. Produktifitas yang jauh dari hakikat kemanusiaan adalah karya semu tak ubahnya seperti patung berhala yang disembah-sembah.
Narsisme kelompok dikalangan remaja ditandai dengan maraknya geng, klub sepeda motor dan tawuran antar pelajar yang kian marak terjadi akhir-akhir ini, selain itu ketertekanan pelajar menghadapi UN ditandai dengan histeria massal. Perilaku pembebasan dari keterasaingan dan ketertekanan remaja selama ini belum memiliki wadah dan mekanisme yang sehat. Tentu bukan hal mustahil remaja Indonesia sehat jasmani dan rohani, kemenangan siswa-siswi di berbagai lomba olimpiade sains internasional adalah bukti konkrit bahwa manusia bukan diciptakan untuk menjadi buruk, tidak memiliki potensi dan kecakapan.

Kamis, 15 November 2007

SihirsihirTenungTenungJampiJampi MasaKini

Kekuasan Setan sehari-hari:

kekuasan ilmu pengetahuan sihir alibi dan pembelaan intelektualnya,

kekuasaan ekonomi adalah sihir kemakmuran,

kekuasaan massa adalah sihir jumlah,

kekuasaan politik adalah sihir agensi pemaksaan,

kekuasaan birokrasi adalah sihir jaringan hierarki,

kekuatan militer adalah sihir ketakutan akan dor-dor-dor.

Kekuasaan cenderung menjadi sihir, menjadi tenung, menjadi guna-guna, menjadi jampi-jampi..

(Topeng Kayu, naskah drama Kuntowijoyo)

Senin, 12 November 2007

”SAYA TIDAK TERIMA DIPUKULI & DITELANJANGI !!!”


Ibu dua anak ini tak terima dihinakan mantan kekasihnya di depan umum. Dengan kondisi kesakitan karena terus dihajar, ia berusaha melawan. Sangkur yang dibawa mantan kekasihnya itu pun makan tuannya. Hari masih gelap, tiba-tiba Nila Fitria (26) yang tengah berada di dalam kamar kosnya di Jl. Dukuh Kupang Barat, Surabaya mendengar pintu kamarnya diketuk eseorang. Nila yang tengah sendirian di dalam kamar sudah menduga, yang mengetuk pintu adalah M. Agus Hariyanto. Sengaja ia tidak segera membuka pintu. Akibatnya, Agus yang bertugas di TNI AL dengan pangkat Kelasi Kepala marah. “Kalau tidak kamu buka, pintu ini akan saya jebol dengan sangkur,” cerita Nila Fitria menirukan ancaman Agus.

Dengan perasaan berdebar, dengan terpaksa Nila membuka pintu. Setelah berhasil masuk, lelaki bertubuh tinggi besar dengan bau alkohol di mulut nyerocos bicara kepadanya. Dalam percakapan itu, intinya ia meminta Nila kembali berhubungan kepadanya, ”Tentu saja saya tidak mau karena saya sudah berkeluarga,” kata wanita berwajah manis ini.

Agus yang bertempat tinggal di Jl. Sepanjang Tani, Taman, Sidoarjo, tersebut semakin kalap. Ia menghajar wajah Nila bertubi-tubi. Ibu dua anak bertubuh mungil ini sempat beberapa kali terjatuh di dalam kamar kos yang sempit. Tak puas dengan tangan, Agus mengeluarkan sangkur dari balik bajunya. Sebisanya Nila berusaha merebut sangkur, tapi tidak berhasil. “Akibatnya, sangkur itu mengenai dua jari tangan kiri saya,” kata Nila sambil menunjukkan kedua jarinya yang masih terbungkus verban setelah dijahit.

Melihat Nila mengadakan perlawanan Agus yang masih lajang itu makin kalap. Agus menyeret tubuh Nila keluar kamar. Kembali ia menghajar wajah Nila bertubi-tubi. “Rasanya, saya tidak bakal hidup lagi,”papar Nila menceritakan tragedi memilukan itu.

Menurut Nila di depan polisi maupun kesaksian tetangga Nila, ia diseret hingga bagian lengannya lebam-lebam. “Ini bekas lukanya,” kata Nila sambil menunjukkan kulit bekas luka di pangkal lengan kirinya. Nila yang saat ditemui NOVA Sabtu (27/10) tengah dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Surabaya, mengungkapkan, Agus makin membabi buta. Pangkal lengannya dicengkeram dan dihempaskan sampai beberapa kali membentur tembok rumah kos. Meski ia menangis kesakitan, mantan kekasihnya itu tidak iba. Bahkan, rambut Nila yang panjangnya sebahu itu dijambak. Dan, membenturkan kepalanya ke tembok. “Muka dan kepala saya kemarin benar-benar bonyok. Kulit kepala kalau dipegang lembek, seperti ada gumpalan darah,” ucap Nila.

