<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376</id><updated>2011-11-29T00:15:46.353+07:00</updated><category term=':'/><title type='text'>NoPatriarki</title><subtitle type='html'>.::Lega donya lila ing sirna, merelakan dunia dan hidup demi cinta abadi::.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-3869234732661535947</id><published>2010-03-11T21:43:00.002+07:00</published><updated>2010-03-11T21:51:17.144+07:00</updated><title type='text'>Suatu Ketika</title><content type='html'>Sebagai seorang yang religius bangun di pagi hari menjelang subuh itu adalah yang biasa, tapi seorang yang bangun pagi dan dia tidak religius, bahkan tidak shalat itu baru luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya-tanya apa gerangan yang akan ia kerjakan sehingga bangun terburu-buru. Ternyata dia tidak tergesa-gesa untuk keluar rumah dan mencari uang, bukan itu, dia dengan santai malah menyapu rumah, membuka jendela sehingga udara pagi yang sejuk masuk ruangan menggantikan udara pengap semalaman di ruangan yang tertututup. Lalu, setelah selesai dia melangkang ke kamar mandi dan jebar-jebur memperlakukan tubuhnya untuk kedinginan yang menyegarkan.  Setelah itu barulah dia akan membaca koran, dua koran dia lahap dalam waktu kurang lebih satu jam, bergantian membacanya dengan kawan-kawan lainnya termasuk aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kawan2 jalanan yang telah "meninggal", terimakasih pelajaran bangun pagi. Semalam aku bermimpi tentang kalian..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-3869234732661535947?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/3869234732661535947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=3869234732661535947' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3869234732661535947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3869234732661535947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2010/03/suatu-ketika.html' title='Suatu Ketika'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1653111860879001514</id><published>2009-04-19T21:18:00.003+07:00</published><updated>2009-04-19T21:27:35.241+07:00</updated><title type='text'>Cerpen Lagi: Keputusan</title><content type='html'>KEPUTUSAN &lt;br /&gt;(Dulu, Kartini meninggal karena pendarahan setelah melahirkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja kucecerkan, di kasur, di lantai, di kamar mandi, di tembok, kemudian kubungkus kau sebagian dan kubuang ke kali di belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku ingin terlihat gila, berteriak-teriak melengking hingga tenggorokanku kelu, menangis tersedu hingga mataku bengap dan syaraf-syaraf di sekitar mata terasa sakit dan berdenyut, aku selalu ingin bersedih hingga dadaku kram dan tulang punggungku terasa kaku, atau menjambak rambutku sendiri hingga kulit kepalaku semakin terlihat botak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku akan berjalan mengelilingi rumah, mengelilingi kampung, mengelilingi kota dan menyinggahi pantai jika aku merasa kehausan. Tapi aneh pantai pun berubah berwarna merah, ombak berbuih merah, dan ikan-ikan semakin besar saja badannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suka membuat orang-orang berkerudung itu marah dengan caraku sendiri, mereka menyebutku perempuan gila, ketika aku cecerkan juga sebagian di lantai masjid.&lt;br /&gt;Aku ingin semua tahu bahwa aku masih merah, aku masih menstruasi bulan ini, Meskipun sebulan yang lalu, malam itu di ujung gang buntu aku diperkosa oleh bajingan jalanan yang kotor. &lt;br /&gt;Entah, mereka berjumlah empat atau lima orang lelaki bangsat. Aku memang perempuan yang pernah diperkosa dan semua boleh mencapku sebagai sosok hina. Sedangkan empat atau lima begundal itu adalah orang-orang yang gagah, mereka berhasil  menggagahiku dengan cara binatang yang gagah (ah, meskipun gagah kalau binatang apa bagusnya?). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi.&lt;br /&gt;Sengaja kucecerkan, di kasur, di lantai, di kamar mandi, di tembok, kemudian kubungkus kau sebagian dan kubuang ke kali di belakang rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku ingin terlihat gila, berteriak-teriak melengking hingga tenggorokanku kelu, menangis tersedu hingga mataku bengap dan syaraf-syaraf di sekitar mata terasa sakit dan berdenyut, aku selalu ingin bersedih hingga dadaku kram dan tulang punggungku terasa kaku, atau menjambak rambutku sendiri hingga kulit kepalaku semakin terlihat botak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu aku akan berjalan mengelilingi rumah, mengelilingi kampung, mengelilingi kota dan menyinggahi pantai jika aku merasa kehausan. Tapi aneh pantai pun berubah berwarna merah, ombak berbuih merah, dan ikan-ikan semakin besar saja badannya.&lt;br /&gt;Aku suka membuat orang-orang berkerudung itu marah dengan caraku sendiri, mereka menyebutku perempuan gila, ketika aku cecerkan juga sebagian di lantai masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin semua tahu bahwa aku masih merah, aku masih menstruasi bulan ini, Meskipun sebulan yang lalu, malam itu di ujung gang buntu aku diperkosa oleh bajingan jalanan yang kotor. Tapi hari ini akan kubuktikan pada orang-orang itu, aku yang akan menentukan bayi-bayi yang (tidak) berbapak pemerkosa tidak akan pernah menempel pada rahimku, tidak akan pernah keluar melalui kelaminku. Aku yang menentukannya, bukan pemerkosa yang tidak tahu diri itu, atau perempuan-perempuan berkerudung yang fanatiknya mencapai titik khayalan. Ini adalah keputusanku, keputusan perempuan korban perkosaan, yang meskipun tidak memutuskan apapun, aku telah dicap hina. Kali ini biarkan aku menentukan bahwa akulah yang berkehendak hina, bukan dipaksa untuk menjadi hina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuk Luhpari(ku)&lt;br /&gt;01.15 (12/04/09)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1653111860879001514?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1653111860879001514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1653111860879001514' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1653111860879001514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1653111860879001514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2009/04/cerpen-lagi-keputusan.html' title='Cerpen Lagi: Keputusan'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-9185202861011083198</id><published>2008-11-10T18:18:00.002+07:00</published><updated>2008-11-10T18:23:43.407+07:00</updated><title type='text'>OPINI</title><content type='html'>Mencari Pemimpin Berjiwa Pahlawan&lt;br /&gt;Oleh: Ratih Indri Hapsari*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat yang baru disambut dengan euforia oleh mayoritas masyarakat Amerika Serikat. Kemenangan Obama yang mewakili partai demokrat tersebut diharapkan membawa angin segar perubahan dimana pada saat ini dunia tengah mengalami krisis ekonomi global dengan titik episentrumnya di Amerika Serikat (AS). Ketika hasil penghitungan selesai dan dinyatakan Obama unggul atas McCain, maka seketika para pendukung Obama merayakannya dengan penuh suka cita. Di Indonesia sendiri, proses pergantian presiden AS menyita perhatian berbagai pihak. Pemberitaan di TV terus menerus mengupas latar belakang sejarah hidup Obama, perjalanan karier politiknya, kehidupan pribadinya, termasuk ketika Obama kecil pernah tinggal selama kurang lebih empat tahun di Indonesia. Di Indonesia juga terdapat beberapa kelompok pendukung Obama, selain kawan-kawan kecil Obama semasa tinggal di Indonesia, bahkan artis-artis Indonesia yang pernah tinggal di AS, maupun yang—hanya sekedar—bersuamikan orang Amerika juga ikut hiruk pikuk berkumpul, sengaja membuat pesta kecil dengan balon-balon berwarna-warni untuk merayakan kemenangan Obama. Memang tidak sedikit penduduk Indonesia yang sangat mengharapkan Obama menjadi presiden baru Amerika. Ketika ditanya apa alasannya mendukung Obama sebagai Presiden Amerika yang baru, rata-rata mereka menjawab, mengharapkan perubahan baru yang lebih baik untuk Amerika dan dunia, khususnya Indonesia.Fakta tersebut memang secara logika sedikit ganjil, apalagi ketika kita menenggok kondisi perpolitikan di tanah air yang dalam waktu yang tidak jauh berbeda juga sedang berlangsung agenda politik Pilgub. Tapi sangat berkebalikan, antusiasme spontan rakyat justru serentak terfokus pada agenda politik luar negeri yang secara tidak langsung tidak berpengaruh pada perbaikan kehidupan, sedangkan pada event pilgub dalam negeri justru kering. Hal tersebut terbukti dari kemenangan angka golput di berbagai daerah pemilihan gubernur di beberapa provinsi di tanah air. Contoh yang terakhir adalah Pilgub di Jawa Timur (Jatim) yang keberlangsungannya bersamaan dengan pemilihan presiden AS. Estimasi pemilih pada Pilgub Jatim hanya sekitar 55% yang memilih, sedang 40 % lebih penduduk yang terdaftar sebagai calon pemilih tidak menggunakan hak suaranya. Hal tersebut menunjukkan angka apatisme rakyat semakin meluas terhadap agenda pemilihan (dan politik)di tanah air, sedangkan kemeriahan yang ditunjukkan oleh rakyat Indonesia dalam merespon pemimpin baru di negara lain justru lebih spontan, seolah agenda tersebut sangat mempengaruhi keseharian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis Kepemimpinan di Tanah Air&lt;br /&gt;Pemilu di Indonesia merupakan agenda besar, terlebih karena menelan biaya yang sangat besar (bahkan konon kabarnya, bila dihitung ongkos kampanye pilgub Jatim lebih besar daripada ongkos kampanye pemilihan presiden AS). Orasi dan kampanye politik calon elite melalui pemasangan iklan di TV, memasang spanduk, dan baliho gambar ternyata bukan agenda yang besar menurut rakyat meskipun hal tersebut jelas menelan anggaran besar. Pilgub yang tidak lain memilih calon gubernur di daerah sendiri ternyata bukanlah hal penting bagi masyarakat, mereka juga tidak antusias, bahkan cenderung acuh dan meremehkan kesungguhan calon-calon pemimpin rakyat tersebut.Ketika angka apatisme rakyat terhadap pemilu semakin signifikan, apakah pilihan untuk tidak memilih adalah kesalahan?. Sering sekali kita mendengar statement, bahwa golput (golongan putih) berarti tidak nasionalis, tidak cerdas, dan menyiakan anggaran pemilu yang begitu besar, tidak memilih berarti tidak menyukai perubahan menuju kondisi lebih baik. Demikianlah seringkali golput dijustifikasi sebagai sebuah sikap yang tidak bertanggungjawab. Padahal seharusnya bila ingin mengerti psikososial massa rakyat pemilih, kurang pas bila sekedar menyalahkan dan menyalahkan, tetapi bertanya mengapa hal tersebut bisa terjadi adalah langkah terbijak untuk mengevaluasi mengapa begitu banyak angka golput, dengan mempertanyakan diharapkan nantinya ditemukan sebuah formula solusi yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Baru = Pahlawan Baru&lt;br /&gt;Membincangkan calon pemimpin, sama halnya membicarakan pahlawan baru yang diharapkan bisa menjadi patner rakyat menuju kepada peri kehidupan yang maju dan sejahtera. Pahlawan yang ditunggu rakyat bukanlah pahlawan yang hanya pandai berorasi, namun tidak memiliki visi konkrit. Pahlawan yang dirindukan rakyat bukanlah sekedar soal umur, jenis kelamin, maupun ras. Jenis pahlawan baru yang kompeten menjadi pemimpin baru, adalah pahlawan yang mau memberikan gambaran besar perubahan dan mampu mewujudkannya secepatnya, karena rakyat bosan menunggu janji-janji kosong. Rakyat butuh kehidupan yang terbaik, bukan kaos bergambar partai atau iklan-iklan calon pemimpin.  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-9185202861011083198?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/9185202861011083198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=9185202861011083198' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/9185202861011083198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/9185202861011083198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/11/opini.html' title='OPINI'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-8191071001600284239</id><published>2008-10-28T10:22:00.002+07:00</published><updated>2008-10-28T10:26:27.227+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;"Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa&lt;/span&gt;&lt;b style="color: rgb(255, 0, 0); background-color: rgb(255, 102, 255); font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255); font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Kahlil Gibran: Cinta, Keindahan, Kesunyian. Page: 270)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-8191071001600284239?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/8191071001600284239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=8191071001600284239' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8191071001600284239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8191071001600284239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/10/jangan-kau-kira-cinta-datang-dari.html' title=''/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-213101931242224558</id><published>2008-09-27T15:26:00.004+07:00</published><updated>2008-09-27T15:49:23.136+07:00</updated><title type='text'>BUANG KE TONG SAMPAH SEKARANG JUGA RANCANGAN RUU APP !!</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;MENOLAK RUU TENTANG PORNOGRAFI &amp;amp; REVISINYA !!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;RUU APP = TERROR BESAR TERHADAP BERBEDAAN&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;NEGARA  &amp;amp; HUKUM TIDAK BOLEH DIJADIKAN ALAT OLEH PERATURAN AGAMA TERTENTU&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;RUU APP ADALAH PENYANGKALAN NYATA TERHADAP FAKTA KONDISI LATAR BELAKANG SOSIAL, BUDAYA dan TRADISI  MASYARAKAT YANG BERBEDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;br /&gt;RUU APP = MEMBERI PELUANG DOMINASI MAYORITAS TERHADAP MINORITAS&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;&lt;br /&gt;RUU APP = PELANGGARAN HAM BERAT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-213101931242224558?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/213101931242224558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=213101931242224558' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/213101931242224558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/213101931242224558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/09/buang-ke-tong-sampah-sekarang-juga.html' title='BUANG KE TONG SAMPAH SEKARANG JUGA RANCANGAN RUU APP !!'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-5594047541190070396</id><published>2008-07-12T09:44:00.002+07:00</published><updated>2008-07-12T09:54:36.113+07:00</updated><title type='text'>Catatan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:20;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Harapan dan masukan korban 65-66 di ...., catatan hasil diskusi korban 65 yang diadakan pada tanggal 8 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Harapan untuk &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0mm;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melaksanakan pancasila dan UUD 1945 secara konsisten&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Adanya pelurusan sejarah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Adanya pemulihan hukum dan nama baik karena korban merasa tidak pernah ada proses pengadilan pada saat mereka ditahan dan dibantai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jangan pernah ada diskriminasi baik hak sipol maupun ekosob terhadap para korban 65&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Adanya Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Harapan dan masukan korban tragedi 65 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Tindakan tahun 1965 bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pembunuhan ,massal tahun 1965-1966 dalah bukan perang agama dan perang kelompok, tetapi tragedi politik1965 adalah sebuah proses kudeta Suharto terhadap Soekarno dan pembunuhan massal 65-66 adalah imbas dari kudeta Suharto tersebut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semua yang terlibat pada peristiwa 65 adalah korban dari sebuah arus konspirasi politik besar yang melibatkan berbagai kekuatan, baik dari dalam maupun dari luar negeri (CIA, Suharto Militer/ Angkatan Darat)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang disayangkan adalah kenapa kelompok-kelompok agama ikut dalam arus jahat yang terjadi pada waktu itu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kekuatan-kekuatan besar pada waktu itu adalah kelompok yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengkhianati Pancasila&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;6.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidak dirasakan bahwa pembunuhan-pembunuhan yang terjadi pada tahun 1965 adalah suatu proses pembunuhan dari Pancasila yang merupakan teori-teori dari Soekarno mengingat pada waktu itu adanya proses pembantaian massal selalu menggunakan alasan adalah untuk menyelamatkan Pancasila tetapi justru setelah tahun 1965 Pancasila malah tidak dilaksanakan lagi secara murni dan lurus &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;7.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam usutan tahun 1965 ada pertanyaan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;“masuk sukarelawan apa tidak?”,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ternyata yang di habiskan terlebih dahulu pada waktu itu adalah kelompok sukarelawan (Trikora,Dwikora) dan juga aktivis-aktivis 45&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;8.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peristiwa tahun 1965 membunuh demokrasi, Pancasila dan UUD 1945, militer adalah pelaku utama dari perbuatan ini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;9.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasca tahun 1965 terjadi berbagai proses demoralisasi keimanan dan kebudayaan nasional, contoh maraknya diskotik, narkoba dll sebagai akibat dari masuknya berbagai budaya barat tanpa ada batas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;10.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kejadian tahun 1965-1966 bertentangan dengan nilai-nilai agama yang selalu mengajarkan cinta kasih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;11.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;untuk saat ini Indonesia harus memperkuat kebudayaan nasional dan dalam hal perekonomian harus dimiliki dan dikerjakan oleh bangsa Indonesia sendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;12.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;PKI tidak pernah berontak terhadap republik, PKI hanya pernah berontak terhadap kolonialisme Belanda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;13.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Harus ada berbagai kesaksian-kesaksian sejarah baik dari pihak yang kalah maupun dari pihak yang menang, hal ini berguna untuk pelurusan sejarah dan membongkar konspirasi besar mengenai GESTOK&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;14.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kenapa pada waktu itu Soekarno yang menurut tuduhan Suharto akan dikudeta oleh PKI akhirnya ikut ditahan dan dihabisi??, berarti ada pihak-pihak ketiga yang akan melakukan Kudeta secara halus terhadap kepemimpinan nasional dibawah Presiden Soekarno&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;15.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Disinyalir ada berbagai kekuatan-kekuatan yang menyusup ditubuh NU sehingga NU kemudian berbalik memukul PKI, padahal NU sendiri adalah kawan baik di dalam kekuatan Front Nasional&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;16.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buku-buku sejarah perlu diperbanyak dan perlu ada banyak data-data dari luar negeri (contoh Buku karya John Roosa), karena berbagai sumber-sumber dari dalam negeri sendiri banyak memakai teori-teori dari kelompok-kelompok yang menang pada waktu itu yang akhirnya menindak dan menghancurkan PKI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0mm 0mm 0pt 35.7pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;17.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;font-family:'Times New Roman';font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Ada banyak praktek-praktek kerja paksa yang dilakukan terhadap para tahanan politik mulai dari penjara Nusakambangan sampai kamp-kamp di Pulau Buru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-5594047541190070396?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/5594047541190070396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=5594047541190070396' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5594047541190070396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5594047541190070396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/07/catatan.html' title='Catatan'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-302555682878058026</id><published>2008-07-01T12:04:00.001+07:00</published><updated>2008-07-01T12:06:47.152+07:00</updated><title type='text'>Baru tahu loh!</title><content type='html'>Jarang ngenet, baru tahu klo ada tulisanku yang dimuat Batam Post:http://kepritoday.com/content/view/10147/36/&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat bagi khalayak banyak. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-302555682878058026?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/302555682878058026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=302555682878058026' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/302555682878058026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/302555682878058026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/07/baru-tahu-loh.html' title='Baru tahu loh!'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-8342516024951190387</id><published>2008-06-25T15:31:00.003+07:00</published><updated>2008-06-25T15:44:31.069+07:00</updated><title type='text'>Mendesak</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Sampai mati: Tolak Kenaikan Harga BBM..!!!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff6600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;Usut tuntas kematian Maftuh Fauzi, kalau berani jangan pake isu picik &amp;amp; Moralis. kena AIDS?! Otak Pemerintah yang kena AIDS, awas menular ke masyarakat!!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-8342516024951190387?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/8342516024951190387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=8342516024951190387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8342516024951190387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8342516024951190387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/06/mendesak.html' title='Mendesak'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1688152638490877747</id><published>2008-06-25T15:17:00.004+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:38.535+07:00</updated><title type='text'>Coretan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Politik Perempuan dan Pemilu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Ratih Indri Hapsari&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu y&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215731260832325122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 174px; CURSOR: hand; HEIGHT: 134px" height="157" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SGH_8pXPngI/AAAAAAAAAO8/ZO7yScQu9qE/s400/7b8c.jpg" width="196" border="0" /&gt;ang baru pada pilgup Jateng yang belum lama usai. Bibit-Rustri menang telak—meski angka golput tidak boleh dibaaikan—dari pasangan cagup lain. Rupanya sosok perempuan kembali menjadi tumpuan kepercayaan rakyat. Jika ingin hidup tentram, maka serahkan semuanya pada ibu, sehingga muncul semboyan &lt;em&gt;vote for women&lt;/em&gt; di kalangan masyarakat konstituen. Bahkan Megawati, mantan presiden perempuan pertama RI, terang-terangnya ingin dipanggil ‘mama’ oleh massa pedukungnya.&lt;br /&gt;Di negara lain, sosok perempuan seperti Aung San Suu Kyi, Vandana Shiva dll, adalah sosok perempuan kuat yang menjadi inspirassi perlawanan terhadap kekurangajaran militer dan ekspansi borjuis kapitalis.&lt;br /&gt;Di Indonesia, pada situasi yang tidak menentu seperti sekarang ini, dimana masyarakat kesulitan beradaptasi dengan kenaikan harga minyak, rakyat yang tidak nyenyak tidur karena takut di PHK, was-was akan lonjakan harga sembako, apalah yang paling menenangkan selain mengadu pada ibu, dan merajuk dipangkuannya. Seperti layaknya masa-masa balita—sebuah fase yang dialami seluruh manusia. Dimana sosok ibu adalah sosok yang tenang, pengasih, selalu membela, dan menjaga maka demikianlah keunggulan karakter perempuan dalam memenangkan posisi kepemimpinan di hati rakyat.&lt;br /&gt;Mengenai teori psikologis tersebut menurut Erich Fromm pada manuskrip yang berjudul "Cinta, Seksualitas, dan Matriarki". Menurutnya, perempuan secara seksualitas memiliki fungsi reproduksi melahirkan anak. Sehingga perempuan lebih dahulu belajar menebarkan cinta dan kasih sayang terhadap makhluk melampaui batas ego, dan menggunakan kelebihan yang dimilikinya untuk memperbaiki eksistensi orang lain. Cinta, perhatian, tanggung jawab terhadap sesama merupakan dunia seorang ibu. Kasih ibu adalah benih yang tumbuh di setiap cinta altruisme. Bahkan lebih dari itu, kasih ibu adalah dasar bagi perkembangan humanisme universal.&lt;br /&gt;Selain karena melahirkan, potensi kepekaan perempuan akan cinta juga disebabkan oleh pengalaman psikologis, terutama karena kodrat tubuhnya, menstruasi yang membuat perempuan menahan sakit hampir sepanjang hidupnya setiap bulan. Pengalaman merasakan realitas material tersebut membuat perempuan begitu tanggap akan rasa sakit dan peka untuk merasakan penderitaan yang dialami oleh orang lain. Perasaannya terlatih untuk merasa. Demikian juga, pikirannya begitu peka dan teliti dalam merespon realitas.&lt;br /&gt;Sayang sekali, potensi psikologis tersebut dalam kurun sejarah tidak didukung oleh syarat-syarat material yang kondusif. Seiring dengan terjadinya perubahan menuju hubungan produksi yang eksploitatif, ternyata perempuan tergeser dari posisi produktifnya menuju ke ranah domestik atau peran-peran yang sempit. Pada hal seandainya perempuan diberikan posisi sebagai pemimpin atau tokoh publik, mungkin kemampuan hati dan otaknya akan sangat berguna. Kodrat alam dijungkirbalikkan dan, sayangnya, citra ibu yang peka akan kasih sayang tersebut telah terdistorsi oleh masyarakat yang narsis dan herois. Citra yang dilekatkan pada perempuan adalah manusia yang sentimental, lemah, dan posesif, serta stereotip negatif lainnya.&lt;br /&gt;Perkembangan psikososial manusia dalam masyarakat kapitalis. Kapitalisme sebagai penyebab dari penjungkirbalikan citra perempuan tersebut, yaitu menempatkan perempuan sebagai objek pemuas dan jenis kelamin kedua (second sex) dengan menekan upah buruh perempuan atau mengeksploitasi tubuhnya di bagi pasar kecantikan, di sisi lain roda kapitalisme merujuk sistem matriarki dalam memasarkan produknya. Misalnya, kini manusia dininabobokan oleh TV, atau antar individu dilengkapi kemudahan berkomunikasi dengan adanya telephone mobile.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Kapitalisme memasarkan produknya untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi manusia seperti ketika masa kanak-kanaknya ketika masih dalam belaian cinta kasih sang ibu. Namun pembedanya adalah kapitalisme melakukan itu semua untuk memupuk keuntungan dan terkadang mengabaikan bahkan berusaha mematikan dan kritik dan kreatif manusia. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Pada akhirnya, kemenangan kader perempuan pada panggung perpolitikan tanah air merupakan angin segar akan perbaikan kehidupan rakyat. Semoga politik bisa menjadi alat perempuan dalam mewujudkan cinta kasih universal, sebaliknya, apabila sosok perempuan yang digadang-gadang justru menjadi alat kepentingan politik sekelompok golongan yang mudah disetir oleh kekakuan ala militer atau keculasan ala borjuis kapitalis maka itu akan menciderai kepercayaan rakyat. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1688152638490877747?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1688152638490877747/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1688152638490877747' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1688152638490877747'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1688152638490877747'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/06/coretan.html' title='Coretan'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SGH_8pXPngI/AAAAAAAAAO8/ZO7yScQu9qE/s72-c/7b8c.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-399816421331270287</id><published>2008-06-06T18:03:00.002+07:00</published><updated>2008-06-06T18:12:48.372+07:00</updated><title type='text'>surat</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Surat untuk Munarman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Havel dan Kafka,Ini kali bukan kisah untuk kalian. Tapi, sepucuk salam untuk seseorang bernama Munarman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munarman, apa kabar? Saya dengar, polisi sudah mencari Anda.Mudah-mudahan sehat selalu. Jaga fisik senantiasa. Bukankah itu modalutama Anda belakangan ini?! Hal yang Anda sebut "perjuangan" mungkinmasih akan panjang.Nah, soal catatan kiprah Anda di ranah publik, agaknya belum cukuppanjang. Saya ingat bahwa Anda pernah menjadi Koordinator Komisi untukOrang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras). Anda menggantikan almarhumMunir, yang kemudian juga menjadi korban para durjana. Anda sendirimemasuki lingkungan LSM sejak 1995 saat menjadi relawan di LBHPalembang.Lepas dari lingkungan LSM hukum, belakangan Anda bergabung denganHizbut Tahrir Indonesiaâ€“sebuah organisasi massa yang relatif jauh daripraktik kekerasan. Tapi, Ahad lalu, saya lihat Anda memimpinsegerombolan orang yang dengan bersemangat menghajar sekelompok orang.Tak ada perlawanan sama sekali dari pihak yang diserang. Darahbercucuran dari kepala. Wajah yang bengap. Tulang hidung yang patah.Seorang perempuan menderita gegar otak. Ya, seorang perempuanâ€“kaum yangmelahirkan kita.Munarman, saya masih ingat, Anda pernah menjadi Koordinator Kontras.Kini, Anda menjelma pelaku kekerasan. Sungguh kontras. Sungguh sayadibelit rasa penasaran, "guncangan besar" apa yang membikin Andabersalin watak?Tak lama setelah insiden Monas, Anda berujar, "Kenapa merekamengadakan aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB jugamemasang iklan di koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya merekamenantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang."Bung, setahu saya, Anda adalah seorang sarjana hukum. Bahkan, pernahmemimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Denganluncuran kata-kata itu, saya kira Anda telah menaruh hukum sebagaikeset, yang setiap saat Anda injak-injak, Anda rendahkan. Jika ada yangbersuara lain, itu Anda anggap sebagai ajakan berperang. Lalu, Anda punmenyerbu dengan pentungan dan tinju. Sejak kapan hukum mengenal moduspenyelesaian perkara seperti itu?Ah, soal penyelesaian perkara, saya jadi ingat satu hal. Pada 2007, Anda terjerat kasus hukum ecek-ecek. Mobil Anda diserempet taksi Blue Bird di kawasan Limo, Depok. Lalu,Anda menempuh cara ini: merampas kunci mobil, SIM pengemudi, dan STNKtaksi tersebut. Kabarnya, Kejaksaan Negeri Depok menyatakan kasus inisiap disidangkan. Tapi, saya tak pernah mendengar kelanjutannya.Di hari-hari ini, Anda agaknya sulit lolos. Aparat hukum sudahmengincar. Banyak kalangan juga mengharapkan Anda diadili. Harapanmereka: hukum ditegakkan sehingga republik ini masih layak huni,ditinggali secara beradab bin manusiawi.Akhir kata, sejak kemarin, beredar foto Anda sedang mencekikseseorang. Tapi, Anda berkilah justru sedang menghalau seorang anggotaLaskar Islam agar tak anarkis. Oke! oke!Lalu, Anda melanjutkan, akan menyeret sejumlah media yang memajangfoto itu ke polisi. TEMPO secara khusus Anda sebut. Yang mengagetkan,termuat di portal-portal berita hari ini, Anda menyeru agar GoenawanMohamad, jurnalis senior dan pendiri TEMPO, untuk bersujud dan meminta maaf pada Anda. Bersujud?Munarman, jangan terlalu lama mengistirahatkan akal sehat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Dicopy dari: IndoProgress&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-399816421331270287?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/399816421331270287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=399816421331270287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/399816421331270287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/399816421331270287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/06/surat.html' title='surat'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-2873277074565352309</id><published>2008-06-04T09:42:00.008+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:39.630+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Matahari Orange&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untuk Mezis, Selamat Ultah ke-25. Luv U!&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;"Obsesiku mudah koq, sayang. Tapi please, jangan kau tertawakan, karena itu akan membuatku malu. Ok, Ehmm….aku hanya ingin duduk-duduk di tepi pantai menjemput senja, menunggui matahari besar berwarna orange meluncur tenggelam ke laut, hingga ombak menjadi &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SEYK-IO3b3I/AAAAAAAAAO0/CNBI_uXRGwM/s1600-h/semeru3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207862081578561394" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="185" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SEYK-IO3b3I/AAAAAAAAAO0/CNBI_uXRGwM/s400/semeru3.jpg" width="155" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;berwarna-warni."&lt;/em&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Itulah jawabanku, ketika kau bertanya tentang apa sebenarnya obsesi hidup&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SEYJjboUUyI/AAAAAAAAAOk/WIjYcfAZKvc/s1600-h/semeru+2.jpg"&gt;&lt;/a&gt;ku. Dan sungguh sesuai dugaan, kau malah tertawa ngakak setelah mendapat jawaban jujur dariku. Padahal, kaulah orang pertama yang kuberi tahu dengan jujur mengenai hal ini. Dan mungkin, kaulah orang terakhir yang kuberi tahu mengenai hal ini.&lt;br /&gt;Sumpah sayangku, kaulah orang pertama yang kuberi tahu tentang cita-cita hidupku. Obsesi yang menurut penilaianku sendiri terlalu sangat sederhana, terlalu biasa sekaligus sulit diterima. Juga yang menyadarkanku, bahwa tidak semua hal yang sederhana, mudah terwujud dan mudah mendapat dukungan. Mungkin kini orang-orang sudah terbiasa dengan hal yang serba muluk. Cita-cita muluk oleh anak-anak SD, janji-janji muluk oleh calon gubernur, cinta muluk oleh sepasang kekasih baru, cemburu muluk oleh suami yang ingin mengendalikan istri, kebenaran muluk oleh para penjual ideologi.&lt;br /&gt;Huh, betapa aku membenci segala sesuatu yang muluk. Muluk padanan katanya sok suci! Dan aku benci dengan orang yang sok suci! Kalau tidak salah, dulu aku juga pernah mengutarakan tentang hal itu kepadamu, tengah malam, pada pertemuan kita yang entah keberapa, di perjalanan Jember menuju Surabaya. Di Surabaya kau tempelkan bibir tipismu dengan mesra di keningku, dan kita berpisah, aku melanjutkan perjalanan pulang ke Jawa Tengah dan esok kau harus sudah sampai Malang untuk meeting di sana.&lt;br /&gt;Semasa kecil, guru SD-ku bertanya, seperti umumnya guru-guru lainnya, maka pertanyaan wajib yang terlontar dari guru kesayanganku, menanyakan cita-cita murid-muridnya. Dan menjadi kewajiban rutin murid, maka kami harus menjawab pertanyaan tersebut. Teman-temanku semuanya bercita-cita hebat, menjadi dokter, pilot, tentara, tiga cita-cita itu memang favorit teman-temanku. Hingga tiba giliranku menjawab, dan aku shock, karena sama sekali belum terpikir untuk bercita-cita sesuatu, yang jika kuucapkan akan terdengar menakjubkan. Akhirnya aku memilih salah satu dari tiga cita-cita mayoritas yang diucapkan teman-teman. Semua yang mendengarkan jawabanku meresponnya wajar. Duh, padahal kau tahu sayang, waktu itu di kepalaku, cita-citaku hanya ingin duduk-duduk di pantai sambil bermain pasir hingga langit berwarna orange. Lucu sekali, kalau ingat masa-masa itu.&lt;br /&gt;Semasa kuliah dulu, ketika aku tergabung dalam organisasi mahasiswa ‘x’. Ingatkah, ketika itu aku dan kawan-kawan sibuk berteriak-teriak: Revolusi sampai mati!.Kata salah satu senior di organisasi yang telah seratus kali lebih banyak ikut demonstrasi: " Jalan-jalan, naik gunung, ke pantai adalah dunia hedonisme yang akut".&lt;br /&gt;"Huh, bagaimana mungkin bercakap dengan alam adalah hedon? Setahuku hedon adalah, menjual ideologi dengan harga murah, hedon adalah menghabiskan uang kas organisasi untuk membeli alkohol dan nongkrong hampir tiap malam di kafe dan diskotik seperti yang setiap hari kalian lakukan!", begitulah aku berteriak pada mereka, seraya melakukan perlawanan, memperjuangkan obsesi kita untuk menakhlukkan Semeru.&lt;br /&gt;Tapi tak kusangka salah satu kawan yang paling dekat denganku di organisasi berkata lantang, "Alaaah, paling kau mau bercinta dengan pacarmu yang pelukis itu. Dasar maniak kau, mending bercinta sama aku saja, sesama orang kiri pasti lebih asyik".&lt;br /&gt;Benar-benar keterlaluan keusilan mereka, tidak sadar kalau watak patriarkinya masih sangat kental, tapi mereka sudah merasa tuntas secara ideologi. Kalau diskusi selalu ingin menang, kalau kepepet yang diserang seksualitasku sebagai perempuan. Pada tatanan masyarakat patriarki, menyerang seksualitas perempuan memang senjata paling ampuh sekaligus menghebohkan.&lt;br /&gt;Lalu aku pulang kepadamu dan menceritakan keusilan mereka padamu "Lagi pula aku tidak mau bercinta dengan sebongkah daging, hanya karena ia berlabel intelektualis, progresif-revolusioner, aktivis kiri, nasionalis, laskar jihad, penyair, pelukis, novelis, esais, guru, tapi tidak nyambung secara psikologis." Kataku mengakhiri pucak emosiku.&lt;br /&gt;"Biarkan saja celotehan kawan-kawanmu yang picik dan moralis, sayang. Meski mereka bilang, kau sundal sekalipun. Jangan suka urus hal begituan, mending kita manfaatkan waktu luangmu, ke semeru dan kita bicarakan rencana kita ke depan." kau menyakinkanku sambil tersenyum manis, teramat manis.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya kita mencuri-curi waktu luang, mewujudkan rencana mendaki gunung Semeru. Aku masih ingat, waktu itu kau merasa sangat bahagia karena recana yang sudah lama ingin kita wajudkan akhirnya sampai juga. Sedangkan aku? Aku tak kalah bahagia. Aku masih ingat sepanjang perjalanan menuju puncak, aku tersenyum-senyum sendiri mirip orang tidak waras. &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SEYJvPO03oI/AAAAAAAAAOs/6RILyguVn2Q/s1600-h/semeru+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207860726247775874" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="204" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SEYJvPO03oI/AAAAAAAAAOs/6RILyguVn2Q/s400/semeru+1.jpg" width="212" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dan yang lucu, kita tidak bisa menahan diri untuk tidak mandi di Ranu Gembolo, danau kecil di kaki gunung semeru yang airnya berwana hijau. Kita berfikir, kita adalah sepasang bidadari yang sedang jatuh cinta, sepasang bidadari yang kepanasan turun dari langit untuk mandi bersama di danau yang sejuk.&lt;br /&gt;Kau meyeletuk, "kok sepasang bidadari? bukannya bidadari selalu perempuan, sedangkan aku lelaki dan kau perempuan", Begitu kau ucapkan protes dengan nada serius padaku, sedang tanganmu meyipratkan air danau ke wajahku hingga mataku mengerjap karena tidak siap.&lt;br /&gt;"Gimana, kalau aku jadi Jaka Tarup saja, kau jadi bidadari, nanti selendangmu kucuri, jadi kau tidak bisa terbang kembali ke khayangan dan kau jadi istriku."&lt;br /&gt;"Enggak mau ahh jadi istrinya Jaka Tarup, nanti aku disuruh masak terus ha…ha…ha… "&lt;br /&gt;Kita tertawa terus sampai tak hiraukan tubuh kita yang mulai kedinginan sebab terlalu lama berendam. Hingga kau bersin-bersin tiada henti, kuhitung lebih dari sepuluh kali kau berhatshin-hatshin.&lt;br /&gt;Setelah itu kita singgah di Ranu Pane, mampir warung makan dan memesan dua mangkok mie instant rebus plus telur setengah matang. Aku ingat, kau terlalu lapar waktu itu, hingga kau memesan dua telur. Kita juga memesan dua gelas teh hangat, aku tahu, teh hangat adalah minuman favoritmu. Sambil menyeruput tehmu, kau iseng menuliskan nama kita di dinding warung yang sudah fuul stiker organisasi pecinta alam, katamu sebagai tanda kita pernah menakhlukkan (atau, kita yang ditakhlukkan Semeru? buktinya kita tidak bisa menahan untuk tidak datang ke sana) Semeru.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Kini kau tahu sendiri, sayang. Setelah tiga tahun berlalu, mereka memilih berada di gelembung-gelembung kebahagiaaan palsu. Aku tak habis pikir, begitu mudahnya idealisme, ideologi yang siang malam didiskusikan hingga mulut berbusa-busa ternyata berujung penyerahan diri pada kepragmatisan di bawah proyek besar penipuan rakyat semacam: Pemilu.&lt;br /&gt;Sesak, dan kelu melihat dan mendengar kabar tentang mereka, dan pasti jika mereka masih waras mereka akan sadar merekalah orang yang paling tersiksa karena berkhianat dan menyangkal sendiri pemahaman yang mereka miliki mengenai hakekat perjuangan. Sungguh aktivis yang malang. Semenjak awal aku memang tidak terlalu percaya dengan segala-sesuatu yang terlalu. Terlalu baik, terlalu mencintai, terlalu militan, terlalu fanatik. ‘Terlalu’ adalah Bullshit! Omong kosong! Kata temanku Rani, dia salah satu pelacur kampus, "Terkadang aktivis dan ideolog itu aneh, mereka hanyalah borjuis kecil, yang bertingkah meniru malaikat suci!"&lt;br /&gt;Dan tradisi masih saja maskulin, korupsi yang terbukti adalah momok jahat yang memporak-porandakan kehidupan memang ditempatkan sebagai agenda yang mendesak untuk diberantas. Tapi malah lokalisasi, tempat perempuan miskin menggapai kebahagiaan lahir batin yang menjadi agenda prioritas pertama untuk diberantas dan dibumihanguskan oleh Perda Anti Maksiat yang digodhok pejabat dan ulama. Masih saja, isu seksualitas perempuan terbukti senjata ampuh untuk menyucikan siapa saja, juga pejabat dan ulama.&lt;br /&gt;Oleh ulama, pelacur-pelacur itu dipaksa tinggal di pondokan dan berkerudung. Aku masih ingat, ketika salah satu pelacur yang bernama Desy (yang nama aslinya Fauriyah), di acara dialog publik mengenai penutupan lokalisasi dia menolak anjuran ulama.&lt;br /&gt;"Saya mau saya makan, tidur, ngaji di pondokkan. Asal pak pejabat dan pak kyai mau membiayai dua orang anak saya yang masih sekolah, membelikan susu seorang anak saya yang masih berusia empat bulan, dan menjaga ibu saya yang sudah buta dan budhek, mereka semua ada di rumah dan sekarang ini menunggu saya pulang membawa makanan. Dan satu lagi yang mau saya sampaikan, bahwa sebenarnya saya sudah memakai kerudung, tapi sayang hanya orang-orang berimanlah yang bisa melihat kerudung saya, karena kerudung saya ada di hati. Kalau bapak pejabat dan pak kyai tidak bisa melihat, celaka! berarti pak pejabat dan pak kyai perlu meningkatkan iman dan takwa."&lt;br /&gt;Lalu serentak seluruh ruangan aula yang peserta dialognya sebagian besar para pelacur dan aktivis mahasiswa menjadi riuh oleh suara tawa dan tepuk tangan. Waktu itu aku duduk di bangku belakang sendiri bersebelahan dengan tempat duduk Mbak Desy, seorang pelacur yang lincah dan baik.&lt;br /&gt;Sepulang dari dialog publik langsung kuceritakan tentang mbak Desy kepadamu, dan kau menyepakatinya, katamu: "Patriarkilah yang mencetak perempuan menjadi makhluk yang pasif. Makanya, lokalisasi pelacuran, yang tersedia hanyalah lokalisasi pelacur perempuan, sedang lokalisasi gigolo sangat sulit kita temukan. Karena gigolo-gigolo terlalu munafik, mereka bersembunyi di balik topeng ulama, pejabat, pengusaha, intelektualis, bahkan aktivis. "&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Entah ini pertemuan yang keberapa, duduk-duduk denganmu dipantai ketika langit berwarna orange karena efek matahari yang bulat orange seperti jeruk. Angin laut pelan-pelan membelai pasir-pasir di pesisir laut, hingga pasir-pasir itu bergetar, kita melihatnya dan aku merasakannya getaran itu, sayang.&lt;br /&gt;"Pertemuan kali ini aku ingin membuat sebuah keputusan denganmu. Please dengarkan aku, ini tentang aku tidak akan lagi berbohong tentang cita-citaku. Terserah mau seperti apa kau merespon tentang obsesiku, tapi ini riil. Cita-citaku mudah, Ok, Ehmm….aku hanya ingin duduk-duduk di tepi pantai menjemput senja, menunggui matahari besar berwarna orange meluncur tenggelam ke laut hingga ombak menjadi berwarna-warni. Huh, sebel seperti dugaaan awalku, kau malah menertawakan pengakuanku yang sangat penting ini."&lt;br /&gt;"Ok..ok, sama &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SEYDUxKr3CI/AAAAAAAAAOU/2gbskas0SRI/s1600-h/mezis.bmp"&gt;&lt;strong&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207853674430979106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 255px; CURSOR: hand; HEIGHT: 207px" height="230" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SEYDUxKr3CI/AAAAAAAAAOU/2gbskas0SRI/s400/mezis.bmp" width="261" border="0" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;sekali aku tidak mengejekmu. Aku tertawa karena kamu lucu, sama sekali tidak bermaksud mengejekmu, sayang. Seumur hidup, baru sekali ini aku mendengar obsesi hidup yang begitu sederhana. Memangnya kenapa dengan matahari orange dan pantai, hingga membuatmu begitu tertarik padanya?. Oya, ini kubawakan kaos dan celana pendek, sana ganti baju guru-mu itu, di mobil. Kutunggu di sini."&lt;br /&gt;"Ok!" Aku berlari kecil menuju tempat mobil diparkir.&lt;br /&gt;Setelah berganti dengan pakaian ringan, segera aku menyusul kekasihku ke tepian pantai, bermain pasir, berkejar-kejaran seperti anak kecil. Ketika ombak menjadi berwarna-warni dan matahari orange besar menelusup ke dalam lautan ombak, kami berciuman, berpelukan, lalu membicarakan banyak hal, banyak sekali, lalu bekejar-kejaran sampai lelah. Hingga aku lupa menjawab pertanyaan kekasihku, mengapa aku begitu menyukai pantai dengan matahari berwarna orange? kekasihku juga lupa menanyakannya kembali.&lt;br /&gt;Semuanya sudah terjawab, pantai dengan matahari orange selalu memberi banyak jawaban, memberi banyak harapan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;16.00&lt;br /&gt;3 Juni 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-2873277074565352309?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/2873277074565352309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=2873277074565352309' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2873277074565352309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2873277074565352309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/06/cerpen.html' title='Cerpen'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SEYK-IO3b3I/AAAAAAAAAO0/CNBI_uXRGwM/s72-c/semeru3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-3480491361184154811</id><published>2008-05-26T16:21:00.006+07:00</published><updated>2008-05-26T16:52:29.745+07:00</updated><title type='text'>SGA: Sepotong Cerita Menjelang Pilda, Pilgup, Pilpres</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Wakil Rakyat*&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bung,&lt;br /&gt;Seorang Rakyat ketemu Seorang Wakil Rakyat yang sedang nongkrong di warung bajigur di depan TIM.&lt;br /&gt;“Wah, merakyat juga ente,” kata Rakyat.&lt;br /&gt;“Yah, pantes-pantesnyalah, namanya juga Wakil Rakyat.”&lt;br /&gt;“Lho, sebetulnya ente tidak merakyat?”&lt;br /&gt;“Tidak terlalu, saya cuma pura-pura merakyat.”&lt;br /&gt;“Busyet, ente mewakili rakyat mana sih?”&lt;br /&gt;“Natuna, Talaud, dan Sangihe.”&lt;br /&gt;“Astaga, mana tuh?”&lt;br /&gt;“ada kok di peta, kecil-kecil.”&lt;br /&gt;“Ente asal sana?”&lt;br /&gt;“Bukan.”&lt;br /&gt;“Ente pernah kesana?”&lt;br /&gt;“Belum.”&lt;br /&gt;“Ente tahu aspirasi mereka apa?”&lt;br /&gt;“Yah, kira-kira saja, paling-paling soal kesejahteraan kan?”&lt;br /&gt;“Busyet, kenapa ente nggak mengatakan soal kebebasan?”&lt;br /&gt;“Well, siapa yang berani ngomong soal kebebasan sekarang ini, kalu bukan tokoh-tokoh yang penting?”&lt;br /&gt;“Ente kan tokoh penting?”&lt;br /&gt;“Bukan, saya cuma tokoh gombal saja kok.”&lt;br /&gt;“Tokoh gombal bagaimana?”