Penganiayaan ini sempat diredakan tetangga Nila, antara lain Ngatemin dan Mulyono. Sejenak memang damai. Setelah para tetangga kembali masuk rumah, lanjut Nila, Agus kembali brutal. Pakaian Nila bagian atas yang sudah koyak, kembali ditarik Agus. Bahkan, Agus kembali menyeret Nila ke jalan umum. Agus juga menarik seluruh pakaian atasannya. ”Itu yang saya benar-benar tidak bisa terima. Betapa malunya saya ditelanjangi dan di seret-seret di jalanan. Dia memang ingin membuat saya malu di depan orang banyak,” kata Nila dengan mata menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit. Didera rasa sakit dan malu karena dihinakan, Nila mengaku seolah mendapat kekuatan untuk melawan. Ketika tangan kiri dipegang dan dipontang-pantingkan dengan tubuh atas tak pakai busana, Nila berusaha berontak. Ia berhasil merebut sangkur yang terselit di pinggang Agus. Dengan cepat pula Nila menancapkan tepat mengenai ulu hati Agus. Beberapa menit kemudian, Agus meninggal di tempat. Nila sendiri segera lari masuk kamar, yang berjarak 50 meter dari tempat kejadian.

PINDAH TUJUH KALI

Didampingi kuasa hukumnya Atet Sumanto, SH, dari Biro Bantuan HukumUniversitas Wijaya Kusuma (BBH UWK) Surabaya, Nila tertunduk lesu. Ia menceritakan hubungannya dengan Agus yang bagaikan lakon sinetron. Nila kenal Agus sekitar tahun 2002 di kawasan hiburan malam di Jl. Tunjungan Plasa Surabaya. Perkenalan itu membuat mereka memadu kasih. Belakangan Nila tahu, ”Dia tidak serius. Bahkan, Agus selaau plin-plan kalau diajak menuju perkawinan.”Akhirnya, setelah sembilan bulan pacaran, Nila meninggalkan Agus. Nila bertemu dengan Zamroni. ”Lalu, kami menikah. Saya memilih Mas Roni karena dia lebih bertanggungjawab,” ujarnya.

Mengetahui Nila menikah, Agus jadi murka. Sejak itu, kehidupan pribadi Nila tidak tenang. Nila berusaha menghindari Agus dengan beberapa kali pindah rumah kontrakan. Yang membuat Nila frustrasi, Agus selalu menemukan tempat tinggalnya. Sebenarnya, oleh mertuanya Nila dibelikan rumah sekaligus usaha bahan bangunan. ”Tapi, saya terpaksa harus pindah ke tempat kos karena Agus berhasil menemukan rumah saya dan membuka aib saya di tetangga sekitar rumah,” papar Nila yang sudah tujuh kali pindah. ”Saya heran, dia selalu berhasil menemukan saya.”Agus juga tak segan berhadapan dengan suami Nila. Hari itu sebelum kejadian, Agus sempat menemui Nila dan suaminya. ”Saat itu, ia melempar sangkur di depan kami. Sungguh rumah tangga kami dibuat tak tenang,” tambahnya. ”Terang-terangan dia bilang tidak terima karena Zamroni merebut saya.”

Sama sekali Nila tak berharap, kisahnya berakhir begitu tragis. Sangkur Agus telah makan tuannya sendiri. Nila pun harus jadi tersangka. ”Saya berharap ini adalah peristiwa buruk terakhir dalam hidup saya. Kelak saya ingin menata hidup dengan baik dan tenang,” ujar Nila yang berharap tidak mendapat hukuman berat.
(Nova, 12 November 2007)

Jumat, 19 Oktober 2007

Pemuda Miskin Dilarang Menikah!

Terkuaknya skandal seks beberapa anggota dewan membuat wajah wakil rakyat semakin memburuk. Hal ini sekaligus menambah citra negatif orang-orang yang katanya adalah wakil rakyat. Lebih dari itu moralitas para pemimpin bangsa dan politik kita menjadi diragukan.
Sangat ironis, para anggota DPR yang pernah melontarkan diberlakukannya UU APP (Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) sekarang justru ketahuan sebagai pelaku pornografi dan pornoaksi. Gaya hidup bebas nampaknya justru menjadi keseharian wakil rakyat kita, bukan dimiliki oleh rakyat yang hidup dalam situasi serba kekurangan dan tertekan oleh kebutuhan-kebutuhan ekonomi, juga pemuda-pemudi kita yang berbaris dalam sejarah pengangguran. Jadi kalau selama ini banyak lontaran-lontaran tentang terjadinya seks bebas di kalangan kaum muda, ternyata hal ini sudah terbantahkan dengan terkuaknya kasus skandal seks wakil rakyat kita

Sementara kita tahu anggota dewan selama ini memiliki gaji yang berlimpah beserta tunjangan-tunjangan yang lebih terkesan mengada-ada yang memungkinkan mereka untuk dapat hidup bersenang-senang. Rakyatpun tidak tahu apa yang dilakukan oleh wakil rakyat dalam kesehariannya, di luar kerjanya sebagai pejabat publik yang mewakili rakyat. Sangat mungkin, dalam kesehariannya semakin banyak pejabat publik kita yang menjalani gaya hidup yang tidak bermoral. Tetapi perlu diingat bahwa wakil rakyat itu dapat bersenang-senang setelah mendapatkan gaji yang didapat setelah mereka menjual nama rakyat yang konon diperjuangkan.

Hal itu sekaligus menggambarkan budaya politik kita yang kian jauh dari nilai kerakyatan. Pada masa pemilu, rekrutmen politik dilakukan dan wakil rakyat seakan menjadi tumpuan harapan bagi nasib rakyat yang kian sengsara. Ternyata, sistem politik yang didominasi oleh kepentingan kaum modal (pengusaha) juga telah membuat wakil rakyat lupa setelah sekian lama duduk di atas kursi yang mendatangkan banyak uang. Uang didapat dari lobi-lobi dengan berbagai kepentingan kaum modal yang berusaha masuk melalui keputusan politik di DPR.

“Wakil rakyat” yang kompromis dengan kepentingan faksi-faksi modal itu memang akan banyak mendapatkan uang, selain mereka sudah dibayar oleh negara atas jabatannya. Inilah yang membuat gaya hidup para “wakil rakyat” mulai berubah. Mereka bukan hanya sering berinteraksi dengan para pengusaha dalam kesehariannya, tetapi juga mulai berkenalan dengan para penghibur, penyanyi, artis-selebritis, dan kalangan-kalangan kelas atas lainnya.Para pejabat publik ini juga semakin lupa diri. Mereka tidak lagi mendasarkan tindakan politiknya untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang dialami rakyat. Padahal permasalahan kesjahteraan yang tidak pernah diperjuangkan akan membuat kehidupan rakyat semakin diwarnai dengan permasalahan-permasalahan kebudayaan. Masalah seks bebas memang sudah menggejala di negeri ini. Penyebabnya antara lain terjadinya gaya hidup liberal yang dipengaruhi oleh sistem ekonomi pasar bebas. Kaum adalah kalangan yang paling banyak terkena imbas dari maraknya gaya hidup liberal. Kaum muda yang dalam fase pencarian jati diri akan mudah sekali terbawa arus. Terlebih dengan semakin menjamurnya café-café yang tak lain adalah dunia malam yang rawan pergaulan bebas juga tersebar melalui media TV yang sering menyuguhkan kehidupan para selebritis, dimana gaya hidupnya berganti-ganti pasangan serta kawin cerai merupakan wacana-wacana yang merangsang kebutuhan seksual dan kesenangan yang sifatnya pragmatis. Belum lagi permainan para selebritis dalam film biru yang sekarang dengan mudah dapat diakses oleh para remaja—bahkan anak di bawah umur—berkat kemajuan teknologi yang jauh dari kontrol lembaga keluarga semacam internet dan ponsel yang dilengkapi kamera serta video yang bisa diputar dimanapun.

Sebenarnya tidak semua mahasiswa melakukan seks bebas, namun jika tayangan-tayangan budaya terus meneror setiap detik, jam, hari dan setiap waktu dengan berbagai macam cara dan budaya yang mendukung, walhasil kondom menjadi terbeli dan dibutuhkan, karena mental kita diubah, kita dibujuk dan dikondisikan melalui penyebaran benda-benda tersebut untuk kepentingan mereka, supaya untung dan modalnya bertumpuk. Kebutuhan kita bukanlah kebutuhan fungsional, kita beli bukan hanya karena butuh. Kebutuhan kita—menurut Herbert Marcuse—adalah kebutuhan palsu, semu (false need) yang direkayasa orang lain.

Yang paling menderita adalah kaum miskin yang sama sekali tidak siap untuk memenuhi ekonominya, juga kaum muda yang menganggur. Jika pemuda dari kalangan kaya mampu merayakan hidup bebas dan melakukan berbagai pesta seks yang kadang tak lagi disembunyikan, kaum muda miskin seringkali hanya menjadi korban kebudayaan dengan tanggungan psikologis yang cukup besar. Ketika TV-TV, media cetak, dan bahkan film-film porno (secara diam-diam) bertebaran di kalangan kaum muda melampaui batas kelas, maka sebenarnya ideologi seks bebas telah menjadi landasan masyarakat dalam memandang orang lain. Kaum perempuan biasanya menjadi korban, karena tayangan di film porno, TV, dan gambar-gambar (foto-foto) di media-media itu justru menempatkan perempuan sebagai objek seksual.Kita seringkali munafik terhadap persoalan seksualitas ini. Kita tidak bisa melarang orang untuk tidak menjalin hubungan sebagaimana hakikat mereka sebagai homo seksualis (makhluk seksual). Di kalangan kaum miskin (pemulung, pengemis, gelandangan) di sudut-sudut kota yang hidup secara bersama di bawah jembatan layang atau di rumah-rumah pinggir rel kereta api, mereka banyak yang melakukan hubungan seksual dan melahirkan anak tanpa pernikahan karena untuk mengurus pernikahan (legal) mereka tidak memiliki biaya. Namun bagaimanapun mereka tak ubahnya seperti keluarga umumnya karena saling berbagi atap (rumah), meja makan, makanan, uang, bahkan emosi. Kita tidak bisa melarang mereka sebagaimana kita juga tidak pernah mampu menggugat gaya hidup artis-selebritis yang dengan mudah berganti-ganti pasangan, kumpul kebo, dan melakukan pernikahan hanya sekedar untuk memamerkan baju-baju bagus dan pesta besar. Ada kemunafikan di otak dan hati kita dalam melihat masalah seks bebas ini.***
Dimuat di Hatian Batam Pos tanggal 11 Desember 2006