&lt;br /&gt;“Lho saya ini cuma politisi kecil, selalu mengintip kesempatan untuk naik, selalu berpikir tentang jenjang karir, apapun yang bisa jadi batu loncatan, tancap. Pokoknya saya selalu memikirkan diri sendirilah.”&lt;br /&gt;“Tapi ente Wakil Rakyat kan?”&lt;br /&gt;“Yeah, actually, saya mewakili diri saya sendiri.”&lt;br /&gt;“Astaga…”&lt;br /&gt;“Kenapa astaga?”&lt;br /&gt;“Saya kira ente mewakili rakyat.”&lt;br /&gt;“Eh, saya sendiri kan juga rakyat? Boleh dong saya mewakili aspirasi saya sendiri. Pengin dianggap, pengin dipandang, pengin punya makna dalam hidup. Dulu cuma ikut karang taruna, sekarang jadi Wakil Rakyat, yah namanya memburu kemajuanlah.”“Apa sih pemikiran anda tentang kemajuan?”&lt;br /&gt;“Gedung-gedung tinggi.”&lt;br /&gt;“Busyet.”&lt;br /&gt;“Kenapa Busyet?”&lt;br /&gt;“Anda suka membaca pemikiran para negarawan besar, para ahli sejarah, para ahli filsafat tentang negara?”&lt;br /&gt;“Tidak. paling banter saya baca koran. kalau majalah saya baca ramalan bintang. Hahahaha!”&lt;br /&gt;“Tidak biasa baca buku-buku berat?”&lt;br /&gt;“Tidak, untuk apa? hanya orang bego yang buang waktu untuk baca buku.”&lt;br /&gt;“Busyet”&lt;br /&gt;“Kok busyet lagi?”&lt;br /&gt;“Ente hebat”&lt;br /&gt;“Lho kok hebat? Saya ini bukan pemikir, bukan apa itu namanya? Cendekiawan? Nggak Inteleklah! Saya nggak betah baca, nggak bisa nulis dikoran kayak YB Mangunwijaya. Kalau saya baca artikel di koran, suka pusing saya. Dalam forum-forum diskusi saya juga malas berdebat, ngapain, ngabisin abab. Saya cuma orang biasa kok, disuruh jadi wakil rakyat ya mau. lumayanlah daripada cuma di Karang Taruna. Fasilitasnya juga lumayan. Mosok orang yang berpikir kayak saya ini hebat?”&lt;br /&gt;“Lho, ente jelas hebat?”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Ente orang jujur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung,&lt;br /&gt;Janganlah anda khawatir bung. Orang yang saya ceritakan itu tidak ada. Itu cuma fiksi di kepala saya sendiri, meskipun faktanya mungkin ada yang mirip ya? Haha! Saya sendiri yakin sepenuhnya, 1.000 Wakil Rakyat yang bakal hilir mudik di gedung UFO itu adalah orang-orang yang sangat capable: membaca buku-buku berat, mengenal pemikiran para negarawan, ahli sejarah, dan ahli filsafat tentang negara. Yang paling penting: memahami penderitaan rakyat, meski barangkali memang belum pernah ke Natuna, Talaud, dan Sangihe. Saya percaya sepenuh-penuhnya kepada mereka. Masalahnya, anda percaya tidak kepada saya? Hahahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Palmerah.&lt;br /&gt;SGA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;NB. Sukab tidak percaya kepada fiksi. “Berbahaya,”katanya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*&lt;a href="http://sukab.wordpress.com/"&gt;http://sukab.wordpress.com/&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-3480491361184154811?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/3480491361184154811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=3480491361184154811' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3480491361184154811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3480491361184154811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/sga-sepotong-cerita-tentang-wakil.html' title='SGA: Sepotong Cerita Menjelang Pilda, Pilgup, Pilpres'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-8582907277845361502</id><published>2008-05-22T14:40:00.000+07:00</published><updated>2008-05-22T14:43:27.083+07:00</updated><title type='text'>Email dari seorang kawan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 15pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;span style="font-size: 15pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;strong&gt;Di demo mahasiswa dan masyarakat, Jember lumpuh dan bupati MZA Djalal ngacir keluar kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 15pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family:Calibri;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;Sekitar seribuan massa yang menamakan diri aliansi masyarakat jember yang terdiri dari berbagai organ intra dan ekstra mahasiswa, berbagai lembaga swadaya masyarakat di jember, pagusyuban sopir angkot klething kuning dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) jember berdemo di depan pendopo pemkab jember untuk menentang kenaikan harga BBM.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Dalam orasinya para perwakilan pengunjuk rasa mengatakan bahwa efek domino dari kenaikan BBM pasti akan menyengsarakan rakyat seperti mahalnya harga biaya kebutuhan pokok yang diakibatkan oleh mahalnya transportasi, belum lagi kebijakan bantuan langsung tunai yang dinilai tidak memecahkan masalah kemiskinan masyarakat sebagai imbas dari kenaikan harga BBM, malah yang ada kebijakan tersebut dinilai membodohi rakyat dan membuat rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1211441693_2"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; bermental pengemis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Para pengunjuk rasa sendiri berkumpul mulai pukul 07.00WIB di tiga titik yaitu bundaran ekonomi universitas jember, terminal tawang alun dan terminal arjasa kemudian bersama-sama menuju pendopo pemkab jember, dan bersama-sama menuntut bupati Jember MZA Djalal untuk memberikan pernyataan sikap menolak kenaikan harga BBM, para pengunjuk rasa juga memblokir jalan raya sultan Agung di depan pendopo pemkab jember untuk memaksa bupati MZA Djalal untuk menemui mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi setelah ditunggu-tunggu sekitar 4 jam lebih ternyata bupati Djalal tak kunjung turun dan dari pejabat pemkab Jember ketika dikonfirmasi mengatakan bahwa Bupati MZA Djalal sedang dinas keluar kota, padahal dari pihak protokoler Kabupaten Jember mengatakan bahwa pada hari ini Bupati Jember ada jadwal untuk melantik beberapa guru dan kepala sekolah di pendopo kabupaten Jember dan terpaksa dibatalkan karena ada demonstrasi kenaikan harga BBM. Setelah dikonfirmasi ulang dari pihak protkoler Kabupaten jember juga mengatakan bahwa bupati Djalal pergi ke luar kota, namun ketika ditanya ke mana dan untuk keperluan apa, pihak protokoler pemkab Jember tersebut memberikan jawaban yang kurang jelas dengan mengatakan bahwa “bapak sedang dinas ke luar kot” sambil berlalu begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-8582907277845361502?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/8582907277845361502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=8582907277845361502' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8582907277845361502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8582907277845361502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/email-dari-seorang-kawan.html' title='Email dari seorang kawan'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-5309447428108629934</id><published>2008-05-20T19:27:00.007+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:40.310+07:00</updated><title type='text'>20 Mei' MEMPERINGAT(KAN)I KEBANGKITAN (HARGA BBM) NASIONAL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:20;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Malin Kundang, Negerinya yang Durhaka*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Lagu Tikar Plastik-Tikar Pandan (Sanggar Satu Bumi) sebagai pembukaan&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Prolog&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Alkisah, Malin Kundang dan Ibunya adalah sebuah keluarga yang miskin&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLH5SqnFBI/AAAAAAAAAOE/wJJu1A0Ny4w/s1600-h/b1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLH5SqnFBI/AAAAAAAAAOE/wJJu1A0Ny4w/s400/b1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202440306643375122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;, meskipun mereka hidup di desa Sidoarjo sebuah desa yang letaknya di pulau Jawa sebelah Timur, desa yang berlimpah ruah kekayaan alam dengan sawah yang terhampar luas dan samudera yang kaya raya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ayah Malin telah meninggal sehingga Ibu Malin menjadi janda yang bekerja sebagai buruh untuk mencukupi kehidupan Malin.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Babak Pertama:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada suatu sore Malin dan Ibunya bercakap-cakap di teras rumah mereka yang sederhana.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Ibu Mali&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;n&lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: Malin..anakku tersayang, meski engkau anak seorang janda miskin tapi janganlah kamu menjadi anak yang minder. Kamu harus rajin belajar, agar kelak engkau bisa menciptakan hal-hal baru yang bermanfaat bagi orang banyak.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Malin&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: Iya Ibu, Malin akan belajar keras, karena Malin memang ingin menjadi anak yang berbakti padamu. Baktiku padamu, adalah ketika waktu tidak akan kubiarkan menjadi beku. Aku akan mengurangi menonton sinetron, baca komik, maupun main PS dengan teman-teman.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Ibu Malin&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: Kau memang anak yang bisa diandalkan, Malin anakku. (Ibu Malin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersenyum sembari menepuk-neppuk pundak Malin)&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Malin&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: Baiklah ibu, Malin mau mengerjakan PR dulu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Ibu Malin&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: (Ibu Malin mengangguk tanda setuju)&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Babak kedua:&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Malin bahagia karena dia lulus Ujian Nasional dengan sukses, selain itu dia mendapatkan beasiswa kuliah ke Amerika Serikat.&lt;br /&gt;Siang itu dengan tidak sabar, Malin menunggu ibunya yang mencucikan baju tentangga sebelah:&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Malin&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: (Ketika melihat ibunya datang Malin berteriak) Ibu…….Malin lulus ujian dengan sukses..!! Malin juga mendapatkan beasiswa kuliah di Amerika. Ibu tidak usah khawatir soal biaya kuliah. Karena semua sudah ada yang menanggungnya. Tidak seperti negara kita pendidikan semakinmahal…dulu waktu kampaye mau jadi presiden janji mau menggratiskan biaya pendidikan dan kesehatan bagi penduduk miskin macam kita, sekarang setelah jadi Presiden mana buktinya?.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-align: justify; text-indent: -81pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;Ibu&lt;span style=""&gt;                      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: (Sambil tersenyum bahagia) Syukur nak..syukur. Tapi kamu harus tetap menjadi seoarang pemuda yang pintar menimbang hal yang baik dan meninggalkan hal yang buruk. Kamu juga harus menjadi pemuda pemberani, tidak boleh malu karena baju kamu jelek, tapi kamu harus malu karena berbohong, malu bodoh.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Malin&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: Iya Ibu, Malin akan mengingat nasehat Ibu.&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: left;"&gt;Ketik&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLIByqnFCI/AAAAAAAAAOM/i9lmqaQT8-Y/s1600-h/b2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 160px; height: 115px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLIByqnFCI/AAAAAAAAAOM/i9lmqaQT8-Y/s400/b2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202440452672263202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;a kuliah di Amerika dia jatuh cinta pada Julia, Julia adalah gadis Amerika yang pintar, baik hati dan kaya.&lt;br /&gt;Malin adalah seorang pemuda yang cerdas dan optimis.Malin kuliah dengan sungguh-sungguh. Setelah malin menyelesaikan kuliahnya selama 3,5 tahun di Amerika, dia pulang ke &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bersama Julia kekasihnya. Namun Dia singgah dulu di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; selama seminggu untuk mencari pekerjaan.&lt;br /&gt;Selama satu minggu Malin bingung, mondar-mandir menawarkan ijasahnya, namun sayang tidak ada satu kantorpun yang mau menerima ia bekerja. Meskipun Malin berijasah Luar Negeri ternyata dia kesulitan mendapatkan kerja di Ibukota tanah airnya. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: left;"&gt;Akhirnya ia pulang ke kampungnya, Sidoarjo.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Babak ketiga:&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: left;" class="MsoNormal"&gt;Ternyata Rumah Malin sudah menjadi Lautan Lumpur Lapindo. Akhirnya Malin mencari Ibunya di pengungsian yang kotor. Sesampai di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pengungsian, Ibu Malin Malin menyambutnya dengan tangisan, tapi bukan tangisan haru.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt; text-align: left;"&gt;&lt;b style=""&gt;Ibu Malin&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;:&lt;/b&gt;Hhuuuuuuuu………hhuuuuuuuuuuuuuu……..hhuuuuuuuuuuuuuuu, Malin akhirnya engkau pulang nak. Ibu menunggumu……Sekarang waktunya kamu membalas kebaikkan ibu yang dulu telah menyekolahkanmu. Ayo belikan Ibu HP, beliin Ibu baju-baju model terbaru…Ibu juga tidak ingin ketinggalan mode, tak tahukah kau nak? Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;padang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pengungsian ini persaingan antar ibu-ibu semakin ketat.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt; text-align: left;"&gt;&lt;b style=""&gt;Julia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;:Siapa perempuan itu Malin? Apakah beliau Ibumu Malin? Bukahkah kau pernah bercerita, Ibumu adalah perempuan kuat dan optimis bukan perempuan pamrih apalagi menekan anaknya supaya menjadi anak yang sempurna dengan prestasi dan kekayaan? (berbicara dengan logat khas barat)&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt; text-align: left;"&gt;&lt;b style=""&gt;Malin&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: (Dengan kepala menunduk semabil melangkah pergi) Ibu……Aku akan mengutuk diriku menjadi abu karena ternyata aku lahir dari rahim yang keliru…! Aku akan mengutuk diriku menjadi Abu karena aku telah lahir dari negeri yang salah urus…negeri yang membiarkan penduduknya terlantar terkena Lumpur panas.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 81pt; text-indent: -81pt; text-align: left;"&gt;&lt;b style=""&gt;Ibu Malin&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;:(tangisannya semakin keras ketika melihat Malin Anaknya meninggalkannya pergi) Malin…………Malin………Malin, maafkan Ibumu nak…..!!!&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b style=""&gt;Malin&lt;span style=""&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;:(sambil meninggalkan Ibunya yang menangis) Malin terlajur kecewa Ibu…Malin merasa tidak tahu lagi harus berbuat apa ibu…mencari pekerjaan di sini juga susah. Malin akan kembali saja ke Amerika bersama Julia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;Babak keempat:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Petang itu Ibu Malin bersama pengungsi lainnya menonton TV di pengungsian&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-indent: -1.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pembaca Berita&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;: Pemirsa, diberitakan pesawat GARUDA GA-200 telah jatuh dan terbakar. Korban meninggal yang teridentifikasi atara lain : Malin, Julia dan beberapa penumpang lain terbakar dan menjadi abu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 1.5in; text-align: justify; text-indent: -1.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;Ibu Malin&lt;span style=""&gt;                    &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;:(Menangismeraung…raung) Hhu………huu…….Malin…….!! Maafkan Ibu telah memperlakukanmu menurut sekehendak hati Ibu..Maafkan Ibumu yang membuatmu kecewa.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ketika Ibu Malin Mendengar kecelakaan pesawat tersebut dia bersedih, ia mengira kutukkan Malin terhadap diri Malin sendiri penyebab..Malin terbakar Menjadi Abu. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Ibu Malin tidak pernah tahu yang sebenarnya, bahwa kecelakaan pesawat yang dialami Malin bukan karena kutukan, tapi karena persoalan Transportasi di negaranya yang tidak beres. Ibu Malin yang setiap tahunnya rajin membayar pajak itu tidak tahu, kalau anggaran negara yang seharusnya untuk memperbaiki pesawat yang rusak telah dikorupsi wakil-wakil rakyat yang ia pilih pada pemilu tahun lalu. Ibunya Malin tidak pernah tahu tentang &lt;b style=""&gt;KEBENARAN&lt;/b&gt; itu.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;Lagu Ke Selatan (Sanggar Satu Bumi) sebagai penutup&lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Selesai……&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;*Pernah dipentaskan oleh anak-anak sanggar belajar "Anak Semua Bangsa" KIPAS (Komite Independen Perempuan dan anak untuk Aksi Sosial), bulan Maret 2007 di ged. PKM UNEJ.  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-5309447428108629934?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/5309447428108629934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=5309447428108629934' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5309447428108629934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5309447428108629934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/kebangkitan-harga-bbm-nasional.html' title='20 Mei&apos; MEMPERINGAT(KAN)I KEBANGKITAN (HARGA BBM) NASIONAL'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLH5SqnFBI/AAAAAAAAAOE/wJJu1A0Ny4w/s72-c/b1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-6237188535657978242</id><published>2008-05-20T19:08:00.008+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:40.826+07:00</updated><title type='text'>Sinopsis Film</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;a style="font-weight: bold;" rel="bookmark" href="http://jazzterday.multiply.com/journal/item/738/Mereka_Bilang_Saya_Monyet_Lugas_juga_Liar"&gt;Mereka Bilang, Saya Monyet!: Lugas juga Liar&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda membaca cerita-cerita pendek karya Djenar Maesa Ayu? Bagaimana jika kisah &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLBaCqnE-I/AAAAAAAAANs/lLrQjiCRO0I/s1600-h/cover+ms.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLBaCqnE-I/AAAAAAAAANs/lLrQjiCRO0I/s400/cover+ms.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202433172702696418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;itu dituangkan dalam layar lebar. Hasilnya, 'Mereka Bilang, Saya Monyet!', lugas juga liar.&lt;br /&gt;'Mereka Bilang, Saya Monyet!' adalah salah satu judul cerita pendek (cerpen) Djenar yang kemudian juga dipilih sebagai judul buku kumpulan cerpennya. Namun dalam film ini bukan hanya satu ce&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;rita yang ditonjolkan Djenar.&lt;br /&gt;Dengan mulus ia mengkombinasikan 2 cerpen dalam satu film. Yaitu 'Lintah' dan 'Melukis Jendela'. Djenar memang memutuskan untuk men&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;distribusikan filmnya ini lewat jalur indie. Tanpa sensor dan sangat menonjolkan ciri khas Djenar yang suka bertutur cuek dan menyentil masalah seks.&lt;br /&gt;Kisah dimulai dengan seorang peran utama yaitu Adjeng (Titi Sjuman). Ia seorang penulis cerita anak-anak yang tinggal di sebuah apartemen milik kekasihnya. Selain punya kekasih tetap, Adjeng kerap terlihat bermesraan dengan seorang pria seorang penulis senior yang dipe&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLBzSqnFAI/AAAAAAAAAN8/oQVYnKGLxc0/s1600-h/djenar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 129px; height: 215px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLBzSqnFAI/AAAAAAAAAN8/oQVYnKGLxc0/s400/djenar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5202433606494393346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;rankan Ray Sahetapy.&lt;br /&gt;Adjeng begitu keras dan agresif dengan sahabat juga kehidupan percintaannya, tapi sebaliknya ia sangat penurut dan tidak macam-macam dengan ibunya (Henidar Amroe). "Iya mom... baik mom" adalah kata-kata yang tak pernah absen dari mulutnya setiap kali ibunya memberi nasihat.&lt;br /&gt;Ternyata sejak kecil Adjeng selalu pasif dalam keluarga. Kepribadian Adjeng terbentuk dari keluarga broken home yang tidak menentu. Di balik diamnya, Adjeng menyimpan trauma besar yang tak pernah bisa ia hapus. Namun ia selalu memilih untuk menikmati luka itu sendirian.&lt;br /&gt;Kini saatnya semua berubah. Dendam harus terselesaikan dan topeng tak bisa lagi dipasang Adjeng di depan teman juga sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" &gt;Banyak adegan syur disuguhkan dalam film ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" &gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;Namun semua dinilai tidak berlebihan dan pantas hadir dalam film. Boleh dibilang tema 'Mereka Bilang, Saya Monyet!' memang berat, tapi coba saja ambil kesempatan.&lt;br /&gt;Bagaimana sastra Indonesia bisa tertuang dengan sempurna bisa diintip lewat film ini. Cast yang tepat dan alur maju mundur khas tulisan Djenar yang sempurna. (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;detikHOT / Tanggal: 08/01/2008 14:12 WIB&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-6237188535657978242?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/6237188535657978242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=6237188535657978242' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/6237188535657978242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/6237188535657978242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/sinopsis-film.html' title='Sinopsis Film'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SDLBaCqnE-I/AAAAAAAAANs/lLrQjiCRO0I/s72-c/cover+ms.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-5792632251043145935</id><published>2008-05-17T17:33:00.006+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:41.044+07:00</updated><title type='text'>OPINI PILIHAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SC64qyqnE9I/AAAAAAAAANk/_gxuQDDuQ8w/s1600-h/bunga.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201297664954012626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 189px; CURSOR: hand; HEIGHT: 199px" height="253" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SC64qyqnE9I/AAAAAAAAANk/_gxuQDDuQ8w/s400/bunga.jpg" width="298" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="center"&gt;&lt;a title="Permanent Link to Bukan Sekedar Tuntutan Tahunan" href="http://babungeblog.blogspot.com/2008/04/bukan-sekedar-tuntutan-tahunan.html" rel="bookmark"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bukan Sekedar Tuntutan Tahunan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: S. Lestari (TKW Hongkong)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;bisa di klik di &lt;a href="http://babungeblog.blogspot.com/search/label/celotehan" rel="tag"&gt;celotehan&lt;/a&gt; atau silahkan klik di deretan nama2 di samping:&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff6600;"&gt;Babu Lincah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pernahkah Anda berada di bunderan HI atau di depan gedung DPR atau di depan Istana Negara ataupun daerah-daerah kantong lainnya yang menjadi simbol negara pada tanggal 1 Mei? Kalau jawabnya belum, cobalah lihat melalui layar TV Anda. Menakjubkan bukan?Hanya di satu tanggal yaitu tanggal 1 Mei sepertinya buruh mendadak menjadi sosok terkenal, bahkan boleh di bilang melebihi terkenalnya artis nasional kita. Kemenderitaannya mendadak menjadi sorotan dan kajian terlaris sehari.Sepertinya apa yang dikatakan oleh John Lennon dalam lagunya yang berjudul Power To The People menjadi kenyataan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oh, when your man is working for nothing&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;You better give 'em what they really own&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;We got to put you down&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;When we come into town&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan banjir manusia meneriakkan tuntutan-tuntutan. Menuntut kesejahteraan, menghentikan penghisapan, menuntaskan penindasan. Walau pemimpin negeri tak pernah hadir, ribuan buruh tetap berada di jalan dikawal ketat oleh bapak-bapak berseragam coklat dan juga pagar kawat berduri. Ya memang, menuntut itu tidak mudah, tapi kalau tidak menuntut kapan ada perubahan?Sayangnya, perubahan itu hanya terjadi disaat tuntutan masih panas-panasnya. Begitu tuntutan sudah berkurang kadar kepanasannya menjadi hangat atau suam-suam kuku saja, maka kembali lagi pada awal muasalnya. Dan kita harus memulai lagi, menuntut lagi. Demikian seterusnya.Bukankah yang demikian itu sama halnya dengan merefresh sebuah halaman yang kita kunjungi di website? Sama, tidak ada bedanya.Kalau begitu kesan yang didapat dari 1 Mei atau yang juga dikenal sebagai Mayday, adalah kegiatan tuntut menuntut itu seperti ceremonial saja, seperti kegiatan perulangan tahunan yang dilakukan oleh rakyat biasa yang dalam hal ini adalah buruh kepada pemerintahan yang hampir beku untuk menerima tuntutan.Rupanya pemerintahan yang katanya bersifat demokratis itu ternyata belum demokratis sepenuhnya. Kesadaran pemerintah untuk melindungi buruh belum sepenuhnya dijalankan, seperti halnya masih menyumpal sehingga perlu desakan yang kuat untuk mendorong keluar sumpalan tersebut.Dan desakan yang dimaksud adalah tuntutan-tuntutan yang dilakukan. Sekali lagi, menuntut itu bukanlah hal yang mudah, tapi demi sebuah perubahan janganlah berhenti menuntut.Tentunya adalah tuntutan yang didasarkan pada kepentingan bersama dan bukan demi kepentingan golongan ataupun pribadi semata. Dan tuntutan yang bukan hanya bersifat sebatas untuk memenuhi kebutuhan perut semata seperti tuntutan kenaikan gaji/kesejahteraan saja tetapi juga lebih kedalaman pada pembenahan kepemerintahan.Itulah sebabnya pengorganisasian di dalam buruh itu sekarang sedemikian pentingnya. Sehingga buruh tidak sekedar bersuara sendiri, menuntut sendiri, tapi bersama-sama bersuara, bersama-sama menuntut. Karena kalau seorang buruh bersuara sendiri suaranya akan sangat kecil, hampir tak terdengar atau tidak didengarkan.We(seperti dalam lagu Power To The People-nya John Lennon), yaitu kita/buruh. Dan hanya oleh kita, golongan buruh/pekerja yang bersatu(buruh bersatu) sebagai satu kelas/serikat yang sadar. Dan sebaiknya juga kalau serikat buruh ini di pimpin oleh dan dari kelasnya sendiri, karena hanya pemimpin oleh dan dari kelasnya sendirilah yang lebih mengetahui dan mengerti keinginan sebenarnya dari para buruh.Sebaiknya pula kalau menuntut ini bukan hanya dilakukan pada tanggal 1 Mei saja, dan bukan sekedar tuntutan tahunan saja tetapi menuntut setiap adanya ketidakberesan yang terjadi.Semoga kita akan dapat membina sebuah masyarakat sekaligus pemerintahan demokrasi yang benar-benar bebas, adil dan seksama dengan SEGERA! &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Selamat Hari buruh sedunia!!&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kutulis untuk buletin jangkar(sebelum di edit).Buletin Jangkar adalah buletin dari organisasi buruh di Hongkong, Sekarbumi. Bisa dilihat&lt;/em&gt; &lt;a href="http://sekarbumihk.blogspot.com/2008/05/bukan-sekadar-tuntutan-tahunan-rie-rie.html"&gt;disini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-5792632251043145935?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/5792632251043145935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=5792632251043145935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5792632251043145935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5792632251043145935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/opini-pilihan_17.html' title='OPINI PILIHAN'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SC64qyqnE9I/AAAAAAAAANk/_gxuQDDuQ8w/s72-c/bunga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-2894518539994955689</id><published>2008-05-15T10:06:00.003+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:41.499+07:00</updated><title type='text'>Opini Refleksi 10 Tahun Reformasi:</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;PR Pemuda Paska Reformasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*Oleh: Ratih Indri Hapsari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Karena kami tidak boleh memilih dan kamu bebas berencana&lt;br /&gt;Karena kami cuma bersandal dan kamu bebas memakai senapan&lt;br /&gt;Karena kami harus sopan dan kamu punya penjara&lt;br /&gt;Maka tidak dan tidak kepadamu&lt;br /&gt;Karena kami arus kali dan kamu batu tanpa hati&lt;br /&gt;Maka air akan mengikis batu&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bait-bait sajak d&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SC6uJiqnE7I/AAAAAAAAANU/Z3ttlQzVxi8/s1600-h/esensi-kemerdekaan1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201286098607084466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 324px" height="361" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SC6uJiqnE7I/AAAAAAAAANU/Z3ttlQzVxi8/s400/esensi-kemerdekaan1.jpg" width="239" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;i atas dibaca oleh W.S. Rendra di depan para wakil rakyat di Gedung MPR/DPR beberapa hari sebelum Soeharto mundur pada tahun 1998. Sajak yang semakin mengobarkan semangat kaum reformis. Seperti untaian baik sajak itu, arus kali (semangat reformasi) benar-benar telah menjadi air bah yang mengikis batu (kekuasan korup Soeharto). Pintu air mahasiswa, tokoh kampus, dan tokoh masyarakat begitu deras mengalirkan gelombang reformasi.&lt;br /&gt;Rakyat yang sudah mulai muak dengan senyuman palsu penguasa yang berkeliling negeri serambi mengobral janji-janji. Para pekerja yang terkena PHK massal, Ibu-ibu yang menjadi korban kenaikan dan kelangkaan harga sembako, para intelektual yang diabaikan, mahasiswa, LSM, politisi maupun mantan pejabat di era pemerintahan Orba yang merasa dipinggirkan bersatu menjadi kelompok penekan (pressure group). Pada Kondisinya memang rakyat sudah jengah dengan situasi krisis yang semakin menghimpit dan tidak jelas kapan akan berakhir.&lt;br /&gt;Kaum muda pada waktu itu berada garda terdepan, bersemangat, heroik, berkesadaran dan berani menanggung konsekuensi, meski berakhir kematian sekalipun, demi perubahan yang dinanti. Sedangkan reformasi yang didamba menjadi hal yang teramat mahal. Tak terhitung berapa kerugian materiil dan terlebih telah menumbalkan nyawa-nyawa aktivis mahasiswa yang tertembak hingga meninggal di tempat, pada Tragedi Semanggi dan Tragedi Trisakti ketika sedang meneriakkan tuntutan reformasi. Belum lagi misteri penculikan dan penghilangan buruh dan aktivis prodemokrasi hanya karena mereka menuntut hak-haknya. Sungguh tragedi sejarah yang telah mencoreng Hak Asasi Manusia (HAM). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pemuda dan Semangat Perubahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ben Anderson pada masa perubahan di Indonesia membawanya pada kesimpulan bahwa faktor-faktor budaya yang berakar pada tradisi, tidak sedikit menyumbang pada terciptanya sejenis ‘kesadaran pemuda’ tertentu, yang menurut Anderson, telah menjadi faktor sangat menentukan bagi arah revolusi nasional di Indonesia.&lt;br /&gt;Demikianlah, dari masa ke masa unsur pemuda menyerukan suatu pola perjuangan konfrontasi tanpa kompromi dengan kekuatan-kekuatan anti rakyat—suatu pola perjuangan yang akan membawa pemuda militan kepada pertentangan dengan pemimpin-pemimpin nasional yang paling terkemuka sekalipun.&lt;br /&gt;Demikian pula radikalisme mahasiswa yang muncul di tahun 1966 dan 1998. Karena di dalam komunitas-komunitas yang stabil terdapat orang-orang yang berfikir bebas, orang yang skeptis, orang yang tidak konformis dan mempertanyakan apa yang tidak dipertanyakan orang lain.&lt;br /&gt;Reformasi yang dimotori oleh pemuda pada Akhirnya menyudutkan Soeharto yang telah memimpin Indonesia selama 32 tahun. Pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB, Soeharto mengundurkan diri dan menyerahkan tampuk kepresidenan kepada Wakil Presiden B.J. Habibie.&lt;br /&gt;Kini 10 tahun reformasi telah berlalu, Boro-boro menuntaskan agenda reformasi, sepuluh tahun reformasi berlalu tapi masih menyisakan misteri tragedi Trisaksti dan Semanggi &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SC6uuyqnE8I/AAAAAAAAANc/npnttXnqXdw/s1600-h/Khotbah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201286738557211586" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SC6uuyqnE8I/AAAAAAAAANc/npnttXnqXdw/s400/Khotbah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;yang tak kunjung menuai jalan terang. Sepuluh tahun reformasi berlalu, bukan kesejahteraan yang didapat, namun kini rakyat masih dibayang-banyangi kemiskinan dan keresahan karena pemerintah yang lagi-lagi berencana menaikkan BBM di akhir Mei nanti. Belum lagi persoalan semakin semakin bertambahnya pengangguran, yang merupakan bukti keterpurukan bangasa yang dari tahun ke tahun semakin menjadi, ditambanh banyaknya kasus korupsi para pejabat negara, konflik politik yang dibalut nuansa SARA dan dipoles dengan cara-cara &lt;em&gt;fetilis&lt;/em&gt; (picik dan moralis) melulu menyerang seputar isu seksualitas perempuan.&lt;br /&gt;Bagaimana kini nasib reformasi? Kiranya kita tidak boleh melupakan peran serta pemuda dan mahasiswa pada masa itu yang menolak tunduk meski mati di ujung popor senjata, semoga belum hilang dari ingatan kita semua apa itu butir-butir cita-cita reformasi. Karena setumpuk persoalan itulah PR besar pemuda pasca reformasi. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-2894518539994955689?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/2894518539994955689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=2894518539994955689' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2894518539994955689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2894518539994955689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/opini.html' title='Opini Refleksi 10 Tahun Reformasi:'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SC6uJiqnE7I/AAAAAAAAANU/Z3ttlQzVxi8/s72-c/esensi-kemerdekaan1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-7168362714935275110</id><published>2008-05-15T09:59:00.002+07:00</published><updated>2008-05-15T10:05:55.742+07:00</updated><title type='text'>Pernyataan Sikap</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;FRONT PEMBEBASAN NASIONAL&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;(ABM, PRP, SMI, PPRM, WALHI, FBTN, PEREMPUAN MAHARDIKA, KPA SERIKAT PENGAMEN INDONESIA,IGJ, LBH JAKARTA, JGM, KORBAN, ARM, PRAXIS,IKOHI)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;**Sekber : Jl.Pori Raya No 06 Rt 009/Rw 010, Pisangan Timur, Jakarta Timur**Telp/Fax : 021 4757881, Email : &lt;a href="mailto:front.pembebasan.nasional@gmail.com"&gt;front.pembebasan.nasional@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AYO BERSATU…..&lt;br /&gt;LAKUKAN AKSI-AKSI MASSA SETIAP HARI**&lt;br /&gt;21 MEI DAN 1 JUNI : KEPUNG DAN DUDUKI ISTANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gagalkan Rencana Kenaikan Harga BBM…!!!*&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Genderang perlawanan rakyat Indonesia, melawan rencana kenaikan harga BBMtelah dibunyikan; Mahasiswa, kaum miskin kota, kaum buruh, kaum tani danperempuan di seluruh penjuru Indonesia, setiap hari melakukan aksi-aksi, danterus membesar dan menyatu dari hari ke hari. Ini menunjukan, bahwa tingkatkesejahteraan rakyat sudah dalam batas yang paling rendah, sehingga kenaikanharga BBM sebesar 30 %, tidak akan lagi sanggup di tanggung oleh rakyatIndonesia.Argumentasi kuno yang di sampaikan oleh Pemerintah, DPR, Elit Politik maupunIntelektual Tukang, semuanya seragam; Kenaikan harga minyak dunia yangmencapai US $ 120/barel atau Rp 1.116.000/barel atau Rp 7018/liter akanmenyebabkan kenaikan subsidi dalam negeri sebesar 21,4 trilyun rupiah,sementara negara tidak mempunyai anggaran, sehingga mau tidak mau, harga BBMdalam negeri harus di naikan sesuai dengan harga BBM Internasional.Yang tidak pernah mereka katakan adalah kenapa harga BBM Internasionalcenderung naik? Dan kenapa harga BBM dalam negeri harus selalu mengikutiharga BBM Internasional ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sebab-sebab Kenaikan Harga BBM Internasional:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   1. Sebab yang paling sering diberitakan adalah menurunnya pasokan dari   negeri-negeri penghasil minyak, baik karena sedang ada pergolakan (seperti   Irak ataupun Nigeria), menurunnya cadangan minyak di beberapa negara   (misalnya Indonesia) maupun karena pemerintah dan rakyat di beberapa negara   sedang melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan minyak   Internasional (seperti yang terjadi di Venezuela), sementara kebutuhan   energi terus meningkat, baik di negara-negara Imperialis (Amerika sebesar   20,59 juta barel per hari, Jepang sebesar 5,22 juta barel per hari, Rusia   sebasar 3,10 juta barel per hari ) maupun di negara-negara yang sedang   meningkat pertumbuhan ekonominya (seperti India sebesar 2,53 juta barel per   hari maupun Cina sebesar 7,27 juta barel per hari), sekalipun tidak ada   bukti kuat, yang menyatakan bahwa Industri Minyak yang ada di seluruh dunia,   tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut.  &lt;br /&gt;2. Penyebab yang sejati, dan ini yang jarang sekali di beritakan   adalah spekulasi minyak di pasar saham Internasional. Seperti juga halnya   dengan saham-saham lainnya, maka perdangan saham minyak ini sangat rentan   dengan spekulasi-spekulasi, inilah yang sebenarnya menjadi pemicu utama   kenaikan harga BBM Internasional&lt;br /&gt;Sebab-Sebab Kenaikan Harga BBM Indonesia :&lt;br /&gt;  1. Harga BBM di Indonesia selalu naik mengikuti harga dunia karena   mayoritas Perusahaan Minyak dan Gas di Indonesia, di kuasai oleh Modal Asing   (Pemilik Industri Minyak Dunia) sehingga hasil dari minyak Indonesia, lebih   diutamakan untuk di jual ke pasar Internasional, dan jikapun harus dijual di   Indonesia, maka harganya sama dengan harga BBM Internasional itu (yang di   tentukan oleh mereka juga). &lt;br /&gt; 2. Yang di jual ke dalam negeripun, di batasi hanya 15 % dari total   produksi, itupun pemerintah harus membeli dengan harga Internasional selama   60 bulan, padahal seharusnya itu adalah kewajiban Perusahaan-Perusahaan   Asing itu, dan seharusnya juga bukan hanya 15 %, tetapi lebih banyak, toh   itu minyak di ambil dari tanah kita. &lt;br /&gt; 3. Indonesia tidak punya Industri yang mengolah minyak mentah ke   minyak siap pakai, sehingga BBM yang sehari-harinya kita gunakan itu, harus   kita beli dari Negara lain. Sederhananya, kita punya minyak mentah (tapi di   kuasai Asing, hanya sebagian kecil di kuasai PERTAMINA) di bawa ke luar   negeri untuk di olah, kemudian kita beli lagi dengan harga Internasional,   itu yang membuat harga BBM kita selalu mengikuti harga Internasional.&lt;br /&gt;  4. Yang membuat lebih mahal lagi, pembelian ataupun penjualan minyak   itu melalui perusahaan-perusahaan broker, sehingga lebih mahal lagi ketika   di jual ke rakyat (besarnya keuntungan untuk import bisa mencapai 30 sen per   barel, dengan total impor kita mencapai 113 juta barel per tahun, sehingga   keuntungan broker adalah US $ 170 juta, atau 1,6 trilyun rupiah. Sedang   untuk eksport keuntungan broker US $ 2 per barel, dengan ekport kita per   hari adalah 490 ribu barel, sehingga uang yang masuk ke kantong broker   adalah 9,3 milyar rupiah per hari atau 3,3 trilyun per tahun.  &lt;br /&gt;5. Yang lebih Parah lagi, seluruh biaya Perusahaan-Perusahaan Asing   itu untuk mengambil minyak mentah ( mulai dari survey awal hingga produksi   berjalan) sepenuhnya&lt;br /&gt;(alias 100 %, bahkan sekarang mencapai 120%   karena ada tambahan 20 % bagi perusahaan-perusahaan yang mengembangkan   sumur-sumur minyak yang telah diolah sebelumnya ) di biayai oleh   Pemerintah (tentu dengan uang rakyat, yang dibayar lewat pajak dan lain   sebagainya), yang biasa di sebut *cost recovery**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan :&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;1. Jadi sekalipun Bangsa Indonesia memiliki sedikitnya 329   Blok/Sumber Migas dengan lahan seluas 95 juta hektar (separuh luas daratan   Indonesia ) dengan cadangan minyak yang diperkirakan mencapai 250 sampai   dengan 300 miliar barel (Setara Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar   di dunia saat ini) dengan total produksi minyak mentah hari ini mencapai 1   juta barel per hari atau 159 juta liter per hari, tidak bermanfaat bagi   Rakyat Indonesia.  &lt;br /&gt;2. Dengan kesanggupan memproduksi BBM mentah sebesar 1 juta barel   perhari, dengan harga saat ini US $ 120 / barel) maka nilainya mencapai   1,104 triliun per hari atau 397,44 triliun per tahun. Belum termasuk nilai   penjualan gas yang juga luar biasa besarnya, mencapai 82,8 trilun per tahun.   Jika semua Industri Minyak ini di kuasai oleh Negara yang pro rakyat, maka   tidak akan pernah ada Defisit Anggaran Negara karena kenaikan Harga BBM   Dunia (Defisit Anggaran 21,4 trilyun jauh di bawah keuntungan 397,44 trilyun   dari Minyak di tambah 82,8 trilyun dari Gas) &lt;br /&gt; 3. Belum lagi Negara tidak perlu mengeluarkan *cost recovery * yang   sangat besar. Sampai Pertengahan tahun 2007 saja, pemerintah sudah   mengeluarkan dana 93,9 trilyun rupiah.  &lt;br /&gt;4. Keuntungan untuk rakyat akan bertambah, jika Minyak Mentah di   Indonesia, bisa di olah sendiri, tanpa harus membawa ke luar negeri untuk di   olah, dan kemudian di beli Indonesia lagi. Bayangkan saja, untuk Broker saja   (ekspor di tambah import), terbuang uang 4,9 trilyun rupiah pertahun &lt;br /&gt; 5. Sekarang bandingkan dengan dana BLT yang hanya 14 trilyun selama 6   bulan untuk jutaan orang, yang dalam prakteknya 100 ribu perbulan, atau 3000   perhari. Ganti ongkos angkutan seandainya harga BBM nanti naik, itu saja   sudah tidak cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*Kenapa Bangsa Indonesia Yang Kaya dan Besar Bisa Terjajah Modal Asing? *&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;1. Karena seluruh Kekuatan Politik Indonesia (Partai Sisa Orde Baru,   Tentara, Partai Reformis yang sebenarnya Gadungan, Partai Nasionalis yang   juga Gadungan, juga Partai yang mengatasnamakan Agama , tetapi membiarkan   umatnya terjajah) pengecut di Hadapan Modal Internasional, bahkan dengan   suara bulat mendukung pengesahan segala macam UU atau peraturan yang   membiarkan Modal Internasional menjarah kekayaan alam termasuk minyak kita   (yang terbaru adalah UU Penanaman Modal dengan segala turunannya) dan   mengisap tenaga kerja kita. Jika sekarang PDIP, PKB, PKS atau Ketua DPR yang   GOLKAR itu menolak rencana kenaikan BBM, itu hanya jualan buat menang pemilu   2009 nanti. Demikian juga dengan Tokoh-Tokoh Elit Politik Lama yang sekarang   berada di Pinggiran, yang sibuk berkoar menolak, sejatinya juga sama saja,   tidak ada yang sejati berani melawan Penjajahan Modal Asing, seperti Castro   di Kuba, Chavez di Venezuela, Evo Maorales di Bolivia ataupun Soekarno di   Indonesia.  &lt;br /&gt;2. Karena Intelektual (Pengamat Ekonomi, Politik dan lain sebagainya,   Rektor maupun Dosen) juga sama pengecutnya, bahkan banyak yang bersedia di   bayar oleh Modal Internasional melalui pemerintah ataupun yang lain, untuk   mendukung program-program Penjajahan itu (baik dengan memberikan dana   penelitian, beasiswa, fasilitas dan lain sebagainya)  &lt;br /&gt;3. Pengusaha-pengusaha dalam negeri, juga bermental sama seperti   Elit-Elit Politik itu, bukanya melawan Dominasi Modal Internasional, malah   menjadi agen-agen Modal Internasional, bahkan yang sekarang gencar mendukung   kenaikan harga BBM adalah Organisasi Pengusaha seperti KADIN (Kamar Dagang   Indonesia) dan APINDO (Assosiasi Pengusaha Indonesia).  &lt;br /&gt;4. Kekuatan utama yang sanggup menghadapi Modal Internasional, yakni   Klas Buruh dan Rakyat Miskin belum menunjukan kekuatan sejatinya, berupa   Mobilisasi Aksi Nasional dan Persatuan Organisasi Gerakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*Jalan Keluar Rakyat Indonesia :*&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt; 1. Ambil Alih seluruh Industri Migas di Indonesia, juga Industri vital   lainnya, oleh penyatuan mobilisasi rakyat dan di bawah kontrol rakyat.  &lt;br /&gt;2. Hapus Hutang Luar Negeri, dengan kekuatan penyatuan mobilisasi   rakyat  &lt;br /&gt;3. Bangun Kerja sama dengan pemerintah dan rakyat Venezuela dan   Bolivia untuk pembangunan Refinery dan Industri Minyak di Indonesia  &lt;br /&gt;4. Diversifikasi Energi yang menjamim kelangsungan lingkungan  &lt;br /&gt;5. Singkirkan Kaum Modal, Elit dan Parpol Penipu Rakyat, bangun   Kekuasan Rakyat Sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*Jalan Keluar Jangka Pendek :*&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt; 1. Batalkan Rencana Kenaikan Harga BBM dan Turunkan Harga  &lt;br /&gt;2. Potong Gaji Pejabat dari Pejabat-Pejabat di Tingkat Nasional,   hingga tingkat Kecamatan sebesar 50 % &lt;br /&gt; 3. Potong Gaji Eksekutif di Perusahaan Swasta sebesar 50 % &lt;br /&gt; 4. Pembatasan Mobil Pribadi dengan cara membatasi jumlah mobil yang   bisa dimiliki, menaikan pajak mobil, menaikan biaya parkir dan lain   sebagainya &lt;br /&gt; 5. Tetapkan Pajak 35 % dari penjualan Eksport dan Import Minyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*Seruan Persatuan Perlawanan :*&lt;/strong&gt;  &lt;br /&gt;1. Lakukan Aksi-Aksi Massa setiap hari, di manapun, dengan cara   pemogokan pabrik, blokir jalan, pendudukan kantor-kantor pemerintah, maupun   dengan aksi-aksi massa di jalan-jalan untuk menggagalkan kenaikan harga BBM  &lt;br /&gt;2. Satukan aksi-aksi mahasiswa dengan aksi-aksi rakyat, jadikan kampus   sebagai salah satu tempat konsolidasi perlawanan massa rakyat.  &lt;br /&gt;3. Melakukan Aksi Nasional secara serentak, pada tanggal 21 MEI 2008   dan 1 JUNI 2008, kepung pusat kekuasaan dan duduki. Di Jakarta : Ayo Bersatu   Kepung dan Duduki Istana.  &lt;br /&gt;4. Bangun Persatuan Gerakan Rakyat Melawanan Penjajahan secara   Nasional sebagai embrio Pemerintahan Rakyat.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;21 MEI DAN 1 JUNI :&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;AYO BERSATU, KEPUNG DAN DUDUKI ISTANA !!**&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;GAGALKAN KENAIKAN HARGA BBM DENGAN PERSATUAN MOBILISASI RAKYAT!**&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;AMBIL ALIH INDUSTRI MIGAS, OLEH PERSATUAN MOBILISASI RAKYAT DAN DIBAWAHKONTROL RAKYAT!**&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;SINGKIRKAN KAUM MODAL,ELIT POLITIK DAN PARTAI PENIPU RAKYAT..SAATNYA RAKYATBEKUASA!!*&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;JAKARTA, 13 MEI 2008FRONT PEMBEBASAN NASIONAL&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-7168362714935275110?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/7168362714935275110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=7168362714935275110' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7168362714935275110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7168362714935275110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/pernyataan-sikap.html' title='Pernyataan Sikap'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-935858120946807287</id><published>2008-05-13T11:20:00.002+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:41.653+07:00</updated><title type='text'>Opini Pilihan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://indoprogress.blogspot.com/2008/05/hati-hati-dengan-kata-kata.html"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ffff33;"&gt;Hati-hati dengan Kata-kata&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffff33;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; !