Kamis, 18 Oktober 2007

ReuNi


Lebaran di kampung halaman kali ini sangat menyenangkan. Selain berjumpa orang tua dan sanak saudara juga yang bertemu dan melepas rindu dengan kawan-kawan semasa SD, SLTP maupun beberapa kawan SMU. Kawan-kawan SD yang saat ini kebanyakan bekerja sebagai buruh kontrak di pabrik-pabrik di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Tanggerang maen ke rumah. Wah, kangen banget, pasalnya hampir 2 tahun tidak jumpa. Maka perjumpaan itu kami bertukar cerita, bertukar pengalaman dan yang terpenting kami saling menguatkan.
Bekerja sebagai buruh, tinggal di kota yang asing dan jauh dari keluarga...aaah siapa yang lebih mandiri dan dewasa dibanding mereka kawan-kawanku dari kampung halaman 'Desa Dewi'. Bagaimanapun aku menaruh kekaguman yang luar biasa, aku sadar bahwa pengalaman hidupku tidak seheroik mereka yang betul-betul dihadapkan pada kenyataan hidup untuk mati-matian bekerja dan bahkan menghidupi keluarga di desa. Itu semua harus dibayar dengan peluh kerja keras berangkat subuh pulang petang dan was-was jika tiba waktu masa kontrak kerja habis.
Yach, aku bukanlah siapa-siapa..aku memang sering bersedih dan menangis, tapi kualitas sedih dan airmataku tak mungkin sedasyat mereka. Aku mungkin memang berkesempatan berteori dan berteriak-teriak tentang ketidakadilan, tapi penderitaanku kusadari lebih remeh dibanding penderitaan mereka. Dan tersadarlah aku...bahwa aku lebih bodoh mengerti tentang hidup, karena kenyataannya mereka telah merasai lebih banyak asin, manis dan pahit kehidupan dengan takaran yang jutaan lebih banyak dibandingkan denganku.
Lalu, tanggal 16 Oktober 2007 tepatnya hari selasa alumni SLTP N 1 Kutoarjo mengadakan reuni di rumah Agung. Kami semua tambah endut..ha...3x. Dan kawan-kawan juga tidak terlalu serius seperti waktu SMP (konon SLTP berstandar Internasional loh.Hiiingeri3x!). Acara reuni berjalan santai, ada beberapa yang sudah menikah, tapi dominan masih lajang. Kawan-kawan SMP ngeri-ngeri, beberapa ada yang kuliah dengan biaya sendiri. Mereka antara lain studi di STAN (Sekolah Tinggi Ilmu Akuntansi), IPB, UNJ, UNY, UNS, UNDIP, UNSOED dll. Klo dihitung jarak, aku yang paling jauh memilih tempat kuliah.
Setelah acara reuni selesai, kami beramai-ramai mengunjungi alm. Heni (kawan sebangku ketika kelas 1&2). Kunjungan tersebut bertujuan menjalin tali persaudaraan dengan keluarga Heni. 3 tahun lalu Heni menggal dengan cara bunuh diri menengguk beberapa botol baygon cair..entah apa alasan ia melakukan hal tersebut, kami berdoa (berharap) dimanapun Heni berada semoga kini ia merasa lebih tenag dan bahagia. Amin.
Ah, aku tersadar bahwa kami sudah harus memupuk masa remaja yang ambisius semasa SMP kini harus menjadi pemuda yang besemangat dan sadar lebih dini tentang hidup dan bagaimana menjalani hidup sebagaimana mestinya manusia yang bertanggung jawab. Semoga kenangan manis ini akan terus berlanjut:ReuNi yang lebih indah dan mengesankan.