&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;Dita Indah Sari&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;Kata adalah senjata,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;kata adalah bumerang &lt;/em&gt;&lt;em&gt;(Subcomandante Marcos)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;DI tengah-tengah meluasnya kegelisahan rakyat yang harap-harap cemas semoga keputusan ini dib&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SCkY7yqnE5I/AAAAAAAAANE/0H7E2Ra_NPs/s1600-h/dita.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199714660267791250" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SCkY7yqnE5I/AAAAAAAAANE/0H7E2Ra_NPs/s400/dita.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;atalkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengeluarkan pernyataan yang menyesatkan. Menurut Kalla, jika kenaikan harga BBM batal, sama artinya dengan membatalkan kebijakan pemerintah memberikan bantuan langsung tunai kepada orang miskin. ”Jadi, setiap ada demonstrasi menyatakan tak setuju (kenaikan harga BBM), sama dengan mengurangi rezeki orang miskin” (Kompas, 8/5 halaman 18).&lt;br /&gt;Mulutmu harimaumu, begitu pesan pepatah. Mulailah berhati-hati dengan kata-kata karena cepat atau lambat dapat menuai badai. Dengan kata-kata itu, Wakil Presiden berniat menyampaikan kepada kita bahwa bantuan dari pemerintah hanya berhak diterima rakyat jika harga BBM dinaikkan.Artinya, rakyat baru berhak dapat sesuatu dari pemerintah setelah pemerintah mengambil sesuatu dari kita. Terima dulu kenaikan ini, baru kemudian bantuan kami kucurkan ke tanganmu. Ini sama artinya pemerintah sejatinya tidak memberikan apa-apa, nol, kosong, hampa.Ini mirip dengan kebijakan tukar guling atau jual beli yang nilainya pun sama sekali tidak setara. Bagaimana mungkin bisa setara jika Departemen Sosial sendiri menyatakan bahwa efektivitas bantuan langsung tunai (BLT) hanya sekitar 54,96 persen, sementara sekitar 45 persen rumah tangga miskin penerima BLT menyatakan bahwa bantuan itu tidak meringankan biaya hidup mereka yang kian berat pascakenaikan harga BBM sebesar 120 persen awal Oktober 2005?Adu dombaPemberian BLT adalah ganti rugi, bukan ganti untung. Persoalan utama negeri ini adalah rendahnya daya beli dan pendapatan untuk dapat hidup layak, maka solusinya adalah bagaimana menyediakan lapangan kerja bagi puluhan juta orang yang menganggur. BLT sama sekali bukanlah solusi. Apalagi jika peluang untuk menciptakan lapangan kerja itu justru dirusak sendiri oleh kenaikan harga BBM industri yang memukul sektor usaha menengah-bawah.Pernyataan Wakil Presiden dengan terang benderang menunjukkan kepada kita karakter asli pemerintahan ini. Pemerintah baru mau memberi jika yakin telah ada sesuatu yang diambil dari rakyatnya. Segala bentuk program kesejahteraan sosial adalah kewajiban pemerintah terhadap rakyat yang memberinya mandat. Kenapa harus menunggu dulu kenaikan harga BBM, listrik, atau pencabutan subsidi-subsidi lainnya?Rencana kenaikan harga BBM selalu mengundang reaksi. Demonstrasi di berbagai kota sudah merebak. Sungguh tidak senonoh pernyataan yang menyamakan demonstrasi ini dengan upaya mencegah rakyat miskin mendapat rezeki. Tampaknya ini lebih dari sekadar sikap tidak sensitif, tidak peka dan tuli terhadap kegelisahan rakyat atas situasi yang makin pahit.Pernyataan ini adalah cermin kepanikan dan kekalapan pemerintah sehingga reaksi-reaksi protes yang sesungguhnya wajar terjadi dalam alam demokrasi pun kemudian dicitrakan sedemikian rupa. Untuk membenarkan kebijakannya, pemerintah melalui Wakil Presiden mempertentangkan orang miskin dengan para mahasiswa dan demonstran. Apa belum cukup negeri kita ini dicabik-cabik konflik horizontal, sampai harus ditambah lagi dengan membuat arena konflik baru: demonstran vs orang miskin? Mahasiswa vs orang miskin? Penerima BLT vs penolak kenaikan harga BBM?Solusi terakhirDua kali kenaikan harga minyak dalam pemerintahan SBY- JK (Maret dan Oktober 2005), kata-kata pemerintah selalu sama: ini adalah solusi terakhir. Jika ini yang terakhir, apa solusi mendasar yang pertama? Solusi yang kedua, keempat, ketujuh? Bagaimana berjalannya? Signifikan atau tidak? Kalau gagal, di mana gagalnya? Bagi kita masih gelap.&lt;br /&gt;Banyak sudah alternatif solusi yang disampaikan kepada pemerintah. Presiden menyatakan bahwa dirinya telah membaca ribuan pesan singkat (SMS), artikel, dan opini masyarakat menyangkut kenaikan harga BBM. Sejak kenaikan harga BBM tahun 2005, opsi-opsi lain sudah diajukan kepada pemerintah. Namun, kebijakan tetap bergeming. Apa benar presiden memerhatikan dengan serius masukan dari publik sejak tiga tahun yang lalu?Mengapa pemerintah tidak pernah menanggapi opsi pengurangan atau penjadwalan pembayaran utang luar negeri untuk menghemat anggaran kita? Mengapa usulan soal perbaikan bagi hasil pertambangan minyak, terutama pengurangan biaya cost recovery, tidak pernah mulai dijalankan? Apa ada upaya serius memberantas korupsi dalam proses produksi dan distribusi minyak, gas, dan listrik? Apakah pemerintah tidak pernah terusik dan malu dengan kenyataan bahwa sebagai negara besar penghasil minyak, keadaan kita malah lebih buruk dibandingkan dengan negara yang miskin sumber daya alam seperti Thailand? Jika konversi energi memang menjadi program pemerintah, mengapa sebagian besar gas alam kita justru dijual ke Jepang?Daripada membuat komentar yang menyakitkan hati tentang tukar guling yang tidak setara, atau tentang demonstran yang menzalimi rezeki orang miskin, lebih baik opsi-opsi di atas ditanggapi. Namun, jika ternyata memang tak ada lagi hal baik yang tersisa untuk disampaikan, maaf, diam sajalah.***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Dita Indah Sari MPP Papernas&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Artikel ini sebelumnya dimuat di harian Kompas, Senin, 12 Mei 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-935858120946807287?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/935858120946807287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=935858120946807287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/935858120946807287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/935858120946807287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/opini-pilihan.html' title='Opini Pilihan'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/SCkY7yqnE5I/AAAAAAAAANE/0H7E2Ra_NPs/s72-c/dita.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1828336243009853128</id><published>2008-05-07T17:41:00.005+07:00</published><updated>2008-05-07T18:40:06.283+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term=':'/><title type='text'>ResensiResensiBukuBukuMasaMasa SMU</title><content type='html'>Uih! akhirnya punya waktu ngenet juga. Sial banget memang lakon hidupku akhir-akhir ini. Seolah semakin jauh dari harapan suatu saat nanti aku bakalpunya buku yang yang diterbitkan, tapi kenyataannya?Memang sih sama penerbit disarankan merevisi (mengubah kale yak? abiz banyak amat yang harus direvisi) naskah "X"-ku. Tapi malasnya minta ampun. ditambah lagi laptop usang-ku yang selama ini memang sering rewel n terus-menerus merengek minta di-servis pada akhirnya KO juga. Mau ga mau akhirnya pake komputer rumah yang lemotnya minta ampun(Itu-pun klo pas aku pulang liburan ke rumah). Benernya bisa sich ke rental..tapi lagi-lagi MALAS! Kerja rutin memang bikin aku semakin malas nulis (duh, jangan2 alasan malas tu cuma mekanisme pertahananku aja yang memang sebenarnya...sebenarnya apa ya? sebenarnya memang malas poll see. Plizz, siapapun jangan ditiru n' mudah-mudahan ga nurun ke anak cucu nanti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, waktu buka-buka file masa-masa SMU di komputer lama nie aku nemuman beberapa tulisan lama. Diantaranya tugas Mapel Bahasa Indonesia, Bikin Cerpen dan meresensi buku. Resensi2 nya memang banyak, abis waktu itu aku jualan tugas resensi jadi ke kawan-kawan. Dan, buku-buku yang kuresensi kupinjam dari om yang waktu itu lagi studi pasca sarjana Humaniora dapat beasiswa di UGM. Karena buku-buku yang tersedia buku nonfiksi (padahal pada waktu itu aku lagi gandrung-gandrungnya novel sastra lama&amp;amp;Modern Indonesia yang sedikit tersedia di perpus SMU-ku), jadi akhirnya kubaca juga (secara serampangan tentunya) buku-buku tersebut. Tapi memang pada dasarnya memang aku sudah mulai tertarik buku nonfiksi, pasalnya semenjak kakakku beraktivis ria di bangku kuliah (UNEJ),beliaunya sering bawa pulang buku-buku politik dan majalah tegalboto n ga cukup itu, dia juga nyuruh aku baca buku-buku yang dia bawa (uik!, pdahal dia ndiri belum tentu baca. Yakin dah). Majalah tegalboto merupakan satu hal yang membuatku akrab dengan kota Jember &amp;amp; kampus UNEJ, isu2 di sekitar kerajaan UNEJ,aktivisme di UNEJ jauh sebelum pada akhirnya kuputuskan mengambil PMDK di Unej..bukan UNSOED, UNS, UNY ataupun UGM. Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yo weslah ora opo-opo,semua ada hikmahnya. Oiya, kayaknya ga da salahnya menampilkan resensi-resensi (amburadul) semasa SMU itu he..3x.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=======================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PEMBANTAIAN PASKA GESTAPU&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Palu Arit di Ladang Tebu&lt;br /&gt;Penulis : Hermawan Sulistyo&lt;br /&gt;Penerbit : KPG (Kapustakaan Populer Gramedia)&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 2001, cetakan ke 2&lt;br /&gt;Tebal Buku : xv + 292 halaman&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 14 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama terbit sebuah buku dengan judul “ Aku Bangga Menjadi Anak PKI” yang ditulis oleh anak seorang PKI, sebelumnya pun ada sebuah buku yang ditulis oleh kumpulan anak-anak pahlawan revolusi. Tentu kedua buku tersebut isinya sangat bertentangan, karena yang satu melihat dari sudut pandang PKI, dan yang satu melihat dari sudut pandang anak-anak jenderal yang diculik dan dibunuh. Di dalam buku ini menyajikan peristiwa G 30 S/PKI atau GESTAPU dan pembasmiannya atau GESTOK, secara gamblang.&lt;br /&gt;Cover buku sederhana dan tidak menarik, namun yang menjadi daya tarik buku ini adalah judulnya yaitu “Palu Arit di Ladang Tebu”. Isi buku menginterpretasikan Gestapu dan Gestok yang sebagian besar tidak diketahui atau sengaja ditutupi oleh rejim Orba. Dimana penulis dalam menyampaikannya menggunakan sudut pandang secara seimbang dan sesuai dengan wawancara terhadap saksi, pelaku, maupun data-data yang diperoleh melalui penelitian terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Penulis menjelaskan bahwa pada masa Demokrasi terpimpin, Soekarno membawa Indonesia ke kiri. Di dalam negeri, ia menerapkan Kebijaksanaan Nasakomisasi untuk melebur tiga kelompok sosial politik yang dianggapnya sebagai akar-akar seluruh kekuatan politik. Ketiga kelompok tersebut adalah Nas-ionalis, A-gama, Kom-unis. Soerkarno memimpikan ketiga kelompok ini bersatu untuk menjadi kekuatan progresif revolusioner demi memajukan Indonesia raya (halaman 35).&lt;br /&gt;Akan tetapi golongan muslim menentang dan tidak menyukai kaum komunis yang tidak mengenal agama. Ribuan anggota NU dan Ansor yang bersenjata tajam, memulai kerusuhan dengan membakar rumah dan membunuh beberapa anggota PKI yang diartikan umat muslim sebagai perang suci atau jihad. Kejadian ini diikuti aksi pembalasan oleh simpatisan PKI, peristiwa serupa yang sama besarnya (halaman 84).&lt;br /&gt;PKI yang tak mengenal agama menyerang dan mengambil Al-Qur’an dan menyobeknya, lalu melemparnya ke lantai dan kemudian menginjak-injaknya sambil mengatakan “Iki sing marakke gudikan!” (halaman 140).&lt;br /&gt;Peristiwa Gestapu terjadi pada Kamis malam, tepatnya Jumat legi subuh. Malam Jumat diprcaya oleh sebagian kalangan masyarakat sebagai malam yang angker. Departemen AD menjelaskan melalui surat kabar yang terlebih dahulu ditandatangani oleh Soeharto “bahwa peristiwa Gestapu adalah peristiwa yang kontra revolusioner”. Namun pada hari yang sama, Harian Rakjat (surat kabar komunis) menerbitkan artikel dengan judul “ Letnan Untung, komandan Tjakrabirawa, telah menyalammatkan presiden RI dari kudeta Dewan Jenderal”, dengan sub judul Gestapu adalah peristiwa internal AD”(halaman 154).&lt;br /&gt;Gestapu berhasil ditumpas dengan serangkaian serangan balasan yang dikenal dengan istilah Gestok (gerakan serangan tiga oktober) yang dilakukan oleh tentara, kelompok ronda, maupun algojo-algojo. Diperkirakan sekitar 1.000.000 anggota dan simpatisan PKI yang tidak tahu-menahu dibantai secara kejam. Tak jarang beberapa bagian anggota tubuh (telinga, jari, alat kelamin) diambil dari korban dan dibawa pulang oleh pembunuh sebagai oleh-oleh atau sebagai bukti keberanian…(halaman 166)&lt;br /&gt;Menurut penelitian yang dilakukan penulis yang menyebabkan militer berani menangkap anggota PKI, karena militer merasa PKI dalam keadaan terpojok, sehingga mereka menangkap 40.000 orang yang dituduh sebagai anggota PKI. Perwira militer mengeluh tentang kesulitan-kesulitan memberi makan kepada tawanan. Kemudian militer mendiskusikan hal itu.&lt;br /&gt;“ Disekolahkan saja”, salah seorang mengusulkan.&lt;br /&gt;“Kirimkan saja mereka ke sukabumi…ya, bunuh mereka!”&lt;br /&gt;(halaman 173)&lt;br /&gt;Dengan bantuan daftar anggota PKI, para algojo menyeret anggota PKI dari rumah mereka dan mengeksekusi mereka di mana saja, tetapi analisis paska pembunuhan mencurigai militer sengaja membuat daftar ini. Alasannya, hanya militerlah yang mempunyai kemampuan untuk mengetik dan menyusun daftar yang jelas dan lengkap; dan dikatakan militer berusaha memicu kemarahan massa(halaman 188).&lt;br /&gt;Hasil wawancara menunjukkan bahwa di daerah pedalaman Jombang, tak terhitung jumlah guru Sekolah Dasar yang dibawa ke kuburan dan dibunuh di sana. Pada suatu kejadian, Kiai Ich (inisial) dari Mojowarno, berusaha menghentikan pembantaian. Ia katakan kepada anggota kelompok ronda supaya menyeret anggota PKI ke pengadilan saja. Tetapi, hanya sedikit anggota ronda yang mau mendengarkannya. Sehingga banyak anggota PKI yang melarikan diri dan meminta perlindungan kepada kiai. Setelah ditelusuri para anggota PKI dalam kenyataannya tidak mengerti afiliasi politiknya. Banyak di antara mereka shalat secara teratur (halaman 198).&lt;br /&gt;Ada kabar tentang seorang perwira yang baru saja pindah dari dari Pandegilling, Jawa Barat. Perwira ini dengan ganas menembaki anggota PKI. Tetapi belakangan, ia sendiri diketahui ialah simpatisan PKI. Anggota kelompok ronda percaya ia ingin menutupi masa lalunya dengan melakukan tindakan seperti itu, dengan harapan tak seorangpun yang mencurigainya (halaman 226).&lt;br /&gt;Sebelum dan selama pembantaian, ada dua orang kiai yang sangat berpengaruh--K.H. SM dan K.H. MA--yang mempunyai hubungan erat dengan kelompok ronda kediri. Keduanya memiliki pandangan yang berbeda tentang pembantaian. Kiai MA menyatakan membunuh orang komunis dibenarkan. Tetapi seharusnya dilakukan secara baik-baik, tetapi jika yang akan dibunuh sudah mengucapkan kalimat syahadat maka pembunuhan harus dibatalkan, kiai MA juga pernah menyatakan bahwa “pembunuhan merupakan kehendak Tuhan”. Sedangkan kiai SM berbeda ia mengatakan Gestapu adalah konfik antara pemerintah dengan pemberontak, suatu bentuk konflik yang berbeda pada masa Nabi, meskipun mereka bukan seorang kafir mereka harus dibunuh. Pembangkangan terhadap negara harus dibalas dengan hukuman yang setimpal, yaitu dibantai (halaman 234).&lt;br /&gt;Beberapa dekade setelah Gestapu terjadi, masih sedikit yang dapat menceritakan tentang peristiwa itu, apalagi pembantaian massal paska gestapu. Ada beberapa kendala yang bermain di sini, termasuk emosi politik. Melalui ketetapan MPRS (TAP MPRS No.XXV/MPRS/1996) yang berisi dilarang untuk mempelajari ajaran marxisme-leninisme, PKI dan seluruh topik yang berkaitan dengan peristiwa Gestapu (halaman 236).&lt;br /&gt;Ada beberapa teori, interpretasi, dan spekulasi mengenai aktor-aktor dalam peristiwa Gestapu. Dalam konteks ini, setidaknya terdapat lima fersi sebagai berikut. Pertama, PKI sebagai dalang. Kedua, Penyebab Gestapu adalah masalah internal angkatan Darat. Ketiga, Soekernolah yang bertanggung jawab. Keempat, Soehartolah dibalik peristiwa Gestapu. Kelima, Jaringan intelejen dan CIA yang mendalangi Gestapu. Sampai sekarangpun masih samar, siapa sebenarnya dalang dalam peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal (halaman 237)&lt;br /&gt;Dalam politik nasional, Orba melakukan konsolidasi guna mempersiapkan Pemilu 1971. Pemerintah pada saat itu mengatakan “sekarang adalah saatnya untuk nglumpukake balung pisah” yang artinya mencari anggota keluarga besarnya yang terpisah, dan melupakan masa lalunya. Konsolidasi rejim yang baru dipermudah oleh depolitisasi masyarakat (halaman 239).&lt;br /&gt;Pada bab VII penulis membuat rangkuman yang menginterpretasikan bahwa dalam potret resmi, peristiwa Gestapu hanya terpusat di Jakarta, disajikan di atas kanvas putih tanpa cela. Sedangkan pembantaian massal paska gestapu tidak ditorehkan di atas kanvas itu, karena lukisannya akan mengganggu lanskap resmi. Karena itulah tidak mengherankan bila peristiwa kemanusiaan dengan ribuan korban jiwa hampir dilupakan hanya dalam waktu kurang dari satu generasi. Namun, banyak luka yang masih tertoreh. Luka-luka yamg berada di bawah permukaan sejarah resmi ini merupakan bagian dari pengalaman kolektif negara Iandonesia. Seperti halnya sejarah resmi, luka-luka ini juga akan turut membentuk generasi yang akan datang.&lt;br /&gt;Sebagai buku terjemahan, buku ini mengandung beberapa “kelemahan”. Pertama, karena teks aslinya dibaca oleh kalangan akademis, maka dalam menterjemahkan sulit menguraikan persoalan yang menyangkut kerangka teori dan kesimpulan. Kedua, terdapat beberapa kesalahan dalam penulisan. Misalnya, kata namu (halaman 35) seharusnya tertulis namun, kata tampa (halaman 148) seharusnya tertulis tanpa, kata utang (halaman 150) seharusnya tertulis hutang.&lt;br /&gt;Kelebihan buku yaitu, buku disertai indeks, dan penjelasan dari kata-kata yang sulit. Kelebihan lainnya penulis melakukan penelitian lapangan dan mengumpulkan data-data yang akurat sehingga kebenaran isi tidak diragukan.&lt;br /&gt;Buku nonfiksi ini sangat bermanfaat karena menambah cakrawala pandang pembaca, selain itu buku ini juga mengandung pesan, “janganlah menghilangkan suatu fakta sejarah, meskipun sejarah tersebut menyakitkan. Buku ini layak dibaca siapapun, terlebih generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Resensator : Ratih Indri Hapsari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FEODALISME DALAM MODERNITAS&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Serpihan Budaya Feodal&lt;br /&gt;Penulis : Suhartono W. Pranoto&lt;br /&gt;Penerbit : Agastya Media&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 2001, cetakan ke 1&lt;br /&gt;Tebal Buku : xiv + 249 halaman&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 14 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat cover buku ini maka akan berpendapat bahwa isi buku nonfiksi ini menarik, cover buku ini bergambar wayang. Buku ini membahas mengenai penyimpangan sosial-budaya yang sebenarnya merupakan warisan feodal yang sampai sekarang masih hidup di masyarakat, bahkan sulit untuk direduksi apalagi dihilangkan semuanya secara drastis. Perlu diakui bahwa memang sulit, sebab semuanya adalah warisan budaya. Pemahaman buku ini dapat dipakai sebagai bekal untuk menapak ke masa depan, yaitu ke arah pemerintahan bersih dan transparan demi tercapainya masyarakat sejahtera.&lt;br /&gt;Buku ini memuat tentang banyaknya tanah yang bermasalah karena ulah kepala desa. Kepala desa berhak dhedhel garapan petani kalau ketahuan kether (lamban bekerja), bertindak asosial, dan kriminal di desa. Sementara itu petani tidak dapat membela dan mempertahankan hak-haknya hingga ia diturunkan dari petani keceng menjadi petani gundhul, kalau perlu dikeluarkan dari desa (halaman 92)&lt;br /&gt;Di dalam masyarakat Jawa dikenal prentah alus. Perintah yang keras dan mengandung sanksi diwujudkan dalam dalam bentuk prentah alus. Istilah kapocot atau kadhedhel sanggannya sangat menghantui petani, sebab mereka dilepas dari kehidupan desa. Ini semua merupakan realisasi dari prentah alus yang harus diterima dengan tulus dan sebagai suatu kenyataan (halaman 110)&lt;br /&gt;Buku ini juga membandingkan perbedaan feodalisme yang terjadi di Eropa dan Jawa. Menurut Penulis perbedaan yang mencolok ialah bahwa para pemegang tanah apanage hanya bersifat sementara, yaitu selama memangku jabatan sebagai birokrat kerajaan. Tanah-tanah apanage di Eropa bersifat permanen, sedangkan di Jawa merupakan tanah gadhuhan, yaitu pemberian tanah dari raja untuk sementara waktu yang menikmati hasil tanah selama menjabat. Persamaan kedua jenis feodalisme adalah semua beban feodal ditanggung oleh tani baik berbagai pajak langsung dan tidak langsung, tenaga kerja, dan berbagai sumbangan yang dalam hal itu upeti termasuk di dalamnya (halaman 128)&lt;br /&gt;Buku ini juga mencatat hubungan birokrasi kerajaan yang terjalin dari puncak sampai ekor birokrasi di pedesaan, ternyata peran lurah tidak dapat ditinggalkan. Lurah tidak lain adalah broker yang menjembatani dunia yang terpisah antara bangsawan dan pemegang lungguh dengan tani. Para bangsawan mengangkat lurah itu untuk mengkoordinasikan tani sebagai tenaga kerja agar mengerjakan siti palenggahan. Lurah mewakili bangsawan di pedesaan dan otoritasnya yang besar itu sangat aksensif dan bahkan menekan tani. Ia dianggap sebagai ratu cilik yang mengimitasi kekuasaan penguasa di atasnya.&lt;br /&gt;Bab 8 merupakan bab yang menarik, bab ini berjudul “Pajang-pasisiran dan Pajendralan : Beban Rakyat”. Di dalamnya mengkaji istilah pajang-pasisiran dan pajendralan. Baik pajang-pasisiran maupun pajendralan terkombinasi menjadi salah satu ciri kekuatan feodal yang menunjukkan kewenangan kedudukan para pembesar dan penguasa feodal yang menunjukkan kewenangan kedudukan para pembesar dan penguasa feodal kerajaan untuk mengadakan kunjungan ke daerah-daerah dan bagi birokrat kolonial melakukan tourne sehubungan dengan kepentingan dinas. Apakah tourne ini memang tugas yang dilakukan rutin ataukah direkayasa sehingga pembesar memenuhi interes tertentu di suatu daerah.&lt;br /&gt;Buku ini juga menyebutkan aspek budaya Jawa bawah tanah, yang menjelaskan bahwa apabila panen gagal dan dibarengi tekanan dari pihak onderneming maka keadaan ini merupakan peluang bagi timbulnya berbagai upaya untuk menolak. Di sini kecu merupakan salah satu jawabannya. Selain itu timbul pula bara, koplakan, bohong, laying booding, kebal, benggol ( halaman 233 )&lt;br /&gt;Kelebihan buku ini adalah penulis dalam dalam memaparkan isi mudah dimengerti oleh pembaca walaupun di dalamnya tertapat kata-kata asing dang banyak pula yang menggunakan bahasa Jawa, sedangkan kelemahannya adalah terdapat beberapa kesalahan dalam penulisan.&lt;br /&gt;Buku ini sangat bermanfaat serta menambah pengetahuan kita. Buku ini layak dikonsumsi siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MASALAH SEJARAH DAERAH&lt;br /&gt;DAN KESADARAN SEJARAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Sejarah lokal di Indonesia&lt;br /&gt;Penulis (Editor) : Taufik Abdullah&lt;br /&gt;Penerbit : Gadjah Mada University Press&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 1996, cetakan ke 4&lt;br /&gt;Tebal Buku : xiii +323 halaman&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 16 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisan sejarahwan. Sehingga taufik Abdullah mengambil tulisan-tulisan yang masing-masing “mewakili” suatu daerah atau suku-suku tertentu. Dengan begini penulis (editor) mengharapkan suatu “paranoma” tulisan tentang tanah air kita dari kaca mata asing. Dalam penyusunan ini maka yang diambil patokan ialah proses pengerjaan sejarah itu sendiri. Bermula dari bahan yang dianggap paling awal, yaitu arsip, berakhir dengan uraian sejarah yang bersifat interpretatif.&lt;br /&gt;Buku ini menjelaskan bahwa penanaman “sejarah nasional” atau “sejarah Indonesia” yang mencakup zaman dari seluruh daerah yang kini disebut Republik Indonesia haruslah diterima tak lebih daripada nama berdasarkan konsensus saja. Konsesus tak pula terlepas dari patokan normatif dan bukan ditentukan oleh keharusan logis dari “subject matter” atau sasaran studi, tetapi oleh tuntutan ideologis. Maka pencampuran konsensus dengan pengujian berdasarkan disiplin ilmu sejarah akan menimbulkan kekacuan saja (halaman 14)&lt;br /&gt;Di dalam kata pengantar Taufik Abdullah mengatakan bahwa kesulitan sesungguhnya terletak pada kenyataan bahwa daerah sebagai unit administratif, sering tidak sesuai dengan “daerah” dalam pengertian etnis-kultural (halaman 37)&lt;br /&gt;Dalam buku dipakai istilah yang netral dan diharapkan berarti tunggal, yaitu “sejarah lokal”. Pengertian kata lokal tidak berbelit-belit, hanyalah “tempat, ruang”. Jadi “sejarah lokal” hanyalah berarti sejarah dari suatu “tempat”, suatu “locality”, yang batasannya ditentukan oleh “perjanjian” ( halaman 67)&lt;br /&gt;Buku ini menjelaskan bahwa perhatian utama dari sejarah sosial ialah bagaimana masyarakat mempertahankan dirinya, mengatur hubungan sesamanya (seperti status dan wibawa) dan bagaimana pula memecahkan masalah dalam berhadapan dengan lingkungan (alamiah ataupun sosial), dan dengan tetangga (halaman 146)&lt;br /&gt;Maka editor menyimpulkan bahwa sejarah sosial itu menunjukkan perhatian pada aktivitas sosial dalam kaitannya dengan perkembangan dunia-sosial secara keseluruhan (halaman 167)&lt;br /&gt;Buku ini menjelaskan bahwa dalam hal ini kategori-kategori masalah yang diuraikan oleh H.J. Perkin tampaknya bisa menolong. Jika masyarakat sebagai sasaran penelitian historis secara analogi dapat dianggap sebagai suatu organisme, maka yang menjadi sasaran perhatian ialah ekologi, antomi, fisiologi, patologi, dan psikologi (halaman 266)&lt;br /&gt;Penulisan sejarah sosial tidak berhenti pada kisah dan proses tetapi melanjutkan pada uraian tentang struktur yang tidak sekedar terpukau pada peristiwa dan tokoh besar tetapi mencoba “menangkap” hal kecil dan orang kecil; tidak hanya romantika kehidupan yang kwalitatif, tetapi juga data yang dapat dihitung secara tepat. Tetapi apakah ini artinya kita harus mempunyai suatu total history, yang merekam segala sesuatu dan memperlakukannya secara “adil”? jawabannya ada pada halaman 320&lt;br /&gt;Editor menjelaskan betapa idealnya, sejarah-total bukanlah yang harus dicapai. Kalau begitu, meskipun sejarah sosial bersifat menyeluruh, secara praktis dalam pengerjaannya si sejarahwan semestinya dibimbing oleh dua hal pokok. Pertama ialah “batas’yang jelas pada sasaran penelitian, kedua “faktor pemersatu” atau unifing factor dalam studi (halaman 321)&lt;br /&gt;Bagian penutup buku mengkaji bahwa pendekatan sejarah sosial, yang menekankan keharusan adanya bentuk struktural sebagai konteks dalam nama peristiwa yang terjadi, tidak memberikan kisah, narrative, tetapi uraian deskriptifnya tak kurang mengasyikkan. Mukin pula tidak ada pahlawan heroik yang dikisahkan, tetapi sejarah sosial mencoba untuk merekam sepenuhnya romantika kehidupan masyarakat (halaman 323)&lt;br /&gt;Fungsi utama dari tulisan editor yang mengawali kumpulan tulisan terjemahan ini yaitu menginterpretasikan sejarah lokal di Indonesia. Buku ini sangat bermanfaat sebab dapat menambah pengetahuan.&lt;br /&gt;Kelebihan buku adalah editor dalam menyusun buku mengambil tulisan yang bersifat tematis—ekonomi, politik. Kelebihan lain adalah editor dalam usaha penyusunan mengambil patokan yang bermula dari bahan yang paling awal, yaitu arsip, dan berakhir dengan uraian sejarah yang bersifat interpretative. Sedangkan kelemahan buku terletak pada penulisan isi yang menggunakan ukuran huruf terlalu kecil sehingga mata akan cepat lelah dalam membaca buku. Buku ini sangat bermanfaat dan layak dibaca siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;INTERPRETASI&lt;br /&gt;POLITIK PEDESAAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku            : Perlawanan Kaum Tani&lt;br /&gt;Penulis                  : James C. Scott&lt;br /&gt;Penerbit                 : Yayasan Obor Indonesia&lt;br /&gt;Tahun Terbit         : 1993, cetakan ke 1&lt;br /&gt;Tebal Buku            : xvii + 384 halaman &lt;br /&gt;Ukuran Buku         :16 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya buku nonfiksi lainnya cover buku ini kurang menarik. Berwarna hijau tua dengan lukisan yang menyerupai kerucut, merupakan sebuah cover buku jika kita melihatnya sepintas, maka kurang tertarik untuk membacanya. Akan tetapi isi buku ini menarik dan sangat berguna untuk menambah pengetahuan kita dan menjadikan kita sebagai insan yang lebih peka terhadap ketidakadilan dan dapat menjadikan suatu keragaman (prulalitas) sebagai pendorong persatuan tanpa mempermasalahkan keragaman tersebut. Dalam buku ini membahas khusus pada masyarakat yang bermata pencaharian sebagai petani.&lt;br /&gt;Buku ini mengkaji melemahnya ikatan patron-klien antar petani gurem/buruh tani (klien) dan petani kaya (patron). Scott menyebut beberapa faktor, diferensiasi sosial yang menjadi pengaruh ke mana elit pertanian di desa menaruh harapan. Scott menampilkan pokok-pokok argumentasi yang ringkas tentang hubungan petani dan elit agraris, mengenai legitimasi patron bukan hanya fungsi linier serta stratifikasi pedesaan makin terpolarisasi antara produsen bebas dan terikat (halaman 4-7)&lt;br /&gt;Kesenjangan dalam pemilikan tanah yang terjadi di desa Jawa dapat memperkuat pula ikatan patron-klien, dimana klien (buruh tani) makin tergantung pada hubungan kerja. Di delta Tokin, misalnya, penyewaan yang tidak menentu, paling tidak menyediakan akses terhadap sepetak tanah kredit yang cukup bagi hidup penggarap. Demikian pula banyak penggarapan skala kecil di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinilai terutama untuk keamanan subsistensi yang umumnya diberikan oleh pemiliknya (halaman 36)&lt;br /&gt;Buku ini memuat pula kesenjangan berpolitik di masyarakat tani desa, akses partai-partai kepada kaum tani tampaknya kebanyakan terjadi melalui jalur-jalur patronasi, kekerabatan dan kepatuhan tradisional. Pemimpin-pemimpin partai sadar akan masalah ini dan secara berkala mencela deviasi paternalisme atau bapakisme. Pada tahun 1955 ketika para petani menjadi mayoritas keanggotaan partai, pemimpin partai bahkan mengeluh bahwa unsur-unsur lokal yang kaya menghambat keputusan-keputusan partai. Jadi struktur lokal PKI -- makna desanya -- telah menciptakan hambatan besar bagi militansi kelas (halaman 134)&lt;br /&gt;Di samping itu buku ini juga mencatat bahwa buruh tani yang masih berakar pada dusun mengenal ikatan guyub, di mana daya swakarsa secara perorangan atau kolektif mampu mempertahankan ketahanan mereka. Juga diamati bahwa keterlibatan buruh tani di luar dusun umumnya tidak terlepas dari perantaraan “patron” baru.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk perlawanan sehari-hari para petani dimuat pada bab 4, teknik-teknik perlawanan yang digunakan untuk menghindari pajak, zakat yang tidak wajar (halaman 362-366)&lt;br /&gt;Perlawanan sebagai tindakan revolusioner adalah aksi pembelaan diri yang sifatnya dramatis. Hal ini dapat saja bersifat senjata makan tuan, atau dapat mengurangi eksploitasi, tapi yang jelas memaksa negoisasi kembali pada hubungan kelas, dan mungkin kadang-kadang, membantu meruntuhkan sistem. Namun hal tersebut merupakan akibat yang mungkin terjadi. Sebaliknya, niatnya hampir selalu kelangsungan hidup dan keteguhan.&lt;br /&gt;Sebagaimana karangan James C. Scott lainya, buku ini mengungkapkan ketidak adilan atau konflik kelas dan teknik-teknik perlawanan kaum tani yang tidak berarti mengabaikan konteks kepastian dari politik kaum tani.&lt;br /&gt;Buku ini cukup tebal dan banyak terdapat kata asing, tetapi jangan khawatir karena terdapat penjelasan tentang kata-kata asing tersebut. isinyapun sungguh merupakan suatu fakta yang dilengkapi dengan data-data yang valid.&lt;br /&gt;Buku ini jelas akan memperkaya bacaan kita di Indonesia mengenai masyarakat tani dan hubungannya dengan petani kaya. Buku ini layak dibaca siapa saja, terutama generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DILEMMA BIROKRASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Politik, Birokrasi dan pembangunan&lt;br /&gt;Penulis : Dr. Mohtar Mas’oed&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka pelajar&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 1999, cetakan ke-3&lt;br /&gt;Tebal Buku : x + 185&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 13 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melihat cover dan ukuran buku secara sepintas maka orang akan menganggapnya buku fiksi. Tetapi oponi itu akan hilang bila membaca judul buku. Buku ini bermula sebagai makalah yang ditulis untuk keperluan yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Tema sentral tulisan yang dilaporkan dalam kumpulan ini adalah masalah pemberdayaan rakyat sebagai tujuan pokok pembangunan dan tantangan serta dilemma yang dihadapinya. Sikap normative penulis ini sangat jelas tercermin dalam berbagai arguman bahwa proses politik dan kebijakan yang berurusan dengan pembangunan seharusnya didasarkan pada pertimbangan pemberdayaan rakyat.&lt;br /&gt;Penulis menyampaikan bahwa, sebagian dari kemerosotan politik di Indonesia disebabkan oleh kegagalan partai-partai atau kaum sipil umumnya untuk merangsang proses ke arah terwujudnya suatu sistem politik yang sehat sewaktu mereka mempunyai kesempatan untuk bisa berbuat ke jurusan itu karena kekuatan politik pada waktu itu boleh dikatakan berada di tengah mereka (halaman 7).&lt;br /&gt;Hasil membaca dan menyelidiki beberapa sumber, penulis dapat mengemukakan, tema sentral kebijakan pembangunan Indonesia sejak pertengahan 1980-an adalah “structural adjustment”, yang merupakan tanggapan pemerintah terhadap tantangan berat yang dihadapi ekonomi Indonesia akibat kemerosotan penerimaan devisa dari ekspor minyak bumi pada awal tahun 1980-an. Dalam literature dikenal empat jenis kebijakan penyesuaian…(halaman 55).&lt;br /&gt;Ada dua generalisasi sahih yang mendasari tulisan ini. Pertama, birokrasi tidak pernah beroprasi dalam “ruang hampa politik “ dan bukan aktor netral dalam politik. Kedua, negara-negara Dunia Ketiga lebih sering dipengaruhi oleh sistem internasional, daripada sebaliknya (halaman 68).&lt;br /&gt;Tulisan ini didasarkan pada argumen bahwa sebagian besar dari kegagalan memahami persoalan birokrasi di Dunia Ketiga adalah akibat dari dominannya konsepsi Weberian dalam studi mengenai birokrasi (halaman 69).&lt;br /&gt;Subsidi pemerintah yang besar-besaran dibahas meliputi pangan murah bagi konsumen kota, harga tinggi untuk produk pertanian, harga murah untuk input pertanian, subsidi ekspor, dan harga murah untuk sektor publik memenuhi kepentingan industrialistik (halaman 112).&lt;br /&gt;Penulis menyajikan fakta bahwa para pemimpin memang berusaha memenuhi kepentingan politiknya melalui penerapan kebijakan publik dan pola-pola intervensi negara seringkali mencerminkan kepentingan kelas-kelas dominan. Ini adalah sebuah pemikiran yang berguna. Berkembangnya minat terhadap peran negara dalam pembangunan sangat menggembirakan. Namun ada dua tantangan intelektual yang harus kita hadapi. Pertama, adalah adanya bahaya kecenderungan kerah reduksionisme “ tidak langsung”. Yaitu peran negara kelihatannya dianggap penting tetapi dianalisis melalui perspektif yang pada dasarnya reduksionis. Bahaya analitis kedua adalah sebaliknya, yaitu membuang reduksionisme determinasi politik (halaman 121).&lt;br /&gt;Siapa yang miskin? Pertanyaan ini berkenan dengan bagaimana mengidentifikasikan kemiskinan. Pada dasarnya, ada dua pendekatan : yang pertama menekankan pengertian substensi ; sedang kedua memahami kemiskinan dalam pengertian relative. Bagaimana mengukur kemiskinan menurut kelompok ilmuwan? Berapa banyak orang miskin di Indonesia? Mengapa mereka miskin? Pertanyaan ini ada dan dijawab pada halaman 136-156.&lt;br /&gt;Tulisan ini dapat memberi jawaban terhadap pertanyaan bagaimana mencegah kemiskinan? Bagaimana mencegah korupsi? Yaitu strategi politik perwakilan yang lebih terbuka dan membiarkan masyarakat menyuarakan kepentingannya melalui saluran yang sah. Selain itu buku ini dilengkapi bagan yang lebih memperjelas isi. Itulah salah satu kelebihan buku. Sedangkan kelemahan gagasan ini perlu dilengkapi dengan daftar istilah, indeks, sehingga pembaca tidak bingung. Buku ini layak dibaca untuk semua umur, baik tua maupun muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERBANDITAN SEBAGAI&lt;br /&gt;MANIFESTASI PROTES SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Bandit-bandit Pedesan di Jawa&lt;br /&gt;Penulis : Suhartono&lt;br /&gt;Penerbit : Aditya Media&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 1995, cetakan ke 1&lt;br /&gt;Tebal Buku : xii + 180 halamanUkuran Buku : 15 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cover buku ini berwarna merah darah, serta pagar dengan kawat berduri. Merah darah dan kawat berduri merupakan sebuah gambaran abstrak tentang kehidupan petani pedesaan yang tertindas.&lt;br /&gt;Dengan melihat covernya saja kita akan tertarik untuk membaca buku ini. Buku nonfiksi ini merupakan studi historis yang sengaja dibukukan. Prof. Dr. Sortono telah banyak menulis buku nonfiksi dengan bobot ilmiah dan validitas yang tak perlu diragukan karena disertai berbagai penelitian yang panjang dan melelahkan dari berbagai sumber, baik dalam negeri maupun luar negeri.&lt;br /&gt;Buku ini menginterpretasikan masalah perbanditan. Dalam kasus di daerah Jawa di masa lalu, bandit muncul dari kelompok yang tertindas yang membela diri untuk mempertahankan eksistensi kehidupan di pedesaan yang terdesak oleh perkebunan. Perbanditan sosial di pedesaan adalah suatu gerakan kesadaran masyarakat dan mempunyai motivasi politik yang sebenarnya skalanya masih sangat lokal dan sifat geraknya antara arkais dan modern…(halaman 11) Proses lahirnya perbanditan berasal dari petani yang terdesak dan tertekan oleh beratnya pajak dan kerja wajib. Perbanditan pedasaan sebenarnya tidak lain adalah etos kultural pedesaan yang dinyatakan dalam tradisi masyarakat…(halaman 107) Dipandang dari ideologinya, perbanditan pedesaan lebih menitik beratkan hal-hal yang bersifat riil dan ekonomis, artinya menghadapi kepentingan primer yang merupakan hajad hidup bersama dalam masyarakat pedesaan. Dengan demikian perbanditan sosial lebih merupakan kombinasi antara everyday forms of peasant resistance dan peasant revolt. Sasaran dalam perbanditan pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua bagian…(halaman 111) Korban perampokan atau pengecuan adalah pihak-pihak yang merugikan petani dan mendukung ekstraksi yang dilakukan tanah partikelir. Bandit-bandit yang dikenal sebagai “Robin Hood” antara lain Entong tolo dan Entong Gendut mereka dikenal sebagai pemimpin bandit sosial yang bercampur motivasi politik meskipun sangat terbatas disalah satu distrik Jatinegara…(halaman 134)&lt;br /&gt;Kesimpulan dari buku ini yang dimuat pada bab 6 adalah, pada dasarnya perbanditan tidak akan hilang selama masih ada kehidupan dalam masyarakat. Perbanditan pedesaan yang muncul merupakan bentuk manifestasi protes terhadap ketidakadilan sosial…(halaman 159) dan perbanditan pedesaan tetap saja ada selama masih terjadi eksploitasi yang merugikan petani.&lt;br /&gt;Keunggulan isi buku adalah penulis dalam penyampaian masalah mengenai perbanditan melalui penelitian terlebih dahulu sehingga kebenarannya tidak pelu diragukan. Sedangkan kelemahannya adalah penulis tidak memberi solusi bagaimana cara menanggulangi atau mengurangi perbanditan sebagai protes sosial ketidakadilan.&lt;br /&gt;Buku ini menarik untuk disimak karena sejarah sering berulang, dan manusia sering alpa terhadap hakekat kemanusiaan. Di samping itu buku ini sangat bermutu dan menunjang bagi pendidikan yang mengacu pada kompetensi, dan layak dibaca siapa saja lebih-lebih generasi muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEJARAH PERKEMBANGAN NASIONALISME INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Sejarah pergerakan Nasional&lt;br /&gt;Penulis : Dr. Suhartono&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka pelajar&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 1994, cetakan ke 1&lt;br /&gt;Tebal Buku : xi + 171 halamanUkuran Buku : 16 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain cover buku ini sungguh sederhana. Cover buku berwarna hijau tua serta tulisan judul berwarna kuning jingga. Terbitnya buku Sejarah Pergerakan Nasional (SPN) ini melalui proses panjang setelah penulis menjalani “masa dinas” yang cukup lama. Sebenarnya secara ringkas ide pokok SPN ini telah diterbitkan berupa diktat oleh Fakultas Fisipol pada waktu penulis memberikan kuliah di fakultas tersebut. Diktat itu dikeluarkan pertama pada tahun 1975 dan ternyata sampai dengan awal tahun 90-an masih terus dikeluarkan. Indikator inilah yang mendorong penulis untuk menyempurnakannya dan baru pada tahun 1990 penulis membuat revisi seperlunya dan dalam waktu yang relatif singkat dapat diwujudkan dan layak disebut buku.&lt;br /&gt;Buku yang ditulis Dr. Suhartono ini menginterpretasikan pergerakan Nasional dari Budi Utomo (1908) sampai proklamasi (1945). Kata “pergerakan” Mencakup semua macam aksi yang dilakukan dengan organisasi modern ke arah kemerdekaan Indonesia, sedang nasionalisme sendiri mengacu pada faham yang mementingkan perbaikan dan kesejahteraan rasio atau bangsanya (halaman 4)&lt;br /&gt;Kebutuhan aparatur birokrasi dan administrasi kolonial ternyata juga makin meningkat dan umtuk itu semua diperlukan pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan spesialisasi dan keahliannya. Edukasi menghasilkan elite baru yang makin lama makin tahu kedudukannya yang dibedakan dalam masyarakat kolonial. Dari golongan inilah muncul pembaharuan yang direalisasikan dalam bentuk pergerakan yang modern. Untuk mereallisasikan cita-citanya golongan elite menggunakan kesempatan emas, yaitu dengan keluarnya sabda Ratu Belanda pada tahun 1901 yang menghendaki “diangkatnya “ orang bumi putra dari lembah kemiskinan. Peluang dalam politik etis ini dimanfaatkan sungguh-sungguh oleh para elite untuk meningkatkan kesejahteraan dan dalam perkembangan yang lebih jauh untuk memmbebaskan diri dari dominasi kolonial (halaman 17)&lt;br /&gt;Keadaan wanita Indonesia pada saat itu masih ada dalam konservatisme dan sangat terikat oleh adat. Pengajaran di sekolah-sekolah hanya diperuntukkan bagi anak laki-laki, sedangkan anak perempuan hanya mendapatkan pendidikaan di rumah atau di lingkungan keluarga dan pendidikan yang diperolehnya tidak lebih dari persiapan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik. Pengertian emansipasi yang terkandung dalam jiwa wanita pada waktu itu ialah keinginan untuk mendapatkan persamaan hak dan kebebasan dari kungkungan adat. Mengenai keinginan wanita Indonesia dalam mengejar kemajuan telah diutarakan oleh surat kabar Bintang Hindia sebagai berikut: “Peradapan rokhani perlu bagi gadis Indonesia, agar supaya kemudian kalau sudah menjadi ibu dapat menunjukkan anak-anaknya kearah kemajuan. Kalau ibu menjadi pengasuh utama anak-anak dan mempunyai pengaruh penting masyarakat kita di kemudian hari, mengapa mereka dibelakangkan dari kaum laki-laki”. Kunci gerakan emansipasi yang dipelopori oleh RA Kartini (1879-1904) ialah idialisme yang tinggi dan suci terhadap bangsanya. Oleh karena itu kaum muda harus harus berpartisipasi dalam kemajuan dan menolak konservatisme dan untuk mencapai itu semua Kartini minta “ agar bangsa Jawa diberi pendidikan” (halaman 26-28)&lt;br /&gt;BU (Budi Utomo) lahir di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908, corak baru yang diperkenalkan BU adalah kesadaran lokal yang diformulasikan dalam wadah organisasi modern. Reaksi kurang enak dengan berdirimya BU datang dari orang Belanda, mereka tidak senang atas kelahiran “si molek” dan mengatakan bahwa orang Jawa makin banyak “cingcong”. Setelah organisasi BU didirikan selanjutnya disusul berdirinya organisasi-organisai lain di tanah air (halaman 32)&lt;br /&gt;Perkembangan nasionalisme Indonesia terjadi secara stimulan, bukan saja menjangkau partai-partai politik tetapi juga organisasi-organisasi pemuda. Bersamaan dengan pembentukan PNI dan PPPKI, organisasi-organisasi pemuda ada dalam proses politisasi yang makin meningkat. Manifestasi persatuan pemuda diwujudkan dalam Kongres Pemuda II pada tanggal 26-28 Oktober 1928 (halaman 78)&lt;br /&gt;Buku ini juga mengemukakan proklamator dalam Sejarah Pergerakan Nasional. Dalam bab XIII ini Dr. Suhartono menggungkapkan biografi para proklamator Indonesia. Penulis menceritakan secara singkat perjalanan hidup Ir Sukarno (6 Juni 1901-21 Juni1970) dan Drs. Mohammad Hatta (12 Agustus 1902-14 Maret 1980). Pembahasan tersebut dimuat pada halaman 147-151.&lt;br /&gt;Kelebihan buku adalah dapat menambah pengetahuan kita, selain itu penulis dalam menyampaikan isi sangat jelas sehingga mudah dimengerti. Sedangkan kelemahannya adalah buku tidak dilengkapi daftar istilah sehingga jika pembaca menemukan kata-kata asing, sulit untuk mengerti.&lt;br /&gt;Buku ini sebenarnya dimaksudkan sebagai salah satu bacaan dan pegangan mahasiswa. Tetapi tidak ada salahnya jika siswa SMU membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;BuruhMenuntut Hak&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Pemogokan Buruh&lt;br /&gt;Penulis : Bambang Sulistyo sebuah Kajian Sejarah&lt;br /&gt;Penerbit : PT Tiara Wacana Yogya&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 1995, cetakan ke-1&lt;br /&gt;Tebal Buku : xi + 202 halaman&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 15,5 cm x 21cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku non fiksi ini cukup tebal, cover buku cukup menarik, tidak seperti buku nonfiksi lainnya, tanpaknya keelokan cover buku sangat diperhatikan. Seluruh data yang dipergunakan dalam penyusunan buku adalah sumber tertulis yang berupa surat kabar, arsip, majalah, dan karya-karya historiografi.&lt;br /&gt;Variabel yang dibahas dalam buku ini adalah pabrik gula, petani, elit politis, manager pabrik gula, dan pemerintahan kolonial. Pada tahun 1920 terjadi pemogokan di berbagai pabrik gula yang tersebar di seluruh daerah industri gula di Jawa. Pemogokan dilakukan oleh serikat buruh Indonesia ai pabrik gula…(halaman 1).&lt;br /&gt;Kondisi sosial ekonomi Indonesia pada masa kolonial bersifat tidak sinkronis. Kehidupan ekonomi hanya menguntungkan satu sub-kelas kecil yaitu bangsa Belanda 9Eropa); sedangkan bangsa Indonesia (penduduk bumiputra) yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat kolonial menderita karena hidup dalam kondisi kemiskinan. Kekayaan dan keuntungan yang dimiliki golongan minoritas Belanda diperoleh dengan cara melakukan eksploitasi ekonomi atas golongan mayoritas penduduk bumiputra. Kondisi sosial dan ekonomi itu dimungkinkan oleh dukungan kebijakan ekonomi kolonial (halaman 9).&lt;br /&gt;Yang paling menderita akibat depresi ekonomi di akhir perang dunia I adalah penduduk bumiputra, terutama petani kecil dan buruh. Golongan yang menderita itu dalam jumlah ribuan bahkan jutaan orang bersedia bekerja apa saja agar dapat menyambung hidup, meskipun dibayar dengan upah yang sangat rendah. Oleh karena itu, depresi ekonomi juga ditandai dengan permintaan yang melimpah atas lapangan kerja oleh penduduk bumiputra (halaman 60).&lt;br /&gt;Pada bab V berisi tentang gerakan buruh menuntuk kenaikan upah tidah hanya dilakukan oleh buruh bumiputra, tetapi juga oleh buruh pabrik gula bangsa Eropa yang tergabung dalam Suikerbond. Beberapa sasaran perjuangannya adalah, menuntut perbaikan gaji, menentang politik kolonial dan menungkatkan aksi dan kekuatan organisasi. Selajutnya pada beberapa artikel yang menyatakan bahwa gerakan buruh yang minta kenaikan upah adalah wajar dan bersifat universal. Oleh karena itu gerakan buruh bumiputra sudah sepantasnya mendapat pengakuan (halaman 139).&lt;br /&gt;Gerakan protes di daerah industri gula pada masa kolonial terjadi karena kondisi sosial dan ekonomi yang tidak sinkronis. Dalam memajukan perusahaan dan memperoleh keuntungan pengusaha melakukan eksploitasi tenaga kerja semaksimal mungkin tanpa memperbaiki kondisi kerja dan kondisi ekonomis pekerja. Pengusaha semakin kaya, tetapi buruh dan petani menjadi miskin. Kondisi yang tidak sinkronis itu diperburuk oleh kegagalan panen padi pada akhir perang dunia I (halaman 177).&lt;br /&gt;Kelebihan buku adalah, buku berperspektif sejarah ini tidak hanya memberikan wawasan tentang persoalan hubungan industrial di awal abad ke-20, tetapi juga sarat dengan trik-trik politik para pemimpin bangsa dalam membela rakyat dari eksploitasi Pemeritah kolonial. Kelebihan lain buku ini memberi motivasi untuk menentang penindasan. Kelemahan Buku adalah, terdapat sedikit penulisan.&lt;br /&gt;Buku ini sangat bermanfaat, isi buku ini cukup berat namun dan sulit dipahami. Walaupun begitu cocok sekali untuk semua kalangan, tua maupun muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mobilisasi Organisasi dan Partisipasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Partisipasi politik di Negara Berkembang&lt;br /&gt;Penulis : Samuel P. Hungtinton dan Joan M. Nelson&lt;br /&gt;Penerbit : PT RINEKA CIPTA&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 1994, cetakan ke-2&lt;br /&gt;Tebal Buku : X + 239 halaman&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 16 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi ini bermula dari suatu program riset yang diselenggarakan sejak tahun 1969 sampai tahun 1973 di Pusat Pengkajian Masalah Internasional, Universitas Harvard. Cover buku ini tidak menarik sama sekali sehingga kurang memikat pembaca. Tetapi isi buku sangat menarik dan bermanfaat.&lt;br /&gt;Buku ini dalam penulisannya menggunakan program, yang programnya meliputi studi-studi kasus di empat negara, dengan menjajagi pola-pola partisipasi politik di Kolombia, Kenya, Pakistan dan Turki. Juga tercakup di dalam studi-studi silang-nasional mengenai pola-pola partipasi dua golongan masyarakat berpenghasilan rendah : kawula tani dan kaum tani perkotaan. Buku ini dilengkapi dengan analisis yang intensif mengenai partisipasi kelompok itu di negara-negara tertentu : peduduk kota miskin di Meksiko dan penduduk desa Vietnam. Akhirnya, buku ini mencakup dukungan bagi pengembangan dua model partisipasi yang bersifat teoritis dan kuantitatif.&lt;br /&gt;Memobilisasikan suatu kelompok baru ke dalam politik seringkali menimbulkan pengaruh yang merugikan bagi kekuasaan dan peranan partisipasi kelompok-kelompok lain. Biasanya kelompok-kelompok itu memberikan tanggapan dengan jalan menarik diri dari politik, seperti yang dilakukan oleh kaum tuan tanah, atau mengadakan organisai lawan, mengubah teknik-teknik dan sumber-sumber daya yang digunakan di dalam arena itu (halaman 46).&lt;br /&gt;Pada bab 3 penulis mengemukakan, model pembangunan liberal berasumsi bahwa dalam semua tahap pembangunan tingkat pembangunan sosio- ekonomi yang lebih tinggi, Di dalam tahap-tahap pembangunan yang pertama, tingkat partisipasi politik yang lebih tinggi mendorong menurunnya tingkat pemerataan sosio-ekonomi (model borjuis lawan model otokratik), sedangkan dalam tahap-tahap pembangunan kemudian, tingkat partisipasi politik yang lebih tinggi cenderung menghasilkan laju pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah (model populis lawan model teknokratik)…(halaman 59).&lt;br /&gt;Penulis mengungkapkan, walaupun partisipasi dalamkegiatan ekonomi yang lebih luas tidak akan mengarah kepada partisipasi politik yang lebih besar mungkin dapat mengarah kepada pembagian hasil negara secara merata. Di mana pemilihan berdasarkan persaingan merupakan salah satu saluran bagi partisipasi politik, maka hal itu juga cenderung untuk menghasilkan distribusi yang lebih luas dari manfaat-manfaat material pemerintah (halaman 100).&lt;br /&gt;Manfaat-manfaat politik partai yang dapat diperoleh di samping manfaat-manfaat kolektif yang dapat dihasilkan bagi lingkungan-lingkungan tempat tinggal tertentu di dalam kota, pemungutan suara juga dapat digunakan sebagai pendistribusian yang lebih meluas dari keuntungan-keuntungan ekonomi di kalangan perorangan. Umpamanya, pemimpi-pemimpin partai memberikan jasa-jasa pendukung, seperti memberikan kredit mencarikan pekerjaan (halaman 101).&lt;br /&gt;Di dalam bab 4 dikemukakan argumentasi bahwa, satu asumsi dari model pembangunan liberal pada umumnya tetap berlaku. Peningkatan pembangunan sosio-ekonomi berkaitan pola-pola politik yang lebih beraneka- ragam dan lebih otonom. Selain itu mempelajari dan menjajagi operasi hubungan tersebut, dan kaitan sebab-akibatnya yang diandaikan, pada tingkat individu. Bagaimana tingkat pembangunan sosio-ekonomi yang lebih tinggi di dalam masyarakat mengakibatkan tingkat-tingakat partisipasi politik yang lebih tinggi oleh individu-individu dan kelompok-kelompok tertentu di masyarakat itu (halaman 107).&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan orang miskin dalam kondisi-kondisi paling lazim, partisipasi politik, baik dulu maupun sekarang, secara obyektif merupakan satu cara yang sulit dan mungkin tidak efektif untuk menanggulangi masalah-masalah atau memperjuangkan kepentingan-kepentingan. (halaman 164).&lt;br /&gt;Pada halaman isi buku terakhir penulis menyampaikan bahwa, kekuatan-kekuatan ekonomi dan sosial menyababkan perluasan partisipasi politik nampaknya bersifat global dan dalam jangka panjang tidak akan terbendung lagi. Akan tetapi fluktuasi-fluktuasi jangka pendek yang mendadak dalam tingkat partisipasi biasanya merupakan akibat-akibat langsung dari golongan elit (halaman 239).&lt;br /&gt;Kelemahan buku adalah, karena buku ini terjemahan maka dalam arti sesungguhnya buku asli ada beberapa yang hilang ini dikarenakan kosa kata bahasa Indonesia kurang lengkap (Kata Pengantar). Kelebihan buku adalah penulis menggunakan metode penulisan yang seimbang dan bersifat dinamis.&lt;br /&gt;Buku ini dapat menambah pengetahuan dan cakrawala pandang pembaca. Buku ini layak dibaca siapa saja baik orang dewasa, orang tua terlebih pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MEREBAKNYA FENOMENA KOLUSI KEKUASAAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Menyingkap Kejahatan Krah Putih&lt;br /&gt;Penulis : Adrianus Melilia&lt;br /&gt;Penerbit : PT Midas Surya Grafindo&lt;br /&gt;Tahun terbit : 1993, cetakan ke-1&lt;br /&gt;Tebal Buku : 190 halaman&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 15,5 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang menarik dari buku ini adalah Judulnya, sebagian besar akan bertanya apa yang dimaksud dengan “KRAH PUTIH atau WHITE COLLAR CRIME ?” arti dari krah putih adalah, orang yang pekerjaannya di kantor, dan biasanya tidak menggunakan otot tetapi kerja menggunakan otak.&lt;br /&gt;Buku ini berisi 30 tulisan pendek (artikel) yang ditulis dalam kurun waktu Agustus 1991 hingga Agustus 1992. Itulah kurun waktu setelah penulis meninggalkan profesi sebagai wartawan di sebuah majalah berita di Jakarta. Tema tulisan ini cukup beragam. Ada yang mengulas persoalan substansial dan, lebih banyak lagi, yang mengulas kasus-kasus penyimpangan atau kejahatan.&lt;br /&gt;Yang paling menaril dari 30 artikel adalah, artikel yang berjudul “Mengatasi Pencoleng Karya Intelektual” Pencoleng professional juga seringkali memiliki kaitan erat dengan pejabat setempat. Sebuah skandal terbongkar pada tahun 1985, melibatkan pejabat konsulat Indonesia di New York. Skandal terbuka ketika diplomat Indonesia menyerahkan video kaset bajakan kepada seorang pensiunan FBI yang disewa RIAA untuk berlagak sebagai seorang distributor rekaman. Dengan terungkapnya jaringan pembajakan musik di Indonesia, dunia rekaman AS kaget bukan main melihat besarnya nilai uang yang masuk ke kantor pemerintah Indonesia. Tak kurang dari 13 juta dollar diraih lewat pajak ekspor kaset palsu. Kemarahan publik akibat pencurian kaset tersebut, dan diteruskan dengan ancaman sanksi dagang, akhirnya memaksa Indonesia meringkus para pembajak kaset. Indonesia memang memiliki kepentingan untuk lebih akomodatif terhadap ibauan (jika tidak mau dikatakan tekanan) dari negara-negara lain maupun Intellectual Property Alliance, guna memberi proteksi lebih baik bagi ciptaan orang asing(halaman 15).&lt;br /&gt;Artikel lain yang tak kalah menarik adalah artikel ke-11 yang berjudul “Fenomena Penyimpangan Dalam Penjaminan Bank” Banyaknya keluhan tentang kredit macet akibat disalahgunakannya personal guarantee mengundang pertanyaan sementara kalangan di seputar masalah penjaminan bank ini. Pada umumnya fenomena yang terlihat adalah betapa mudahnya seseorang menyatakan diri menjadi penjamin tanpa menyadari sifatnya yng menikat. Yang juga mengusik adalah kasus digugatnya beberapa guarantor dari PT Bentoel oleh kreditur pabrik rokok tersebut. Walaupun masih penuh kontroversi, setidak-tidaknya kasus hukum ini menarik perhatian para praktisi bisnis akan posisi guantor yang sebenarnya cukup sulit menurut hukum Indonesia (halaman 72).&lt;br /&gt;Selain artikel-artikel tersebut, ada juga artikel yang cukup menggelitik untuk dibaca. Artikel ini berjudul “Kolusi Manajemen dan Potensi Kriminogeniknya” Manajemen yang kohesif, integrative dan efektif, adalah dambaan kita semua. Tapi bagaimana bila muncul fenomena manajemen yang kolusif ? hal tersebut dibahas pada halaman 77-82.&lt;br /&gt;Kelebihan buku adalah, penulis memilih artikel-artikel yang sering terjadi berulang-ulang sepanjang sejarah. Selain menyampaikan artikel penulis mengemukakan solusi dari masalah tersebut sehingga pembaca tidak akan bingung pemecahan masalah dan upaya pencegahannya. Sedang kelemahannya, terdapat beberapa kesalahan penulisan.&lt;br /&gt;Buku ini sangat baik jika dibaca oleh kaum KRAH PUTIH, karena dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bila kaum tersebut akan melakukan kegiatan yang bertentangan dengan peraturan. Tetapi Generasi muda juga dapat mengkonsumsi buku ini, karena dapat menambah cakrawala pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BANGSAKU DI TANAH SEBERANG&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Orang Indonesia di Malaysia&lt;br /&gt;Penulis : M. Arif Nasution&lt;br /&gt;Penerbit : Pustaka Pelajar&lt;br /&gt;Tahun Terbit : 2001, cetakan 1&lt;br /&gt;Tebal Buku : xvii + 153 halaman&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 15 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cover buku ini sangat menarik yaitu seorang laki-laki berwajah Jawa (dengan latar belakang peta negara Malaysia) sedang merokok di jendela seraya melamun dan matanya menggambarkan kerinduan pada kampung halaman. Belum lama Malaysia memberlakukan UU baru untuk menanggulangi tenaga kerja ilegal. Apa sebenarnya yang mendorong calon TKI lebih memilih jalur ilegal untuk sampai ke negeri Jiran? M.Arif Nasution membahas beberapa faktor pendorong mengapa calon TKI lebih memilih jalur ilegal di buku nonfiksi yang berjudul “Orang Indonesia di Malaysia”.&lt;br /&gt;Seperti halnya negara-negara yang berkembang lainnya, salah satu kebijakan yang dikembangkan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan ialah dengan mengirimkan tenaga kerja ke luar negeri. Untuk mengimplementasikan kebijakan ini dibentuk Lembaga Antar Kerja Antar Negara (AKAN) oleh Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia. Dalam penyelenggaraan kegiatan, AKAN bekerja sama dengan berbagai perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia (PPTKI) yang didirikan oleh swasta yang tergabung dalam Indonesia Manpower Suplier Association (IMSA)&lt;br /&gt;Sulit ditentukan dengan pasti jumlah tenaga kerja yang bekerja di luar negeri, karena banyak dari mereka yang bekerja di luar negeri berangkat tanpa melalui prosedur resmi. Mereka menganggap bahwa jalur formal (resmi) yang dikoordinir oleh AKAN Departemen Tenaga Kerja dianggap terlalu birokratis dan sangat berbelit-belit, menghabiskan biaya dan waktu yang tidak sedikit (halaman 12)&lt;br /&gt;Migran tanpa izin biasanya masuk ke Malaysia menggunakan bot pom-pom ataupun pancung yang dikendalikan seorang tekong berpengalaman. Menurut keterangan beberapa orang tekong yang kerap berulang-alik dari kepulauan Riau ke Malaysia. Setelah berlayar lebih kurang 5 jam, sampan yang membawa mereka biasanya telah berada disekitar pantai Malaysia (kira-kira pukul 12 malam). Namun karena takut diketahui oleh Polisi Perairan Malaysia (Polis Marin) yang sering meronda sepanjang pantai tersebut, terpaksa tekong tersebut menunda pendaratannya hingga pukul 3 pagi. Hal ini dilakukan karena pada pada jam tersebut Polisi Perairan Malaysia biasanya agak lengah dan jarang mengawasi pantai secara cermat (halaman 35)&lt;br /&gt;Menurut survei yang dilakukan penulis umumnya migran yang menggunakan “jalan haram”, proses perjalanan pulangnya tersebut dibantu pula oleh para tekong. Dalam prakteknya hal ini dapat dijumpai ketika beberapa hari menjelang Hari Raya, tekong biasanya mengunjungi migran tanpa izin di lokasi rumah kongsi dengan maksud menawarkan jasa transpotrasi bagi yang berminat. Selanjutnya proses perjalanan pulang dengan cara tidak resmi ini biasanya bergerak dari beberapa kawasan yang memang dikenal sebagai lokasi pendaratan pendatang tanpa izin di Malaysia. Begitu pula tempat pendaratan di Indonesia cenderung bertumpu di sekitar pulau Riau saja. Dari kepulauan ini migran meneruskan perjalanannya lagi menuju tempat asal masing-masing dengan menggunakan bus atau jenis pengangkutan lainnya (halaman 56)&lt;br /&gt;Setelah sampai kampung biasanya keluarga migran mengadakan kenduri. Pada masa kenduri ini keluarga migran lazimnya menunjukkan segala barang-barang yang dibawanya seperti uang, pakaian, emas, radio, video, dan barang-barang pecah belah lainnya (halaman 97)&lt;br /&gt;Berdasarkan survei didapati bahwa lebih dari 50% responden menyatakan pernah mengirim uang secara rutin ke Indonesia dan jumlah kiriman tersebut sangat bergantung pada status pekerjaan dan frekuensi pengiriman. Para subkontraktor adalah pengirim uang paling besar ke Indonesia karena pendapatan yang mereka peroleh lebih tinggi dari yang lainnya. Sebaliknya kongsikong mempunyai kemampuan lebih kecil (halaman 106)&lt;br /&gt;Penulis menyampaikan menurut hasil survei menunjukkan sekitar 26% saja responden yang merasa mereka telah memperoleh pengetahuan yang baru. Selebihnya ada yang berpendapat tidak memperoleh pengetahuan sama sekali, malahan ada pula yang bertambah bodoh (table 6.5). Stahl (1986) dalam penelitiannya di beberapa negara Asia berkesimpulan , kurangnya peningkatan pengetahuan para migran , karena jenis pekerjaan yang dimasuki adalah jenis “pekerjaan kasar” yang kurang memerlukan pengetahuan dan keahlian khusus (halaman 120)&lt;br /&gt;Penulis mengungkapkan fakta yang ditemukan umumnya menunjukkan ada dua kecenderungan di kalangan migran Indonesia dalam memenuhi keperluan seksualnya. Pertama mereka melakukan hubungan seks sesama migran asal Indonesia yang berada di kawasan “kongsi” yang sama. Kedua banyak juga migran Indonesia memenuhi keperluan seksualnya di tempat-tempat pelacuran. Berdasarkan keterangan dari “bapak ayam” (mucikari) dan beberapa migran lelaki diketahui bahwa, jumlah bayaran pelacur turunan Cina lebih tinggi dari pelacur yang berasal dari Indonesia, Filipina dan India (Halaman 126)&lt;br /&gt;Menurut tabel yang ada pada buku ini keberhasilan pekerja Indonesia di luar negeri tentu juga sangat bermanfaat sebagai penambah penghasil devisa negara. Penerimaan pemerintah Indonesia yang berasal dari warganya yang bekerja di luar negeri di masa depan diperkirakan akan terus mengalami peningkatan yang cukup berarti (halaman 133)&lt;br /&gt;Buku ini dilengkapi tabel-tabel dari berbagai sumber dan dilengkapi data-data hasil survei, sehingga menambah nilai lebih buku. Sedang kelemahannya adalah terdapat beberapa penulisan kata yang salah, misalnya “atao” seharusnya ditulis atau.&lt;br /&gt;Buku ini sangat menarik dan sangat bermanfaat. Buku ini perlu dicetak ulang sehingga pembaca tidak mengalami kesulitan apabila ingin membeli. Buku ini layak dibaca siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KONSEKUENSI PENETRASI KOLONIAL DI INDONESIA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : A. M. Djuliati Suroyo&lt;br /&gt;Penerbit :Yayasan Untuk Indonesia (YUI)&lt;br /&gt;Judul Buku : Eksploitasi Kolonial Abad XIX&lt;br /&gt;Tahun terbit :2000, cetakan ke 1&lt;br /&gt;Tebal Buku : xxiv + 352&lt;br /&gt;Ukuran Buku : 16 cm x 20 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini lahir dari kebutuhan untuk meninjau kembali penulisan sejarah Indonesia oleh para sejarahwan asing yang lebih menggunakan sudut pandang Eropasentris. Cover Buku ini sungguh menarik, dua orang berwajah bangsa kolonial dengan latarbelakang rumah dabak dan orang pribumi yang berbadan kurus. Cover tersebut sangat sesuai dengan isi buku.&lt;br /&gt;Buku ini memuat sejarah kolonialisme di Indonesia. Salah satu masalah kolonialisme yang penting adalah bentuk eksploitasi ekonomis yang dilakukan bangsa kolonial. Salah satu bentuk eksploitasinya adalah tanam paksa, tanam paksa mengakibatkan terjadinya kesenjangan yang semakin besar dalam strata masyarakat desa. Di satu pihak para kepala desa yang mendapat kekuasaan semakin besar dalam pembagian tanah dan tenaga kerja untuk tanam paksa semakin kaya, sedang pihak lain petani warga desa yang bertanah sempit menanggung segala beban kerja wajib. Akibat lain khususnya dari tanam paksa tarum yang diproses menjadi indigo. Selain merusak kesuburan sawah dan sangat banyak waktu dan tenaga dituntut kerja wajib tanam serta pemrosesan indigo, upah tanam yang mereka terima sangat kecil…(halaman 4)&lt;br /&gt;Keadaan rakyat makin diperburuk oleh harga bahan pangan pokok, karena panen gagal akibat meletusnya gunung Merapi pada tahun 1622. Rakyat membenci orang Belanda yang menjadi penyebab tingginya pajak dan beratnya kerja wajib. Sasaran kebencian rakyat juga ditujukan pada orang-orang Cina. Rakyat menganggap Cina pachter Bandar sebagai pemeras uang rakyat di pintu gerbang cukai dan di pasar-pasar. Keadaan rakyat yang demikian kritis menjadi sangat responsife menerima ajakan untuk memberontak…(halaman 91)&lt;br /&gt;Wajib kerja juga diberlakukan oleh kolonial pada petani kopi, walaupun masih banyak tanah belukar yang belum dibuka, karena letaknya jauh dari pemukiman penduduk. Pemerintah tidak berani memaksa rakyat membuka kebun kopi, karena hal itu berarti menuntut kerja wajib di atas batas kemampuan yang dapat ditoleransi petani. Petani akan menolak dengan caranya sendiri, menelantarkan kebun atau melarikan diri. Selanjutnya baik kekuasaan pejabat kolonial yang teryata bersifat otoriter, maupun kekuasaan pelaksana para kepala pribumi yang bersifat feodalistik mendorong pemerintahan kolonial berusaha secara bertahap untuk menjadikan kerja wajib umum menjadi suatu lembaga kerja dengan peraturan-peraturan yang lebih terperinci, yang lebih menjamin pemerataan beban kepada sebanyak mungkin lapisan petani sesuai kemampuan ekonomis masing-masing…(halaman 152)&lt;br /&gt;Ekspansi persawahan teryata terus bertambah arealnya namun hal ini tidak diimbangi dengan meningkatnya produksi padi, produksi rata-rata per-kapita menunjukkan menurunnya hasil padi…(halaman 234)&lt;br /&gt;Penulis dalam memaparkan sejarah tidak menggunakan sudut pandang Eropasentris yang lebih menekankan pada bangsa Barat sebagai pemeran utama yang aktif menentukan arah dan jalan sejarah. Sementara bangsa yang dieksploitasi, lebih melihat kolonialisme sebagai kegiatan politik bangsa-bangsa Barat dalam usahanya menguasai otoritas kerajaan-kerajaan dan upayanya mengeruk keuntungan ekonomis secara maksimal. Tetapi dalam penulisan buku ini penulis menempatkan secara berimbang bangsa dan masyarakat Indonesia sebagai pusat perhatian, sehingga menambah nilai lebih buku. buku ini juga dilengkapi indeks serta daftar istilah sehingga memudahkan kita untuk memahami isi. Sedangkan kelemahannya adalah penulis dalam melakukan penelitian hanya terbatas pada keresidenan Kedu, sehingga hasil penelitian kurang mantap dan kurang variasi.&lt;br /&gt;Buku ini layak dibaca siapapun baik usia tua maupun muda, karena buku ini sangat bermanfaat dan kita dapat belajar agar dalam memandang suatu sejarah harus menempatkan diri secara berimbang tidak berat pada salah satu sudut pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;POLITIK PEMERINTAHAN KOLONIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Apanage dan Bekel&lt;br /&gt;Pengarang : Suhartono&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Tiara Wacana Yogya&lt;br /&gt;Tahun terbit : 1991, cetakan ke 1&lt;br /&gt;Tebal buku : xxii + 220 halaman&lt;br /&gt;Ukuran buku : 16 cm x 21 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr.Suhartono merupakan penulis buku-buku berbobot. Karya-karya tulisannya tersebar di surat kabar dan majalah ilmiah. Salah satu buku yang laris terjual dan dikonsumsi oleh banyak orang berjudul “Apanage dan Bekel” cover buku ini berwarna hijau muda, serta lukisan kursi sebagai abstraksi dari jabatan atau kekuasaan. Di dalam buku ini Dr.Suhartono berhasil menelusuri bagaimana perubahan penguasaan tanah apanage dan perubahan peranan bekel bisa terjadi serta implikasinya bagi kehidupan sosial, juga di bidang politik dan ekonomi.&lt;br /&gt;Buku ini menyampaikan, bahwa dalam pemerintahan kerajaan terdapat sistem apanage yang mengatur pola kehidupan masyarakat pedesaan dan hubungan-hubungan sosial politik secara vertikal dan horizontal. Sistem apanage menciptakan peranan seorang bekel yang berfungsi sebagai penebas pajak untuk para patuh. Untuk menambah efisiensi pemasukan pajak, bekel diberi peranan baru sebagai pengawas desa yang sekaligus sebagai penguasa desa (halaman 61)&lt;br /&gt;Pada tanggal 1 Januari 1918 telah dilakukan penghapusan semua apanage di daerah Kasunanan meliputi daerah-daerah Klaten, Boyolali, Sragen, dan Surakarta. Para patuh yang apanagenya dihapus diberi ganti rugi setiap bulannya (halaman 103)&lt;br /&gt;Perubahan kedudukan tanah apanage dilakukan karena lemahnya hak-hak perseorangan atas tanah dalam sistem apanage. Oleh karena itu untuk memperkuat kembali kedudukan hak-hak perorangan, tanah-tanah apanage harus dihapus, dan diubah menjadi tanah individual. Perubahan kedudukan tanah apanage akan mengakibatkan terjadinya proses defeodalisasi di satu pihak dan memperkuat kebebasan, kepastian hukum, dan perlindungan hak perseorangan di pihak lain. Penghapusan tanah apanage memudahkan proses komersialisasi tanah dan tenaga kerja guna meningkatkan produksi agro-industri. Liberalisasi petani mulai mendobrak apanage sistem karena dalam sistem ini tanah dan tenaga kerja merupakan kesatuan. Lepasnya tenaga kerja dari ikatan feodal memungkinkan dimasukkannya dalam pasaran tenaga kerja. Walaupaun demikian, tenaga kerja ini belum berarti meringankan ekstraksi petani karena petani tidak mempunyai “kekuatan menawar” sehingga nilai tukar tenaganya tidak memadai atau terlalu rendah (halaman108)&lt;br /&gt;Manakah yang lebih ekstraktif, sistem kerja tradisional ataukah sistem kerja upah? Hambatan apa yang terdapat dalam sistem kerja upah, dan sejauh mana dampak kerja upah itu bagi masyarakat pedesaan?…(halaman 109) pertanyaan tersebut dapat terjawab dengan menbaca buku ini.&lt;br /&gt;Dengan diterimanya upah kerja oleh petani dari perusahaan perkebunan dan pabrik, terjadilah proses monetisasi di pedesaan. Erat kaitannya dengan proses ini sampai seberapa jauh tetes ke bawah atau trickle down yang berupa keuntungan ekstraksi yang diperoleh perusahaan perkebunan itu memberi kesejahteraan petani? Ini merupakan masalah penting . Apakah hasil ekstraksi itu kembali pada petani? (halaman 116)&lt;br /&gt;Dilihat dari perbandingan ekstraksi jelaslah bahwa kehidupan ekonomi petani justru lebih buruk di tanah-tanah perkebunan. Selain itu, pemerintah menyerap kembali upah tanam dan upah kerja , serta sewa tanah itu melalui pembayaran pajak, penjualan candu,garam, dan barang-barang impor lainnya (halaman 118)&lt;br /&gt;Pengaruh monetisasi yang terjadi pada akhir abad XIX dan awal abad XX meresap ke masyarakat pedesaan. Akan tetapi, meresapnya pengaruh itu tidak menyejahterakan petani karena sumber daya pedesaan yang tereksploitasi itu tidak tersalurkan hasilnya sehingga petani tetap terbelakang dalam subsistensi ( halaman 122)&lt;br /&gt;Mobilitas vertikal masyarakat biasanya ditempuh dengan cara ngenger para priyayi. Pola mobilitas modern ditempuh melalui lembaga pendidikan untuk menunjang kelancaran birokrasi dan administrasi kolonial. Jadi, tranformasi struktural memperluas cakrawala dan dimensi perubahan sosial di pedesaan (halaman 138)&lt;br /&gt;Timbulnya gerakan sosial keagamaan tidak lepas dari faktor kepemimpinan yang mesianistik, orientasi gerakan yang mesianistik milenaristik, dan situasi kultural yang mendukungnya. Baik gerakan sosial keagamaan maupun perbanditan sosial mempunyai kaitan erat dengan dengan proses perubahan sosial di satu pihak dan proses adaptasi di pihak lain. Pengungkapan gerak sosial ternyata merupakan salah satu cara penggalian mikrohistori dengan berbagai dimensinya yang membuktikan bahwa peranan masyarakat pedesaan cukup besar dalam menanggapi perubahan sosial. Praktek pemerintah kolonial dengan ekstraksinya, seperti pengerahan tenaga kerja wajib dan penarikan pajak teratur, dan okasional telah meluas di masyarakat pedesaan. Jadi gerakan sosial timbul dalam rangka perubahan sosio-kultural sebagai reaksi terhadap westerniasi (halaman 165)&lt;br /&gt;Kelebihan buku adalah, dapat membantu kita dalam mempelajari sejarah sosial yang berimplikasi politik dan ekonomi kawasan Surakarta sejak awal abad ke-19 sampai 1920, selain itu buku ini disertai daftar istilah dan indeks. Sedangkan kelemahannya adalah, pengarang dalam menulis kutipan yang berbeda dalam satu paragraph, sehingga tidak mustahil pembaca akan sulit dalam memahami. Buku ini sangat bermanfaat dan layak dibaca siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1828336243009853128?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1828336243009853128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1828336243009853128' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1828336243009853128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1828336243009853128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/05/resensiresensibukubukumasamasa-smu.html' title='ResensiResensiBukuBukuMasaMasa SMU'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-3910460368308667733</id><published>2008-04-26T21:19:00.001+07:00</published><updated>2008-04-26T21:24:08.837+07:00</updated><title type='text'>Ketika Kaum Buruh Perempuan Bergerak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekilas mengenai Revolusi Febuari 1917 di Rusia    &lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;By Ken Budha Kusumandaru (PRP)  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prolog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Maret ini, tepatnya pada tanggal 8 Maret, kita sepatutnya mengenangkan kembali sebuah peristiwa besar yang mengguncang seluruh dunia, yang mengubah arah sejarah, yang dampaknya masih terasa sampai sekarang-namun yang juga diupayakan pelupaannya oleh para intelektual pengabdi kelas berkuasa-Revolusi Februari 1917 di Rusia.&lt;br /&gt;Revolusi ini disebut Revolusi Februari karena penanggalan yang dipakai di Rusia pada jaman itu merupakan penanggalan Gereja Ortodoks Yunani (Kalender Julian). Kalender ini, pada abad ke-20, ketinggalan 13 hari dari penanggalan Gereja Katolik Roma (Kalender Gregorian, yang di Indonesia dikenal sebagai penanggalan Masehi). Maka, seturut penanggalan tersebut, apa yang bagi kita adalah 8 Maret 1917, bagi kaum revolusioner Rusia masa itu adalah 22 Februari 1917. Oleh karena itulah revolusi yang dipicu oleh demonstrasi di tanggal 8 Maret 1917 ini dikenal sebagai Revolusi Februari.&lt;br /&gt;Revolusi ini sangat menarik dan tepat dibahas dalam satu edisi yang tema utamanya bicara tentang Hari Perempuan Internasional karena picu bagi Revolusi ini ditarik persis ketika kaum buruh perempuan di St. Petersburg, Rusia, berdemonstrasi memperingati Hari Perempuan Internasional. Penembakan yang dilakukan pasukan tentara dan polisi Tsar Rusia terhadap 128.000 buruh yang terlibat dalam peringatan Hari Perempuan Internasional itu merupakan bendera start bagi sebuah gelombang revolusioner yang mampu memaksa salah satu Kekaisaran tertua dan paling kolot di Eropa untuk turun tahta.&lt;br /&gt;Kaum perempuan seringkali dipandang sebagai elemen terbelakang dalam gerakan revolusioner. Kaum revolusioner seringkali memandang kaum perempuan dalam hidup mereka sebagai penghalang bagi aktivitas revolusioner mereka. Kaum liberal memandang tidak seharusnya perempuan terlibat dalam aktivitas revolusioner dan mengarahkan perempuan pada aktivitas politik berbasis "gender" yang anti perjuangan kelas. Kaum konservatif yang paling parah, memandang gerakan perempuan dengan jijik, tapi sekaligus berusaha mengorganisir perempuan agar tetap terpenjara oleh semboyan "kasur, dapur dan sumur".&lt;br /&gt;Menarik pelajaran dari sebuah masa revolusioner adalah tugas yang nyaris mustahil dilakukan dengan sempurna. Tapi, setidaknya ada beberapa point yang harus dikemukakan karena point-point ini muncul dengan begitu jelas di tengah gejolak revolusioner di Rusia, yang diawali oleh demonstrasi memperingati Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1917.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menuju Revolusi Februari 1917&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Latar belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau menunjuk, peristiwa mana yang menjadi titik-tolak dari Revolusi Februari 1917, kita akan mengalami kesulitan memilih. Proses yang terjadi menjelang Februari 1917 adalah satu proses yang membingungkan. Ada setidaknya tiga faktor pembingung yang beredar di tengah gerakan buruh Rusia masa itu:&lt;br /&gt;1. Di satu pihak, Perang Dunia I yang pecah di tahun 1914 telah membuat banyak buruh dikirim ke medan pertempuran, baik sebagai anggota pasukan garis depan ataupun sebagai tentara cadangan. Dapat diperkirakan bahwa jika pengusaha ditanya oleh kekaisaran: "buruh mana yang kiranya akan dilepas untuk dijadikan tentara wajib militer?", tentunya buruh-buruh maju yang "rewel" yang akan pertama kali dilepas oleh pengusaha untuk dibiarkan maju berperang. Sekitar 17% dari kader buruh maju Rusia terpaksa pergi ke garis depan karena wajib militer ini.&lt;br /&gt;2. Di pihak lain, terjadi kekacauan di tengah gerakan sosialis di seluruh dunia akibat pertikaian yang dipicu sikap Partai Sosial Demokrat Jerman, yang memilih untuk mendukung pemerintahnya berperang. Dengan kata lain, gerakan buruh Jerman kemudian memobilisasi diri untuk bertempur dengan buruh-buruh dari negeri lain, yang pada saat bersamaan dimobilisasi juga oleh pemerintah masing-masing. Partai Sosial Demokrat Jerman, yang dipimpin Kautsky, pada saat itu adalah suar bagi partai-partai buruh dan revolusioner di seluruh dunia. Dapat dibayangkan kekacauan yang timbul gara-gara sikap ini-sikap yang oleh Lenin disebut sebagai "sosial-chauvinisme".&lt;br /&gt;3. Keadaan darurat perang juga membuat aktivitas polisi dan militer meningkat tajam. Ini jelas merupakan satu penghalang yang besar bagi kekuatan-kekuatan revolusioner Rusia yang, di masa itu, bergerak di bawah tanah. Keadaan darurat perang ini membuat banyak jalur dana, terbitan dan komunikasi antar kader terputus dan, kalaupun ada, menjadi beresiko sangat tinggi. Hampir semua kader revolusioner yang bekerja "di atas tanah" ditangkapi, disiksa dan/atau dipenjarakan. Terhitung Januari 1915, hampir semua jaringan legal gerakan buruh revolusioner Rusia telah berhasil dihancurkan oleh polisi dan tentara Rusia.&lt;br /&gt;Akibat kekacauan ini, terjadi penguatan yang besar pada kekuatan kiri-tengah, yang pada saat itu diwakili oleh Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (RSDRP-Rossijskoj Social-Demokratičeskoj Rabočej Partii) dari sayap Mensheviki. Sementara RSDRP dari sayap revolusioner, Bolsheviki, mengalami kemunduran yang tajam.&lt;br /&gt;Gerakan buruh, secara umum, juga mengalami pukulan hebat. Para buruh yang sudah lama terlatih dalam teori dan praktek progresif, harus merunduk-runduk di bawah penerapan "disiplin militer" dalam pabrik. Akibat banyaknya buruh laki-laki yang dikirim ke medan tempur, para pengusaha mengisi kebutuhan tenaga kerja mereka dengan buruh-buruh perempuan-yang, selain dianggap lebih patuh, juga dapat diupah lebih murah. Meningkatnya jumlah buruh perempuan dan buruh-buruh muda yang tidak pernah terlatih dalam perjuangan buruh menyebabkan padamnya suasana pergerakan di pabrik-pabrik.&lt;br /&gt;Para buruh Rusia, di awal Perang Dunia I, bersedia bekerja lembur demi memacu produksi untuk memenangkan perang. Mereka juga lebih suka mengumpulkan dana untuk membantu keluarga buruh yang kepala keluarga atau anggota keluarganya harus pergi berperang-bukannya untuk dana mogok. Pendeknya, propaganda revolusioner tentang sikap yang harus diambil gerakan buruh terhadap perang ditabur di tanah yang kering dan gersang.&lt;br /&gt;Suasana gerakan buruh benar-benar amat lembam (macet, tidak mau bergerak). Massa yang apatis karena tidak memiliki teori dan pengalaman revolusioner memadai, ketakutan akibat represi dan suasana perang, kurangnya kader akibat keharusan menyembunyikan diri dan banyaknya penangkapan. Tidak ada kepemimpinan sentral dalam gerakan. Semua ini menyebabkan setiap orang yang "berakal sehat" akan mengatakan: suasana revolusioner di Rusia padam sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebangkitan kembali suasana revolusioner&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang, orang "berakal sehat" akan mengatakan demikian. Tapi, karena itulah kita menolak penggunaan akal sehat. Kita memakai dialektika sebagai cara berpikir, bukan akal sehat. Dengan dialektika, kita tahu bahwa setiap hal selalu mengandung benih dari hal lain yang menjadi lawannya. Mudahnya: setiap kemunduran selalu mengandung potensi untuk terjadinya kemajuan, tiap kelemahan dapat dibalik menjadi kekuatan, tiap kekuatan dapat menjadi titik lemah yang mematikan, tiap kelahiran akan membawa kematian dan tiap kematian adalah bahan bakar bagi kelahiran baru.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, banyak orang menjadi tidak tahan dan berputus asa ketika mengalami kemunduran dan kekalahan serius. Banyak orang tidak sadar bahwa proses dialektika bekerja secara laten dalam tiap kekalahan, dalam tiap kemunduran, dalam tiap kejatuhan. Kesabaran, keuletan dan ketelatenan dalam mengolah kekalahan dan kemunduran adalah kunci bagi kemenangan dan kemajuan. Seperti burung Phoenix dari legenda kuno Timur Tengah, sejenis burung yang hanya bertelur sekali dalam 500 tahun, dan telur itu hanya bisa menetas jika si burung membakar dirinya sendiri-dari kematian, muncul kelahiran baru.&lt;br /&gt;Banyak orang di sekitar kita yang tadinya terlibat dalam gerakan buruh, atau gerakan rakyat secara umum, menjadi tawar hatinya melihat kemunduran demi kemunduran yang terjadi di tengah gerakan ini. Pada titik ekstrimnya, orang-orang ini kemudian tidak lagi percaya bahwa gerakan buruh atau gerakan rakyat lainnya akan mampu mencapai kemenangan. Orang-orang yang putus asa ini kemudian berpaling pada cara-cara instan untuk "membantu rakyat". Ada yang berpaling pada terorisme, ada yang berpaling pada "penguatan ekonomi"-ada pula yang terang-terangan menyeberang ke kubu musuh, dengan alasan "bermain dari dalam sistem".&lt;br /&gt;Mereka ini tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahwa keuletan dan ketepatan kerja di masa-masa sulit akan menjadi kunci kemenangan ketika situasi berubah. Ini karena jika kita terus bertahan di masa sulit, kita akan menjadi yang paling siap ketika angin berganti arah. Secara mental dan disiplin tubuh kita paling siap. Tapi juga karena massa akan menilai siapa yang paling setia pada mereka di saat-saat tersulit.&lt;br /&gt;Para kader partai proletariat revolusioner di Rusia, mereka yang tersisa, yang jumlahnya tidak banyak, memiliki kesabaran yang dituntut dari mereka dalam masa-masa sulit seperti itu. Tanpa terburu-buru, tapi juga sekaligus tanpa mengendurkan tuntutan politiknya, mereka berhasil mengorganisir pemogokan yang diikuti 2000 orang di St. Petersburg pada tanggal 9 Januari 1915. Mayday gagal diperingati karena aksi kepolisian dilancarkan secara membabi-buta pasca pemogokan Januari 1915 itu. Hanya 600 orang yang ikut serta dalam aksi Mayday di seluruh Rusia. Tapi, kerja-kerja propaganda, agitasi dan pengorganisiran terus dilakukan tanpa henti. Ketiadaan kepemimpinan sentral dijawab oleh para organiser dengan inisiatif dari bawah. Berbekal kemampuan menggunakan dialektika, para organiser dan "kolektif pimpinan dari bawah" ini menangkap situasi, memanfaatkan kabar yang datang dari luar sebisa mungkin sebagai bekal pengorganisiran mereka. Tidak ada yang nampak mendengarkan, oke sajalah. Tapi, seperti kebijaksanaan para petani tempo doeloe, apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai.&lt;br /&gt;Demikianlah, di tengah kelembaman massa rakyat pekerja, ketidakpuasan perlahan-lahan muncul kembali ke permukaan. Kekalahan demi kekalahan yang dialami oleh tentara Rusia di medan perang, korban yang begitu besar akibat tidak kompetennya para perwira, harga-harga yang pelan tapi pasti merambat naik, makin langkanya barang-barang kebutuhan pokok karena semua produksi dikirim ke garis depan ... semua ini tidak luput dari perhatian rakyat pekerja Rusia. Ketidakpuasan ini bukanlah hasil dari agitasi kader-kader revolusioner. Situasi ekonomi-sosial-politiklah yang menciptakannya. Tapi, rakyat pekerja Rusia mendapatkan ekspresi-jalan untuk menyatakan ketidakpuasan mereka-melalui apa yang diagitasi-propagandakan oleh para kader revolusioner, buruh-buruh maju dan mereka yang pernah berpengalaman terlibat dalam revolusi 1905.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, para kader yang bertahan dalam kondisi sulit di tahun-tahun awal Perang Dunia I berhasil menjadi corong (alias "megafon") bagi ketidakpuasan massa rakyat pekerja.&lt;br /&gt;Demikianlah, setelah begitu lama tidak terjadi pemogokan atau aksi besar di seluruh Rusia-mendadak-terjadilah aksi besar-besaran menentang keputusan Tsar yang membekukan Duma (parlemen kekaisaran Rusia). Kekalahan demi kekalahan yang diderita pasukan-pasukan Rusia bukanlah satu hal yang bisa diabaikan begitu saja. Para politisi yang ada dalam Duma melihat bahwa keresahan yang muncul di tengah rakyat jelata akibat kekalahan-kekalahan ini bisa dipicu menjadi sebuah pemberontakan yang lebih luas. Oleh karena itu, kaum parlementaris ini lantas mengajukan sebuah petisi pada Tsar untuk menghentikan perang, setidaknya mengurangi peran Rusia dalam perang. Tapi, Tsar yang bodoh itu menjawab petisi ini dengan membekukan Duma. Pecahlah demonstrasi dan pemogokan di seluruh Rusia pada tanggal 4 September 1915, diikuti oleh puluhan sampai ratusan ribu orang di St. Petersburg, Nizhni Novgorod, Moskow, Kharkov danYekaterinoslav. Di St. Petersburg sendiri aksi diikuti oleh 150.000 orang.&lt;br /&gt;Betapa jauh bedanya dengan yang kita lihat terjadi pada tanggal 1 Mei 1915, di mana Mayday hanya diperingati 600 orang di seluruh Rusia!&lt;br /&gt;Perubahan yang terjadi hanya dalam hitungan bulan!&lt;br /&gt;Mereka yang berpikir dengan "akal sehat" tidak akan dapat mengerti hal ini. Mereka akan menuduhkan terjadinya konspirasi, hasutan, tipuan .... Yang benar saja! Mana mungkin berkonspirasi dengan 150 ribu orang? Atau menghasut, atau menipu, sekian banyak orang untuk bergerak hanya dalam satu hari setelah Duma dibekukan?&lt;br /&gt;Dan, yang paling menarik adalah kenyataan bahwa buruh-buruh perempuan dan buruh-buruh mudalah yang paling banyak bergerak-lapisan yang tadinya dipandang sebagai lapisan berkesadaran paling terbelakang. Bagaimana mungkin mereka yang "paling belakang" bisa tiba-tiba melompat ke depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kaum perempuan Rusia melompati rintangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dialektika bekerja tanpa kasat mata. Ia adalah proses yang terus berlangsung (ongoing) dan tanpa henti (unceasingly). Ia adalah proses molekular (mengutip Trotsky), yang terjadi pada atom-atom dalam susunan masyarakat. Ia adalah tumbuhnya tanaman. Ia adalah geraknya bumi-kita tidak menyadarinya sampai gempa menghantam kita. Tumburan, kontradiksi, gesekan, terjadi dari hari ke hari. Tidak selalu dapat kita amati. Tidak selalu dapat kita analisa karena kerumitan dan kompleksitasnya. Tapi proses itu terus berlangsung tanpa sepengetahuan kita, dan kita pun terkejut ketika mendadak kita tiba di penghujung proses tanpa menyadari jalannya proses tersebut.&lt;br /&gt;Oleh karena itulah setiap orang yang bekerja dengan gerakan rakyat harus selalu mawas diri dan waspada terhadap segala bentuk perubahan yang terjadi di tengah masyarakatnya. Perubahan-perubahan kecil, yang nyaris tidak terdeteksi, barangkali akan sangat vital dan menentukan di masa depan.&lt;br /&gt;Perempuan adalah korban utama yang diserahkan oleh Rusia demi Perang Dunia Pertama. Memang, korban tewas dalam pertempuran mungkin 99% terdiri dari laki-laki. Namun, mereka adalah ayah dan suami dari banyak keluarga rakyat pekerja. Kekaisaran Rusia tidak mau tahu dengan nasib keluarga yang ditinggalkan suami atau anak atau saudara-saudara yang tewas di medan laga. Untuk mengisi perut mereka dan anak-anak mereka, mereka dipaksa menjadi pencari nafkah bagi keluarga. Di samping itu, kekurangan tenaga kerja (seperti sudah disebutkan di muka) membuat Kekaisaran Rusia menerapkan wajib-kerja (work draft) pada kaum perempuan Rusia. Maka, kini kaum perempuan Rusia mengalami penindasan berganda, di rumah oleh sistem patriarki dan di pabrik oleh sistem kerja-upahan. Mereka harus bekerja lima belas sampai delapan belas jam di pabrik, lalu masih harus melaksanakan "kewajiban" kerja-kerja domestik di rumah-hanya untuk mendapati bahwa harga-harga barang kebutuhan pokok melejit tinggi akibat perang dan semakin jauhnya kesenjangan antara si kaya dan si miskin.&lt;br /&gt;Semua ini terjadi di depan mata mereka. Dari hari ke hari mereka melihat hal ini berlangsung. Kemuakan bertumbuh di hati dan pikiran kaum perempuan Rusia. Bersamaan dengan kemuakan, tumbuh pertanyaan di hati mereka. Bersama dengan pertanyaan, muncul pula ketidakpercayaan pada sistem kemasyarakatan yang selama ini mereka anggap benar adanya.&lt;br /&gt;Dan mereka menemukan jawaban pertanyaan mereka dari apa yang dilakukan, dipropagandakan dan diperjuangkan oleh kaum revolusioner. Mereka menemukan bahwa sosialismelah jawaban bagi pertanyaan mereka.&lt;br /&gt;Tentu saja mereka tidak begitu saja percaya. Mereka akan terus mempertanyakan. Sebagian dari kaum perempuan ini, yang kepercayaannya tumbuh dengan cepat, lantas bergabung dengan kaum revolusioner. Tapi, mereka yang tidak yakin juga pada satu saat tiba pada kesimpulan bahwa mereka harus bergerak mengambil kesimpulan sendiri. Mereka harus memastikan bahwa mereka bisa mengambil kesimpulan sendiri.&lt;br /&gt;Pada titik inilah kesadaran mereka melompat. Dari keadaan skeptis, terbelakang dan pasif, mereka melompat ke dalam kesadaran maju yang revolusioner.&lt;br /&gt;Inilah yang sering tidak dipahami oleh mereka yang menepuk dada bahwa dirinya revolusioner. Mereka yang merasa kesadarannya paling maju dan paling menginginkan perubahan, sehingga gagal melihat bahwa masyarakat juga terus berubah dan menginginkan perubahan itu. Banyak orang yang mengaku revolusioner menginginkan agar jumlah orang yang revolusioner menjadi mayoritas dalam masyarakat. Tidak benar. Tidak pernah ada revolusi yang terjadi karena kaum revolusioner adalah mayoritas. Revolusi akan terjadi jika mayoritas rakyat sudah memutuskan bahwa mereka harus menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan dalam hati dan pikiran mereka. Mereka belum tentu sudah menerima bahwa jawaban yang diberikan oleh kaum revolusioner adalah benar. Mereka hanya mengambil keputusan bahwa pertanyaan mereka harus terjawab dan sistem yang sekarang ada tidak bisa memberikan jawabannya. Mereka mau dipimpin oleh kaum revolusioner hanya jika, bagi mereka, hanya kaum revolusioner yang memiliki jawaban. Biarlah sekarang kaum revolusioner yang memimpin, tapi nanti mereka akan menuntut pembuktian jawaban itu dari kaum revolusioner.&lt;br /&gt;Saat-saat kritisnya terletak pada saat di mana pertanyaan mulai muncul secara spontan dalam bentuk-bentuk gerakan tak terorganisir. Jika pada titik ini kaum revolusioner gagal menanggapi, maka pertanyaan itu akan berubah menjadi rasa putus asa.&lt;br /&gt;Kaum revolusioner Rusia tepat membaca pembalikan posisi ini. Pada saat yang tepat, pada peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 1914 (penanggalan kita), diluncurkanlah sebuah terbitan khusus perempuan: Rabotnitsa (Perempuan Buruh). Terbitan ini didanai oleh sumbangan kolektif-kolektif perempuan di tengah gerakan buruh, dikerjakan sendiri oleh para aktivis perempuan buruh. Isinya adalah tentang kondisi buruh perempuan dan perjuangan perempuan-baik di pabrik, di desa, di partai maupun di tengah rumah tangga. Terbitan ini juga memuat perjuangan perempuan di negeri-negeri lain-baik itu buruh maupun bukan. Satu seruan yang terus-menerus dikumandangkan oleh Rabotnitsa adalah agar perempuan kelas pekerja mengorganisir diri sendiri, lalu bergabung dengan perjuangan kaum laki-lakinya-bahkan juga menyerukan agar kaum perempuan berani membangunkan dan memimpin kaum laki-laki yang masih "tertidur".&lt;br /&gt;Jadi, ketepatan pembacaan situasi dan perumusan tindakan oleh kaum revolusioner berkecocokan dengan proses dialektik yang meradikalisir kaum buruh perempuan di Rusia. Ketika kedua hal ini bertemu dan berkecocokan, meledaklah tenaga revolusioner yang dibangunkan oleh situasi objektif di tengah kaum perempuan Rusia. Tanpa tindakan yang tepat dari kaum revolusioner, tenaga yang terbangun secara spontan ini akan selalu tersimpan sebagai potensi. Sama seperti batu batere atau accu, yang memiliki potensi tenaga listrik, baru dapat dimanfaatkan tenaganya ketika terhubung secara tepat dengan rangkaian listrik tertentu. Jika kutub-kutub batere dihubungkan dengan cara keliru, potensi tenaga listrik tidak akan keluar-atau malah menyebabkan korsleting (hubungan pendek), yang bersifat merusak.&lt;br /&gt;Kita melihat kesadaran kaum perempuan Rusia seperti "melompat" karena kita tidak melihat proses dialektika yang terjadi di tengah mereka. Sebenarnya, potensi kesadaran mereka bergerak sejajar dengan kesadaran masyarakat pada umumnya. Hanya saja, karena mereka mulai dari posisi yang terbelakang, kaum revolusioner juga terlambat menyadari perkembangan kesadaran itu. Begitu disadari, begitu kaum revolusioner mengambil tindakan untuk menangkup kesadaran tersebut, kaum perempuan langsung menyambut-dan kita melihat seakan mereka mengalami "lompatan kesadaran".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pelajaran terpenting dari Revolusi Februari 1917 di Rusia ini adalah bahwa kaum revolusioner tidak dapat-dan tidak boleh-mengabaikan sektor-sektor rakyat pekerja yang manapun. Kaum revolusioner tidak boleh memvonis satu sektor sebagai "terbelakang" dan kemudian meninggalkannya sama sekali. Semua sektor rakyat pekerja harus diberi perhatian yang sama-walau mungkin untuk penanganannya memang harus menuruti sebuah skala prioritas yang disesuaikan dengan sumberdaya yang dipunyai organisasi.&lt;br /&gt;Revolusi Februari 1917 di Rusia merupakan pembuktian bahwa sektor perempuan bukan saja berpotensi revolusioner, melainkan berpotensi untuk memimpin sebuah revolusi. Di saat kaum laki-laki meragu, kaum perempuanlah yang tampil ke depan memicu revolusi berlangsung. Kalau ada yang kita bisa teladani, pengorganisiran spesial di sektor perempuan, penggemblengan kader-kader perempuan revolusioner menjadi pemimpin-pemimpin, harus dimulai dari sekarang. Sehingga, ketika peluang untuk perluasan propaganda, rekrutmen dan pendidikan di kalangan perempuan kelas pekerja terbuka lebih lebar, kitalah yang akan menjadi organisasi yang paling siap untuk mengambil peluang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penulis adalah Ketua Divisi Pendidikan Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja. Artikel ini disadur dari website PRP&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-3910460368308667733?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/3910460368308667733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=3910460368308667733' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3910460368308667733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3910460368308667733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/04/ketika-kaum-buruh-perempuan-bergerak.html' title='Ketika Kaum Buruh Perempuan Bergerak'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-7566260028287229152</id><published>2008-04-25T17:48:00.001+07:00</published><updated>2008-04-25T17:55:32.201+07:00</updated><title type='text'>PERNYATAAN SIKAP "May Day"</title><content type='html'>PERNYATAAN SIKAP&lt;br /&gt;PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; 1 Mei: hari perlawanan seluruh rakyat pekerja untuk mencapai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; kesejahteraan! !!