Rabu, 10 Oktober 2007

Opini Pilihan

OPERATOR SELULER DAN PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL:

MEMBANGUN KARAKTER OPERATOR SELULER

SEBAGAI AGEN PEMBANGUNAN BANGSA


Oleh: Eko Prasetyo Dharmawan

Latar Belakang
Dalam khasanah ilmu sosial, dikenal konsep agen sosial. Yang dimaksud dengan ‘agen sosial’ itu ialah individu atau kelompok sosial yang sadar akan interaksi dirinya dengan dunia sosialnya, dan kemudian secara sadar bertindak secara tertentu agar konsekuensi yang diinginkannya bisa tercipta. Konsep ‘agen sosial’ ini dihadirkan sebagai pembeda dari individu-individu atau kelompok-kelompok sosial yang tak sadar dan tak memahami kaitan antara tindakannya dengan konsekuensinya terhadap dunia sosial. Golongan yang kedua ini tak sadar betapa setiap tindakannya senantiasa memiliki dampak atau konsekuensi terhadap dunia sosialnya, dan dengan demikian tak sadar akan kemampuannya untuk menciptakan realitas sosial yang tertentu. Karena lupa akan kemampuannya untuk menciptakan realitas sosial itu, maka kemampuannya untuk menciptakan realitas sosial menjadi tak berkembang, menjadi kerdil. Sementara ‘agen sosial’, karena sadar akan kemampuannya untuk turut mempengaruhi berlangsungnya proses sosial, maka secara sadar pula dia akan terus-menerus mengembangkan kemampuannya untuk bisa semakin efektif membentuk dunia sosial seperti yang diinginkannya. Karena kemampuan yang semakin efektif itu selalu menciptakan karakter diri yang kuat, maka otomatis ‘agen sosial’ selalu punya karakter pribadi dan kerja yang kuat. Itulah sebabnya, bangsa-bangsa yang maju selalu terdiri atas individu-individu maupun lembaga-lembaga yang punya karakter kuat. Termasuk lembaga-lembaga usahanya. Karakter yang kuat ini menjadikan bangsa-bangsa yang maju bisa tumbuh menjadi bangsa yang digerakkan oleh sedemikian berlimpah agen-agen sosial yang terus-menerus secara sinergis membangun dunia sosialnya. Mereka sadar bahwa keruntuhan sosial-ekonomi masyarakat adalah juga keruntuhan sosial-ekonomi seluruh bagian di dalamnya, termasuk unsur dunia usaha. Sebaliknya, kemajuan sosial-ekonomi masyarakat akan juga berarti kemajuan dari seluruh bagiannya, termasuk dunia usaha. Tak ada dunia usaha yang bisa lestari berdiri jika daya beli masyarakatnya terus merosot.
Hukum sosial yang sama juga berlaku di seluruh dunia. Bangsa yang besar selalu berisikan agen-agen sosial yang dinamis dan sinergis, sementara bangsa-bangsa yang terbelakang selalu berisikan individu dan kelompok sosial yang saling parasit dan menghambat satu sama lain. Pertanyaannya ialah: termasuk bangsa yang manakah bangsa Indonesia?
Dalam proses pembangunan sekian lama, tak bisa diingkari masih ada persoalan pembangunan di negeri ini. Di antaranya ialah masih adanya daerah-daerah tertinggal, yang jika dibandingkan dengan dinamika kehidupan kota-kota besar, seolah-olah tertinggal sekian puluh tahun jaraknya. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) sendiri menggunakan enam kriteria untuk mengukur ketertinggalan suatu daerah (kabupaten) dengan daerah lain, yaitu kondisi ekonomi, sosial masyarakat, infrastruktur, keuangan, pemerintahan, dan geografis wilayah. Dari kriteria tersebut digunakan indikator-indikator kemiskinan, indeks pembangunan manusia, infrastruktur, celah fiskal, aksesibilitas, dan karakteristik wilayah. Berdasarkan kriteria dan indikator di atas, KPDT menetapkan 199 kabupaten yang tergolong tertinggal di 31 provinsi. Penyebaran daerah tertinggal terutama masih di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sebanyak 123 kabupaten (62%), Sumatra 58 kabupaten (29%), dan Jawa Bali 18 kabupaten (9%).
Aspek infrastruktur sendiri meliputi di antaranya ketersediaan jalan, alat komunikasi, pasar, listrik, perbankan dan sebagainya. Dengan kata lain, daerah-daerah tertinggal adalah daerah yang menghadapi permasalahan di bidang ketersediaan infrastruktur. Salah satu infrastruktur yang vital bagi dinamika pembangunan ekonomi di daerah tentu saja ialah jaringan telekomunikasi. Jika hubungan komunikasi antara daerah tersebut dengan daerah lain begitu sulit, bagaimana mungkin pengusaha-pengusaha dari luar daerah akan tertarik untuk berbisnis di daerah tersebut? Selain itu, jika hubungan komunikasi begitu sulit, bagaimana mungkin wawasan dan aktivitas masyarakat di daerah tersebut akan bisa dinamis dan berkembang?
Di era dimana aktivitas ekonomi telah begitu menyatukan berbagai ruang dan waktu, daerah-daerah tertinggal seperti ketinggalan kereta. Hanya tergagap dan menjadi penonton pasif dari arus ekonomi yang luas. Berharap menunggu tetesan kue ekonomi. Situasi ini tentu tak sehat bagi kemajuan ekonomi bangsa secara keseluruhan. Kesenjangan yang begitu besar akan mudah melahirkan begitu banyak problem sosial dan ekonomi. Bahkan politik dan keamanan. Karena itu, sudah saatnya situasi ini diubah.
Membangun ketersediaan jaringan telekomunikasi merupakan salah satu kerja yang bisa dilakukan untuk mempercepat pembangunan daerah tertinggal. Di sinilah peran operator seluler sebagai penyedia jasa layanan komunikasi seluler sangat vital. Tulisan ini akan membahas secara garis besar strategi apa yang bisa dilakukan oleh operator seluler dalam perannya sebagai agen sosial dalam pembangunan bangsa, terutama dalam hal percepatan pembangunan daerah tertinggal. Selain strategi, juga dirumuskan filosofi apa yang mungkin bisa diadopsi oleh operator seluler dalam menjalankan perannya sebagai agen pembangunan bangsa.

Filosofi dan Strategi Operator Seluler dalam Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal
“Bambang Riyadhi Oemar, Ketua Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI), mengatakan sampai akhir Maret 2007 pengguna ponsel di Indonesia telah mencapai 75 juta. Hal ini, ujarnya, adalah peningkatan dari perhitungan terakhir di 2006 yang mencapai 70 juta,” demikian isi berita di situs Detikinet.com Rabu 27 Juni 2007. Jumlah itu sungguh luar biasa besar. Apa yang bisa kita tangkap dari besarnya jumlah pengguna ponsel itu, terutama jika dikaitkan dengan proses pembangunan ekonomi bangsa, dan terutama dengan proses pembangunan daerah tertinggal?
Dalam iklim ekonomi yang sedemikian cepat dan dinamis ini, penggunaan sarana komunikasi yang memungkinkan orang saling berhubungan secara cepat dan mobile sungguh amat vital. Telepon seluler bukan saja memungkinkan orang untuk bisa berkomunikasi secara cepat dan mobile, namun juga bisa terus-menerus memonitor, bahkan mengontrol usahanya dari manapun dan kapan pun. Ruang kantor dan waktu kerja tiba-tiba saja meluas. Tak terbatas dinding gedung kantor maupun jam kerja kantor. Kekuatan yang dimiliki oleh penggunaan telepon seluler sungguh mengagumkan, sehingga siapapun yang berusaha berbisnis dengan meninggalkan telepon seluler akan dengan perlahan atau cepat akan kalah bersaing dengan pesaing-pesaingnya yang menggunakan fasilitas telepon seluler. Mengapa? Karena orang semakin tak sabar untuk menunggu. Orang semakin membutuhkan layanan yang cepat dan mungkin setiap saat. Bisnis berbasis kantor dan jam kerja yang konvensional, kini telah bergeser ke arah bisnis berbasis komunikasi yang mobile dan 24 jam. Meski ini tidak berarti bahwa bisnis berbasis kantor dan jam kerja kemudian akan lenyap, namun kekuatan bisnis saat ini tidaklah terutama terletak pada kestatisannya, namun pada kedinamisannya. Pada unsur mobile dan layanan tiada hentinya. Mereka yang mengandalkan kekuatannya pada kantor dan jam kerja, akan dengan segera kalah bersaing merebut konsumen-konsumen baru, dan bahkan mungkin akan ditinggalkan oleh konsumen-konsumen lamanya jika tak segera memutakhirkan basis kerjanya. Inilah dampak budaya berbisnis yang diciptakan oleh telepon seluler. Sebuah dampak yang bukan hanya mengubah budaya kerja, namun juga menentukan nasib sebuah usaha.
Dengan memahami dampak teknologi terhadap budaya bisnis dan konsekuensi ekonominya, maka kita akan bisa memahami mengapa daerah tertinggal yang tidak memiliki ketersediaan fasilitas komunikasi seluler sungguh merana ekonominya. Bahkan, usaha-usaha yang sejak lama berdiri pun bisa runtuh dengan cepat saat gagal mengintegrasikan diri dengan budaya bisnis yang baru, yang berbasis komunikasi seluler.
Ada 75 juta pengguna ponsel di negeri ini. Anggap saja 1%-nya adalah pebisnis, jadi ada sekitar 7,5 juta pebisnis yang menjalankan usahanya berbasis komunikasi seluler. Namun, bagaimana dengan sekian banyak pengusaha lain, terutama di daerah-daerah yang masih belum tersedia fasilitas komunikasi selulernya, atau setidaknya fasilitas komunikasi selulernya masih buruk kualitasnya? Kekalahan maupun ketakberkembangnya bisnis dan ekonomi di daerah-daerah tertinggal bisa dikatakan merupakan konsekuensi salah satunya dari ketiadaan fasilitas komunikasi seluler yang memadai.
Dalam konteks inilah, peran operator seluler sungguh amat penting. Peran operator seluler sesungguhnya tidaklah sekedar pasif dalam artian hanya sekedar memberikan jasa layanan komunikasi seluler kepada pengguna telepon seluler, namun juga bersifat aktif-konstruktif karena seperti yang telah dijelaskan di atas, teknologi seluler telah turut mengubah budaya bisnis dan nasib ekonomi yang ada. Kemampuan operator seluler untuk turut membentuk budaya bisnis yang mobile itulah yang sungguh bernilai. Pembangunan ekonomi daerah tertinggal tak akan berhasil manakala budaya bisnis yang ada tak adaptif dengan kompleksitas dan dinamika bisnis lokal, regional bahkan global. Hanya ketika budaya bisnis berubah mengikuti irama dunia bisnis yang lebih luas, ada harapan cerah bahwa suatu daerah akan dengan cepat terintegrasi dengan arus ekonomi dan bisnis yang lebih luas dan dengan demikian mampu mencapai taraf kemakmuran dan kesejahteraan seperti yang dicitakan. Peran konstruktif dalam membangun budaya bisnis inilah yang dimiliki oleh operator seluler, dan kemampuan konstruktif ini pula yang patut menjadi filosofi dasar dari operator seluler dalam turut membangun daerah tertinggal.
Selama ini secara sadar atau tak sadar, sengaja atau tak sengaja, operator seluler telah turut membantu kemajuan proses pembangunan budaya bisnis yang baru di negeri ini. Bahkan, operator-operator seluler juga telah menunjukkan kepeduliannya pada pembangunan masyarakat lewat program-program corporate social responsibility (CSR). Hanya saja, program-program CSR itu seringkali terkesan lebih bersifat kuratif sebagai penyeimbang dari aktivitas bisnis perusahaan. Dengan kata lain, seolah-olah ada dua aktivitas yang punya tujuan masing-masing. Satunya bertujuan mencari laba, sementara yang lain untuk membagikan sebagian laba tersebut. Meski hal tersebut patut dipuji, namun sesungguhnya antara CSR dan aktivitas bisnis tak perlu dipahami sebagai sesuatu yang berjalan di lajurnya masing-masing jika kita memahami kekuatan konstruktif yang dimiliki oleh operator-operator seluler dalam membangun budaya bisnis dan ekonomi bangsa. Manakala filosofi “Turut Membangun Budaya Bisnis dan Ekonomi Bangsa Ke Arah Kemajuannya” telah disadari dan diadopsi, maka tak akan ada kesan keterpisahan di antara aktivitas mencari laba dan aktivitas sosial. Filosofi tersebut memahami bahwa pencarian laba yang benar ialah yang turut membangun kemajuan dan kekuatan bisnis dan ekonomi bangsa yang hebat, dan sekaligus pembangunan sosial hanya akan bisa dicapai secara sejati lewat profesionalisme usaha dan kerja.
Filosofi itu pula yang ada baiknya menjadi filosofi operator seluler dalam turut membangun percepatan kemajuan daerah tertinggal. Dengan filosofi tersebut, operator seluler akan bisa melihat bahwa aktivitasnya turut membangun daerah tertinggal sesungguhnya bukan merupakan aktivitas kuratif, namun merupakan investasi. Tentu dengan syarat bahwa pihak operator seluler paham bahwa jika kehidupan bisnis dan ekonomi di daerah tertinggal tersebut berkembang, maka siapa pula yang akan menikmati pertambahan pelanggan bisnis baru? Investasi yang dijalankan dengan strategi yang benar, niscaya akan menghasilkan buah bagi penanamnya.