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salam rakyat pekerja,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam hitungan hari, gerakan reformasi yang ditandai dengan&lt;br /&gt;jatuhnya rezim Orde Baru Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998 sudah akan&lt;br /&gt;berusia 10 tahun. Reformasi, pernah memunculkan harapan-harapan baru&lt;br /&gt;akan kesejahteraan bagi rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_0"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Namun kesejahteraan yang telah&lt;br /&gt;diimpikan oleh rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_1"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; semenjak reformasi, sampai saat ini&lt;br /&gt;tidak kunjung datang. Kehidupan rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_2"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; semakin terpuruk dengan&lt;br /&gt;naiknya harga-harga kebutuhan pokok, pengangguran yang semakin tinggi,&lt;br /&gt;upah murah, mahalnya biaya pendidikan, mahalnya biaya pelayanan&lt;br /&gt;kesehatan dan permasalahan lainnya yang semakin mencekik rakyat&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_3"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Keterpurukan atas kehidupan rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_4"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; tentu saja tidak bisa&lt;br /&gt;dilepaskan dari berbagai kebijakan yang dimunculkan para penguasa, baik&lt;br /&gt;di pemerintahan maupun parlemen. Penguasa yang dipilih oleh rakyat&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_5"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; melalui Pemilu, justru tidak pernah melindungi rakyat yang&lt;br /&gt;telah memandatkan nasibnya sejak masa kampanye. Nyaris seluruh kebijakan&lt;br /&gt;dalam 10 tahun ini, hanya mencerminkan nafsu kepentingan para pemilik&lt;br /&gt;modal asing maupun domestik. Karena jelas, sebagian besar pemimpin di&lt;br /&gt;Indonesia berasal dari kalangan pemilik modal. Lihat saja, siapa yang&lt;br /&gt;gembira dengan program privatisasi di perusahaan-perusaha an negara&lt;br /&gt;(BUMN) dan dunia pendidikan, peraturan mengenai ketenagakerjaan yang&lt;br /&gt;menghasilkan sistem kerja kontrak dan outsourcing serta upah murah dan&lt;br /&gt;lain sebagainya.&lt;br /&gt;Kekuasaan negara selama 10 tahun ini, telah berhasil mengantarkan rakyat&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_6"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; ke dalam alam penjajahan gaya baru -- Neokolonialisme.&lt;br /&gt;Sementara segala janji-janji yang  dikampanyekan pada saat Pemilu tidak&lt;br /&gt;pernah terbukti dan hanyalah omong kosong. Maka sudah saatnya rakyat&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_7"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; tidak mempercayai kembali orang-orang dan partai politik yang&lt;br /&gt;saat ini berkuasa dan mendapatkan kursi di parlemen. Karena dari seluruh&lt;br /&gt;partai politik yang memiliki kursi di parlemen, ternyata tak satu pun&lt;br /&gt;yang berhasil membuktikan mampu membela kondisi peri kehidupan rakyat&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_8"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;..Sudah saatnya rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_9"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; mengambilalih kekuasaan yang&lt;br /&gt;selama ini rakyat percayakan dan TIDAK menggantungkan lagi harapan dan&lt;br /&gt;nasib kita selama 5-6 tahun ke depan pada orang-orang dan partai politik&lt;br /&gt;seperti ini..&lt;br /&gt;Terkait dengan mandat reformasi 10 tahun lalu yang berlandaskan pada&lt;br /&gt;semangat perubahan untuk kedaulatan dan kebebasan, maka Rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_10"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sudah harus mencari alternatif solusi dari segala permasalahan akibat&lt;br /&gt;krisis dan kegagalan pembangunan kapitalisme selama ini dan mencari&lt;br /&gt;jalan keluarnya untuk menyelesaikan permasalahan- permasalahan rakyat.&lt;br /&gt;Gagasan politik Keadilan Sosial atau Sosialisme merupakan sebuah&lt;br /&gt;alternatif yang harus diperjuangkan oleh rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_11"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;. Dalam gagasan&lt;br /&gt;sosialisme, rakyat pekerja dilindungi dari ganasnya eksploitasi sistem&lt;br /&gt;kerja kontrak dan outsorcing di dunia ketenagakerjaan. Dengan&lt;br /&gt;sosialisme, maka pendidikan harus gratis, ilmiah dan demokratis. Dengan&lt;br /&gt;sosialisme maka keserakahan pasar bebas tidak lagi berkuasa mutlak&lt;br /&gt;menentukan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok rakyat. Dengan&lt;br /&gt;sosialisme, tidak boleh ada lagi upah buruh/pekerja yang murah. Gagasan&lt;br /&gt;politik sosialisme adalah amanat penderitaan rakyat.&lt;br /&gt;Untuk memperjuangkan sosialisme dibutuhkan perjuangan dan kesadaran,&lt;br /&gt;maka tentunya dibutuhkan sebuah persatuan gerakan rakyat yang besar.&lt;br /&gt;Dengan kesadaran dari seluruh rakyat &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_12"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; untuk memperjuangkan&lt;br /&gt;nasibnya demi mencapai kesejahteraan, maka hal tersebut bukanlah sesuatu&lt;br /&gt;yang tidak mungkin. Sebagai awalan, 1 Mei yang merupakan hari buruh&lt;br /&gt;internasional dapat menjadi suatu ajang konsolidasi dan memperlihatkan&lt;br /&gt;kekuatan rakyat yang besar dan terorganisir kepada para penguasa yang&lt;br /&gt;hanya mementingkan kepentingan para pemilik modal.&lt;br /&gt;Maka dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) menyatakan&lt;br /&gt;sikap:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Kepada seluruh rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; font-weight: bold;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_13"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; untuk      menyatukan dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;merapatkan dirinya ke dalam barisan massa aksi 1 MEI      (MAYDAY) yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dipimpin kawan-kawan buruh yang sudah bertekad akan mengepung    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;istana..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    2. Kepada seluruh rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; font-weight: bold;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_14"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; untuk      menjadikan momentum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;yang terjadi di bulan Mei (mulai tanggal 1 Mei sampai      tanggal 21&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mei) sebagai agenda persatuan perjuangan rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; font-weight: bold;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_15"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;. Mari    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kawan, kita tegaskan gerakan Reformasi untuk perubahan yang sejati belum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;selesai!.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    3. Kepada seluruh rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; font-weight: bold;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_16"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; untuk      tidak mempercayai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;penguasa dan pemimpin saat ini yang berkuasa, baik di      pemerintahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dan parlemen. Jangan gunakan hak suara dalam PEMILU 2009,      bila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hanya untuk memperkuat kekuasaan negara yang justru lebih memilih    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;menjual diri pada modal asing dan tak pernah memenuhi kewajibannya untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;menjamin perlindungan sosial dan mensejahterakan rakyat &lt;/span&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; font-weight: bold;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_17"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    4. Alternatif dari seluruh permasalahan      rakyat dan bangsa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer; font-weight: bold;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_18"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; saat ini adalah dengan mengusung keadilan      sosial atau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SOSIALISME, dimana rakyat dapat mencapai kesejahteraan dan    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kemerdekaan yang sejati dan tidak ditindas oleh kepentingan modal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1209120127_19"&gt;Jakarta&lt;/span&gt;, 24 April 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja&lt;br /&gt;Sekretaris Jenderal&lt;br /&gt;Irwansyah (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;indoprogress&lt;/span&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-7566260028287229152?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/7566260028287229152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=7566260028287229152' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7566260028287229152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7566260028287229152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/04/pernyataan-sikap-may-day.html' title='PERNYATAAN SIKAP &quot;May Day&quot;'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1599269815856686895</id><published>2008-04-01T14:19:00.000+07:00</published><updated>2008-04-01T14:20:00.303+07:00</updated><title type='text'>Gerakan Progresif dan Momen Pemilu: ajakan diskusi</title><content type='html'>dear all,&lt;br /&gt;Satu tahun lagi, pemilihan umum (Pemilu) legislatif akan digelar. Kekuatan-kekuatan politik pro-neoliberal - mulai dari ormas hingga parpol - sibuk berbenah. Eksperimn-eksperime n politiknya menghiasi lembaran media massa nasional, dan juga layar kaca televisi. Mulai dari uji coba koalisi, pamer kepedulian, kampanye berbalut isu kemanusiaan, hingga saling gertak sambal. Para aktivis mereka, juga tak kalah sibuk. Mereka berusaha keras meraih simpati publik, dan juga pesan kepada para oligarkhnya, bahwa mereka tidak main-main memenangkan kursi bagi partainya. Bersama partainya, mereka ingin mejadi nomor satu. Karena itu, mereka ingin rakyat tahu bahwa mereka siap bertarung. Mereka juga ingin rakyat tahu, bahwa mereka pantas untuk dipilih, pantas untuk diijadikan kendaraan bagi amanah kepentingan rakyat.Kita tentu, bisa mencibir apa yang dilakukan oleh mereka, bahwa yang mereka lakukan itu dusta belaka, bohong besar, manis di bibir pahit di kaki. Ujung-ujungnya rakyat kembali dikhianati, ujung-ujungnya adalah kepentingan perut masing-masing. Setelah menang, rakyat ditendang, pada masa pemilu suara rakyat adalah suara tuhan, pasca pemilu suara rakyat adalah suara setan.Lantas, apa yang diperbuat oleh gerakan progesif dalam momen pemilu? Pengalaman sebelumnya menunjukkan, yang dilakukan oleh gerakan progresif adalah melakukan "pendidikan politik." Saya tidak akan berbicara soal apa isi materi dalam program pendidikan politik itu. Saya mengambil jalan pintas saja, bahwa mereka harus benar-benar yakin bahwa partai yang dipilihnya betul-betul sudah terbukti mewakili kepentingannya.Lantas, jika rakyat sadar bahwa ternyata tidak ada satupun partai yang mewakili kepentingannya (dan dengan konfigurasi parpol saat ini, kenyataannya semuanya pro-neoliberal) , apa yang harus dilakukan oleh gerakan progresif? Menganjurkan rakyat untuk golput? Memilih sesuai hati nurani? Bikin parpol sendiri? Ikut parpol yang ada dan pengaruhi dari dalam? Bikin bargaining position dengan parpol yang menang pemilu? Pilih pemipim yang baik dari yang terburuk? Kalau dalam pemilu presiden atau bupati, walikota dan gubernur, ajukan calon independen?Sebelum menjawab soal ini, gerakan progresif harus memiliki sikap yang jernih dalam memandang momen pemilu. Ini sangat penting, karena tidak ada peristiwa politik yang paling bisa memicu keterlibatan rakyat yang luas di dalamnya, selain momentum pemilu. Bahkan, di negara dengan rakyat yang paling apatis dan paling sinis pada politik, seperti AS, momen pemilu selalu merupakan momen dimana rakyat memiliki antusias yang tinggi terhadap politik. Lebih dari itu, tidak pernah ada dalam sejarah dimana revolusi muncul dalam sistem politik yang terbuka. Dalam sistem politik terbuka, yang paling banyak terjadi adalah kudeta yang dilakukan oleh militer. Mungkin itu sebabnya, ketika dalam satu kesempatan Fidel Castro, mengatakan, "saat ini jaman telah berubah. Kita tidak bisa lagi mencontoh Bolshevisme, juga tidak Castroisme."Pemilu memang selalu mendatangkan dilema. Lebih-lebih jika pemilu itu dikuasai oleh kekuatan oligarki pro-neoliberal, seperti Indonesia saat ini. Di satu pihak ini merupakan momen politik yang dituntut oleh kekuatan progresif ketika berjuang melawan kediktatoran, di sisi lain jika saat ini menceburkan diri ke dalam momen ini, berarti harus bersedia ikut aturan main demokrasi neoliberal. Dan itu berbahaya. Ibarat pepatah, keluar dari mulut harimau tapi, masuk kemulut buaya. Tetapi, jika tidak ikut di dalamnya, lantas apa makna dari tuntutan yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata itu? Apakah itu sekadar taktik untuk meruntuhkan kediktatoran belaka? Jika tidak ikut bertarung saat ini, alternatif apa yang kita sodorkan pada rakyat untuk mengelola mekanisme kekuasaan?Dalam pemilu untuk memilih presiden, bupati, walikotan dan gubernur, sebagian gerakan progresif mengajukan solusi calon independen. Okelah solusi ini benar pada satu langkah yakni, ketika berhadapan dengan calon yang diusung oleh oligarki. Mari berasumsi, bahwa calon independen kita unggul dalam pemilu tapi, pertarungan belum selesai. Calon independen ini berhadapan dengan birokrasi rejim yang kolot, juga parpol yang menduduki parlemen, dan jangan lupa, militer. Bisa dipastikan, langkah sang pemimpin independen ini sangatlah berat. Belum lagi, bagaimana membangun mekanisme kontrol dari gerakan progresif terhadap pemimpin independen ini. Tetapi, untuk pemilu legislatif, kecuali golput yang efektif pada masa kediktatoran, belum tampak sikap yang jelas. Gerakan progresif masih adem-ayem. Pertanda dilema itu masih mencengkeram, seperti dongeng Pedang Damocles? Atau sudah terjadi diskusi dan kemudian melahirkan perpecahan internal? (IndoProgress)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1599269815856686895?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1599269815856686895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1599269815856686895' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1599269815856686895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1599269815856686895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/04/gerakan-progresif-dan-momen-pemilu.html' title='Gerakan Progresif dan Momen Pemilu: ajakan diskusi'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-3767115707218227367</id><published>2008-04-01T14:00:00.002+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:42.085+07:00</updated><title type='text'>BukuBaru</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R_Hf121sp-I/AAAAAAAAAM8/4WOdEZlG-UU/s1600-h/Buku-JPR-DPM.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184170762426951650" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R_Hf121sp-I/AAAAAAAAAM8/4WOdEZlG-UU/s400/Buku-JPR-DPM.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Buku ini terpilih sebagai salah satu dari tiga buku terbaik di bidang ilmu-ilmu sosial dalam International Convention of Asian Scholars, Kuala Lumpur, 2007&lt;/div&gt;&lt;div&gt;John RoosaDalih Pembunuhan Massal: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam wacana utama sejarah Orde Baru "pengkhianatan G30S/PKI" menjadi mantera pembenar bagi penumpasan berbagai bentuk gerakan yang bersifat kerakyatan. Sedemikian kuat dan mendalam pengaruh mantera ini sehingga untuk waktu yang cukup lama orang tidak lagi bertanya tentang apa itu Gerakan 30 September dan keabsahan pengaitan gerakan tersebut dengan PKI. Mengikuti logika penyelidikan seorang detektif, John Roosa berusaha meneliti "apa yang sebenarnya telah terjadi" dalam Gerakan 30 September -- suatu peristiwa pemberontakan dari sejumlah perwira yang berujung pada kudeta. Selama puluhan tahun, studi-studi tentang peristiwa politik berdarah ini belum melahirkan analisis yang solid dan uraian yang menyeluruh tentang fakta-fakta terselubung di sekitar peristiwa tersebut. Berbagai pendapat tentang dalang G-30-S, apakah itu Suharto, Angkatan Darat, pemerintah Amerika Serikat dan CIA, PKI atau bahkan Sukarno, semuanya diuji kembali dalam buku ini untuk memahami lebih baik proses transisi kekuasaan yang paling berdarah dalam sejarah Indonesia. Roosa juga mengurai dan menganalisa, mengapa suatu peristiwa pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat bisa berkembang menjadi gelombang kekejaman yang meluas dan sulit dicari padanannya dalam sejarah modern Indonesia.(sumber IndoProgress)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-3767115707218227367?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/3767115707218227367/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=3767115707218227367' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3767115707218227367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3767115707218227367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/04/bukubaru.html' title='BukuBaru'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R_Hf121sp-I/AAAAAAAAAM8/4WOdEZlG-UU/s72-c/Buku-JPR-DPM.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-3511330355887912930</id><published>2008-03-26T18:25:00.003+07:00</published><updated>2008-03-28T11:45:19.541+07:00</updated><title type='text'>Opini</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Tulisan Ini hari Senin, 24 Maret 2008 sempat nampang di Koran SURYA. terima kasih pada redaksi SURYA. S&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;emoga Bermanfaat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Refleksi &lt;em&gt;World Water Day,&lt;/em&gt; 22 Maret 2008:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Mewaspadai Teror Krisis Air &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;*Oleh: Ratih Indri Hapsari&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Indonesia secara luas, banyak yang belum mengetahui bahwa tanggal 22 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai World Water Day atau Hari Air Dunia. Sejarah adanya Hari air dimulai dari kesepakatan pada Sidang Umum ke-47 PBB pada tanggal 22 Desember 1992 di Rio De Janeiro, Brasil.&lt;br /&gt;Pada perkembangannya, setiap tahunnya pada tanggal 22 Maret, dunia memperingatinya sebagai Hari Air. Namun sangat disayangkan karena Hari Air belum tersosialisasi secara massif pada masyarakat luas, terutama di kalangan kaum miskin. Padahal keberadaan sebuah momentum sangat berguna secara budaya maupun politis dalam artian sebagai hari dimana terjadi refleksi, kampanye maupun tuntutan-tuntutan mengenai isu seputar air dan lingkungan. Air bersih kini keberadaanya kian langka karena telah dikomersilkan oleh perusahaan korporasi bisnis demi keuntungan segelintir orang, hingga yang tersisa adalah air-air kotor akibat pencemaran limbah pabrik yang merusak ekosistem maupun sanitasi yang salah urus hingga sangat mengancam kehidupan umat manusia.&lt;br /&gt;Hari Air sedunia justru dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan besar air minum, seperti Coca-cola, Danone. Perusahaan-perusahaan besar tersebut pada umumnya mengambil momentum Hari Air Sedunia sebagai ajang kampanye ‘kemanusiaan’. Pada Hari Air mereka beramai-ramai menjadi sponsor Universitas Terkemuka untuk melakukan penelitian mengenai kadar pencemaran air sungai. Selanjutnya, mengadakan kampanye, supaya masyarakat mengkonsumsi air bersih, air yang layak minum. Pada Akhirnya dapat disimpulkan, Hari Air versi perusahaan air minum bukanlah murni semangat kemanusiaan namun juga membawa kepentingan-kepentingan pasar.&lt;br /&gt;Logika pemodal adalah meraih keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menggunakan berbagai macam cara agitasi dan propagada, bahkan jika perlu dibungkus topeng hingga nampak suci dan humanis. Padahal, privatisasi air dan komersialisasi air bersih yang dilakukan oleh investor perusahaan air minum yang didukung penuh oleh pemerintah mengakibatkan masyarakat miskin semakin sulit untuk mendapatkan akses air bersih .&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin, persoalan air akan selesai hanya dengan penelitian yang capaiannya adalah mengidentifikasi yang jauh dari solusi konkret. Pada kenyataannya persoalan air bersih tidak akan tuntas hanya dengan melakukan kampanye supaya masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, masyarakat tidak diperkenankan membangun rumah-rumah kumuh di sepanjang tepian sungai, sedangkan di sisi lain ribuan pabrik dengan bebas setiap tahunnya masih membuang berton-ton zat beracun ke-sungai. Jelas bukanlah solusi, ketika menuntut masyarakat dengan propaganda berwajah humanis: “Untuk hidup sehat hendaknya konsumsilah air yang bersih dan sehat seperti air produksi perusahaan kami.” Mengapa air yang merupakan hasil alami keseimbangan siklus alam dan keberadaannya menjadi bagian dari alam kini hanya menjadi milik orang-orang berduit dan kemudian mereka memonopoli, menjadi makelar air tanpa malu dan menjualnya dengan mahkota harga pada masyarakat yang bagaimanapun juga adalah kelompok yang paling berhak atas air bersih tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Krisis Air yang Mendunia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kondisinya kini memang semakin gawat, dunia menghadapi musibah Krisis Air. Yang dimaksudkan dengan krisis air adalah situasi bukan hanya ketika volume air menipis, namun juga menyangkut pencemaran air, komersialisasi air, akses terhadap air yang sulit maupun regulasi dan sanitasi yang rusak. Seluruh persoalan mengenai air dapat diartikan krisis air, yaitu keberadaan air yang secara berhadap-hadapan merusak alam yang disebabkan oleh human error (intervensi manusia).&lt;br /&gt;Di Indonesia krisis air menjadi persoalan besar yang tidak kunjung terselesaikan. Jutaan penduduk telah menjadi korban tapi hingga saat ini pemerintah belum proaktif, namun sebaliknya justru kini pemerintah dan DPR beberapa waktu lalu mengeluarkan kebijakan baru berupa UU Penanaman Modal (UU PM) yang meliberalkan regulasi penanaman modal, yang substansinya justru akan berdampak buruk bagi kepentingan masyarakat luas maupun lingkungan.&lt;br /&gt;Misalnya UU PM, dalam salah satu pasalnya, memperbolehkan suatu perusahaan menutup dan merelokasi industri dan modal (capital flight). Pada pasal tersebut tidak dijelaskan mengenai ganti rugi perusahaan terhadap kerusakan lingkungan yang diakibatkan ketika perusahaan masih beroperasi. Secara vulgar dan sepihak jelas bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah telah condong pada kepentingan pemodal dan mengabaikan kondisi kesehatan, sosiologis, maupun ekologis masyarakat luas. Contoh kasus, terjadi pada pencemaran sungai karena luberan lumpur Porong, Sidoarjo. Pemerintah tidak berani mengambil langkah tegas mengadvokasi masyarakat Porong menuntut keadilan dan ganti rugi moril materiil pada perusahaan PT Lapindo Brantas.&lt;br /&gt;Krisis air telah mengakibatkan krisis harapan untuk hidup. Krisis air telah menyumbang angka kematian sebesar 34,6% terhadap anak-anak khususnya pada negara dunia ketiga. Setiap tahunnya 5.000.000 anak meninggal karena terkena penyakit diare. Bekurangnya persediaan air bersih selain dikarenakan privatisasi air, pengalihan sumber air bagi AC bagi hotel-hotel mewah, industri perkotaan, air untuk coolant (cairan untuk pendingin mesin), atau terpolusinya air karena timbunan sampah-sampah industri, hingga tidak terelakkan kebutuhan air bersih bagi masyarakat luas dan anak-anak terperosok menjadi tumbal atas nama pembangunan. Di Jepang, para nelayan mandiri di Teluk Minamata tidak memakan ikan karena air terkontaminasi oleh merkuri yang dibuang oleh pabrik kimia Chissio di teluk tersebut selama lebih dari 30 tahun. Menurut laporan Indian Council of Medical Research, pada tahun 1984 di Bhopal, kebocoran pestisida dari Union Carbide telah menyebabkan ribuan orang tewas secara mendadak dan ribuan perempuan mengalami gangguan reproduksi&lt;br /&gt;Ancaman berbagai macam zat beracun seperti di atas antara lain disebabkan oleh limbah industri yang tidak bertanggung jawab terhadap ekologi akan menghancurkan kehidupan manusia. Dalam hal ini anak-anak sebagai korban pertama yang akan terkena dampaknya, karena anak-anaklah yang paling peka terhadap kontaminasi bahan kimia, selanjutnya pencemaran air yang disebabkan bahan kimia termanifestasi dalam kondisi kesehatan mereka. Misalnya, penyakit polio, diare, kolera akan semakin mudah menyerang anak, pada kondisi mereka hidup dalam situasi persediaan air yang tercemar.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-3511330355887912930?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/3511330355887912930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=3511330355887912930' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3511330355887912930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3511330355887912930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/03/opini.html' title='Opini'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-7626373226510903689</id><published>2008-03-22T12:18:00.002+07:00</published><updated>2008-03-22T12:23:09.554+07:00</updated><title type='text'>22 Maret 2008:  World Water Day</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Perempuan Pesisir Itu...Menata Lingkungannya"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 11 - 13 Maret 2008, disebuah Balai Pertemuan Umum milik pemerintah kecamatan Teluk Mengkudu kabupaten Serdang Bedagai penuh sesak dengan pengunjung yang berjumlah seratusan orang, masyarakat dari desa Bogak Besar, Sentang dan Sialang Buah kecamatan Teluk Mengkudu. Ada pula anggota serikat nelayan dari Serikat Nelayan Merdeka (SNM) kabupaten Serdang Bedagai, Kepala Desa Bogak Besar, Kepala Dusun, LKMD, Karang Taruna, PKK, BPD, Camat Teluk Mengkudu, Dinas Kehutanan serta Dinas Perikanan kabupaten Serdang Bedagai.Ruangan ditata sedemikian rupa dengan pajangan poster-poster dan foto-foto kegiatan konservasi hutan bakau yang dilakukan oleh Serikat Perempuan Petani dan Nelayan (SPPN), salah satu serikat perempuan anggota HAPSARI Sumatera Utara, serta Serikat Nelayan Merdeka (SNM) kabupaten Serdang Bedagai. Ada dua acara yang dilakukan sekaligus pada tiga hari itu ; sosialisasi pentingnya bertindak untuk penyelamatan dan perawatan lingkungan pesisir, serta workshop "Rehabilitasi Pengelolaan Hutan Bakau Berbasis Masyarakat".Jadi, seratusan orang yang hadir dan tampak sangat antusias melihat-lihat poster dan aneka foto itu datang dibagian acara sosialisasi atau yang dalam program SPPN disebut Kampanye Membangun Kesadaran Lingkungan. Sedangkan 40 orang lainnya secara khusus menjadi peserta workshop."Ini adalah pelaksanaan program rehabilitasi dan pengelolaan hutan bakau di desa Bogak Besar kecamatan Teluk Mengkudu, yang merupakan tindak lanjut dari kegiatan konservasi pesisir oleh SPPN sejak tahun 2004 lalu," demikian penjelasan Rusmawati, ketua SPPN Serdang Bedagai dalam kata sambutannya, didampingi Henny Rahayu sekretaris SPPN.Lebih jauh Rusmawati menjelaskan bahwa saat ini kondisi hutan bakau di kawasan pesisir Sumatera Utara sudah mengalami tingkat kerusakan yang sangat parah akibat dibiarkannya perusakan-perusakan hutan untuk mendirikan tambak pada tahun 80-an atau penebangan pohon-pohon bakau, tanpa upaya menanam kembali.Karena fungsi ekologis hutan bakau yang antara lain mempunyai kemampuan meredam gelombang, menahan lumpur dan melindungi pantai dari abrasi, gelombang pasang dan pengendalian banjir kini telah hilang. Hutan bakau yang juga memiliki fungsi social dan ekonomis, sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakat pesisir untuk mendapatkan ikan dan udang, produksi berbagai jenis hasil hutan dan hasil hutan ikutannya, tempat rekreasi atau wisata alam, dan obyek pendidikan, latihan serta pengembangan ilmu pengetahuan juga tinggal kenangan. Sekarang, masyarakat terutama kaum perempuan yang selama ini mendapat beban untuk bertanggungjawab terhadap keselamatan keluarga (rumah dan anak-anak mereka), selalu khawatir dan ketakutan kalau terjadi gelombang besar di laut. Khawatir akan terjadi bencana alam seperti banjir atau angin topan yang merusak rumah-rumah mereka, karena sudah tidak ada lagi hutan bakau sebagai penahannya. Melalui program ini, SPPN hendak ikut serta mengatasi terjadinya kerusakan hutan bakau di kawasan pesisir Kecamatan Teluk Mengkudu, karena nyatanya perempuan adalah mayoritas masyarakat yang paling merasakan dampak dari kerusakan hutan bakau. Dan tampaknya pemerintah daerah di kabupaten Serdang Bedagai telah mempunyai komitmen dan program konkrit konservasi pesisir dengan rehabilitasi hutan bakau. Ini pertanda baik. Jadi, SPPN memanfaatkan peluang ini untuk berdiskusi dengan instansi terkait, bukan untuk mengajukan proposal proyek, tapi lebih jauh meminta tanggungjawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan pesisir yang berkelanjutan. Tuntutan SPPN juga disambut positif oleh pemerintah melalui Kepala Desa Bogak Besar, Camat Teluk Mengkudu, Dinas Kehutanan dan Perikanan Serdang Bedagai. Pada workshop dimana mereka menjadi narasumber dan mengikuti seluruh rangkaian acara, disepakati bahwa program "Rehabilitasi Pengelolaan Hutan Bakau Berbasis Masyarakat" akan ditetapkan sebagai program pemerintahan Desa Bogak Besar dan dijalankan bersama dengan seluruh unsure perwakilan masyarakat. Kepala Desa akan mengadakan rapat desa dan membuat peraturan serta surat-surat yang diperlukan dengan terlaksananya program ini, dengan SPPN sebagai pendampingnya. Dinas Kehutanan dan Dinas Perikanan akan membantu pengadaan bibit bakau dengan subsidi biaya dari dinas tersebut.Jadi, kaum perempuan pesisir di kecamatan Teluk Mengkudu itu telah turun tangan.mereka mulai menata lingkungannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) SumutUntuk Anggota, Individu dan Organisasi Mitra &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Workshop tentang "Rehabilitasi Pengelolaan Hutan Bakau Berbasis Masyarakat" yang dilakukan SPPN Sergai bekerjasama dengan GEF dan masyarakat desa Bogak Besar pada tanggal 12-13 Maret 2008 yang di hadiri oleh 40 orang peserta yang berasal dari (Media Informasi dan Komunikasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; -HAPSARI Sumut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jl.Keramat Gg.Katu No.117 Kel.SyahmadLubuk. Pakam Sumut&lt;br /&gt;Telp/Fax : 061-7950173&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-7626373226510903689?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/7626373226510903689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=7626373226510903689' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7626373226510903689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7626373226510903689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/03/22-maret-2008-world-water-day.html' title='22 Maret 2008:  World Water Day'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-4965122641761926505</id><published>2008-03-20T01:24:00.006+07:00</published><updated>2008-03-20T13:57:22.420+07:00</updated><title type='text'>Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Derita Sudah Naik Seleher&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;kau lempar aku dalam gelap&lt;br /&gt;hingga hidupku menjadi gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kausiksa aku sangat keras&lt;br /&gt;hingga aku makin mengeras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaupaksa aku terus menunduk&lt;br /&gt;tapi keputusan tambah tegak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;darah sudah kuteteskan&lt;br /&gt;dari bibirku&lt;br /&gt;luka sudah kaubilurkan&lt;br /&gt;ke sekujur tubuhku&lt;br /&gt;cahaya sudah kaurampas&lt;br /&gt;dari biji mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;derita sudah naik seleher&lt;br /&gt;kau&lt;br /&gt;menindas&lt;br /&gt;sampai&lt;br /&gt;di luar batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Puisi oleh Wiji Tukul&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-4965122641761926505?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/4965122641761926505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=4965122641761926505' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/4965122641761926505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/4965122641761926505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/03/puisi.html' title='Puisi'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-392977328876853599</id><published>2008-03-19T22:06:00.007+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:42.345+07:00</updated><title type='text'>Lan Fang Mampir ke Jember</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R-IXWG1sp9I/AAAAAAAAAM0/OMlj1ykhHCg/s1600-h/EFQK4352.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179728189989890002" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 145px; CURSOR: hand; HEIGHT: 198px" height="311" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R-IXWG1sp9I/AAAAAAAAAM0/OMlj1ykhHCg/s400/EFQK4352.jpg" width="126" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;"Haaah, Lan Fang terlibat Pesta Pencuri ?!!"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Begitulah reaksi keterkejutanku, hari Sabtu malam Minggu, tanggal 15 Maret 2008 kemarin. Gimana ga &lt;em&gt;surprise, &lt;/em&gt;sosok Lan Fang yang selama ini kukenal melalui cerpen-cerpennya yang kerap nongol di koran-koran nasional, atau novel-novelnya seperti : &lt;a class="pengarang" href="http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=EFQK2813&amp;amp;kat=4"&gt;Pai Yin&lt;/a&gt;, &lt;a class="pengarang" href="http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=EKSK0650&amp;amp;kat=4"&gt;Reinkarnasi&lt;/a&gt;, &lt;a class="pengarang" href="http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=FDNK1841&amp;amp;kat=4"&gt;Kembang Gunung Purei&lt;/a&gt;, &lt;a class="pengarang" href="http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=GAMP4037&amp;amp;kat=4"&gt;Laki - Laki Yang Salah&lt;/a&gt;, &lt;a class="pengarang" href="http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=HIYM2345&amp;amp;kat=4"&gt;Lelakon&lt;/a&gt;, dan terutama &lt;a class="pengarang" href="http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=GKWK3830&amp;amp;kat=4"&gt;Perempuan Kembang Jepun&lt;/a&gt;, juga kumpulan cerpennya 'Kota Tanpa Kelamin'. Dan baru beberapa minggu yang lalu kubaca di Jawa Pos, kalau Lan Fang mengajar anak-anak di Surabaya. Nggak dinyana malam minggu kemarin, aku bisa bertemu langsung bahkan duduk dengan jarak kurang dari satu mater dari panggung, tempat Lan Fang memerankan karakter di 'Pesta Pencuri' oleh teater Bengkel Muda Surabaya di Bundaran Bangka, Jember.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lan Fang Dilahirkan di Banjarmasin pada tanggal 5 Maret 1970 dari pasangan Johnny Gautama dan (Alm.) Yang Mei Ing, sebagai anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya bernama Janet Gautama. Pada tahun 1988, ia menyelesaikan SMA-nya di Banjarmasin lalu meneruskan dan menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA).Walaupun terlahir dalam keluarga keturunan Cina yang cukup konservatif dan lebih berkonsentrasi kepada dunia bisnis, Lang Fang sudah suka menulis dan membaca sejak usia sekolah dasar.Sebetulnya keinginan Lan Fang untuk menulis cerpen sudah mulai ada sejak SMP ketika bacaannya mulai beralih kepada majalah-majalah remaja seperti Anita Cemerlang dan Gadis. Tetapi karena dianggap "ganjil" dan "tidak tertangkap mata" oleh keluarga, tidak ada motivasi kuat untuk mempertajam talentanya. Keinginan menulis pun terlupakan begitu saja (Biodata Lan Fang, Gramedia).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hingga teater berakhir aku masih nggumun (yach, kuakui aku memang nggumunan pada kehebatan macam begituan, hi3x). Lan Fang sang penulis novel Perempuan Kembang Jepun ternyata juga penggiat teater. Jujur, menurutku Lan Fang memang belum maksimal ketika berperan sebagai anak perempuannya Ayu Selintas. Lan Fang mengaku; "baru kali kedua dia ikut Bengkel Muda dan memang sedang dalam proses belajar berteater tentunya selain ia juga ingin ikut semua-semua (kegiatan)", begitulah pengakuan jujur Lan Fang yang menurutku cukup inspiratif. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Secara keseluruhan pentas 'Pesta Pencuri' Ok's banget lah. Terlebih alur cerita 'Pesta Pencuri' mantap banget. Pesta Pencuri dialih bahasakan oleh Asrul Sani (Pustaka Jaya, 1986), naskah aslinya adalah buah karya Jean Anouilh yang sejak era Perang Dunia II dikenal sebagai penulis film dan sutradara yang populer. Tapi, jangan salah sangka dulu, 'Pesta Pencuri' sudah diadaptasi, jadi substansi ceritanya lebih mengena, misalnya saja menyentuh kasus KUDATULI juga loh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Oya biar afdol, berikut cuplikan karya Lan Fang di Novel Perempuan Kembang Jepun yang kaya aspek sejarah, sentimen perempuan, cinta dan pengorbanan:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Perempuan Kembang Jepun, hlm 76-77:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Memang sudah bukan rahasia lagi bahwa tentara Jepang sangat kasar kepada perempuan-perempuan Indonesia. Bahkan banyak perempuan Indonesia yang menjadi korban pelecehan tanpa pertanggungjawaban. Mereka menjadi tempat pelampiasan nafsu bahkan diperkosa. Sekarang, para orang tua tidak mengizinkan anak gadis mereka keluar rumah karena takut ditangkap dan dipaksa untuk melayani tentara Jepang.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Perempuan Kembang Jepun, hlm 93-94:&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Perempuan Jepang sangat menghormati laki-laki Jepang. Kami tidak pernah berani menentang mereka. Kami menunduk dan membungkuk. Mata kami cuma memandang debu di ujung kaki. Kalaupun kami memandang para lelaki, kami akan memandangnya sembunyi-sembunyi melalui lengan kimono kami yang lebar.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-392977328876853599?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/392977328876853599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=392977328876853599' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/392977328876853599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/392977328876853599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/03/lan-fang-mampir-ke-jember.html' title='Lan Fang Mampir ke Jember'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R-IXWG1sp9I/AAAAAAAAAM0/OMlj1ykhHCg/s72-c/EFQK4352.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-7480977131287639061</id><published>2008-03-14T04:24:00.004+07:00</published><updated>2008-03-21T07:44:33.156+07:00</updated><title type='text'>Baru Tahu</title><content type='html'>Baru Tahu, ternyata Artikelku 'Kepalsuan Cinta Ala Ritual Valentine' beberapa waktu lalu sempat nampang di Batam Pos:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://batampos.co.id/Kepalsuan-Cinta-ala-Ritual-Valentine-Day.html"&gt;http://batampos.co.id/Kepalsuan-Cinta-ala-Ritual-Valentine-Day.html&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Mudah-mudahan bermanfaat. Amien&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-7480977131287639061?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/7480977131287639061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=7480977131287639061' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7480977131287639061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7480977131287639061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/03/baru-tahu.html' title='Baru Tahu'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-8379020718049399681</id><published>2008-03-14T03:48:00.007+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:42.788+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dada Renata&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Oleh: Indiera Hapsari&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Perempuan yang ukuran dadanya besar menunjukkan gairah seks liar.”&lt;br /&gt;Dokter pengasuh rubrik konsultasi seks di majalah wanita ini bodoh sekali. Menguhubungkan ukuran dada dengan kecendurangan perilaku &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R9mWBhbMfMI/AAAAAAAAAMc/9UmeQXmYB2Q/s1600-h/ddddew.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177334199535566018" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R9mWBhbMfMI/AAAAAAAAAMc/9UmeQXmYB2Q/s200/ddddew.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;seksual perempuan. Huh, bodoh sekali dia!&lt;br /&gt;Bukan karena ukuran dadaku tidak besar makanya aku sinis pada teori pengasuh rubrik seks di majalah itu, bukan karena itu, meski memang faktanya ukuran dadaku sangat mungil, oleh karenanya bra berspon kupilih untuk menutupinya, ups..,menutupi…? lebih tepatnya untuk membuatnya lebih nampak menonjol, dada kecil tentu harus ditutupi dan dibentuk lebih menonjol, karena umumnya fantasi laki-laki tidak akan terpancing oleh dada rata. Dan sangat munafik sekali bila perempuan ingin menjadi perhatian lawan jenis maka disebut sebagai penindasan.&lt;br /&gt;Tapi memang dunia kedokteran akhir-akhir ini sangat aneh, memaksa ukuran dada perempuan berhubungan erat dengan gairah seksual, sedangkan ukuraan dada dan pantat laki-laki sama sekali tidak disinggung.&lt;br /&gt;Seumur hidup tiga kali aku melihat film bokep—jangan dikira aku hobby liat film begituan, ada teman kantor yang usil menyusupkan film blue ke folderku dan dengan (agak) terpaksa kuperiksa dulu sebelum dienyaahkan—yang dimainkan oleh perempuan berdada kecil yang ukurannya sama denganku, kulihat mereka rakus dan liar. Hanya satu film blue yang kutemui pemainnya perempuan berdada besar, tapi kata kawan-kawanku itupun hasil dari bedah plastik atau disuntik silikon, toh mereka pun tidak lebih liar dan buas dari perempuan berdada mungil. Bukan maksudku tidak adil karena hanya membahas tubuh perempuan, namun memang kenyataannya di film tersebut pemain laki-laki tidak kelihatan batang hidungnya, tapi hanya diwakili si Mr P-nya. Ha..ha..ha..(konyol sekali!) barangkali laki-laki hanya ingin dihargai sesederhana dalam sebentuk dan seukuran Mr P.&lt;br /&gt;Lalu para ahli kedokteran itu mencoba mengilmiahkan teori mereka mengenai keterkaitan ukuran dada perempuan dan kehidupan seksualnya. Banyaknya hormon progesterone yang dihasilkan tubuh semacam kunci kesuburan, semakin banyak hormon yang dihasilkan maka akan menyebabkan perberkembangan fungsi-fungsi alat reproduksi perempuan, akan menghasilkan kelenjar payudara yang berlimpah hingga ukuran payudara besar. Pinggul melebar dan menstruasi pertama yang datang lebih cepat dari pada perempuan lain yang seumuran. Itu semua menunjukkan kematangan organ seksual. Organ seksual yang matang akan mengakibatkan desakan instink melakukan hubungan seksual.&lt;br /&gt;Aneh memang, tentu saja pemahaman seks tersebut kuno, memahami fungsi organ seks sebagai pintu gerbang beranak-pinak, tapi memang seperti itulah adanya ilmu biologi yang diajarkan kepadaku semenjak kelas 5 SD. Seks dijelaskan sebagai sarana reproduksi.&lt;br /&gt;Kubuang majalah wanita mahal tersebut ke bak sampah. Lalu kutengguk air putih dingin yang kuambil dari dalam kulkas di kamar apartemen mahal yang tata ruang dan tata letak perabot-perabotnya kuhafal benar.&lt;br /&gt;Kemudian kunyalakan TV. Sudah hampir tengah malam tapi aku belum juga merasa mengantuk. Liputan Malam di TV menyiarkan berita tentang ramai rekaman dua bocah putra dan putri berumur 9 tahun melakukan hubungan seksual, dan rekaman tersebut sudah menyebar di beberapa Sekolah Dasar di Jawa Barat. Wali murid meragukan para guru yang tidak becus mendidik dengan baik. Para Guru tidak mau disalahkan dengan alasan HP anak-anak sekarang berteknologi canggih. Meski setiap hari senin sudah dirazia dan dibersihkan tapi dalam HP ada sistem PIN untuk menjaga memori pribadi di folder HP yang tidak mungkin bisa dipantau oleh guru. “Semua tergantung masing-masing individu, Banyak murid-murid lain yang memiliki HP tapi tidak disalahgunakan seperti itu” Begitulah komentar seorang guru yang diwawancarai.&lt;br /&gt;Adegan saling menyalahkan seperti itu sudah menjadi makanan basi yang mau tidak mau menjadi santapan di keseharian. Lama-lama muak juga! Kemarin aku sarapan pagi sebuah berita basi; seorang penduduk Porong menyiasati kelangkaan minyak tanah, maka dia membawa wajan penggorengan dan mie instan ke titik api yang menjilat-jilat bebas di sekitar luberan lumpur. Masih kuingat bagaimana bapak tua itu tersenyum nyengir—persis seperti ekspresi anjing yang nyengir karena kepalanya terkena lemparan batu tangan usil—sambil menunggu mie instan di penggorengan matang. Akhir-akhir ini minyak tanah lenyap, Migor naik-naik ke puncak gunung dan susu bayi tercemar bakteri pembunuh. Siapa yang yang salah menjadi kabur oleh tradisi saling menyalahkan dan (kalau tidak mau dikatakan: ingin menang Pemilu) ingin menang sendiri.&lt;br /&gt;Beberapa bulan yang lalu suatu sore aku kenyang menyantap berita seorang tukang gorengan di ibukota yang tewas gantung diri lantaran tidak sanggup menanggung beban ekonomi keluarga.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Huh, pikiranku jadi ngelantur. Lihatlah di TV, ternyata bocah yang melakukan adegan layaknya pasangan dewasa tersebut benar-benar bocah. Secara fisik gadis &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R9mWXBbMfNI/AAAAAAAAAMk/1g7ulCE9QQ4/s1600-h/imagesCA2ZKY0Y.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177334568902753490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 127px; CURSOR: hand; HEIGHT: 139px" height="133" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R9mWXBbMfNI/AAAAAAAAAMk/1g7ulCE9QQ4/s200/imagesCA2ZKY0Y.jpg" width="124" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;mungil itu sama sekali belum matang. Di balik seragam SD payudaranya bisa dipastikan masih rata, dan yang satu lagi, si pemuda kecil itu mungkin baru satu tahun lalu disunat, atau mungkin malah belum. Dari mana mereka bisa punya ide untuk melakukan aktivitas layaknya pasangan dewasa, sedangkan alat reproduksi mereka belum matang, mereka jelas belum menginjak usia pubertas toh?&lt;br /&gt;Pernah kubaca teori psikoanalisa Sigmund Freud. Pada usia empat tahun, anak-anak mengalami fase falik. Fase falik adalah sebuah fase alamiah anak yang mulai menyadari kenikmatan berpusat pada kelamin. Teori Freud tersebut juga didukung oleh seorang ‘revolusioner mitos seks’ yang meninggal karena terjangkit penyakit AIDS, yaitu Foucault. Menurut Foucault seks oleh anak-anak tidak boleh direpresif, karena seks merupakan instink alamiah manusia yang sudah muncul semenjak manusia berusia balita. Tapi aahh…persetan dengan teori-teori itu! Sudah kuputuskan, anak-anakku tetap tidak boleh coba-coba soal seks yang tidak jelas begituan. Dan itu artinya mereka tidak boleh memakai HP mahal yang berteknologi canggih, mereka tidak boleh nonton sinetron dan kartun TV sebelum mereka habiskan membaca buku-buku yang aku belikan minggu kemarin. Mereka, anak-anakku, harus berperspektif, matang dan dewasa dulu sebelum dijejali teror-teror murahan ala TV. Memang sudah kuputuskan hal itu, sendiri.&lt;br /&gt;Jam dinding berdenting satu kali, itu artinya sudah pukul satu malam. Berita tengah malam sudah habis dan berganti telenovela Marimar. Suamiku belum juga pulang. Sendiri, hingga adegan Marimar pergi dari suaminya, Sergio si tuan tanah kaya.&lt;br /&gt;Haus, kerongkonganku terasa kering, kutengguk habis air dari gelasku, dan suamiku masih belum juga belum pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Dari dulu rumahtanggaku memang sudah cacat, bersilang pendapat tidak pernah berujung pada solusi dan intropeksi. Tanpa sebab yang jelas, suamiku juga mulai cemburu pada lelaki yang bertubuh tinggi, besar (masih menurut anggapan suamiku: pasti berpenis panjang). Pada mulanya kuanggap itu hal biasa, bukankah cemburu adalah tanda perasaan sayang, pikirku. Tapi kemudian teman-teman kantorku yang bertubuh tinggi besar menjadi sasaran awal mula api cemburu berantai. Disusul cemburu pada laki-laki yang bertubuh, tinggi besar di organisasi klub melukisku. cleaning servis apartemen yang sering ngepel lantai koridor apartemen yang bertubuh tinggi, besar juga tidak lolos dari api cemburunya, Tukang kebun apartemen yang tinggi besarpun juga jadi sasaran api cemburu. Yang paling parah, suamiku juga cemburu pada Bapak kandungku sendiri. Dia memaksaku untuk mengaku pernah diperkosa bapak, aku terus menerus didesak untuk menceritakan (khayalannya tentang) tragedi pemerkosaan itu.&lt;br /&gt;Setelah itu, ia tidak memperbolehkanku bergaul dengan lelaki yang bertubuh tinggi, besar (yang menurutnya juga pasti berpenis panjang). Artinya apa? Bisa ditebak. Aku tidak lagi boleh ngantor, tidak ada klub melukis, tidak boleh sekedar bertegur sapa dengan cleaning service apartemen, tidak boleh tersenyum pada tukang kebun, dan celakanya aku harus memutuskan komunikasi dengan bapak kandungku sendiri.&lt;br /&gt;Kurang lebih tiga bulan, aku masih bisa bertolenransi dan menuruti saja permintaan konyol suamiku itu. Hidupku, kukonsentrasikan untuk mengurus rumah tangga, anak, dan belajar resep baru masakan ala Perancis utuk mengusir kejenuhanku dan berharap suamiku menyadari bahwa tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang bahagia dikurung, terpisah dari dunia luar. Karena urusan rumah tangga tidaklah memakan waktu sehari penuh, terlebih perkembangan teknologi seperti rice cooker, mesin cuci, alat penyedot debu membuat pekerjaan domestik terasa lebih enteng.&lt;br /&gt;Hampir empat bulan berlalu, tapi suamiku masih melarangku bekerja bahkan mengancamku tidak boleh macam-macam (aku sendiri tidak mengerti, apa yang dimaksud macam-macam versi suamiku itu). Hingga pada suatu hari kusadari, Lima anak-anakku yang semuanya lelaki mulai tumbuh dewasa, bertubuh tinggi-besar tidak seperti suamiku.&lt;br /&gt;Tak pernah sama sekali dalam pikiranku memprediksi bahwa suamiku pun akan cemburu pada anak-anakku itu. Hingga terbukti, ketika pada suatu malam, aku memergoki suamiku membawa belati masuk ke kamar anakku yang masih tertidur lelap. Tepat ketika ia akan menghunuskan belati ke tubuh anak-anakku, kurebut paksa dengan sekuat tenaga belati itu hingga jari tengah tanganku yang sebelah kiri putus dan berdarah-darah.&lt;br /&gt;Marimar telah usai, dan suamiku belum juga datang. Sudah sepuluh tahun ia tidak pulang (memang lebih baik bila ia tidak pulang).&lt;br /&gt;Entah mengapa ia belum juga pulang, mungkin lupa jalan pulang dan ia terus berputar-putar saja di jalanan kota tak pernah sampai rumah. Atau kini ia tersesat di dunia lain dan ia tidak menemukan pintu keluar untuk kembali ke rumah. Mistik memang, tapi aku pernah melihat film horor yang berkisah manusia-manusia yang tersedot komputer dan tersesat di saluran kabel-kabelnya, manusia-manusia itu berputar-putar di dunia jaringan komputer tak menemukan jalan pulang. Mungkin saja suamiku kini tersesat di dalam monitor sebuah komputer, pada kotak TV atau jangan-jangan ia ada di dalam tabung penyedot debu, mungkin suamiku tersesat di sana dan tidak bbisa keluar. Atau bisa saja alasan suami tidak pulang sangat sederhana sekali, yaitu memang dia tidak ingin pulang. Yah, suamiku tidak pulang karena dia memang tidak ingin pulang. Itu saja, titik.&lt;br /&gt;Julia Peres yang bertubuh montok itu membuka acara gosip subuh, dan suamiku sudah sepuluh tahun lamanya pergi dari rumah belum juga pulang, anak-anakku sudah tidur pulas, mereka kini tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang seksi (menurutku), seksi bukan karena tubuhnya yang tinggi besar, namun karena keseluruhannya, karena cara pandangnya, karena idealismenya, karena konsisten dan bertanggungjawab, karena mereka tidak masuk kelompok remaja yang sinis pada perempuan. Ah, aku jadi mirip seorang ibu yang narsis pada anak-anaknya.&lt;br /&gt;Julia Peres menutup acara gosip dengan bibir sensualnya dan kini berganti kultum subuh, aku masih sendiri, suamiku belum pulang dan aku memang berharap ia tidak akan pernah pulang, meski bila suatu saat nanti ia hafal jalan menuju rumah.&lt;br /&gt;Tut..tut..tut...tut, Hp-ku berbunyi, kuangkat dan kuucapkan “hallo”.&lt;br /&gt;“Renata, nanti jam istirahat siang kita kencan singkat di café depan kantormu yuk sayang”, di seberang sana suara lembut merayu menyergapku hingga membuatku rindu padanya dan menjebakku untuk tidak mungkin menolak ajakannya itu.&lt;br /&gt;Kami mulai pacaran sepuluh tahun yang lalu, tepatnya setelah dua bulan suamiku pergi dari apartemen ini dan hampir tiap akhir pekan dia menginap di apartemenku.&lt;br /&gt;Namanya Qinanti, ia seorang perempuan berdada penuh yang baik, perhatian, pengertian, cerdas, penyayang, kami tidak pernah cekcok dan singkatannya kami sangat cocok terutama secara psikologis. Cara berfikirnya tidak sesempit suamiku yang mempermasalahkan dadaku yang mungil dan selalu cemburu pada lelaki bertubuh tinggi besar (yang menurut suamiku: pasti berpenis panjang), Qinanti juga tidak sebodoh dokter pengasuh rubrik seks di majalah wanita yang berharga mahal itu. Qinanti tidak mempermasalahkan aku bergaul dengan teman kantor laki-laki maupun perempuan, Qinanti tidak melarangku bercakap dengan cleaning service apartemen, Qinanti memperbolehkanku tersenyum pada tukang kebun, dan hubunganku dengan bapak-ibu di kampung halaman juga semakin sehat.&lt;br /&gt;Adzan subuh bergema terbawa angin menelusup lirih diantara gedung-gedung tinggi ibukota. Suamiku masih belum pulang. Kuharap memang dia tidak pernah pulang, sudah sejak lama tak lagi kumiliki harapan apapun tentang dia.&lt;br /&gt;Suasana ibukota berlahan terang benderang. Suamiku belum juga pulang dari sepuluh tahun yang lalu. Sementara aku tidak menyesali apapun. Siang nanti aku bertemu Qinanti di café depan kantor. Lihatlah, kini aku tersenyum. Sendiri. Dan anak-anak masih tertidur lelap di kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;03.45 wib&lt;br /&gt;A1, 14 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-8379020718049399681?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/8379020718049399681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=8379020718049399681' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8379020718049399681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8379020718049399681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/03/cerpen.html' title='Cerpen'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R9mWBhbMfMI/AAAAAAAAAMc/9UmeQXmYB2Q/s72-c/ddddew.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-5324645153149488612</id><published>2008-03-08T17:43:00.001+07:00</published><updated>2008-03-08T17:46:08.815+07:00</updated><title type='text'>8 Maret 2008, Hong Kong</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center; font-weight: bold;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:130%;"  &gt;Pernyataan Sikap pada Hari Perempuan Sedunia&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;8 Maret 2008, &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Kembalikan Gaji Pekerja Rumah Tangga Asing ke HK$ 3,860!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Hapus "Aturan Dua Minggu" &amp;amp; NCS!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Pakai pajak majikan sebagai dana kompensasi untuk pekerja rumah tangga asing!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Pekerjaan Rumah Tangga adalah Kerja, Bukan Perbudakan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Hormati hak, nilai kerja dan status perempuan di masyarakat!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Ayo Bergabung dengan CMR di Peringatan Hari Perempuan Sedunia, 9 Maret, 10 am- 6 pm, &lt;st1:placename st="on"&gt;Charter&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Garden&lt;/st1:placetype&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Desember 2007, lebih tepatnya pada Hari Buruh Migran Sedunia, CMR dan kawan-kawan advokat melakukan aksi ke Central Goverment Offices dan memasukan petisi yang menuntut kenaikan gaji di tahun 2008 untuk pekerja rumah tangga asing. Pada tahun sebelumnya, CMR mengkampanyekan &lt;b style=""&gt;pengembalian upah minimum ke HK$ 3,860 bagi pekerja rumah tangga asing&lt;/b&gt;, yang mana jumlah tersebut adalah gaji kami pada tahun 1998, sebelum penurunan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gaji yang pertama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Hari ini, 8 Maret, pada Hari Perempuan Sedunia, CMR menyerukan kembali pengembalian upah minimun untuk pekerja rumah tangga asingdi &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt; ke HK$ 3,860. Setelah penurunan yang kedua pada tahun 2003 terhadap upah Pekerja Rumah Tangga Asing, kampanye yang selalu dilancarkan oleh CMR dan kawan-kawan advokat menghasilkan tiga kali penyesuaian upah, yang menghasilkan upah kami menjadi HK$ 3,480. Namun jumlah ini masih dibawah jumlah upah kami pada tahun 1998; selama upah kami belum kembali menjadi HK$3,860, maka kenaikan upah yang selama ini terjadi adalah bukan kenaikan upah yang sejati bagi pekerja rumah tangga asing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Bulan lalu, Budget Secretary Hong Kong mengumumkan kelebihan pendapatan negara yang terbesar selama ini yaitu sebesar HK$ 14,8 milyar. Dan berdasarkan inilah, pemerintah merasa harus berbaik hati dan mengumumkan akan membebaskan pajak bagi minuman beralkohol dan rokok, pengurangan dan pengembalian pajak pendapatan, dan untuk membiayai pembangunan fasilitas kesehatan dan kebudayaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Namun sangat disayangkan, sekali lagi, Pemrintah tidak memikirkan kondisi pekerja rumah tangga asing dalam keberlebihan ini. Berdasarkan krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998-2003, pekerja rumah tangga sing adalah pihak yang pertama kali dikorbankan melalui pemotongan upah; sekarang perekonomian Hong Kong merupakan salah satu yang terkuat di dunia dan dengan kelebihan anggaran dana ini, nilai kerja, peran serta kontribusi dari pekerja rumah tangga asing&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan buruh migran perempuan di Hong Kong sekali lagi tidak diperhatikan. Tampaknya rokok dan minuman beralkohol jauh lebih penting daripada kaum pekerja perempuan dan pekerja rumah tangga asing. Sudah saatnya pemerintah &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt; memberikan kesejahteraan dan perhatian terhadap kerja pekerja rumah tangga asing dan buruh migran perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Sekarang, sekali lagi, kami menuntut kepada pemerintah &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt; untuk:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Secepatnya mengembalikan upah minimum bagi pkerja rumah tangga asing ke HK$ 3,860!&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Menghentikan Underpayment! Setengah dari buruh migran &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; di upah dibawah standar dan lebih dari 60 persen dari buruh migran &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Nepal&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; masih diupah di bawah standar;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Pangkas biaya agen dan tindak tegas agency yang memungut biaya agen lebih dari 10 persen;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Pergunakan pajak dari majikan sebagai dana kompensasi untuk membayar pekerja rumah tangga asing yang di upah di bawah standar dan korban dari pelanggaran kontrak kerja;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Hapus aturan dua minggu dan kebijakan NCS;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Hapus aturan dua minggu dan kebijakan NCS, 3 komite di dalam perserikatan bangsa-bangsa dan telah terbukti bahwa pemerintah &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt; telah berlaku diskriminatif dan tidak adil terhadap buruh migrant.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Lebih jauh lagi kami juga menuntut kepada pemerintah &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt; untuk:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Cabut larangan yang melarang memperkerjakan buruh migran &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Nepal&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Terapkan upah minimum bagi para pekerja lokal. termasuk pekerja rumah tangga lokal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Dalam Peringatan Hari Perempuan Sedunia yang ke 31 ini, CMR menyerukan kepada pemerintahan Hong Kong untuk menghormati hak dan martabat perempuan dan memberikan pengakuan kepada kerja dan status perempuan didalam masyrakat. Ukuran dari hal ini adalah bagaimana perlakuan pemerintah Hong Kong terhadap kaum perempuan yang selama ini terpinggirkan dan dirugikan di dalam masyrakat, termasuk pekerja rumah tangga asing di &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt;. Pekerjaan rumah tangga adalah kerja bukan perbudakan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;COALITION FOR MIGRANTS’&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;RIGHTS (CMR):&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Indonesian Migrant Workers&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Union&lt;/st1:place&gt; (IMWU),&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Domestic Helpers General Union (FDHGU),&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Far East&lt;/st1:place&gt; Overseas Nepalese Association (FEONA),&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Association of Sri Lankans in &lt;st1:place st="on"&gt;Hong Kong&lt;/st1:place&gt; (ASLHK),&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Indian Domestic Workers Association (IDWA),&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Thai Women’s Association (TWA),&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Asian Domestic Workers &lt;st1:place st="on"&gt;Union&lt;/st1:place&gt; (ADWU),&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;KOTKIHO (The HongKong Coalition of&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Indonesian Migrant Organisations)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;Asian Migrant Centre (AMC)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Alliance&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; of Progressive Labor (APL)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Alliance&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; for&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Wage Increase (ALLWIN)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;●&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;"  &gt;dan organisasi pendukung lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-5324645153149488612?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/5324645153149488612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=5324645153149488612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5324645153149488612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5324645153149488612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/03/8-maret-2008-hong-kong_08.html' title='8 Maret 2008, Hong Kong'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-5804897922142001764</id><published>2008-02-15T14:21:00.011+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:43.288+07:00</updated><title type='text'>coretan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Valentine dan Semangat Mencintai yang Salah Urus&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh: Indira Hapsari &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(kukira) cinta itu hanyalah ciptaan para penjual coklat dan bunga yang serakah.....&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Ada yang unik hari kamis tanggal 14 Februari tempo hari. Pasalnya hari itu aku mendapatkan kejutan tas bertekstur bulu-bulu lembut menggemaskan dari sobatku. Jadi ingat bulunya si Pleky (guguk kesayanganku di rumah). Kado tas bulubulu tersebut, menurut kawa&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R7VB2x61dsI/AAAAAAAAAME/-mFFQQOgj7g/s1600-h/foto+ratih.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167108556846364354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 97px; CURSOR: hand; HEIGHT: 151px" height="150" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R7VB2x61dsI/AAAAAAAAAME/-mFFQQOgj7g/s200/foto+ratih.jpg" width="91" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;nku hanya kebetulan saja memberikannya padaku tanggal 14, "Sumpah tih..itu bukan valentine-valentinan koq. Kemarin waktu ke Malang waktu jalan-jalan pas kuliat tas bulubulu trus ingat kamu.." gitu katanya pake sumpah segala dan aku cuma mengangguk-anggukkan kepala, coz sampe sekarang aku belum juga mengerti memangnya apa hubungannya aku sama bulubulu? koq ada bulu jadi ingat aku, memang dia orang ga jelas ding he3x. Key, mudur ke belakang, tiga tahun yang lalu, tepatnya tahun 2005 aku diberi bunga bagus banget yang terbuat dari kertas krep warna-warni oleh anak-anak—murid-murid lesku di kampung belakang kampus jawa tujuh. ”Mbak Ratih &amp;amp; Mbak Mitha ni bunga bikinan kami loh, ini khus buat mbak, kado valentine dari kita” gitu celoteh anak-anak kecil yang masih polos itu. Wow, anak-anak 'sepolos' itupun ternyata semangat meranyakan valentine juga.&lt;br /&gt;Memang Klo diamati perayaan valentine semakin marak dari tahun ke-tahun, hingga seolah menjadi budaya yang identik dalam rangka pengungkanpan kasih-sayang pada sang pacar dikalangan remaja Indonesia. Anak-anak kecil yang latah ikut-ikutan seolah bunga atau barang-barang itu memang penting untuk membuktikan rasa sayang.&lt;br /&gt;Hari Valentine dijadikan ajang sebagai hari di mana sepasang kekasih saling menunjukkan kesungguhan dan keseriusan menjalin komitmennya pada pasangan maupun pada orang-orang yang disayangi. Ketika Valentine’s Day tiba maka akan membanjir menggungkapkan perasaan kasih melalui telfon maupun sms, hingga saling bertukar kado, memberikan bunga, coklat serta cenderamata yang unik dan biasanya berwarna serba pink. Demikianlah adanya, perayaan Valentine’s Day menjadikan suasana hari tersebut seolah riuh mendadak dengan berlimpah ruah ’cinta’, karena lebih merasuk pada pola pikir dan menjadi agenda yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar remaja Indonesia.&lt;br /&gt;Kemudian menjadi catatan tersendiri, di era pasar bebas seperti sekarang ini, di mana hubungan produksi mengadopsi simbol berupa uang, maka watak dan pola relasi antar manusia dikendalikan oleh hubungan produksi yang disimbolkan oleh uang. Maka kemudian uang dan barang/komoditilah yang mengatur hubungan manusia. Posisi uang menjadi hal sangat krusial dalam pada posisi sebagai alat komunikasi, dan penggunkapan kasih sayang. Pertukaran yang tidak langsung karena adanya alat uang ini, juga berakibat pada dimunculkannya kategori-kategori apa saja yang bisa digunakan untuk meng-hasilkan uang. Kategori ini disebut faktor produksi: di dalamnya termasuk modal (atau uang itu sendiri), tanah, tenaga kerja (manusia), dan apa saja yang bisa digunakan untuk menghasilkan uang; pada perkembangannya termasuk ide-ide, citra (image), bahkan agama dan kebohongan itu sendiri.&lt;br /&gt;Pada wilayah ini, bunga, coklat—atau bakhkan penyerahan diri secara bodoh, dan kado Valentine yang diberikan pada sang kekasih atau orang-orang terdekat kenyataannya memang budaya kelompok-kolompok tertentu, yaitu golongan muda yang pada kesadarannya memang tidak dilatih mengurai sitem ekonomi dunia yang rumit dan timpang. Pertanyaanya jika kasih sayang, bunga, coklat, kado hanya sebatas ritual karena pengaruh budaya dan tren semata tanpa bisa menjelaskan secara meyakinkan alasan kita merayakannya, lalu apa manfaat dan urgensi Valentine’s Day yang disa dipetik secara nyata? Alih-alih, para pemuda-pemudi itu justru terjebak berasyik masyuk dalam kungkungan cinta eksklusif yang berkedok kasih sayang. Padahal, makna cinta dan saling mengasihi terhadap lingkungan dan relasi yang lebih besar telah diabaikan. Sementara kesadaran kemanusiaan kita telah menjadi korban para pemodal penjual bunga, coklat dan boneka yang serakah.&lt;br /&gt;Dalam menjaga hubungan eksklusif dan cara mengekspresikan rasa sayang atau cinta seharusnya bukan hanya kata atau konsep, atau juga keindahan yang bisa diperjual-belikan. Kasih sayang suci tidak boleh dicurangi sebagai hubungan dan upaya menciptakan lembaga dan undang-undang yang memungkinkan hubungan itu didasari oleh pemberian dan penerimaan secara tulus tanpa klaim-klaim kepemilikan pribadi dan keunggulan antar sesama. Bukankah esensi kasih sayang adalah pemberian tulus-ikhlas untuk menuju otentisitas manusia sebagai subjek, bukan objek. Hilangnya cinta seharusnya diukur dari hilangnya keharmonisan, kesetaraan dan keadilan.&lt;br /&gt;Cinta yang diwakili oleh pemberian-pemberian material, terutama benda yang tidak memiliki daya pakai utama dalam perikehidupan sama saja bahwa manusia disamakan dengan &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R7VCgB61dtI/AAAAAAAAAMM/OQI237vk18U/s1600-h/imagesCAMS800K.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5167109265515968210" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="84" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R7VCgB61dtI/AAAAAAAAAMM/OQI237vk18U/s200/imagesCAMS800K.jpg" width="123" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;modal (uang) atau produk (bunga plastik, boneka, sepatu, ponsel, laptop, dll). Situasi tersebut merupakan cermin bahwa manusia masih diperbudak oleh manusia-manusia lain, bagaimana caranya supaya keinginannya terpenuhi tanpa harus membeli—yang lebih vulgar kemudian terjadilah saling mangsa-memangsa tak ubahnya seperti binatang.&lt;br /&gt;Rekayasa nilai-nilai komersial yang telah merasuk pada kesadaran manusia telah menghilangkan elemen-elemen mendasar dari cinta sejati, yaitu relasi kasih yang tidak relasi lebih luas yang sifatnya lebih bermartabat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sungguh, untuk merekonstruksinya kembali, diperlukan ikhtiar kemanusiaan yang harus didukung pula oleh syarat-syarat ekonomi-sosial-politik kondusif.&lt;br /&gt;Valentine’s Day kali ini berbagi kasihlah pada masyarakat lebih luas, karena itulah hakekat cinta sejati. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-5804897922142001764?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/5804897922142001764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=5804897922142001764' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5804897922142001764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5804897922142001764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/02/valentine-dan-semangat-mencintai-yang.html' title='coretan'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R7VB2x61dsI/AAAAAAAAAME/-mFFQQOgj7g/s72-c/foto+ratih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-4797569479049137195</id><published>2008-02-03T21:39:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:43.633+07:00</updated><title type='text'>Tujuh Hari Pak Harto..</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;SIARAN PERS&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;KELUARGA WIJI THUKUL MENOLAK PENGIBARAN BENDERA SETENGAH TIANG &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;DAN TETAP MENUNTUT PERTANGGUNGJAWABAN KEJAHATAN SOEHARTO DALAM KASUS PENGHILANGAN PAKSA AKTIVIS ANTI ORDE BARU&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, Soeharto telah dikuburkan di liang lahat, namun itu bukan berarti &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6XTc155Q3I/AAAAAAAAAL8/jkIct-3KrcM/s1600-h/Ratih_seni+budaya.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162765040309846898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6XTc155Q3I/AAAAAAAAAL8/jkIct-3KrcM/s200/Ratih_seni+budaya.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;menguburkan kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang menjadi tanggungjawabnya selama Soeharto memerintah negeri ini selama 32 tahun. Opini yang berlebihan dan mobilisasi puja-puji terhadap Soeharto tidak membuat kami, keluarga Wiji Thukul (korban penghilangan paksa 1997-1998), berubah sikap. Tindakan Pemerintahan SBY-JK yang memerintahkan pengibaran bendera Merah Putih setengah tiang adalah kebijakan yang berlebihan dan menyakiti hati jutaan rakyat Indonesia yang menjadi korban pelanggaran hak-hak sipil politik dan hak-hak ekonomi sosial budaya semasa Soeharto berkuasa.&lt;br /&gt;Hingga saat ini, kami, selaku adik kandung, istri, dan anak-anak Wiji Thukul, tidak pernah melupakan kebengisan kekuasaan Soeharto melalui aparat militer yang mengobrak-abrik rumah kami, mencuri buku-buku dan koleksi kaset kami dan membuat orang yang kami cintai, Wiji Thukul, hilang tak tentu rimbanya.Untuk itu, sebagai bagian dari korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Soeharto, kami, keluarga Wiji Thukul, menolak mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang dan akan terus berjuang bersama seluruh korban menuntut pertanggungjawaban kejahatan kemanusiaan Soeharto, terutama untuk kasus penghilangan paksa aktivis anti Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Solo – Jakarta, 28 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Dyah Sujirah/Sipon (istri Wiji Thukul) 0817250854&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Wahyu Susilo (adik kandung Wiji Thukul)08129307964&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Fitri Nganthi Wani (anak Wiji Thukul)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Fajar Merah (anak Wiji Thukul)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-4797569479049137195?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/4797569479049137195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=4797569479049137195' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/4797569479049137195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/4797569479049137195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/02/siaran-pers-keluarga-wiji-thukul.html' title='Tujuh Hari Pak Harto..'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6XTc155Q3I/AAAAAAAAAL8/jkIct-3KrcM/s72-c/Ratih_seni+budaya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-3619626231727254802</id><published>2008-02-02T23:09:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:44.544+07:00</updated><title type='text'>TURTLE CAN FLY</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SX0l55Q1I/AAAAAAAAALs/-xEAE3Y8r2k/s1600-h/turtlescanalt.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162418002657362770" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SX0l55Q1I/AAAAAAAAALs/-xEAE3Y8r2k/s200/turtlescanalt.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SXrF55Q0I/AAAAAAAAALk/MzaLWxnPur8/s1600-h/agrin%2520di%2520tebing.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162417839448605506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SXrF55Q0I/AAAAAAAAALk/MzaLWxnPur8/s200/agrin%2520di%2520tebing.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SXdV55QzI/AAAAAAAAALc/-5gz6_JUDvw/s1600-h/riga%2520ngakak.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162417603225404210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SXdV55QzI/AAAAAAAAALc/-5gz6_JUDvw/s200/riga%2520ngakak.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;hari-hari yang disibukkan oleh rutinitas itu-itu saja sungguh melelahkan. Film yang inspiratif kupikir bisa membuat hidup lebih bersemangat. Berikut film yang baru saja kusimak tuk isi liburan akhir pekan (Sinopsis Turtle Can Fly kucuplik dari: &lt;a href="http://nadetta.blogspot.com/2005_12_01_archive.html"&gt;http://nadetta.blogspot.com/2005_12_01_archive.html&lt;/a&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cerita berawal dari jatuh cintanya seorang remaja laki-laki yang dijuluki Satellite, tukang reparasi antenna di sebuah tempat pengungsian di perbatasan Iran-Iraq, kepada seorang gadis yang selalu terlihat menggendong seorang anak berumur 2 tahun di pundaknya. Tapi sebagaimana perang selalu berhasil mengubah hidup orang, cerita cinta anak remaja ini pun tidak sama dengan cerita cinta lainnya. Dalam film ini perang tidak sekedar dijadikan latar, namun jiwa dari perang itu menjadi plot utama. Satellite yang rela memberikan tali, (yang jarang adanya pada waktu itu) bagi gadis pujaannya, Satellite yang rela mengangkat air dari mata air bagi sang gadis, Satellite yang menyisihkan masker oksigen bagi sang gadis, Satelitte yang ikut menjaga anak sang gadis hasil perkosaan tentara, Satelitte yang rela berbagi wilayah pembersihan ranjau dengan kakak sang gadis. Sebuah cerita cinta yang hanya bisa terjadi pada situasi perang.&lt;br /&gt;Cerita ini berlanjut dengan mendalami pengalaman sang gadis mengenai perang. Kefrustasiannya dalam memelihara anak hasil perkosaan, perseteruannya dengan kakaknya yang sayang dengan anak itu, dan keengganannya pada Satellite yang selalu membantu. Perang memang selalu mengerikan, bila kita memakai kacamata seorang anak untuk melihatnya, perang menjadi sesuatu yang sangat amat menjijikkan. Dari film ini gue bisa liat bagaimana sebuah perang mengubah seorang anak riang dan penuh dengan kehidupan menjadi seorang pemimpin yang harus menjaga puluhan anak buahnya dalam mencari ranjau untuk dijual, gue bisa liat bagaiamana seorang anak remaja yang bijak dan mampu meramal menjadi seorang bapak tanpa tangan bagi seorang anak yang dibenci ibunya sendiri, gue liat seorang gadis muda yang terpaksa menjadi seorang ibu dari seorang anak yang tidak diinginkannya. SIAL EMANG ‘LU PERANG……&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://nadetta.blogspot.com/2005_12_01_archive.html"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-3619626231727254802?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/3619626231727254802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=3619626231727254802' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3619626231727254802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/3619626231727254802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/02/turle-can-fly.html' title='TURTLE CAN FLY'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SX0l55Q1I/AAAAAAAAALs/-xEAE3Y8r2k/s72-c/turtlescanalt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-8213856546005423065</id><published>2008-02-02T22:54:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:44.739+07:00</updated><title type='text'>Sutradara Perempuan Berbagi Cerita</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SUwF55QyI/AAAAAAAAALU/I_pY6rE7VQQ/s1600-h/postera420perempuan20punya20cerita_previ.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162414626813068066" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SUwF55QyI/AAAAAAAAALU/I_pY6rE7VQQ/s200/postera420perempuan20punya20cerita_previ.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Perempuan Punya Cerita&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Waktu JIFFest kemarin, film ini dijadikan sebagai film penutup. Jarang-jarang nih film Indonesia dijadikan clossing. Film ini terdiri dari 4 bagian, bercerita tentang PEREMPUAN dan disutradarai oleh 4 orang PEREMPUAN juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagian I: Chant Fom An Island (Cerita dari Pulau)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Directed by Fatimah.T.Rony, Story by Vivian Idris&lt;br /&gt;Film ini berkisah tentang seorang perempuan yang bernama Sumantri (Rieke Diah Pitaloka) yang berprofesi sebagai bidan di sebuah pulau. Demi mengabdi pada pekerjaannya, sampai-sampai dia tidak peduli dengan penyakit kanker yang diidapnya. Di pulau itu, dia bertetangga dengan seorang gadis yang mempunyai keterbelakangan mental yaitu Wulan (diperankan Rachel Maryam). Dia merawat Wulan seakan gadis itu adalah keluarganya, karena Wulan sendiri hanya tinggal bersama mak tua yang sudah uzur. Sampai pada suatu ketika, Wulan diperkosa oleh anak berandalan di pulau itu. Di satu sisi, sang Bidan ingin menyeret sang pelaku ke meja hijau, tapi disisi lain dia juga dihadapkan pada kasus aborsi yang menimpanya. Sampai pada suatu ketika, suami si Bidan (Rokim, diperankan oleh Arswendy Nasution) tanpa sengaja mendengar si pelaku bercerita kepada temannya kalau dial ah pelaku pemerkosa Wulan. Tanpa tedeng aling-aling, Rokim menghajar habis-habisan anak itu dan memaksanya untuk bertanggungjawab. Disaat yang bersamaan, karena ketahuan Wulan sedang mengandung, istrinya “sang Bidan” mencoba untuk menggugurkan kandungan Wulan. Karena dia mengkhawatirkan keadaan Wulan, yang akan ditinggalkannya untuk berobat ke kota. Pada akhirnya, mampukah sang bidan mempertahankan argumennya atas proses aborsi yang dilakukannya terhadap Wulan? Dan mampukah mereka memilih ketika akhirnya UANG menjadi jalan terakhir pemecahan masalah ini?. Oh ya..di film ini, Rachel Maryam berani tampil “bugil” loh..meski hanya terlihat dari samping dan belakang ;-)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagian II : Chant From A Tourist Town (Cerita dari Yogya).&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Directed by Upi, Story by Vivian Idris.&lt;br /&gt;Melihat bagian dari film ini, berkali-kali gw menghela nafas. Sambil bergumam “gila..gila..gila..” sudah sedemikian bejatkah moral anak bangsa sekarang ini?!! Karena yang diperlihatkan banyak adegan-adegan yang bikin terperangah. Film ini bercerita tentang kehidupan pergaulan bebas anak-anak SMU di Yogya, diantaranya karena akibat pengaruh internet. Hanya dengan sekali klik, segalanya bisa didapat. Sayangnya, kemudahan informasi ini dimanfaatkan secara negative. Browsing gambar dan video porno menjadi hal yang biasa didapat di warnet-warnet yang menjamur,bahkan di salah satu sudut warnet, ada kamar khusus yang disediakan sekalian untuk check in! Whuaaaa…!!! Tak cukup sampai disitu, “praktek” di lapangan pun mereka lakukan. Seks bebas menjadi hal yang lumrah, bahkan tak jarang kebablasan sampai hamil, hingga aborsi menjadi jalan terakhir. Ketika aborsi tidak bisa dijadikan pilihan,kawin muda menjadi solusi-nya. Adalah seorang gadis SMU yang bernama “Kirana Safina (kirana Larasati) yang “katanya” memegang tradisi: hanya akan menyerahkan keperawanannya pada orang yang tepat. Pada akhirnya, dia menyerah juga ketika seorang pemuda dari kota mampu memikat hatinya. Oo..Oo..siapa Dia? Dialah Fauzi Baadilla ;-) disini dia berperan sebagai seorang wartawan yang berpura-pura masuk kedalam kehidupan bebas itu, tapi pada akhirnya ikut “mencicipi” keperwanan Safina. Fiuuuh…berat banget kan temanya! Ini memang hanya sebuah film. Tapi, siapa tahu kejadian ini memang terjadi disekitar anda? Waspadalah…waspadalah..waspadalah…!!! &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagian III : Chant From A Village (Cerita dari Cibinong)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Directed by Nia Dinata, Story by Melissa Karim.&lt;br /&gt;Selain sebagai penyanyi, beberapa kali tampil main film, Shanty cukup keren juga kok mainnya ;-) Salah satunya ya di film ini. Berperan sebagai Esi, Shanty yang memang asli Sunda, memerankan seorang perempuan single parent yang mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Maesaroh (diperankan Ken Nala Amryta). Secara keseluruhan, film ini banyak menggunakan dialog berbahasa sunda, buat yang ga bisa bahasa ini, tenang aja…ada terjemahannya kok ;-) Esi bekerja sebagai pembersih WC di sebuah club dangdut di Cibinong. Salah satu bintangnya di club itu Cicih (diperankan Sarah Sechan), suatu saat menjadi penolongnya ketika Esi mendapatkan kesulitan. Pada suatu ketika, Esi memergoki Narto pacarnya melakukan perbuatan tak senonoh kepada Saroh anaknya. Kebetulan, setiap Esi kerja, Saroh ditipkan kepada Narto. Tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, Esi pergi membawa Saroh dan oleh Cicih mereka berdua ditampung dirumahnya. Sampai pada suatu ketika, si Cicih yang emang pengen banget kayak Vetty Fera, terbujuk oleh rayu seorang yang mengaku bisa membantunya menjadi penyanyi dangdut terkenal di ibukota. Dengan syarat: Saroh dibawa juga kesana. Saroh yang tak mendapat restu dari Esi, nekat bersama Cicih pergi ke ibukota. Ternyata impian tak sesuai kenyataan. Disana ternyata si cukong adalah pelaku perdagangan perempuan ke luar negeri. Ketika akhirnya Esi berhasil menemukan Cicih, Saroh sudah tidak bersamanya lagi. Film ini cukup seru. Meski yang dibicarakan hal yang serius, tapi dibumbui dengan hal-hal yang lucu. Didukung oleh acting Sarah Sechan yang emang konyol itu ;-) BAgus lah pokok nya mah..Hehe… &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bagian IV : Chant From The Capital City (Cerita dari Jakarta)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Directed by Lasja.F.Susatyo, Story by Melissa Karim&lt;br /&gt;Film ini paling menyentuh dibanding film lainnya. Tentang perjuangan seorang perempuan yang terkena AIDS dari etnis Tionghoa, yang diperankan oleh Susan Bachtiar sebagai Laksmi. Suaminya Reno (diperankan Winky Wiryawan), meninggal akibat over dosis narkoba dan terjangkit virus HIV. Setelah kematian suaminya itu, Laksmi berjuang bertahan hidup bersama putri semata wayangnya Bebe (diperankan oleh Ranti). Perjuangan terasa berat, karena mertuanya mempersalahkan dirinya akan kematian suaminya. Tak hanya itu, mertua beserta keluarga suaminya juga ingin merebut Bebe dari pangkuannya. Sampai-sampai Laksmi mencoba hidup dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindar dari mertuanya, demi mempertahankan Bebe untuk tetap hidup bersamanya. Akan tetapi, lambat laun Laksmi harus memilih. Karena Bebe tak kan selamanya harus hidup luntang-lantung, sementara dia sendiri tidak bekerja. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-8213856546005423065?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/8213856546005423065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=8213856546005423065' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8213856546005423065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8213856546005423065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/02/sutradara-perempuan-berbagi-cerita.html' title='Sutradara Perempuan Berbagi Cerita'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R6SUwF55QyI/AAAAAAAAALU/I_pY6rE7VQQ/s72-c/postera420perempuan20punya20cerita_previ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-2390917545069343046</id><published>2008-01-26T10:20:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:45.029+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Mereka Bilang Aku Ayam Kampus !&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: R. Indira Hapsari &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div align="left"&gt;Siang itu adalah jadwal berlangsungnya kuliah umum Sosiologi, kali ini kuliah bertempat di aula dengan dosen tamu Imam Prasodjo. Kabarnya beliau Sosiolog terkenal yang sering m&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R5qs-V55QxI/AAAAAAAAALM/NmwIY2pDmXM/s1600-h/perempuan+yg+dilacurkan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159626510138163986" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 195px; CURSOR: hand; HEIGHT: 177px" height="120" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R5qs-V55QxI/AAAAAAAAALM/NmwIY2pDmXM/s200/perempuan+yg+dilacurkan.jpg" width="153" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;uncul di televisi.&lt;br /&gt;Ketika kunaiki tangga menuju aula di lantai dua, sudut mataku menangkap banyak benar pandangan mata tertuju padaku. Pandangan itu seolah-olah melimpahkan rasa jijik padaku, atau tepatnya semacam benci. Tapi kubiarkan saja mereka membuatku seperti sampah.&lt;br /&gt;Tangga paling akhir segera kulampaui dan kumasuki ruang aula yang tak seberapa luas. Bola mataku kuedarkan kesana-kemari mencari tempat duduk. Ternyata kursi di aula hampir semua penuh, padahal kurang lebih masih lima belas menit lagi Imam Prasodjo memberi kuliah umum.&lt;br /&gt;Akhirnya aku mendapatkan bangku kosong yang letaknya di deretan paling belakang. Di sebelah kananku duduk mahasiswi berambut &lt;em&gt;ion&lt;/em&gt;, sedang di sebelah kiriku mahasiswa berambut keriting, memakai kacamata, yang dari raut mukanya terlihat serius dan pendiam.&lt;br /&gt;Segera setelah aku menyerahkan tubuhku pada kursi kayu, mahasiswi berambut ion itu mengamatiku, kemudian dia bertanya:&lt;br /&gt;“Kamu Rani kan ?”&lt;br /&gt;Aku menjawab dengan anggukkan kepala.&lt;br /&gt;“Oooh”&lt;br /&gt;Cewek itu kaget layaknya melihat barang antik. Tanpa alasan dan basa-basi ia pun meninggalkanku, sehingga kursi kayu disebelah kananku kini kosong. Aku segera mengambil kesimpulan, dia tahu aku berprofesi sebagai ayam kampus. Dan selanjutnya ia merasa jijik atau tepatnya takut duduk berdekatan dengan ayam kampus, karena konsekuensinya akan dicap macam-macam. Padahal belum tentu ia benci aku, toh ia belum mengenalku.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yach&lt;/em&gt;…, lingkungan ingin menghukumku, menggunakan perlakuan diskriminatif mereka. Tapi dengan lantang aku akan bilang;&lt;br /&gt;“ Kalian semua gagal, pun sebagai penggangguku, sejauh kalian mengusik hidupku, sebaliknya aku akan menertawakan kalian yang mencemoohku dengan tanpa ampun.”&lt;br /&gt;Sebagai ayam kampus aku juga tetap memiliki semangat hidup, meski identitasku bukan rahasia lagi, aku tak akan malu, tentu aku tidak akan bersembunyi saja di kamar atau bahkan melarikan diri dari kota ini dan meninggalkan kuliah, apa lagi hingga memilih jalan bunuh diri karena frustasi pada hidup.&lt;br /&gt;Laki-laki bangsat itu, yang ritualnya hanya menghabiskan uang, nongkrong di kafe-kafe, dan rutin satu bulan sekali belanja kebutuhan di mall demi menjaga penampilan supaya kelihatan modis daan berharap mirip artis. Merekalah segerombolan kelinci ideot yang melihat perempuan hanya dari tampilan fisik yang memukau dan senyum yang cemerlang. Dan aku memanfaatkan itu, kutukarkan tubuhku pada duit laki-laki ingusan yang tidak mengerti kesulitan dan kesunyian hidup. Mereka yang merasa memiliki kekuasaan dan kelebihan ketika mampu menakhlukan perempuan cantik, yang laki-laki yang mewarisi watak picik patriarkhi raja-raja Jawa yang kalah melawan gelegar hasrat, mereka mewarisi kutukan Prabu Pandhu Dewanatha yang meninggal karena tak kuat menahan nafsu bersetubuh hingga kutukan itu merenggut nyawanya sendiri.&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika aku salah menentukan jadwal kencan, terjadilah kekecewaan dasyat temanku yang sekaligus langgananku yang tak patut dibela itu. Dia menyebarkan informasi bahwa aku berprofesi sebagai pelacur…sebagai ayam kampus. Pertama-tama aku sangat terganggu karena semua teman kuliahku tahu aibku. Aib? Ach, aku justru menyebutnya lebih sebagai kepahitan hidup. Bahkan teman-teman kuliah yang tidak mengenalku, karena tragedi tersebut maka mereka penasaran ingin mengetahuiku dan selalu berbisik-bisik, setelah itu gunjingan-gunjingan sinis selalu mengiringi langkahku, entah di perpustakaan, entah di lorong kampus, entah di kantin atau ketika aku antri toillet. Tapi aku lega karena posisiku sebagai mahasiswa tidak akan dicabut meski profesiku kini bukan rahasia lagi. Aku tetap dipertahankan oleh dosen-dosen dan pejabat-pejabat kampus, dosen-dosen berpura-pura tidak tahu dan tidak mendengar isu-isu miring tersebut, itu semua karena profesiku sebagai ayam kampus terfavorit dalam dekade ini.&lt;br /&gt;Tanpa kusadari Imam Prasodjo tengah bercuap-cuap tentang konflik, pendidikan, membangun komunitas responsive, dan lain-lain. Aku segera menulis penjelasan darinya yang sekiranya penting, sebagai tugas resume yang harus dikumpulkan minggu depan.&lt;br /&gt;Kuliah umum itu diselingi pemutaran film. Ketika film sederhana itu menyuguhkan pemandangan seorang anak yang terlantar di pinggir jalan, terlentang tidur diatas koran tanpa sehelai benang yang melindunginya dari angin jahat, dan ketika anak-anak jalanan menyanyi letih di perempatan lampu merah dengan posisi aneh—yang menurut mereka mungkin terlihat lucu. Ketika itu pula aula dipenuhi suara tawa, seolah anak-anak terlantar itu adalah lelucon.&lt;br /&gt;Huh…, Sungguh aku menjadi takut dengan keadaan sekitarku. Baru beberapa menit yang lalu mata mereka menusukku seolah aku ini seorang pendosa, karena melacurkan diri. Tapi secepat inikah mereka berubah, aku melihat mereka tak ubahnya seperti halnya penyihir jahat yang gemar menertawakan kegetiran serta menganggap lucu hal-hal yang menyesakkan. Mahasiswa adalah kumpulan borjuis yaang sok intelektualis, mereka sering bertengkar hanya karenaa beda bendera organisasi, mereka sekelompok orang sakit yang demam pencitraan, suka mengagumi tulisan bagus namun prakteknya &lt;em&gt;mbel gedes&lt;/em&gt;, pantaslah kalau mereka tak menghargai ayam kampus. Padahal pelacur menjual miliknya sendiri, sedangkan ideologi yang mereka berhalakan telah mmenjadi tameng kemunafikan.&lt;br /&gt;“Dasar penjilat…!!! He….he…he… borjuis kecil yang bertingkah seperti nabi.”&lt;br /&gt;Dengan serta merta aku segera memberikan rasa iba pada Imam Prasodjo, karena maksud kuliah umum ini sebagai media propaganda, ternyata digagalkan oleh manusia-manusia yang cacat. Ironis.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Mereka bilang aku ini salah satu ayam kampus dari beberapa ayam kampus yang ada di Universitas ini. Tahukah? Menjadi ayam kampus bukanlah pilihanku. Melainkan jalan hidupku yang lahir dari kekesalan dan keputusasaan. Aku telah diwarisi sebatang dendam tanpa ukuran, hingga menuntunku pada kegilaan dengan voltase yang teramat tinggi.&lt;br /&gt;Ketika berusia limabelas tahun, Bapak tiriku yang telah kuanggap sebagai bapak kandungku. Dalam keadaan mabuk dia memperkosaku pada suatu malam petaka, ketika itu Ibu kerja lembur sebagai buruh pabrik . Setelah itu aku jadi pemurung. Trauma, kesedihan dan keresahan pada akhirnya kian mendewasa.&lt;br /&gt;Lalu, duka adalah yang menyapaku setiap waktu. Duka adalah yang menyapaku setiap pagi. Bagai sahabat setia yang mengucapkan salam ketika waktu dan matahari saling berpacu memburu hari.&lt;br /&gt;Duka adalah yang menyapaku setiap malam. Menganggukkan kepala dan tak mau pergi, sedangkan sepi dan kelam semakin gila merasuk diriku.&lt;br /&gt;Duka adalah yang menyapaku setiap waktu. Bagai laut yang senantiasa mendera dan bernyanyi mengusik diri.^&lt;br /&gt;Akupun semakin tak mengerti. Aneh…, aku bertahan pada kekeliruan, namun kekeliruan itulah justru dasar bagiku menjadi manusia yang lebih berani ditempa situasi yang tidak adil ini.&lt;br /&gt;Ketika aku pasrah pada kebinalanku, kurasakan keabadian adalah kekinian yang kekal. Aku berpura-pura bahagia, bahagia dengan keadaanku disini dan sekarang.&lt;br /&gt;Aku hanya ingin terus kuliah dan membiayai Ibu yang tak memiliki penghasilan setelah dengan seemena-mena ditendang keluar oleh majikannya dan kini beliau mulai pesakitan.&lt;br /&gt;Terbukti kan, uanglah yang menyelamatkanku, walau aku sadar mungkin saja apa yang menyelamatkanku kini, hanyalah apa yang menghancurkanku nanti, ketika aku sampai pada kondisi dimana harapan masa depan yang hancur ditelan kekejaman masa lalu.&lt;br /&gt;Lagi pula dosen-dosen yang menjadi langgananku memperlakukanku sangat baik, sangat baik sekali. Selain aku dibayar sangat mahal dalam bermain-main instink purba dengan mereka, aku juga dijadikan tempat mencurahkan kekesalan mereka mengenai istrinya yang sudah mulai malas berdanndan. Atau terkadang mereka para dosen itu meminta pendapatku ketika dipromosikan menduduki jabatan birokrasi kampus. Aku mulai menyadari, tentunya aku bukanlah sekedar pelacur yang menjual daging dan tubuh belaka, tapi perhatian, pertimbangan dan kasih-sayangku ternyata tak kalah penting sebagai nilai plusku sebagai ayam kampus. Bahkan yang membuatku terkejut, pernah suatu saat, penggila tubuhku yang merupakan salah satu pejabat kunci di kampusku meminta pertimbanganku mengenai kenaikan SPP. Terang saja aku tidak menyepakatinya, di negara kita ini pendidikan mahal hanya akan semakin menyebabkan peningkatan gaya dan pola hidup koruptor-koruptor kampus sedangkan peningkatan kualitas pendidikan adalah omong kosong.