Bagaimana strateginya?
Secara sederhana, strateginya meliputi 3 (tiga) hal, yaitu:
Strategi penyediaan dan penyempurnaan BTS. Strategi ini jelas bersifat teknis, namun amat penting demi kepuasan dan kenyamanan pelanggan di daerah tertinggal. Bagaimana mungkin pelanggan akan senang jika setiap kali sinyal yang didapatnya putus-putus? Menciptakan pelanggan yang loyal memang penting, namun lebih penting lagi untuk menciptakan pelanggan yang advokatif. Pelanggan yang loyal barangkali memang puas, namun cukup sekedar puas. Sementara pelanggan yang advokatif bukan hanya puas, namun menyebarluaskan kepuasannya itu ke sekelilingnya, dan dengan demikian turut mempromosikan operator seluler yang dianggapnya memuaskan. Pelanggan advokatif ini akan tercipta manakala kualitas hubungan seluler yang didapatnya begitu unggul sehingga mendorongnya ingin orang lain mengikuti jejaknya menggunakan operator seluler yang sama. Penyediaan dan penyempurnaan BTS merupakan salah satu cara terbaik untuk menciptakan pelanggan-pelanggan yang advokatif. Jadi, dengan strategi pertama ini, pelanggan punya insentif untuk mengadopsi budaya bisnis baru, di sisi lain operator seluler bisa menjaring pelanggan-pelanggan baru, yang seiring dengan kemajuan ekonomi daerah, akan semakin membesar jumlahnya. Kedua pihak sama-sama senang.
Strategi pengayaan layanan pelanggan. Pelanggan advokatif juga bisa diciptakan dengan cara penyediaan layanan pelanggan yang bermutu dan simpatik. Sikap responsif dan komunikatif, apalagi terhadap kebutuhan kalangan pebisnis dari daerah-daerah tertinggal, sungguh amat bernilai artinya guna menciptakan pelanggan yang advokatif. Usulan, kritik maupun pengaduan dari pelanggan haruslah menjadi alat evaluasi yang berguna untuk semakin menyempurnakan diri menjadi perusahaan yang lebih efektif dan komunikatif. Sikap komunikatif dan bersahabat ini akan bisa menjadi insentif lain bagi pelanggan untuk semakin mantap berbisnis dengan mengandalkan kepercayaan dukungan dari pihak operator seluler.
Strategi pembangunan kemasyarakatan. Karena membangun budaya bisnis dan ekonomi daerah tertinggal itu bukan saja harus diarahkan pada kalangan pengusaha saja, namun pada seluruh lapisan masyarakat sebagai bagian dari mata rantai ekonomi, maka strategi pembangunan kemasyarakatan sangatlah penting juga artinya. Budaya bisnis dan ekonomi yang maju didasarkan pada kualitas-kualitas kecerdasan dan kreativitas. Karena itulah, pihak operator seluler juga perlu turut serta berpartisipasi membangun tradisi berprestasi dan kreatif dari seluruh lapisan masyarakat di daerah tertinggal, terutama kalangan generasi muda. Ketika kualitas kecerdasan dan kreativitas masyarakat daerah berkembang, kualitas kecerdasan dan kreatif itu juga akan merembes ke dalam aktivitas berekonomi mereka, termasuk dalam aktivitas konsumsi. Ketika aktivitas berekonomi semakin cerdas dan kreatif, maka aktivitas itu akan berlangsung dinamis dan progresif. Kebutuhan-kebutuhan baru akan muncul. Agar kebutuhan-kebutuhan baru ini bisa terpenuhi, maka dibutuhkan alat komunikasi untuk bisa berhubungan dengan peyedia-penyedia kebutuhan baru tersebut. Komunikasi seluler jelas jadi pilihan utamanya karena sifatnya yang mobile dan praktis. Jadi, secara tak langsung muncullah kebutuhan komunikasi baru di masyarakat daerah tertinggal. Lagi-lagi, baik pihak masyarakat daerah tertinggal maupun pihak operator seluler senang.