&lt;br /&gt;Tapi beberapa bulan kemudian ternyata SPP tetap saja jadi naik….aaach, aku pun sudah menduganya. Bukankah dari kecil kita dididik untuk mendapatkan keuntungan banyak untuk diri-sendiri? Persetan urusan orang lain! Bahkan selain SPP ada kebijakan baru yang dikeluarkan pihak rektorat, yaitu DPA (Dana Penunjang Akademik) tentu aku harus semakin sering berpindah-pindah dari pelukan satu mencari pelukan lain. Bagaimana lagi cara menghadapi tuntutan hidup yang semakin membabi-buta dan terkesan mengada-ada ini, dan aku punya aset tubuh elok dan paras cantik yang sangat di sukai laki-laki yang selalu kehausan mengobral uang mengobral hasrat.&lt;br /&gt;Aku biarkan diri mengalir terbawa arus yang menguntungkan, seperti tai… seperti tai… yang diseret arus sungai sederas tsunami dan akan segera hancur oleh kemantapan deras alurnya sendiri.&lt;br /&gt;Aku ini manusia biasa, perempuan biasa, pelacur biasa, ayam kampus biasa yang jauh dari sikap kedermawanan Diva dalam Supernovanya Dee. Aku juga bukan perempuan seperti Yasmin sang aktivis kekasihnya Saman, Wisanggeninya Ayu Utami. Akupun bukanlah perempuan semacam Firdaus yang intelektualis seperti yang diceritakan oleh Nawal Al-Saadawi. Pun aku tidak seperti Nidah Kirani pelacur dalam novel Muhidin M. Dahlan yang selalu kebingungan dan melakukan tawar-menawar dengan Tuhan. Aku tak serumit mereka, aku ini cuma pelacur biasa yang melacurkan diri demi uang.&lt;br /&gt;Dan latar belakangku yang suram, kini hanya sebagian dari salah satu sejarah yang semakin menguatkanku. Namun selebihnya sederhana: “Aku butuh uang untuk hidup…! Dan aku akan mengendarai kesewenang-wenangannya barang brengsek tersebut. Sejak aku tahu kehormatan akan hilang demi setumpuk uang, namun dengan mudah segera kehormatan akan kembali ketika punya uang banyak.”&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Aku segera meninggalkan aula, karena kuliah umum telah usai. Menyusuri lorong-lorong fakultas sendiri. Samar-samar terdengar nyanyian heroik mahasiswa demonstran, sepertinya mereka sedang aksi di pelantaran fakultas ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Kudengar nyanyian perjuangan di sela-sela orasi : &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Indonesia negeri berdarah…&lt;br /&gt;Berbagai macam peristiwa…&lt;br /&gt;Aceh..Ambon…dan Timor Leste&lt;br /&gt;Dan banyak tragedi lainnya…&lt;br /&gt;Tragedi Trisakti…&lt;br /&gt;Tragedi Semanggi…&lt;br /&gt;Tragedi dua tujuh juli…&lt;br /&gt;Aparat… keparat&lt;br /&gt;Militer…bangsat&lt;br /&gt;eSBeYe… anjing taek..kucing…&lt;br /&gt;Ayo…kawan kita bersama…&lt;br /&gt;………………………….&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Lalu nyanyian mereka lenyap berlahan, seiring ayunan kakiku yang menjauh dari lingkungan kampus dan disponsori watak hedonku yang emoh menjamah aktivitas mereka.&lt;br /&gt;Ehm …..tapi aku selalu berharap kehancuran tidak akan datang lebih cepat dari itu semua…, parlemen, undang-undang, pengadilan, teori-teori, doa-doa gumanku lirih.&lt;br /&gt;Kini aku berjalan melewati kaki lima. Sesekali aku berpapasan dengan mahasiswa yang bergegas. Kemudian kulewati mini market-minimarket. Di balik kaca-kacanya, di sudut bertumpuk kue basah dan roti tawar lawas, berjamur sia-sia.&lt;br /&gt;Sayang sekali makanan membusuk tak berguna dengan mahkota harga yang tak terjangkau, sedang di berbagai sudut kota, orang-orang menderita kelaparan.&lt;br /&gt;Aku ini hanya pelacur biasa, dengan perasaan dan kepekaan seperti layaknya manusia biasa, tapi manusia biasa terbiasa memaksa diri menjadi aneh…makanya aku dan mereka terpisahkan oleh ruang sejarah dan kebiasaan yang berbeda sangat jauh…kami semakin jauh.&lt;br /&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Khusus untuk perempuan terhebat: mbak N dan mbak P yang tak pernah menyerah pada apapun.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;NB: Judul terinspirasi Mereka Bilang Saya Monyet-nya Djenar Mahesa Ayu dan ^adalah sepotong puisi yang kutemukan di bak sampah kampus, entah siapa empunya saya minta ijin mengutipnya sepotong saja.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-2390917545069343046?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/2390917545069343046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=2390917545069343046' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2390917545069343046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2390917545069343046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/01/cerpen_26.html' title='Cerpen'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R5qs-V55QxI/AAAAAAAAALM/NmwIY2pDmXM/s72-c/perempuan+yg+dilacurkan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-699035796814073414</id><published>2008-01-17T22:52:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:45.682+07:00</updated><title type='text'>Opini Pilihan 'Gerwani'</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;MALAIKAT YANG BERGELAR KUNTILANAK???....&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;(SEBUAH FAKTA YANG TERLUPAKAN MENGENAI KONTRIBUSI GERWANI DIDALAM PERJALANAN SEJARAH DI INDONESIA YANG HARUS DIBERANGUS OLEH SEBUAH ANGKARA MURKA POLITIK 1965)&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*Oleh: Sapto Raharjanto&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;GERWANI,….pernahkah kita semua mendengar kata-kata ini,…ya sebuah kata yang terdengar begitu menyeramkan terutama di masa Orde Baru ketika penguasa pa&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R496nPzcW0I/AAAAAAAAAK0/EPMR3IadzJM/s1600-h/gerwani+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156474913038293826" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="126" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R496nPzcW0I/AAAAAAAAAK0/EPMR3IadzJM/s200/gerwani+3.jpg" width="95" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;da saat itu selalu mendoktrin kita dengan ungkapan-ungkapan “awas bahaya laten komunisme”, ya Gerwani, sebuah organisasi perempuan yang selalu diidentikkan dengan tragedi nasional tanggal 30 September 1965, dimana pada peristiwa tersebut Gerwani dikatakan telah melakukan berbagai kegiatan yang dianggap ‘telah merusak kepribadian kaum wanita Indonesia’, melakukan ‘penyelewengan moral’ dan ‘kontrarevolusioner’ . Melalui koran-koran yang telah dikontrolnya, semenjak tanggal 11 Oktober 1965 Angkatan Darat menyebarkan cerita bahwa Gerwani terlibat dalam Gerakan 30 September, melakukan pelecehan seksual (permainan cabul, dimana disebutkan bahwa sukarelawan-sukarelawan Gerwani telah bermain-main dengan para Jendral, dengan menggosok-gosokkan kemaluan mereka ke kemaluan sendiri, perempuan-perempuan anggota Gerwani dikabarkan menari-nari telanjang dihadapan para Jendral, menyilet tubuh mereka dan juga memotong kemaluan para perwira,) terhadap para perwira yang diculik, memotong kemaluan dan mencungkil bola mata mereka. Gerwani dituduh telah melakukan pesta seks liar dengan para anggota Pemuda Rakyat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan sebuah histeria massa yang sangat marah terhadap semua yang “dianggap komunis” seperti PKI,BTI, CGMI, termasuk kepada Gerwani, sehingga tak ayal lagi pasca tragedi 65 terutama pada awal November 1965, ketika Soeharto di hadapan sekitar 30 ribu massa perempuan anggota sejumlah organisasi yang tergabung dalam Seksi Wanita Koordinasi Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu mengatakan bahwa Gerwani adalah kumpulan perempuan yang ‘telah merusak kepribadian kaum wanita Indonesia’, melakukan ‘penyelewengan moral’ dan ‘kontrarevolusioner’. Mulailah pada saat itu dilakukan operasi pengganyangan terhadap aktivis-aktivis Gerwani yang dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat sipil, seperti Pemuda Anshor, Banser, Pemuda Marhaen, dengan mendapat dukungan dari tentara yang kerapkalai melakukan maneuver-manuver serta show of force dalam rangka aksi-aksi pengganyangan terhadap gerakan komunis di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh satu batalyon RPKAD yang dikirim dari Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1965 dimana kolonel Sarwo Edhie Wibowo sebagai komandan RPKAD langsung memimpin operasi tersebut. Mulai saat itulah teror-teror mulai melanda organisasi-organisasi yang dianggap kiri termasuk terhadap Gerwani…..vandalisme ini sangatlah membabi buta sebagai imbas dari provokasi-provokasi angkatan darat yang seakan-akan menganggap Gerwani sangatlah wajib untuk diganyang dan menimbulkan efek ingatan massa yang sangat negative terhadap Gerwani sampai saat ini,…setelah 42 tahun peristiwa itu berlalu sampai saat ini saya masih sering mendengar ketika orang marah dan mengumpat orang yang dimarahinya masih sering kita dengar kata-kata “dasar PKI!!”, “dasar Gerwani!!!!”,…sungguh alangkah tragisnya dibalik umpatan-umpatan tersebut sebenarnya ada banyak hal yang kita lupakan dari organisasi yang sebelumnya bernama Gerwis (Gerakan Wanita Indonesia Sedar)ini,…&lt;br /&gt;Di dalam wacana kesejarahan di Indonesia, sumbangan gerakan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan kurang diperhitungkan sebagai sebuah kekuatan yang berarti, tercatat nama Laskar Wanita Indonesia atau Laswi yang kini dijadikan nama sebuah jalan di kota Bandung, begitupun juga Gerwis yang merupakan cikal bakal dari gerwani yang didirikan pada tanggal 4 Juni 1950 tercatat sebagian besar anggotanya adalah perempuan-perempuan yang terlibat langsung dalam perang kemerdekaan melawan Jepang dan Belanda pada 1940-an (tercatat nama S.K. Trimurti seorang tokoh kemerdekaan yang meninnggal baru-baru ini sebagai salah seorang tokoh Gerwis), hal inilah yang kemudian banyak menjadi ilham bagi para perempuan yang terlibat revolusi fisik tersebut untuk bergabung didalam Gerwis sebelum kemudian berganti nama menjadi Gerwani karena mereka ingin menyumbangkan tenaga dan pikiran mereka untuk kemajuan bangsanya. Gerwis sendiri adalah merupakan hasil dari Enam organisasi yaitu Rupindo (Rukun Putri Indonesia; Semarang); Persatuan Wanita Sedar (Surabaya), Istri Sedar (Bandung), Gerwindo (Gerakan Wanita Indonesia; Kediri), Wanita Madura (Madura), dan PPRI (Perjuangan Putri Republik Indonesia; Pasuruan).&lt;br /&gt;Pada kongres Gerwis I di Semarang pada 1951 konsep ‘perempuan sedar’ sudah menjadi bahan perdebatan sengit. Perdebatan itu pada akhirnya berkait dengan apakah Gerwis tetap akan mempertahankan bentuk organisasi kader atau beralih menjadi organisasi massa Dalam Kongres Gerwis II, 1954, kata ’sedar’ akhirnya dihapus. Nama Gerwis berubah menjadi Gerwani dan garis massa menggantikan garis kader, ada alasan yang cukup kuat yang mendasari perubahan nama ini. Kata “sedar” dalam Gerwis dianggap hanya mengutamakan perempuan golongan menengah dan terdidik yang sudah sadar akan hak-haknya, sementara ada jutaan perempuan Indonesia yang dianggap belum “Sedar”dan harus dilibatkan dalam memperjuangkan kemajuan bangsa. Didasari pandangan kerakyatan inilah kemudian Gerwani ingin agar buruh, dan tani perempuan juga aktif dalam kegiatan politik untuk memperkuat republik yang baru berdiri ini. Seluruh kegiatan Gerwani bertujuan untuk mendidik anggotanya menjadi perempuan yang sadar politik. Perempuan-perempuan ini kemudian didorong untuk merawat dan mendidik rakyat. Pendidikan berlangsung melalui kegiatan yang programatik maupun kegiatan-kegiatan informal yang berlangsung dalam pergaulan keseharian antar-anggota atau dalam pergaulan anggota Gerwani dengan masyarakat. Kegiatan-kegiatan antara lain adalah anjangsana dan turba; ceramah dan pertemuan-pertemuan rutin, seperti rapat dan arisan; kursus-kursus keterampilan dan kursus pemberantasan buta huruf maupun pendirian TK Melati, juga terlibat didalam perjuangan pembebbasan irian barat dengan menjadi tenaga sukarelawati, selain itu tercatat ketika Gunung Agung meletus pada tahun 1963 Gerwani di Bali bekerja sama dengan pemerintah memberikan bantuan kepada pengungsi.&lt;br /&gt;Pada 1950, Indonesia baru keluar dari situasi perang. Pemerintah menetapkan peningkatan dan perluasan pendidikan sebagai prioritas pembangunan bangsa. Pendidikan dianggap sebagai prasyarat mendasar untuk mencapai kemakmuran dan keadilan sosial di Indonesia. Gerakan perempuan yang sudah berpengalaman melakukan gerakan pemberantasan buta huruf sejak paruh pertama abad 20 segera melibatkan diri dalam proyek nasional ini dengan membangun ratusan, mungkin ribuan, taman kanak-kanak (TK) dan kursus-kursus pemberantasan buta &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R496yPzcW1I/AAAAAAAAAK8/TKiSjiyDUyM/s1600-h/gerwani.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156475102016854866" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="95" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R496yPzcW1I/AAAAAAAAAK8/TKiSjiyDUyM/s200/gerwani.jpg" width="125" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;huruf (PBH). Gerakan perempuan menambahkan kepentingan mereka, yaitu memajukan kesejahteraan perempuan dan anak-anak, di dalam tujuan gerakan pendidikan nasional. Gerwani, sebagai bagian dari gerakan perempuan, terlibat dalam gerakan pendidikan nasional ini. Gerwani juga mengklaim telah mendirikan 1.478 TK Melati di berbagai wilayah di Indonesia. Didalam pendiriannya TK Melati diserahkan pada pengurus ranting setempat. Pengurus ranting seringkali melibatkan pihak kelurahan dan anggota-anggota masyarakat lain untuk menyediakan tempat dan peralatan TK model penggalangan dana bisa dilaksanakan dengan mengadakan pertunjukan wayang dan menjualnya tiket pertunjukannya untuk mendirikan TK Melati.&lt;br /&gt;Aturan tentang biaya sekolah berbeda-beda antara satu TK Melati dengan TK Melati yang lain. Seperti juga peraturan tentang biaya sekolah, aturan tentang honor guru juga berbeda-beda. Sebagian TK Melati tidak memberikan honor sama sekali pada guru. Sebagian lain memberi honor seadanya Gerwani merekrut tenaga-tenaga guru untuk kursus PBH dan TK Melati terutama dari kalangan anggotanya sendiri. Mereka juga mengambil tenaga lulusan-lulusan baru sekolah guru yang sebagian di antaranya adalah anggota Pemuda Rakyat. Syarat untuk menjadi tenaga pengajar dalam kursus PBH dan TK Melati yang diselenggarakan Gerwani tidak berat. Perempuan yang sudah pernah duduk di bangku SMP walaupun tak lulus tetap bisa menjadi guru kursus PBH dan TK Melati. Pada dasarnya Gerwani lebih memilih untuk menyelenggarakan institusi pendidikan yang murah yang bisa diakses oleh masyarakat miskin, dibanding sekolah dengan peralatan lengkap namun hanya bisa dijangkau oleh kelompok masyarakat yang mampu membayar mahal. Namun pilihan ini tidak bisa disederhanakan menjadi sekedar pilihan kualitas versus kuantitas karena TK Melati tetap bisa memenuhi tujuan pendirian TK, yaitu mempersiapkan anak untuk memasuki dunia pendidikan formal. Oleh karena itu, mendongeng, bernyanyi dan bermain menjadi penting. Dimana didalam dongeng-dongeng ini pelajaran mengenai kebersihan, kesehatan, seperti membersihkan diri, mandi, menyisir rambut, memakai alas kaki, memotong kuku, serta kebersihan tubuh terus diperhatikan. Pengenalan mengenai rasa kebangsaan dan klektifitas diantara sesama rakyat didalam diri anak kerapkali disampaikan didalam mata pelajaran Budi pekerti yang juga kerap disampaikan dalam bentuk dongeng seperti kisah gajah dan semut berikut ini : “Ada gajah, ada semut. Ada semut masuk telinga gajah. Itu gajah jadi binasa. Itu semut bikin kalang kabut. Itu cerita dari mbah buyut. Anak-anak, kalo sut itu kan gini ya, ini jempol ini gajah, ini semutnya ini. Tapi ini kok menang? Ding, ding, menang semut. Karena apa? Karena semut itu meskipun kecil banyak temannya buaaanyak sekali, membuat lubang di dalam tanah. Setelah itu, tanahnya kan di bawah itu, itu grogong atau lobang. Terus gajah lari-lari di anu, gajahnya masuk situ ndak bisa keluar karena telinganya dimasuki semut semua. Semut merubung gajah. Gajahnya gini, gini, gini, godag-godeg, akhirnya gajahnya mati. Jadi, orang yang gede itu tidak boleh sombong. Tapi rakyat kecil ya jangan diinjak-injak. Karena rakyat kecil juga mempunyai kekuatan yang besar juga. Selain melalui dongeng, kesadaran kerakyatan juga diajarkan melalui lagu-lagu, diantaranya lagu Menanam Jagung: “Ayo kawan kita bersama menanam jagung… Pak tani nanam jagung. jagung untuk apa?”&lt;br /&gt;“Jagung untuk jenang (bubur), untuk ini, untuk grontol, untuk ini, Bu.”&lt;br /&gt;“Jagung yang nanam siapa?”&lt;br /&gt;“Pak tani.”&lt;br /&gt;Acara makan bersama juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan pada anak-anak bahan dasar makanan rakyat yang murah dan bergizi :…, “Mangan barang-bareng, engko lawuhe mung tempe, Le, kondo ibune tempe. Sego-tempe.” (“Makan sama-sama, nanti lauknya hanya tempe, Nak, bilang ibunya tempe. Nasi-tempe.”) Semua sego-tempe bawa dari rumah, ndak gurunya ndak kudu – ‘tempe asale soko dele, enak rasane, murah regane’ .&lt;br /&gt;Tetapi sayang seribu sayang kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang banyak dilakukan oleh Gerwani harus terhenti pasca tragedi 65, selain itu sebagai imbas dari tragedi ini pencitraan Gerwani menjadi sangat negatif hal ini ditandai dengan Penghancuran TK Melati yang berjalan bersamaan dengan penghancuran Gerwani. Militer dan kelompok-kelompok massa sipil yang diorganisirnya memburu guru-guru TK Melati yang sebenarnya tidak seluruhnya anggota Gerwani. Tempat-tempat yang menjadi tempat KGTK (Kursus Guru TK) Melati dan pondokan bagi calon-calon guru dibakar oleh militer bersama-sama massa. Anggota-anggota militer melakukan pelecehan seksual terhadap para calon guru TK Melati yang ditampung di rumah itu banyak guru perempuan anggota Gerwani dan organisasi-organisasi lain maupun pengajar di TK Melati menjadi korban perkosaan komandan Buterpra yang melakukan operasi pembersihan terhadap aktivis-aktivis Gerwani.&lt;br /&gt;Peristiwa 1965 yang kemudian melahirkan rezim Orde Baru memaksa sebagian mantan aktivis Gerwani untuk mengingkari sejarahnya sendiri Setelah Gerwani hancur, sebagian dari anggotanya merasa trauma dan berusaha menyelamatkan diri dan kel&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4964PzcW2I/AAAAAAAAALE/rVqQHjgt94c/s1600-h/gerwani+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156475205096069986" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 138px; CURSOR: hand; HEIGHT: 74px" height="82" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4964PzcW2I/AAAAAAAAALE/rVqQHjgt94c/s200/gerwani+1.jpg" width="152" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;uarganya dengan menutup jejak keterlibatan mereka dalam organisasi itu. Ada banyak aktivis Gerwani yang kemudian ditahan dan dibantai sehingga dari peristiwa ini banyak melahirkan trauma bagi mantan aktivis Gerwani mengenai apa dan bagaimana dulu dengan gagah beraninya mereka berjuang demi republik yang mereka cintai, ada banyak mantan aktivis Gerwani yang cenderung memilih diam tak bersuara,..meskipun saat ini pasca jatuhnya rezim Orde Baru sudah mulai banyak dari mantan aktivis Gerwani ini untuk berbicara mengenai apa dan bagaimana kontribusi mereka bagi republik ini,...yang kemudian harus terdzolimi oleh sebuah angkara murka yang terjadi di tahun 65-68 yang memunculkan stereotip negatif terhadap mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;*Peneliti Centre of Local Economy And Politics Studies, Jember &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-699035796814073414?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/699035796814073414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=699035796814073414' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/699035796814073414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/699035796814073414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/01/opini-pilihan-gerwani.html' title='Opini Pilihan &apos;Gerwani&apos;'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R496nPzcW0I/AAAAAAAAAK0/EPMR3IadzJM/s72-c/gerwani+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-8252342824526362760</id><published>2008-01-14T21:50:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:46.316+07:00</updated><title type='text'>Wisuda Bukanlah Akhir dari Persaudaraan, Cita-cita dan Perjuangan...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4zF5_zcWxI/AAAAAAAAAKc/FgcwxPBb5sM/s1600-h/sama+fresty+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155713273602792210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4zF5_zcWxI/AAAAAAAAAKc/FgcwxPBb5sM/s200/sama+fresty+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Senin lalu, Pukul sembilan pagi seorang kawan akan mempertanggungjawabkan hasil penelitian tugas akhir kuliah di meja sidang ujian skripsi. Namun tiba-tiba saja hujan membasahi kota Jember. Rencanaku bertandang ke kampus kuurungkan sejenak, sambil mengutak-atik laptop menunggu barangkali sebentar lagi hujan mereda.&lt;br /&gt;Setelah hujan deras mulai mereda, berganti dengan gerimis yang serupa butiran halus, cepat-cepat kupakai helm standar, motor pun segera ku-stater, kuterjang saja gerimis menuju kampus. Sekedar memberi semangat kawan yang sedang ujian apa salahnya dan berharap bisa bertemu kawan-kawan/dosen-dosen Sosiologi untuk melepas kangen.&lt;br /&gt;Sebelumnya, hari Sabtu, Fresty memberitahuku kalau senin pagi dia ujian skripsi. Kamar kostku yang sempit mendadak menjadi ramai, karena selain Mita (kawan sekamar), Fresty, Sunarsih (yang juga datang mau nunut ngeprit skripsinya) ngobrol &lt;em&gt;ngalor-ngidhul.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Fresty yang sedikit tegang karena akan menghadapi ujian sibuk membolak-balik skripsinya setebal kurang lebih seratus enam puluh halaman. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada akhirnya percakapan kami bertopik seputar 'perjuangan gender'. Ini bermula ketika&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Fresty sambil melirik Sunarsih menyeletuk, "&lt;em&gt;hei arek-arek, aku minta bendelan skripsi yang ngangkat masalah gender, aku mau jadi Profesor gender..he3x&lt;/em&gt;.." Kemudian, diskusi gender mengalir begitu saja, mungkin saja kami dimanfaatkan oleh Fresty untuk mematangkan materi skripsinya , tapi tak mengapa. Bukankah hakekat tali pertemanan adalah untuk saling memanfaatkan, saling berbagi. Toh kami memang sering saling memanfaatkan dalam konteks ilmu pengetahuan, bukan dalam hal-hal yang tidak bertanggung jawab. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi ingat kata-kata seorang teoritikus Sosiologi ternama, Karl Marx: "Seseorang yang tidak memiliki energi untuk mencintai dan hanya berharap untuk dicintai, maka kehidupannya akan mengenaskan". Begitulah kurang lebih kata-kata Karl Marx yang terus kuingat, dan memang benar adanya. Dengan mencintai dan memberi keadaan psikologis rasanya menjadi lebih tenang, urusan dicintai atau balik diberi itu 'plus' belakangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tak aneh jika percakapan melulu gender, karena secara kebetulan semuanya mengerjakan tugas akhir yang bersentuhan dengan isu gender (khususnya mengenai perempuan). Skripsiku yang telah lulus Juli Tahun lalu berjudul ' Perilaku KDRT: Studi Sosiologis Perempuan sebagai Korban dan atau Pelaku KDRT di Kabupaten &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4zFm_zcWwI/AAAAAAAAAKU/WsKj0nWfnPo/s1600-h/skripsi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155712947185277698" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4zFm_zcWwI/AAAAAAAAAKU/WsKj0nWfnPo/s200/skripsi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jember', Skripsi Sunarsih yang telah lulus bulan November tahun lalu berjudul 'Pelecehan Seksual, Studi Kasus di Fakultas FISIP-UNEJ', Skripsi Fitri berjudul 'Persepsi Waria Terhadap anak, Studi Kasus di kabupaten Jember, Nganjuk dan Banyuwangi' sudah lulus November Tahun lalu. Skripsi Fresty yang tadi pagi diujikan dan lulus dengan nilai maksimal berjudul 'Persepsi Aktivis Perempuan terhadap Pornografi dan Pornoaksi'. Skripsi Mita yang sekarang baru dikerjakan berjudul 'Persaingan Penyanyi Dangdut', Skripsi Lantika berjudul "Persepsi Kyai Pondok Pesantren Terhadap Poligami', Skripsi Giovani berjudul " Menikah Siri di Kalangan Mahasiswa" ada lagi Astri, yang mengangkat "SPG Plus-Plus". Entah, benar-benar suatu kebetulan, atau memang wacana gender menimbulkan keresahan tersendiri sehingga dihabisi oleh kawan-kawan perempuan Sosiologi FISIP-UNEJ angkatan 2003.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhirnya sampai juga di kampus, disana ternyata sudah ramai oleh kawan-kawan lainnya yang menunjukkan memberi dukungan Fresty. Sudah menjadi tradisi, jika ada yang sedang ujian skripsi, maka kami akan saling menunggui, memberi semangat dan mengirim mantra-matra(doa-doa). Semoga semua teori dan orasi-orasi pada diskusi-diskusi di kelas tidak meluntur. Semoga Peraudaraan ini berlanjut menjadi untaian kenangan indah yang abadi. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Fyuh&lt;/em&gt;, tak terasa, 4 tahun sudah hidup merantau di kota Jember. Di sini aku bertemu dengan kawan-kawan baru yang menyenangkan (meskipun--kuakui--terkadang aku tidak terlalu menyenang&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4zMxPzcWyI/AAAAAAAAAKk/x0l2CPPGvto/s1600-h/sabtu+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155720819860331298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4zMxPzcWyI/AAAAAAAAAKk/x0l2CPPGvto/s200/sabtu+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;kan sebagai seorang kawan), dosen-dosen yang simpatik (meskipun ada beberapa yang cuek dan hanya mengurus proyek), ilmu pengetahuan yang lebih maju dan pengalaman berdiskusi dan berorganisasi yang sungguh proses yang teramat sangat mahal, juga pengalaman beberapa waktu bersentuhan langsung dengan gelandangan-pengemis-pengamen dan sesekali berdemo, berteriak di jalanan menuntut keadilan, menjadi kawan belajar adik-adik di belakang kampus, juga budaya Jawa-Madura-Osing yang unik...sampai-sampai aku kepikiran ingin belajar tari LAHBAKO, tarian khas Kabupaten Jember yang gerakannya yang menggambarkan  pekerja petik bakau. Tapi sayang, kosa kata bahasa Madura hanya sedikit yang bisa &lt;em&gt;engkok&lt;/em&gt; kuasai. &lt;em&gt;Oiya&lt;/em&gt;, aku juga sedikit hafal lagu osing "usum layangan dan umpomo siro kebang..mekaro ono ing taman...."--kecuali lagu osing &lt;em&gt;anyar&lt;/em&gt; yang berjudul "Bokong Semok", jangan dipaksa suka, &lt;em&gt;emoh yo&lt;/em&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Banyak sekali hal-hal yang berputar-putar di kepalaku, hingga kerepotan tergesa ingin kuceritakan semua disini. &lt;em&gt;Yach&lt;/em&gt;, aku tidak bisa mengelak, sejarahlah yang membawaku pada titik pijak pemikiranku seperti saat ini. Hidupku bukanlah kesempurnaan, karena kusadari kita hidup bukan pada sistem yang tak cacat. Namun, aku berjanji, akan melakukan yang terbaik. Aku berjanji tidak akan kutukarkan idealisme dan ideologi yang kudapatkan dengan susah payah dengan kepragmatisan. Semoga sanggup!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:180%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;em&gt;Tidak mungkin kehidupan seseorang adalah benar,&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;apab&lt;/em&gt;&lt;em&gt;ila di salah satu sisi hidupnya ia melakukan kesalahan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;(Mahatma Gandhi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-8252342824526362760?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/8252342824526362760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=8252342824526362760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8252342824526362760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8252342824526362760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/01/wisuda-bukanlah-akhir-dari-persaudaraan.html' title='Wisuda Bukanlah Akhir dari Persaudaraan, Cita-cita dan Perjuangan...'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4zF5_zcWxI/AAAAAAAAAKc/FgcwxPBb5sM/s72-c/sama+fresty+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1236118357756394543</id><published>2008-01-14T21:24:00.000+07:00</published><updated>2008-01-14T21:32:10.181+07:00</updated><title type='text'>PERNYATAAN SIKAP</title><content type='html'>Rasa Keadilan Rakyat harus didahulukan !!!&lt;br /&gt;Tolak isu deponering kasus Soeharto !!!&lt;br /&gt;Usut tuntas kasus Soeharto !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam rakyat pekerja,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah 13 hari Soeharto menjalani perawatan di RSPP karena mengalami gangguan kesehatan yang sangat serius. Karena hal inilah, berdasarkan alasan kemanusiaan, banyak kalangan dari pejabat publik, mantan pejabat Orde Baru dan tokoh-tokoh politik yang menginginkan agar Soeharto sebagai Presiden RI pada masa Orde Baru dimaafkan dosa-dosanya. Artinya mereka meminta agar kasus-kasus yang terjadi pada masa Orde Baru, baik kasus pelanggaran HAM maupun kasus korupsi yang selama dituduhkan kepadanya segera dimaafkan oleh rakyat Indonesia, khususnya pemerintah.&lt;br /&gt;Hal ini tentu saja segera menjadi polemik di masyarakat, karena sebagaian masyarakat, khususnya dari korban dan keluarga korban pelanggaran HAM menginginkan agar kasus pelanggaran HAM yang mereka alami tetap dijalankan proses pengunkapannya.&lt;br /&gt;Hal ini tentu saja dengan argumentasi agar pelaku-pelaku pelanggaran HAM, bukan hanya Soeharto, dapat juga diadili dan meminta pertanggungjawaban mereka sebagai pelaku.&lt;br /&gt;Selain kasus pelanggaran HAM, desakan agar kasus korupsi Soeharto diusut dengan tuntas pun segera merebak. Karena jika dimaafkan, maka kasus-kasus korupsi yang telah menyebabkan Negara Indonesia menderita kerugian yang sangat besar tidak akan dapat diproses. Dengan begitu pula, kasus-kasus korupsi yang berhubungan dengan kasus korupsi Soeharto, walaupun dilakukan oleh kroninya, akan sangat sulit dibuktikan di pengadilan.&lt;br /&gt;Saat ini, mantan pejabat Orde Baru dan kroni Soeharto, berusaha memunculkan citra bahwa di masa kepemimpinan Soeharto merupakan masa-masa yang sangat indah dan tidak memiliki konflik sama sekali. Namun yang seharusnya jangan dilupakan adalah dengan praktek politik otoriterian Soeharto lah, maka terjadi kondisi kesenjangan- kesenjangan yang dialami saat ini. Kesejangan ekonomi dan sosial bahkan politik merupakan warisan dari masa kepemimpinan Orde Baru yang dinakhodai oleh Soeharto. Hal inilah yang ingin dihilangkan oleh para mantan pejabat dan kroni Soeharto dengan giat berpropaganda agar masyarakat Indonesia segera memaafkan dan melupakan dosa-dosa Soeharto.&lt;br /&gt;Dengan dimaafkannya kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Soeharto, maka ini juga merupakan upaya sistematis agar masyarakat melupakan sejarah kelam dan memanipulasi sejarah Indonesia. Hal ini sebenarnya sudah dapat terlihat dengan terbentuknya opini dari masyarakat tentang sejarah-sejarah pelanggaran HAM, baik dari kasus 1965 sampai kasus 1998 yang menyatakan bahwa Soeharto merupakan pahlawan dan memang sudah seharusnyalah masyarakat yang menderita kerugian dari pelanggaran HAM tersebut mendapatkan ganjarannya. Artinya korban pelanggaran HAM, bukan hanya menjadi korban dari peristiwa pelanggaran HAM, namun mereka juga menjadi korban dari diskriminasi dari masyarakat yang dibentuk oleh pemerintahan Orde Baru.&lt;br /&gt;Jika kata pengampunan atau pemaafan muncul dari kalangan mantan pejabat Orde Baru dan para kroninya, maka sebelum diampuni atau dimaafkan, seharunsya pemerintah terlebih dahulu menyatakan bahwa Soeharto memang bertanggungjawab terhadap kasus-kasus yang terjadi pada masa Orde Baru. Kemudian seharusnya juga dilakukan rehabilitasi dan pembersihan nama-nama korban pelanggaran HAM sehingga mereka dapat terlepas dari diskriminasi oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Yang lebih aneh lagi sebenarnya adalah para mantan pejabat Orde Baru dan kroninya, yang kita tahu bahwa mereka juga merupakan pelaku, beramai-ramai menyatakan seolah-olah hanya Soeharto lah yang bertanggungjawab terhadap kasus-kasus yang terjadi di masa lalu. Ini juga merupakan upaya sistematis dari para kroni Soeharto untuk mencuci tangan mereka dan menyatakan bahwa mereka tidak terlibat pada kasus-kasus pelanggaran HAM dan korupsi di masa lalu.&lt;br /&gt;Dengan fenomena saat ini, yang beberapa mantan pejabat Orde Baru, kroni Soeharto dan pejabat pemerintahan saat ini menyatakan bahwa Soeharto harus dimaafkan, menunjukkan bahwa kekuatan mereka masih sangat besar. Bahkan beberapa pelaku yang dahulunya merupakan pejabat Orde Baru telah bergabung dengan partai-partai politik yang saat ini memiliki sangat besar. Kekuatan elemen Orde Baru telah merubah bentuknya menjadi sesuatu yang lebih bisa diterima oleh masyarakat, dan berhasil mempengaruhi sebagian masyarakat. Artinya kita juga harus mulai waspada terhadap kepentingan- kepentingan partai politik yang saat ini telah bergandengan erat dengan para pelaku pelanggar HAM dan korupsi, karena jelas hal ini akan merusak demokrasi di Indonesia.&lt;br /&gt;Maka dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) menyatakan sikap:&lt;br /&gt;Tolak isu untuk men-deponering kasus Soeharto karena hal itu akan melukai rasa keadilan rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Pemerintah Indonesia harus tetap memproses kasus-kasus yang pernah terjadi pada masa lalu sehingga kebenaran sejarah di masa lalu dapat kita dapatkan.&lt;br /&gt;Pemerintah Indonesia harus segera meluruskan sejarah Indonesia yang berkembang saat ini di masyarakat, karena jelas pelencengan terhadap sejarah Indonesia merupakan bentuk kebohongan publik yang dilakukan oleh Negara.&lt;br /&gt;Pemerintah Indonesia harus tetap mengusut kasus-kasus pelanggaran HAM dan korupsi yang dilakukan oleh para pelaku di masa Orde Baru, baik yang dilakukan oleh Soeharto maupun para kroninya.&lt;br /&gt;Dengan diusutnya kasus-kasus pelanggaran HAM dan korupsi yang dilakukan oleh Soeharto dan kroninya, merupakan pembelajaran demokrasi bagi rakyat Indonesia bahwa hukum dan demokrasi tetap harus dijalankan di Negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Januari 2008&lt;br /&gt;Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja&lt;br /&gt;Sekretaris JenderalIrwansyahKomite PusatPerhimpunan Rakyat Pekerja&lt;br /&gt;JL Gading 9 No 12Pisangan Lama, Jakarta TimurPhone: (021) 93094075&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:prppusat%40gmail.com" target="_blank" rel="nofollow" ymailto="mailto:prppusat%40gmail.com"&gt;prppusat@gmail. com&lt;/a&gt; / &lt;a href="mailto:prppusat@yahoo.%20com" target="_blank" rel="nofollow" ymailto="mailto:prppusat%40yahoo.com"&gt;prppusat@yahoo. com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Blogsite: rakyatpekerja. blogspot. comWebsite: www.prp-indonesia. org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1236118357756394543?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1236118357756394543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1236118357756394543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1236118357756394543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1236118357756394543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/01/pernyataan-sikap.html' title='PERNYATAAN SIKAP'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-2888030351661292256</id><published>2008-01-12T01:00:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:46.662+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Mengapa Kau Melipat Perempuan dalam Dompet, Sayangku..?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh: R. Indira Hapsari&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Pukul sembilan pagi itu, kereta api dari Purwokerto menuju Jember belum juga datang. Di stasiun ini, di kota Purworejo aku menunggu kereta sejak setengah jam yang lalu, Padahal tadi tergesa saat berpamitan pada ibu, menyiasati supaya sampai stasiun sesuai jadwal pemberangkatan kereta yang telah kuketahui beberapa hari lalu dari petugas informasi stasiun ini.&lt;br /&gt;Laki-laki yang berumur sekitar lima puluh tahun itu sudah berdiri siaga di pinggir jalur dua, jalur kereta api menuju kota tujuannku. Lelaki bertubuh tinggi besar itu masih sangat lincah, namun raut muka itu, menunjukkan kegelisahan yang luar biasa, kegelisahan yang dia sembunyikan dalam senyuman dan kewibawaan khas seorang bapak. Dia menyangklong empat tas besar, dua dipundak kanan dan dua di &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4e0QvzcWoI/AAAAAAAAAJU/lKBuLvaWJn4/s1600-h/KA.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154286498351962754" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="120" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4e0QvzcWoI/AAAAAAAAAJU/lKBuLvaWJn4/s200/KA.jpg" width="156" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;pundak kiri, dua tas diantaranya berisi buku-buku ekonomi politik, budaya dan feminisme, minggu lalu aku memborong buku-buku itu di bursa buku murah di Yogya. Sama sekali dari raut mukanya tidak mengisyaratkan kelelahan. Aku tahu beliau semenjak kecil dan semenjak aku mulai bisa belajar mengingat. Dia adalah bapakku, lelaki itu memang selalu saja pandai menyembunyikan kesedihan, bahkan tiga hari yang lalu sepulang dari dokter, saat tanpa sengaja aku telah melakukan hal yang jahat kepadanya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Kondisi fisikku melemah, setelah divonis terjangkiti paru-paru akut, maka dokter menyarankan supaya aku istirahat total sejenak. Boro-boro mikirin organisasi, kuliah pun sementara bolos karena kondisi tubuhku semakin membutuhkan perhatian dan perawatan khusus. Paru-paruku remuk, mungkin karena aku memang terlalu banyak begadang dan menghirup basahnya udara malam.&lt;br /&gt;Masa-masa itu, ketika aku masih muda, lincah dan haus pemikiran-pemikiran baru sekedar menjawab keresahan-keresahan jiwaku yang mulai terbakar merindukan perubahan. Maka kujajali semua organisasi dan kelompok diskusi. Selanjutnya diskusi panjang dan rapat-rapat melelahkan adalah rutinitas. Dimulai dari tengah malam hingga dini hari, kadang di sekretariat, terkadang di warung kopi depan sekretasiat di jalan danau toba atau terkadang di lesehan alun-alun kota, kami memilih tempat diskusi lesehan di alun-alun yang berhadapan tepat dengan masjid agung, dimana para perempuan pelacur sedang bekerja lembur penuh resiko demi beberapa lembar puluhan ribu. Itu dulu, ketika aku masih belum terserang penyakit, ketika aku belum batuk yang dahaknya bercampur darah.&lt;br /&gt;Keretaku melaju, setelah terlambat hampir dua jam. Sedangkan memoriku terus mundur, satu-persatu adegan-adegan yang telah lalu berkelebatan bercampur khayalan dan harapan, tiba-tiba muncul begitu saja tanpa bisa kucegah dan kupilah-pilah. Bapak tidur menyandarkan punggungnya, dia tertidur dengan sesekali teratuk ke kiri.&lt;br /&gt;Kemudian senja yang berwarna jingga itu mulai berganti gelap. Gelap di luar tapi lebih gelap di dalam gerbong keretaku. Sampai stasiun Bangil Bapak mengajakku pindah ke gerbong depan. Kata bapak tidak aman karena gerbongku kini telah sepi dikarenakan sebagian besar penumpang turun di Surabaya. Ketika berjalan menuju gerbong depan kami memergoki sepasang manusia sedang asyik bergumul dalam kegelapan.&lt;br /&gt;Ternyata gerbong depan pun tak banyak berpenumpang, lebih dari separuh kursi kosong. Bapak meletakkan tasku di pipa-pipa besi di atas tempat duduk. Kemudian dia merebahkan diri, berbantalkan tas yang berbentuk seperti tabung. Tak lama bapak tertidur mendengkur.&lt;br /&gt;Aku pun mencoba untuk memenjamkan mata, aku merasa sangat lelah menempuh sepuluh jam perjalanan, ingin tidur, ingin istirahat, karena kereta sampai di stasiun Jember kira-kira masih 4 jam lagi. Entah mengapan, tiba-tiba aku ingin melihat keluar, melongok melalui jendela kereta yang melaju lamban, ingin kucari bintang atau bulan yang bersinar di hamparan langit hitam.&lt;br /&gt;Semenjak kecil aku memang telah mengagumi langit, dalam keadaan apapun langit selalu terasa indah bagiku. Jika subuh langit berwarna ungu, jika siang berwarna putih kebiru-biruan, ketika petang jingga itu sangat menantang dan memberi semangat, ketika mendung akan lautan awan bergumpal-gumpal membentuk berbagai lukisan imajinasi. Bila hujan, langit akan terbelah oleh tajamnya pisau petir bersuara menggelegar. Dan langit malam adalah favoritku, karena kondisi langit—menurutku— sangat mempesona ditaburi jutaan bintang dan bulan yang menghiasinya.&lt;br /&gt;Langit itu kuintip dibalik kaca memar jendela keretaku. Bapak sudah tidur dan mendengkur sangat keras. Hingga penumpang di sebelahku merasa terganggu seranya melirik dengan mata mengisyaratkan protes kepadaku. Tapi tidak sampai hati membangunkan bapak dari tidurnya, karena aku tahu dia sangat lelah, takkan kubangunkan bapakku dan menjalani lagi hidup yang sangat melelahkan ini, kubiarkan bapak tidur dan mendengkur sangat keras&lt;br /&gt;Kuamati seluruh lorong kereta yang gelap, gelap yang asing, asing yang membuatku merasa sesak dan lemah. Kemudian aku melihatmu, wajahmu kulihat jelas meski gerbong ini gelap, kita saling bertatapan. Tapi kenapa kau tidak menyapaku? Mengapa pula kau tidak beranjak dan berpindah menuju kursiku. Mengapa pula aku tidak mengetahuimu semejak awal kalau kau menumpangi kereta yang sama denganku, dan sekarang kita satu gerbong. Tak taukah aku sungguh kangen ingin memelukmu dan memastikan kau dalam keadaan sehat, aku ingin segera bercerita banyak hal padamu, juga mengenai perselisihanku dengan bapak, aku telah menyakiti hatinya dan ini menyangkut kau kekasihku, tapi bukan hanya bapak saja yang tersakiti atas perselisihan itu, aku justru sebagai orang yang lebih menderita atas perselisihan tersebut. Sungguh, sayang, kemarilah, mendekatlah, ingin segera kutumpahkan kepadamu segera semua unek-unek yang mengisi penuh tempurung kepalaku, tanpa tersisa berbagi denganmu.&lt;br /&gt;Tapi kau hanya memandangku dari kejauhan, dan siapa perempuan di sebelahmu itu? Siapakah dia? Aku ingat, sepertinya aku memang mengenalnya. Aku ingin mengingat-ingat siapa perempuan itu, tapi kemudian kau mengelus-elus dadanya. Apa yang kau lakukan pada perempuan itu kekasihku?&lt;br /&gt;Kau mencumbuinya dengan kebanggaan luar biasa yang sengaja kau pamerkan padaku. Kemudian tanganmu yang lentik itu berlahan menyusuri pahanya yang berbalut rok berbahan katun itu berlahan. Lalu kenapa kau memasukkan tanganmu jauh…jauh kedalam, aku tak tahu pasti apa yang kau lakukan dengan tangan atau jari-jari mu, yang kutahu perempuan itu mendesis-desis seperti ular, dan tanganmu semakin tak beraturan mengeranyangi seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;Aku melihat dengan jelas semua yang kau lakukan padanya dan aku melihat sinar mata yang penuh kemenangan meruntuhkan seluruh keberanianku untuk melarangmu. Segera kuurungkan niatku untuk menghampirimu, sayangku.&lt;br /&gt;Kini aku mulai berteriak-teriak hingga seluruh gerbong bangun dari tidurnya. Aku berteriak supaya kekasihku malu bergumul di gerbongku. Mereka semua dalam kegelapan melongo dan menatapku seolah bertanya mengapa aku berteriak-teriak tidak jelas penyebabnya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, aku langsung mengacungkan telunjukku di tempat kekasih ku bergumul bercumbu bebas. Aku ingin kau malu dan menghentikannya, sayangku. Tapi entah apa yang terjadi, semua orang-orang malah menganggapku sudah gila, mereka bertanya mengapa telunjukku menuding-nuding seperti kesurupan.&lt;br /&gt;Mereka tak melihat apapun, mereka tak mampu melihatmu, mereka semua buta. Kemudian mereka, para penumpang itu tertidur lagi dalam sebuah perjalanan yang melelahkan dalam aroma udara besi yang memuakkan.&lt;br /&gt;Aku yakin aku melihat semua yang kau lakukan, aku melihatmu jelas bercumbu dengannya. Bahkan kini kau menghisap buah dadanya, dan yang kau lakukan kini benar-benar keterlalukan. Kau mulai membuka resleting celanamu, kau menyibakkan rok perempuan itu, dan kau menungganginya seperti menunggangi kuda, pinggulmu naik turun seperti sedang memacu kuda supaya berlari kencang-kencangnya.&lt;br /&gt;Aku tidak lagi bisa memahami apa yang kau lakukan, yang kutahu saat itu nafasku mulai sesak, dan mataku mulai panas…kemudian kedua pipiku kuyup. Di sela-sela dengkuran bapak, isakkan tangisku jelas menyanyat seperti long-longan penuh kenyerian, dan orang-orang digerbong itu semakin pulas.&lt;br /&gt;Kuputuskan untuk bersembunyi di bawah kursi kereta, aku ingin kau menghilang dari penglihatanku. Aku ingin melupakan apa yang baru saja kulihat dengan mata kepalaku sendiri.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Pukul sebelas malam akhirnya kereta tiba di kota tujuanku. Kau dan perempuanmu itu pun turun. Aku &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4t1PfzcWpI/AAAAAAAAAJc/P_5nOOYP5hc/s1600-h/mc3-takkayoga.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155343107551419026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4t1PfzcWpI/AAAAAAAAAJc/P_5nOOYP5hc/s200/mc3-takkayoga.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;sengaja tidak turun menunggu kau pergi dulu, aku juga tidak akan menyapamu..tidak akan, lagi pula untuk apa? setelah semua yang kau lakukan? Ingin kulupakan perlakuanmu yang tanpa perasan dan belas kasihan itu, seumur hidupku takkan kuingat lagi. Kulihat dari kaca yang remuk di gelap gerbong kereta ini, kau dan perempuan itu naik becak, mungkin kalian tidak akan pulang ke kost tapi mungkin saja kalian akan mememesan kamar hotel dan melanjutkan mencumbuinya sepuasmu, sekehendakmu, sayangku.&lt;br /&gt;Setelah yakin kau menghilang, kubangunkan bapak yang tertidur pulas, kemudian kami turun. Aku tidak diperbolehkan membawa barang atau tas satu pun, semua ingin ditanggung bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin langsung pulang kos karena kecapekan, tapi tunggu… Kenapa kau menghampiriku, di mana perempuan tadi. Kenapa kau tersenyum seolah tidak terjadi apapun.&lt;br /&gt;“Untuk apa kau kemari?” tanyaku.&lt;br /&gt;Dan kau menjawab ringan, “Aku menjemputmu, malam ini biar bapakmu menginap di kontraanku saja”&lt;br /&gt;Aku jadi semakin bingung,”lalu mana perempuan itu?” aku menanyaimu.&lt;br /&gt;Kau menjawab pertanyaaku seperti biasa dengan balik bertanya”perempuan mana?”&lt;br /&gt;Dari tadi aku menunggumu di sini, sudah dua jam aku menunggu datangnya keretamu, aku sedirian tidak bersama siapapun apa lagi bersama seorang perempuan”&lt;br /&gt;“Tapi tadi kau dalam gerbong di kereta itu” aku menunjuk kereta yang baru saja kutumpangi.&lt;br /&gt;kau tersenyum dan berkata “kamu salah lihat barang kali?”&lt;br /&gt;Aku semakin bingung, tubuhku menjadi terasa semakin enteng, dan pengliahatanku menjadi kabur semuanya memutih..kemudian banyangan-banyangan itu bersliweran, kenyataan, pemgalaman, kayalan, dan cerita-cerita orang-orang bersliweran tak beraturan dalam otakku yang kian mendidih, kepalaku serasa panas, namun aku masih sempat merasakan butiran-butitan dingin menetes mengenai lengan tanganku…aku masih sempat melihat ekspresi kesedihan bapak… aku merasa bapak mulai menangis dan bingung bertanya., rumah sakit mana yang letaknya ada di dekat stasiun. Setelah itu aku lupa…karena semua serba putih…semuanya mendadak menjadi serba tidak jelas dan tapi aku masih ingat, perempuan itu kau lipat dan kau simpan dalam dompetmu. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;untuk Na-ku, kemarin diam2 aq mengamatimu melihat senja itu...&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;23.50 WIB&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jember&lt;/em&gt;, 11 Januari 2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-2888030351661292256?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/2888030351661292256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=2888030351661292256' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2888030351661292256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2888030351661292256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/01/cerpen.html' title='Cerpen'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R4e0QvzcWoI/AAAAAAAAAJU/lKBuLvaWJn4/s72-c/KA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-2001376799922018545</id><published>2008-01-09T22:15:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T23:01:14.950+07:00</updated><title type='text'>Sakit Soekarno, Soeharto, dan Bangsa Ini</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Oleh&lt;/em&gt;: Endang Suryadinata&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Peminat sejarah Indonesia- Belanda, alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pernah sakit. Tak ada orang yang bisa lolos, termasukmereka yang pandai menjaga kesehatan sekalipun, kadang bisa sakit.Bahkan sekuat dan sehebat apa pun penguasa dunia ini, hidupnya jugabisa terancam sakit. Tak terkecuali dua presiden negeri ini, Soekarnodan Soeharto.