Penutup
Tentu saja, kenyataan tak semudah dan seindah gagasan. Namun, membangun daerah tertinggal sekaligus meletakkan dasar kelestarian bisnis perusahaan operator seluler bukanlah suatu hal yang tak mungkin diwujudkan. Keduanya bahkan harus selalu berjalan sinergis satu sama lain. Perusahaan-perusahaan besar di negara-negara maju telah lama memahami hal ini dengan membangun masyarakat dan bangsanya, lantas mengapa kita tak mulai meneladaninya?

Senin, 01 Oktober 2007

Aneh....


Namanya Mita Marhaeni, dia kost dan satu kamar denganku. Suatu pagi serambi antri menunggu giliran memakai kamar mandi kost ia raih secara serampangan buku untuk dibaca, sedangkan mulutnya masih asyik mendendangkan "mimpi-nya" Anggun yang diteriakkan radio di kamar kami.
Buku yang dibaca Mita berjudul "Karl Marx (Filosof, Wartawan, penulis)" terbitan An-Najah Press buah karya Sabaruddin Tain. Buku tersebut setahuku buku propaganda untuk anak-anak yang dikemas versi komik. Pada sampul buku tersebut terdapat tulisan: Marxisme Sudah Ambruk! Komunisme Telah Gagal! Ada dialog lucu (menurut saya) dalam buku ini: Diceritakan ketika masih muda Marx tidak tertarik bermain dengan kawan-kawan di sekolahnya, hingga kawannya mengkritik Marx, "Marx, kamu kurang gaul!". Lalu Marx menjawab dengan enteng, "Gak papa, daripada kurang mutu!".
Lalu mengapa buku tersebut bertengger di rak buku kami? Begini ceritanya, kira-kira 1 bulan yang lalu secara kebetulan aku menemukan buku tersebut di rak buku khusus anak-anak di toko buku Toga Mas. Kupikir lumayan juga buku ini buat bacaan anak-anak(ku) kelak. Sebelumnya aku juga membeli buku Karl Marx versi komik dengan sampul berwarna ungu muda terbitan Resist. Biar seimbang dan terjadi dialegtika maka kupikir dua buku tersebut yang membahas pandangan Marx dari dua sudut pandang yang berbeda diharapkan akan bermuara pada perdebatan yang berakhir pada kesimpulan secara objektif. Investasi pikirku.
Tapi liat ja mimik Mita saat membaca buku tersebut, seolah buku yang ditangannya tersebut bukan buku propaganda tapi justru lebih mirip buku humor. Aku sendiri enggak yakin apakah humor cerdas seperti layaknya karya Eko Prasetyo atau logika yang mirip lelucon. Bagaimana menurut Anda buku ini? Apakah benar-benar cerdas dan provokatif? Silahkan baca sendiri…