&lt;br /&gt;Kita mulai dari Soekarno. Presiden Pertama RI Soekarno positifmengidap gangguan ginjal dan pernah dirawat di Wina pada 1961 dan1964. Takut ginjal kirinya diangkat, seperti disarankan Prof Dr KFellinger dari Fakultas Kedokteran Wina, Bung Karno lebih menyukaiobat tradisional China atau melakukan akupunktur. Selama menjadiPresiden, layanan kesehatan untuk mengatasi sakit Bung Karno masihbaik-baik dan proporsional.&lt;br /&gt;Namun, setelah peristiwa kudeta merangkak, yakni Supersemar 1966, dansecara perlahan tetapi pasti kekuasannya “dipreteli”, layanankesehatan kepada Bung Karno bisa dikatakan amat tidak memadai, bahkansangat minim. Bayangkan, untuk urusan sakit gigi saja, Bung Karnoharus diawasi ketat, padahal dia masih menjabat sebagai presidenhingga Maret 1967.&lt;br /&gt;Kisah itu boleh jadi pernah kita baca dari buku yang ditulis drg OeiHong Kian, dokter gigi pribadi Bung Karno, seperti pernah ditulismajalah Intisari.&lt;br /&gt;Kisahnya terjadi pada Januari 1967, saat drg Oei Hong Kian diminta keIstana Negara karena Bung Karno sakit gigi. Karena peralatan gigi diIstana sudah amat kuno, terpaksa alat-alat Dr Oei diangkut ke Istana.Pasalnya, saran drg Oei Hong Kian agar Bung Karno dirawat di tempatpraktiknya tidak diterima.&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, ketika Bung Karno harus terusir dari istana, pasca-Soeharto diangkat jadi Pejabat Presiden pada Maret 1967, secara resmiBung Karno menjalani karantina atau tahanan rumah di Bogor. Sejaksaat itu, layanan untuk mengatasi sakit Bung Karno bisa dikatakankurang bagus. Dunia luar, bahkan keluarga dekat Bung Karno, pun tidaktahu kondisi Bung Karno yang sebenarnya. Yang sedikit kita tahu,menurut pengakuan Mahar Mardjono, saat Bung Karno sakit, obat yangdiresepkan hanya disimpan di laci karena ada pesan demikian.&lt;br /&gt;Tidak heran jika kemudian menyebar kasak-kusuk Soekarno ditelantarkanatau dibiarkan menderita sakit tanpa penanganan medis memadai. Dariucapan Mahar Mardjono kita tahu, ternyata dokter di Indonesia masihbelum bisa independen karena masih bisa ditekan oleh kekuatan politiksehingga standar pelayanan medis yang sepantasnya tidak diberikankepada pasien. Tidak heran di saat-saat akhir hidupnya, fisik BungKarno tampak sangat memprihatinkan.&lt;br /&gt;Akhirnya sosok kelahiran Blitar, 6 Juni 1901, itu wafat dalamkesepian pada 20 Juni 1970, tanpa ada liputan semarak media.Kenyataan pahit akan sakitnya Bung Karno selama ini ditutupi, padahalseharusnya para saksi sejarah berani berbicara untuk mengungkap apayang sebenarnya terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelayanan Soeharto&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pelayanan terhadap Soekarno berbeda sekali dengan pelayanan medisuntuk Soeharto pascalengsernya pada 21 Mei 1998. Tim dokter langsungdibentuk, bahkan berasal dari dokter-dokter terbaik negeri ini.Bahkan, ketika baru-baru ini ada yang tak beres dengan usus PakHarto, operasi dengan tenaga serta alat-alat medis tercanggih pundilakukan. Para pejabat negara atau tamu-tamu lain berdatanganmembesuk. Kita gembira melihat mantan orang kuat Orba itu sembuh,seperti diberitakan Kompas (9/5).&lt;br /&gt;Jadi, pelayanan medis kepada para mantan presiden seharusnya sepertiyang diberikan kepada Soeharto. Juga dengan liputan media yang luassehingga rakyat tahu akan kondisi mantan presidennya. Tidak perlu adasejarah yang ditutupi. Kita tidak perlu dendam pada Soeharto, tetapiproses hukum terhadapnya perlu dilakukan demi kejelasan sejarah.Setelah proses hukum selesai, kita semua harus rela memaafkanSoeharto, seperti disarankan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Otokritik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jika menyimak sakit Bung Karno, kemudian sakit Soeharto, ada sesuatuyang membuat kita harus berani melakukan otokritik. Ternyata, jujurharus diakui, kita sering diliputi ketakutan menatap sejarah parapemimpin kita, yang di dalamnya juga terangkum sejarah masa lalu kitasebagai bangsa. Sikap demikian jelas tidak menunjukkan kematangansama sekali.&lt;br /&gt;Akibatnya, seperti dikatakan Amien Rais di berbagai kesempatan, kitasebenarnya merupakan bangsa yang sakit. Meski berbagai diagnosissudah dilakukan, di antaranya meminta bantuan IMF dan Bank Dunia,penyakitnya belum sembuh, bahkan kian parah.&lt;br /&gt;Yang lebih menyedihkan, kita juga menjadi bangsa besar yang amatminim dengan rasa percaya diri. Kita sering dihinggapi rasa minder,boleh jadi karena utang kita yang 150 miliar dollar AS. Kitaberkewajiban agar bisa sembuh dari sakit dan kembali menggapaikejayaan seperti di era Majapahit. Bagaimana caranya?&lt;br /&gt;Tentu ada banyak jawaban. Tetapi, dari perspektif sejarah, kita perlumenjadi bangsa yang berani menatap masa lalu. Misalnya, hingga kinimasih banyak kasus dari masa lalu yang coba ditutupi, mulai dariTragedi 1965 hingga Tragedi Mei 1998. Ada jutaan korban atau anakcucu korban yang masih terstigma oleh kasus ini atau itu.&lt;br /&gt;Konyolnya, pemerintah sendiri takut menghadapi kenyataan sejarah. Inibisa dibaca dari terbengkalainya RUU Komisi Kebenaran danRekonsiliasi yang diundangkan Presiden Megawati Soekarnoputri, 6Oktober 2004. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang seharusnyaterbentuk 6 April 2005 belum bisa dibentuk di era Presiden SusiloBambang Yudhoyono (Kompas, 22/4). Konyolnya, banyak orang meremehkanrekonsiliasi. Untuk apa? tanya mereka.&lt;br /&gt;Padahal, meremehkan rekonsiliasi sama dengan meremehkan masa laluatau mengabaikan sejarah sendiri. Akibatnya, kita tetap menjadibangsa yang gagal. Bukan bangsa yang unggul, seperti diharapkanSusilo Bambang Yudhoyono. Tocqueville (1805-1859) mengingatkankita, “Karena masa lalu gagal menerangi masa depan, benak manusiamengelana di tengah kabut”.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-2001376799922018545?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/2001376799922018545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=2001376799922018545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2001376799922018545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2001376799922018545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/01/sakit-soekarno-soeharto-dan-bangsa-ini.html' title='Sakit Soekarno, Soeharto, dan Bangsa Ini'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-9023902837924412482</id><published>2008-01-06T16:13:00.000+07:00</published><updated>2008-01-06T16:17:58.415+07:00</updated><title type='text'>Gerimis</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oleh: R. Indira Hapsari&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Malam adalah kesunyian, di luar hujan gerimis. Kutinggalkan rumahku tak berpenghuni, cahaya yang menerangi rumah pun kuajak, kubiarkan saja gubuk gelap gulita.&lt;br /&gt;Menyusuri jalan menunuju kali dengan langkah lamban, karena berhati-hati. Kutembus hawa sejuk yang gelap oleh siluet pohon pring ditepi jalan. Rintik air yang jatuh dari atas tak mampu menampar wajahku, mataku pun masih mampu melihat gendruwo dan wewe di seberang kali yang hening dan mencekam. Sesekali aku mendengar iblis tertawa menggelegar, biar saja...! kali ini aku takkan menghiraukan apakah iblis itu mentertawakanku atau tidak.&lt;br /&gt;Lampu minyak ditangan kiriku menyala kecil seperti banaspati mungil. Senyap...langkahku tak terdengar. Sandal jepitku satu-satunya digondol asu milik tetanggga, sandal jepit dianggapnya mainan, seperti balita yang berjingkrak bersama boneka barunya.&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun juga aku lebih menghormati asu dari pada binatang apaupun, bahkan dari pada menungso yang selalu tergantung. Paling tidak asu bisa bertahan hidup tanpa menjadi parasit. Asu biasa mencari makanan sediri, tidak pernah ditemukan asu mati karena tidak diberi makan majikannya. Asu adalah binatang setia, selalu melindungi majikkan seperti di serial komik tin-tin. Tokoh Tin-tin dan asunya yang bernama Timmy, aku selalu disuguhi cerocos petualangan Tin-tin dan Timmy yang sangat diidolakan cucuku. Cucu laki-laki satu-satunya dari anak perempuanku yang tidak bersuami, suaminya menghilang tanpa jejak, sebelum ia sempat bertanya kepada kami para perempuan, mengenai keterkaitan senggama dengan cinta dan tanggung jawab.&lt;br /&gt;Kunikmati lempung lengket dan duri-duri semak yang tak sengaja terinjak oleh kakiku yang telanjang. Lalu kulangkahkan kaki untuk melampaui jembatan tua yang jika kuinjakkan kakiku di atasnya maka akan berderit, mengeluarkan bunyi “krrreeeek”.&lt;br /&gt;Jembatan dari kayu kulampaui, tujuanku adalah seberang kali. Jembatan yang dibangun ketika umurku tujuh tahun. Orang-orang membangunnya beramai-ramai. Truk raksasa mengangkut potongan kayu-kayu pondasi jembatan. Yang sangat kuingat adalah sopir truk berperawaan seperti buto, berwajah masam, memakai kaca mata hitam dan handuk kumal selalu tersampir di lehernya. Handuk itu selalu dia gunakan untuk mengelap mukanya dengan kasar saat berkeringat.&lt;br /&gt;Mbokku mengatakan, “Kalau kau nakal, maka akan dijadikan tumbal pembangunan jembatan. Mereka akan menculikmu dan memasukkanmu dalam karung, kemudian kepalamu dipenggal dan ditanam di dasar kali sebagai fondasi jembatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Pekerjaan ini memang tidak mudah, tapi entah perasaan kuat selalu mendorongku untuk melakukannya. Sejak sepuluh tahun lalu desa ini mengalami bencana banjir dan tanah longsor yang mengubur hidup-hidup keluarga kecil yang kumiliki, anak perempuanku dan cucu satu-satunya terkubur tanah longsor, meratakan rumah kami yang renta, menggulung tanaman katu, kangkung, bayam, lombok, kates dan pisang disamping rumah. Kuntum mawar, melati dan kelopak bunga sepatu luluh lantak bercampur kesunyian dan harapan kami, hanyut, remuk, tertimbun bersama lumpur dan puluhan orang lainnya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Sejak petang tadi hujan mengguyur deras, aku kesini hanya memastikan untuk mewaspadai terjadinya bencana banjir ataupun longsor.&lt;br /&gt;Mereka memang tak memikirkan nasib wong cilik seperti kami. Seolah bencana sepuluh tahun lalu hanya berita kosong mlompong tak bermakna yang dicetak surat kabar, namun hingga sekarang tak ada keniatan untuk merimbunkan lagi hutan di lereng gunung ini. Huh, mereka semua sembrono..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jember, tahun 2006 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-9023902837924412482?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/9023902837924412482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=9023902837924412482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/9023902837924412482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/9023902837924412482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/01/gerimis.html' title='Gerimis'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-8394992354912663917</id><published>2008-01-05T18:08:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T18:29:10.744+07:00</updated><title type='text'>Sinetron, Penebar Cinta Palsu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;*Oleh: R. Indira Hapsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi merupakan media informasi yang sangat mendominasi kehidupan masyarakat. Bukan hanya kalangan atas, TV tidak lagi barang mewah yang sulit didapatkan pada kehidupan masyarakat miskin. Bila kita jeli, di gubuk-gubuk dan perumahan kumuh di sudut-sudut kota yang hanya terdapat satu ruangan sebagai tempat tinggal sebuah keluarga, disana dengan mudah bisa kita temukan TV nangkring manis diantara kasur untuk tidur bersama (tanpa sekat antara orangtua dan anak-anak), sekaligus ruang keluarga bahkan terkadang juga ruangan seadanya tersebut mendadak menjadi dapur.&lt;br /&gt;Ada hal yang aneh yang menimpa pada hampir seluruh stasiun TV di Indonesia, yaitu ketidakseimbangan prosentase acara-acara di televisi yang sangat mengejutkan. Menurut data sebuah buku yang berjudul ”Matikan TV-mu” TV di Indonesia, 60% lebih acaranya adalah hiburan, seperti gosip dan sinetron. Sisanya, dengan prosentase yang minim adalah berita, namun kualitas, substansi maupun transformasi informasi yang positif masih patut dipertanyakan. Pasalnya, berita dalam kemasan khusus pemberitaan kriminalitas justru semakin menaikkan emosi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan hidup akibat mahalnya kebutuhan yang semakin menuntut untuk segera dipenuhi, ironisnya pada saat itu masyarakat sekaligus menjadi manusia yang gampang menyerah karena sinetron-sinetron yang bertopeng agama melemahkan keberanian dan inisiatif untuk mempertanyakan ketidakadilan yang menimpa. Selain itu tanpa ampun masyarakat terus menerus diteror oleh gaya hidup artis-selebritis, yang menebarkan budaya glamour hingga menginjeksi kesadaran manusia untuk sekedar menjadi konsumen.&lt;br /&gt;Sinetron remaja yang didominasi oleh cerita cinta, akan tetapi sebatas cinta ekslusif antara sepasang kekasih yang sifatnya dangkal dan pragmatis. Yang ditonjolkan biasanya berupa fasilitas-fasilitas mewah, cara berdandan yang mencolok, saling memberikan kado sebagai pernyataan kasih-sayang, semakin mahal kado tersebut berarti semakin terbukti keseriusan cinta. Bagaimana mungkin kualitas cinta bisa direduksi oleh sogokan-sogokan materiil dan kemudahan hidup? Kenyataannya memang sinetron remaja tidak menggambarkan wajah relasi kasih yang demokratis, kreatif dan produktif, namun sebaliknya dangkal, materialistik, mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan mengabaikan kapasitas berfikir manusia. Hingga pemahaman cinta yang sebenarnya memudar bahkan terkadang justru menjadi lelucon dalam sinetron. Makna cinta dan saling mengasihi terhadap lingkungan dan relasi yang lebih besar telah terabaikan.&lt;br /&gt;Fenomena yang terjadi kini secara tidak sadar segala kegiatan manusia dalam beraktivitas menjalani kehidupan sehari-hari, dalam berhubungan dengan orang lain, dengan sesama manusia, dikendalikan oleh hubungan pertukaran jual-beli, di mana uang sebagai simbol pertukaran memainkan peran penting. Hubungan itu terlembagakan dalam keinginan, pikiran, nafsu, penalaran, kesadaran, dan dalam waktu yang lama terendap dalam alam bawah sadar; kemudian menjadi watak psikologis setiap manusia yang hidup dalam dunia materialistik ini.&lt;br /&gt;Memang di era pasar bebas seperti sekarang ini, di mana hubungan produksi juga mengadopsi simbol berupa uang, maka watak dan pola relasi antar manusia dikendalikan oleh hubungan produksi yang disimbolkan oleh uang. Uang dan barang mengatur hubungan manusia: uang adalah alat komunikasi, dan juga pelembagaan nilai-nilai yang dianggap ideal. Pertukaran yang tidak langsung karena adanya alat uang ini, juga berakibat pada dimunculkannya kategori-kategori apa saja yang bisa digunakan untuk menghasilkan uang. Kategori ini disebut faktor produksi: di dalamnya termasuk modal (atau uang itu sendiri), tanah, tenaga kerja (manusia), dan apa saja yang bisa digunakan untuk menghasilkan uang; pada perkembangannya termasuk ide-ide, citra (image), bahkan agama dan kebohongan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menggapai Cinta Sejati&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam menjaga hubungan eksklusif dan cara mengekspresikan rasa sayang atau cinta seharusnya bukan hanya kata atau konsep, atau juga keindahan yang bisa diperjual-belikan. Kasih sayang tidak dianggap sebagai hubungan dan upaya menciptakan lembaga dan undang-undang yang memungkinkan hubungan itu didasari oleh pemberian dan penerimaan secara tulus tanpa klaim-klaim kepemilikan pribadi dan keunggulan antar sesama. Esensi kasih-sayang adalah pemberian tulus-ikhlas untuk menuju otentisitas manusia sebagai subjek, bukan objek. Hilangnya cinta ternyata tidak dipahami dari hilangnya komunikasi yang sehat dan keharmonisan hubungan, masyarakat yang hidup dalam warna pemberian dan penerimaan sebagai akibat hubungan dagang dan komersial dalam sistem kapitalisme ini masih menganggap bahwa cinta komersial, terutama dari sektor propaganda lewat iklan, artis dan film populer ataupun sinetron, yang diteriakkan tanpa sadar.&lt;br /&gt;Sehingga berkaitan dengan konsep cinta, rekayasa nilai-nilai komersial yang telah merasuk pada kesadaran manusia telah menghilangkan elemen-elemen terdasar dari cinta sejati, yaitu relasi kasih yang tidak melupakan relasi lebih luas yang sifatnya lebih permanen serta dapat dipertanggungjawabkan. Dan untuk merekonstruksinya kembali, diperlukan ikhtiar kemanusiaan yang harus didukung oleh syarat-syarat sosial-politik untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Jember; aktivis KiPaS (Komite Independen Perempuan dan Anak untuk Aksi Sosial) Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-8394992354912663917?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/8394992354912663917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=8394992354912663917' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8394992354912663917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/8394992354912663917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2008/01/sinetron-penebar-cinta-palsu.html' title='Sinetron, Penebar Cinta Palsu'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1692556939627887305</id><published>2007-12-24T20:20:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:46.951+07:00</updated><title type='text'>Cerpen</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R2-1_PzcWnI/AAAAAAAAAJM/aN2-x4TPieg/s1600-h/30+Juni+2007.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147532997286451826" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" height="175" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R2-1_PzcWnI/AAAAAAAAAJM/aN2-x4TPieg/s200/30+Juni+2007.JPG" width="212" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Pemberontakan Kecil&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Ken Ratih Indri Hapsari&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ia sisir lagi jalan itu. Bulan sabit dan jutaan bintang di langit membujuknya mengakui keesaan-Nya. Dalam malam itu ia berjalan, tubuhnya gemetar kedinginan, nyaris beku.&lt;br /&gt;Ia menapak tilas pergerakan siang tadi bersama 25 kawannya yang merindukan kemenangan rakyat. Sungguh melempar diri ke jalanan bukanlah hal sulit. Hanya butuh kesadaran, keberanian, dan cinta. Karena cinta tanah ini, maka menjaganya dengan keberanian sampai ujung kematian.&lt;br /&gt;Di perjalanan itu ia bertanya. Begitu sulitkah untuk mencintai pertiwi ini? Ah…tentu saja ngapain repot-repot mikir negara, lebih enak jalan-jalan di mall, terus belanja macam-macam aksesoris, supaya mirip bintang pujaan di televisi. Yeah…kapitalis memang cerdik. Kini rasa nilai-nilai yang diyakini manusia terjungkir balik. Cinta, tawa, nafsu, maut, kepedihan semuanya terbalut kehampaan luar biasa. Marx benar ‘kapital menukarkan setiap kualitas dan objek dengan setiap yang lainnya, sekalipun kualitas itu saling bertentangan. Maka kesadaran dan idealisme tidak akan dihargai, dicemooh, dibenci, karena kualitas dan obyek yang teralienasi.’&lt;br /&gt;Sesaat ia berlari cepat menjauhi ceceran darah di jalanan, darah juang yang menyegarkan pertiwi lebih berharga dari air paling suci. Ia ingat siang tadi kawannya dipukul aparat berkali-kali.&lt;br /&gt;Lalu ia berlari cepat dan tak perlu dibutuhkan kehati-hatian. Ia pecah gelombang udara malam yang kian menyergap dari segala arah. Ia ingin melupakan tragedi siang tadi. Melupakan memang sangat mudah, namun ia kesulitan untuk tidak mengundang kenangan dan menikmatinya.&lt;br /&gt;Kenangan yang memilukan dan semakin menegaskannya pada suatu perlawanan. Rasa muak terhadap ketidakadilan, keinginan untuk memberontak sangat sulit untuk ditunda. Dan kesadaran untuk bergerak tidak butuh pengorganisasian, tapi malah mengoordinir, di sini kemurnian gerakan lahir, takkan pernah ada tawar-menawar.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan itu terlihat sesekali ia menangis. Ia merasa kasihan karena banyak teman turutserta melanggengkan kesenangan semu. Terbukti di kampus begitu banyak bersliweran robot yang pikirannya dipenuhi keinginan untuk belanja, bergaya, hura-hura. Semakin lengkap ke-robotannya ketika sekedar menjadi celengan teori-teori anti realitas yang dikotbahkan dosen yang tak lain hanya budak-budak kurikulum. Hasilnya temannya mampu memisahkan, mana yang akademis dan non akademis. Seharusnya kita menolak jika hanya menjadi celengan teori-teori, kecuali kita memang celeng, Lengjilengbeh, celeng siji celeng kabeh hua…hua…hua…hu…hu…hu…&lt;br /&gt;Di sela tangisnya yang kian meraung ia bertanya, bagaimana mungkin hal yang manusiawi dan kegiatan akademis dapat dipisahkan? Bukankah manusia dan ruhnya merupakan satu kesatuan? Kecuali pendidikan memang belum pernah menyentuh jiwa humanis kita.&lt;br /&gt;Lalu tiba-tiba ia berhenti menangis dan tertawa kecil-tawa kecemasan. Kapitalisme memang bagaikan kerajaan. Bila kita memasuki kerajaan itu, maka segala sistemnya akan mengungkung dan memberi kenikmatan yang luar biasa. Kapitalisme seperti arus yang yang sangat besar.&lt;br /&gt;Sejenak ia berhenti tertawa. Lalu ia bertanya, mengapa harus ikut arus itu? Tapi apakah berdaya kita melawan arus yang begitu besar? Ehm… mungkin lebih aman kita minggir saja dari arus? Ia begitu kebingungan dengan pertanyaan yang menyeruak dengan tiba-tiba. Lalu ia berhenti berjalan dan tersenyum. Ya…ya…kita ciptakan saja arus baru. Arus alternatif yang ideal, bukankah sebuah awal dari perlawanan? Arus yang mampu membawa nelayan miskin mencari ikan sebanyak-banyaknya. Ha…ha…ha…, ia tertawa tulus dan meneruskan perjalanan.&lt;br /&gt;Kini ia berhenti dan memungut sesuatu dengan ruh bergetar, lebih dasyat dari gemetarnya tubuh akibat dinginnya angin yang menusuk pori-pori kulitnya. Ia pungut baju berwarna hitam, baju itu milik kawannya. Dia mencopotnya siang tadi untuk menghentikan aliran darah di kepalanya, meskipun itu mustahil. Darah terus mengalir akibat pukulan tongkat aparat yang mengatasnamakan ketertiban, tapi sesungguhnya hanya melakukan perintah atasannya.&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;Kemarin, kawan-kawannya di Semarang membakar seragam, simbol kegagahan mereka(?). Lalu aparat marah. Dengan membabi buta, mereka mencari, manangkap, dan menganiaya, hingga 2 kawannya harus menginap di RS. Dan itu hal biasa, sama sekali tidak menyakitkan, karena Ibu pertiwi selalu membelai lembut setiap bentuk perjuangan yang murni.&lt;br /&gt;Anehnya, perlawanan itu sama sekali tidak muncul di media apapun, bahkan televisi sekalipun.&lt;br /&gt;Rupanya negara takut akan meluasnya gerakan yang mengkontrol pemerintahan korup. Para jendral malu terkuaknya kebenaran bahwa militer memang melanggar HAM, dan hanya mengenal satu komando ‘membunuh atau dibunuh!’.&lt;br /&gt;Televisi lebih untung menyodorkan AFI dengan artis instannya yang berjingkrak, mengenakan topeng kosmetika, menyuguhkan tayangan sepak bola dengan pemainnya tak lebih seperti seonggok daging yang diperjual belikan dengan harga sangat mahal, atau menayangkan janji-janji kosong para penguasa.&lt;br /&gt;Tuhan tak lagi cemburu pada jimat, demit, dukun. Tuhan cemburu pada artis, uang, penguasa negara yang setiap saat dipuja umat-Nya.&lt;br /&gt;Ia buang baju hitam yang penuh darah ke tepi jalan. Tanpa rasa kehilangan, karena ia memang tidak suka mendramatisir sesuatu. Lalu ia bertanya, begitu berhargakah seragam bagi militer? Mengapa? Begitu berhargakah bendera pertiwi merah putih? Mengapa?&lt;br /&gt;Siapa yang mengklaim bahwa membakar merah putih adalah makar? Mengapa? Merah putih hanyalah simbol. Jika di pertiwi ini masih berserakan anak-anak jalanan, kemiskinan, penindasan, kesinisan terhadap perempuan, pendidikan yang tidak merata, apalah arti bendera? Bakar saja! atau dibuat celana dalam untuk menutupi kemaluan anak-anak pemulung yang tidak punya pakaian. Lebih bermanfaat ketimbang dipajang pada tiang tertinggi.&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;Ia jadi teringat teman-temannya yang senang mendiskusikan pakaian. Dari pakaian yang tidak menutup pusar pemakainya, sampai cadar yang dipakai ikwan lain. Dalam diskusi sesekali teman-teman mengejek model-model pakaian itu. Lalu muncul pertanyaan, “mengapa menghiraukan model dan varian-varian pakaian? Mengapa tidak berempati seandainya kita tidak punya pakaian yang layak? mengapa pemulung tak mampu membeli pakaian? sedangkan di sisi lain ada orang yang mampu membeli apapun, bahkan pelacur, adilkah?”&lt;br /&gt;Temannya menjawab, “tentu saja adil! bukankah orang menjadi kaya karena perjuangan?dan si kaya berhak menikmati kekayaan itu!”&lt;br /&gt;Lalu ia menjawab, “persis teori Weber dalam ‘Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme’. Bahwa seseorang akan meningkat klas-statusnnya dengan cara bekerja keras dan berhemat. Yang menjadi pertanyaan, Seseorang yang tak mampu membeli pendidikan, mampukan dia bekerja sesuai keinginan? Seberapa banyak sih uang yang dapat di tabung pemulung? Sedangkan untuk makan masih kurang.&lt;br /&gt;Lalu temannya menyeletuk, “salah sediri kenapa miskin?!”&lt;br /&gt;Dan ia balik bertanya pada temannya, kalau begitu kau menyalahkan Tuhan? Bukankah Tuhan maha benar. Kau berkata seolah Tuhan telah menjebak pemulung dengan segala kemiskinannya. Kau menginginkan Tuhan memberi pilihan? Bahwa sebenarnya manusia berhak menentukan hidupnya, termasuk apakah sebenarnya dia ingin hidup atau tidak.Tapi temannya acuh dan beralih membicarakan ponsel keluaran terbaru.&lt;br /&gt;* *&lt;br /&gt;Ia terus berjalan menjauh dari tempat ia membuang baju hitam dengan aroma darah kering yang lebih harum dari melati, lebih merah dari mawar. Menjauh, ia melangkah dalam kesenyapan yang begitu malam. Ini jalan yang menyediakan segala sesuatu bukan untuk dikuasai atau menguasai.&lt;br /&gt;Ia tinggalkan alur perjuangan, namun ia tidak berusaha memisahkan, karena segalanya saling bertautan.&lt;br /&gt;Ia mengundang kenangannya bersama kekasih, hingga memenuhi seluruh ruang pikirannya. Ia biarkan kerinduan pada kekasihnya meranum, menggeliat dalam jiwanya. Hingga hanya dapat dituntaskan dengan sebuah pertemuan. Pagar yang tertutup dan sudah karatan, harus kembali membuka diri.&lt;br /&gt;Ia duduk dengan sahabatnya yang juga kekasihnya. Dalam kebisuan, karena sesungguhnya bahasa tak mampu mengapresiasikan makna kasih diantara mereka, perasaan cinta yang begitu dalam. Tanpa campur tangan alur cinta sinetron yang terlalu dibuat-buat, sehingga pemuda-pemudi menangisi hal-hal remeh.&lt;br /&gt;Ia dan kekasihnya telah sepakat untuk saling memberi, demi diri masing-masing. Lalu ia bicara pada kekasihnya, namun lebih mirip ratapan. Bukankah suatu kehebatan ketika kita mengungkapkan rasa cinta dengan cara mencintai? Setiap manusia memiliki sisi romantis dan melankolis, dan itu kutumpahkan padamu. Kengiluanku, kegembiraanku, hasratku tertuju untukmu.&lt;br /&gt;Dan aku yakin kau meragukan ketangguhanku, seperti akupun kepadamu. Karena semuanya adalah keraguan. Descartes benar ‘satu hal yang pasti adalah kita tak ragu bahwa kita benar-benar meragukan sesuatu’.&lt;br /&gt;Lalu ia ingin memeluk kekasihnya. Cinta mampu membawa mereka pada suatu perlawanan dan menebarkan kasih secara universal. Cinta seperti perintah malaikat untuk berbagi keringatmu dengan keringat orang-orang terpingirkan yang tergilas peradaban yang tak beradab.&lt;br /&gt;Mereka membisu didekap erat kegalauan, kengerian, juga kegelian atas stereotif ‘anarkis’ yang diberikan pada mereka. Seperti penipuan orba dengan awas bahaya laten komunis’ untuk membantai rakyat, yang mendukung musuh politiknya, dan dipaksa mengaku komunis.&lt;br /&gt;Jika rakyat tersebut bersalah pada negara mengapa mereka dibantai tanpa proses peradilan? Bukankah negara ini negara hukum? Mengapa tragedi pembantaian sengaja dihilangkan dari sejarah? Bukankah menyembunyikan secuil sejarah, merupakan indikasi ketidakberesan suatu pemerintahan?&lt;br /&gt;Malam merangkak penuh gairah, lalu ia mengatakan sesuatu pada kekasihnya, aku bukanlah venus yang mengunjungi matahari hanya sebentar. Tapi aku dan kamu adalah matahari dengan segala cahayanya yang tidak menyukai kegelapan yang sengaja disembunyikan.&lt;br /&gt;Mereka berdua kemudian terdiam dan terlibat suatu petualangan. Petualangan yang mempunyai suatu perasaan dan memerlukan perasaan yang kuat untuk mengidahkan keadaan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya mereka sekedar memiliki segudang kritik dan cita-cita yang sangat mulia, namun tidak memiliki jalan yang jelas menuju destinasi mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Prima-Fak ISIP UNEJ Juli 2004 dan dalam bentuk yang lebih sederhana dimuat di Majalah Paroki (majalah umat Kritiani-Jember) di akhir tahun 2006.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*Foto dijepret saat purnama bulan Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*&lt;em&gt;Kupersembahkan untuk kawan terbaikku yang tak pernah mau berhenti menguatkan:Na&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Meski cerpen ini ku akui jauh dari apik untuk orang se-apik kamu: Selamat Natal &amp;amp; Tahun Baru, NA-q..&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1692556939627887305?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1692556939627887305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1692556939627887305' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1692556939627887305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1692556939627887305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/cerpen.html' title='Cerpen'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R2-1_PzcWnI/AAAAAAAAAJM/aN2-x4TPieg/s72-c/30+Juni+2007.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-7273189850805868899</id><published>2007-12-23T16:43:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:47.780+07:00</updated><title type='text'>Kisah Perempuan Buruh Tambang yang Menolak Dilecehkan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R240vPzcWmI/AAAAAAAAAJE/41yBBVmkLSQ/s1600-h/b_down_poster.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147109410431851106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R240vPzcWmI/AAAAAAAAAJE/41yBBVmkLSQ/s200/b_down_poster.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R24zC_zcWlI/AAAAAAAAAI8/af5qQixvMCY/s1600-h/NC4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147107550711011922" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R24zC_zcWlI/AAAAAAAAAI8/af5qQixvMCY/s200/NC4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;North Country&lt;/span&gt; (film)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R24xJ_zcWgI/AAAAAAAAAIU/x1YXtQw3BqI/s1600-h/NC5.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5147106575753435698" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R24yKPzcWjI/AAAAAAAAAIs/OvNkqQKn8Uk/s200/NC2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;North Country adalah sebuah &lt;a title="Film" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Film"&gt;film&lt;/a&gt; tahun &lt;a title="2005" href="http://id.wikipedia.org/wiki/2005"&gt;2005&lt;/a&gt; garapan sutradara &lt;a class="new" title="Niki Caro" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Niki_Caro&amp;amp;action=edit"&gt;Niki Caro&lt;/a&gt;. Film ini erdasarkan kisah nyata kasus &lt;a class="new" title="Jenson v. Eveleth Taconite Co." href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jenson_v._Eveleth_Taconite_Co.&amp;amp;action=edit"&gt;Jenson v. Eveleth Taconite Co.&lt;/a&gt; dan terinspirasi dari buku Class Action karangan Clara Bingham dan Laura Leedy Gansler. Syuting dilakukan sejak Februari 2005 bertempat di &lt;a title="Minnesota" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minnesota"&gt;Minnesota&lt;/a&gt; bagian utara (termasuk kota &lt;a class="new" title="Eveleth" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Eveleth&amp;amp;action=edit"&gt;Eveleth&lt;/a&gt;), &lt;a title="Minneapolis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minneapolis"&gt;Minneapolis&lt;/a&gt;, dan &lt;a title="New Mexico" href="http://id.wikipedia.org/wiki/New_Mexico"&gt;New Mexico&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ikhtisar cerita:&lt;br /&gt;Film ini menceritakan perjuangan seorang wanita yang bekerja di &lt;a title="Tambang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tambang"&gt;tambang&lt;/a&gt;, yang mengalami &lt;a class="new" title="Pelecehan seksual" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pelecehan_seksual&amp;amp;action=edit"&gt;pelecehan seksual&lt;/a&gt; dan melancarkan tuntutan class-action (&lt;a class="new" title="Tuntutan hukum" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tuntutan_hukum&amp;amp;action=edit"&gt;tuntutan hukum&lt;/a&gt; oleh seseorang atau sekelompok orang yang memiliki masalah yang sama terhadap orang/lembaga tertentu) terhadap atasannya karena mereka tidak mampu melindungi dirinya dan karyawan wanita lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sinopsis:&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Film ini menggunakan plot maju-mundur. Seluruh cerita adalah kesaksian di &lt;a title="Pengadilan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengadilan"&gt;pengadilan&lt;/a&gt; di mana Josey melancarkan tuntutan terhadap atasannya.&lt;br /&gt;Tokoh utama film ini adalah Josey Aimes (&lt;a title="Charlize Theron" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Charlize_Theron"&gt;Charlize Theron&lt;/a&gt;), seorang orang tua tunggal dari dua anak, yang kembali ke kampung halamannya di Minnesota. Untuk mencukupi kebutuhannya, ia bekerja di &lt;a title="Tambang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tambang"&gt;tambang&lt;/a&gt; (meski sebenarnya ayahnya tidak setuju). Pekerja di tambang tersebut nyaris semuanya laki-laki, dan ternyata nyaris semua pekerja wanita di sana mengalami &lt;a class="new" title="Pelecehan seksual" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pelecehan_seksual&amp;amp;action=edit"&gt;pelecehan seksual&lt;/a&gt;, dan mereka tidak bisa apa-apa karena tidak ada perlindungan hukum dari perusahaan. Josey pun mengalaminya, karena mantan kekasihnya saat SMU, Bobby Sharp (&lt;a class="new" title="Jeremy Renner" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Jeremy_Renner&amp;amp;action=edit"&gt;Jeremy Renner&lt;/a&gt;), berusaha dengan segala cara untuk mendekatinya secara seksual, meski Bobby sebenarnya sudah menikah. Josey pun melaporkan hal ini kepada atasannya, yang semula dikira akan membantunya, tapi ternyata mereka tidak bisa (atau tidak mau) melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;Di lain pihak, kedatangan Josey di kampung halamannya juga dicibir oleh sebagian orang. Mereka membicarakan masa lalu Josey, karena Josey tidak pernah memberi tahu siapakah ayah Sammy (anak pertamanya) sebenarnya.&lt;br /&gt;Sementara itu keadaan semakin memburuk. Josey pun mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia dan &lt;a title="Pengacara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengacara"&gt;pengacaranya&lt;/a&gt;, Bill White (&lt;a class="new" title="Woody Harrleson" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Woody_Harrleson&amp;amp;action=edit"&gt;Woody Harrleson&lt;/a&gt;) bermaksud mengajukan tuntutan kepada perusahaan. Namun ketika ia meminta rekan-rekan kerjanya yang sesama wanita untuk bersaksi melawan perusahaan, mereka semua menolak, karena mereka sangat membutuhkan pekerjaan. Persoalan semakin bertambah ketika istri Bobby beteriak-teriak di depan umum pada pertandingan hoki anak-anak, meminta agar Josey menjauhi suaminya. Hal ini membuat marah Sammy (&lt;a class="new" title="Thomas Curtis" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Thomas_Curtis&amp;amp;action=edit"&gt;Thomas Curtis&lt;/a&gt;) yang memutuskan untuk kabur dari rumah. Namun setelah dinasihati oleh Kyle (&lt;a class="new" title="Sean Bean" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sean_Bean&amp;amp;action=edit"&gt;Sean Bean&lt;/a&gt;) ia pun kembali ke rumah.&lt;br /&gt;Di pengadilan pun terungkap bahwa ternyata Josey diperkosa oleh guru SMU-nya sampai ia hamil. Dan setelah didesak oleh Bill, Bobby pun mengakui bahwa sesungguhnya ia melihat perkosaan tersebut, namun ia tidak melakukan apa-apa. Pada akhirnya, Josey memperoleh dukungan dari rekan sesama perkerja wanitanya, dimulai dari sahabatnya, Glory (&lt;a title="Frances McDormand" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Frances_McDormand"&gt;Frances McDormand&lt;/a&gt;). Mereka mendapatkan sejumlah uang ganti rugi, dan yang terpenting adanya kebijakan yang melindungi mereka — dan wanita-wanita lain setelah mereka — dari pelecehan seksual.&lt;br /&gt;Di film ini sekali lagi Charlize Theron bermain apik. Kegetirannya terekspresikan lewat gestur dan wajahnya yang nyaris tanpa senyum di sepanjang film. Ia berhasil menampakkan citra seorang wanita pekerja keras dan seorang ibu yang protektif karena masyarakat yang ‘kejam’.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penghargaan:&lt;br /&gt;Charlize Theron dan Frances McDormand masing-masing dinominasikan dalam kategori Aktris Terbaik dan Aktris Pendukung Terbaik pada beberapa ajang penghargaan, di antaranya &lt;a title="Penghargaan Oscar ke-78" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penghargaan_Oscar_ke-78"&gt;Academy Awards&lt;/a&gt;, &lt;a title="Golden Globe" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Golden_Globe"&gt;Golden Globe&lt;/a&gt;, &lt;a class="new" title="BAFTA Awards" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=BAFTA_Awards&amp;amp;action=edit"&gt;BAFTA Awards&lt;/a&gt; dan &lt;a class="new" title="Screen Actors Guild Awards" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Screen_Actors_Guild_Awards&amp;amp;action=edit"&gt;Screen Actors Guild Awards&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;(:&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Internet_Movie_Database"&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Internet_Movie_Database&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-7273189850805868899?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/7273189850805868899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=7273189850805868899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7273189850805868899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7273189850805868899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/kisah-perempuan-buruh-tambang-yang.html' title='Kisah Perempuan Buruh Tambang yang Menolak Dilecehkan'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R240vPzcWmI/AAAAAAAAAJE/41yBBVmkLSQ/s72-c/b_down_poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1494747500099253515</id><published>2007-12-22T22:11:00.000+07:00</published><updated>2007-12-22T22:17:35.950+07:00</updated><title type='text'>Pernyataan Sikap:</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika&lt;br /&gt;Catatan Perempuan dalam Peringatan Hari Ibu 22 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;CUKUP SUDAH PENDERITAAN PEREMPUAN;&lt;br /&gt;LAWAN PENJAJAHAN MODAL ASING TANPA SISA-SISA ORDE BARU DAN REFORMIS GADUNGAN&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Empat puluh enam tahun sudah Hari Ibu ditetapkan&lt;a href="http://us.mg1.mail.yahoo.com/dc/launch?.rand=b9cv1da4h2ip8#116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote1sym" rel="nofollow" name="116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote1anc"&gt;1 &lt;/a&gt;, atau tujuh puluh tujuh tahun sesudah Kongres Wanita Indonesia pertama dilangsungkan&lt;a href="http://us.mg1.mail.yahoo.com/dc/launch?.rand=b9cv1da4h2ip8#116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote2sym" rel="nofollow" name="116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote2anc"&gt;2&lt;/a&gt;. Tiga puluh sembilan tahunnya berbuah kesengsaraan&lt;a href="http://us.mg1.mail.yahoo.com/dc/launch?.rand=b9cv1da4h2ip8#116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote3sym" rel="nofollow" name="116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote3anc"&gt;3&lt;/a&gt; , dan delapan tahunnya berbuah krisis ekonomi dan politik yang tak berkesudahan. Memang, gerakan demokratik 1998 telah membuka jalan bagi peningkatan kesadaran dan meluasnya organisasi perempuan, hingga tak lagi sekedar kumpulan ibu-ibu PKK atau Dharma Wanita pendamping suami. Tuntutan kesetaraan meluas, walau belum berbuah gerakan yang berkarakter kerakyatan. Gerakan demokratik yang menumbangkan kediktatoran adalah kunci bagi peningkatan kesadaran perempuan saat ini.&lt;br /&gt;Namun celakanya, 8 tahun sejak reformasi, para aktivis dan partai-partai yang mengaku reformis, kini berhenti berjuang menegakkan reformasi. Partai-partai sisa-sisa Orde Baru dan mantan tentara malah beramai-ramai menumpang bendera reformasi. Para aktivis yang sempat berpanas-panas di jalanan, kini juga ramai berteduh di bawah bendera-bendera reformis gadungan dan sisa-sisa Orde Baru. Termasuk aktivis perempuannya. Sementara kesengsaraan terus bergelayut di pundak perempuan, walau kuota perempuan (di bawah bendera partai-partai sisa Orde Baru dan reformis gadungan) meningkat di parlemen.&lt;br /&gt;Semuanya takluk, tak berkutik dihadapan penjajahan modal asing. Bahkan banyak yang berlomba menjadi agen barunya, dengan berpura-pura anti modal asing di parlemen, tapi tak sungguh-sungguh memobilisasi kekuatan partainya dan massa rakyat untuk melawan penjajahan modal asing. Padahal penjajahan modal asing adalah sumber pokok kesengsaraan perempuan Indonesia saat ini, yang mematikan potensi kemajuannya; menghinakan martabatnya; menghancurkan masa depannya sebagai manusia. Penjajahan modal asing mematikan produktivitas rakyat dan lebih banyak menghancurkan tenaga produktif perempuan; menghancurkan produktivitas industri nasional, sehingga menyebabkan kemiskinan berkepanjangan, yang paling banyak mengorbankan perempuan.&lt;br /&gt;Dampak penjajahan yang paling membebani pundak perempuan (yang mayoritas miskin di negeri ini) adalah kenaikan harga dan turunnya daya beli rakyat, terutama di sektor pertanian yang tak tersentuh modal―kecuali sektor agribisnis besar (seperti sawit, karet dan beberapa perkebunan besar negara). Dari 108 juta rakyat miskin yang hidup di bawah Rp. 19.000/hari, porsi kaum perempuan lebih dari setengahnya. PHK sepihak oleh berbagai industri manufaktur yang bangkrut mengorbankan angkatan kerja perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki. Kaum perempuan lah yang menjadi korban terbesar dari kemiskinan dan kehancuran tenaga produktif (feminisasi kemiskinan) akibat penjajahan ini.&lt;br /&gt;Deindustrialisasi juga menyebabkan terus meningkatnya angkatan kerja buruh migran perempuan, hingga mencapai 72% dari jumlah laki-laki dalam 10 tahun ini, di mana setiap tahunnya Indonesia mengirimkan 400.000 buruh ke luar negeri tanpa ada status hukum dan perlindungan yang jelas. Tingginya angka pengangguran perempuan juga dimanfaatkan oleh bisnis prostitusi dan pornografi, termasuk peningkatan jumlah pelacur. Jumlah pelacur anak saja mencapai 30%, dan setiap tahun 100.000 anak diperdagangkan.&lt;br /&gt;Tak cukup sampai disitu, pendidikan dan kesehatan, yang merupakan landasan bagi kemajuan sumber daya manusia dan kemajuan suatu bangsa, semakin tak menjangkau perempuan. Semakin sulit pula bagi mayoritas kaum ibu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas yang murah, karena rumah-rumah sakit besar yang berteknologi tinggi, mayoritas dimiliki asing dan tidak bisa diakses oleh rumah tangga miskin. Program-program semacam Askeskin dan Gakin, selain tak mudah diakses perempuan, juga syarat pengurusannya semakin dipersulit; rumah sakit tetap meminta kontribusi; PT. Askes menunggak membayar klaim; obat-obatan yang diberikan adalah obat kelas dua yang lebih lama menyembuhkan daripada obat-obatan untuk pasien kaya. Menteri kesehatan, yang berjenis kelamin perempuan, tak punya keberanian untuk mengatasi persoalan ini, selain menyuruh masyarakat untuk bersabar dan memaklumi.&lt;br /&gt;Perempuan juga merupakan lapisan masyarakat dengan tingkat melek huruf dan rata-rata sekolah paling rendah. Namun pendidikan berkualitas hanya menjadi milik rumah tangga-rumah tangga kaya. Sehingga masuk akal lah jika perempuan terjerumus ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang rentan eksploitasi, kekerasan, pelecehan seksual, termasuk rela dipoligami karena tergantung secara ekonomi. Celakanya, bukan akar persoalannya yang diatasi (yaitu kemiskinan perempuan), tapi perempuannya yang dihukum. Perempuan menjadi objek yang disalahkan, dikejar-kejar, digaruk, bahkan dilecehkan dalam perda-perda syariah dan RUU pornografi.&lt;br /&gt;Memang, beberapa kemajuan politik sudah ada, seperti kuota 30%, UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), UU kewarganegaraan dan sebagainya, yang menjadi pembuka jalan bagi perjuangan kesetaraan perempuan (affirmative action) selanjutnya. Namun, tanpa mengatasi persoalan feminisasi kemiskinan yang bersumber dari rendahnya kualitas tenaga produktif perempuan, maka pekerjaan legislasi pun hanya akan menguntungkan segelintir elit perempuan yang bermimpi bisa merubah nasib perempuan tanpa gerakan massa perempuan.&lt;br /&gt;Bangun Gerakan Massa Perempuan; Lawan Penjajahan Modal Asing&lt;br /&gt;Hal yang paling menggembirakan adalah, kesengsaraan ini tidak lagi diterima dengan lapang dada. Itulah mengapa perlawanan (gerakan) spontan mulai merebak dan meningkat di mana-mana, bahkan kwalitasnya pun mulai meningkat―peningkatan GOLPUT, penjatuhan pimpinan daerah, dan sebagainya (apapun alasannya, GOLPUT adalah cermin tak adanya harapan akan alternatif).&lt;br /&gt;Kaum perempuan Indonesia yang sedang melawan, mulai sadar, bahwa pemerintah dan seluruh partai-partai di parlemen tak bisa diharapkan lagi. Sehingga dengan sadar pula memulai berjuang untuk membangun kekuasaan baru; alat politik alternatif baru; yang bersih dari unsur-unsur sisa Orde Baru dan reformis gadungan. Hanya kekuatan seperti itulah yang lebih berkemampuan menjalankan kebijakan untuk mengangkat harkat dan kesetaraan sejati perempuan. Kekuasaan tersebut akan dibentuk bersama seluruh elemen rakyat yang juga sedang berjuang melawan penjajahan modal asing, yang akan bekerja untuk:&lt;br /&gt;1. MEMENUHI TUNTUTAN-TUNTUTAN DARURAT RAKYAT, seperti kenaikan upah; harga murah; kesehatan dan pendidikan gratis; perumahan murah; makanan bergizi; pelayanan administrasi gratis; modal dan teknologi untuk pertanian; lapangan kerja, mencabut semua produk hukum yang menindas harkat perempuan, dan pembaruan lingkungan.&lt;br /&gt;2. MENGAMBIL ALIH PERUSAHAAN TAMBANG, dan industri yang vital lainnya; MENOLAK PEMBAYARAN HUTANG LUAR NEGERI; mengadili dan menyita harta-harta koruptor sejak berdirinya Orde Baru, sebagai sumber-sumber pendapatan utama bagi kesejahteraan rakyat serta pembangunan industri nasional.&lt;br /&gt;3. MEMBANGUN INDUSTRI NASIONAL YANG MODERN SEBAGAI LANDASAN MENINGKATKAN HARKAT KAUM PEREMPUAN. Alih teknologi, kenaikan upah, kesehatan dan pendidikan gratis, serta kontrol rakyat atas kerja-kerja produksi adalah landasan terbangunnya industri nasional. Dengan industrialisasi nasional, kaum perempuan menjadi pandai dan meningkat harkatnya. Lapangan pekerjaan yang membangkitkan produktivitas kaum perempuan akan bisa disediakan, sehingga ketergantungan ekonomi kaum perempuan terhadap laki-laki juga akan berkurang, dengan demikian, kadar kesetaraan yang lebih sejati dapat tercapai, sehingga akan mengurangi praktek poligami, perdagangan perempuan, kekerasan rumah tangga, hingga pelacuran. Anak-anak pun tidak akan terlantar dijalanan karena negara akan produktif dan memiliki uang untuk membangun tempat-tempat penitipan anak gratis di tempat kerja, dan taman-taman bermain untuk meningkatkan kreativitas anak.&lt;br /&gt;Bila mobilisasi kekuatan politik gerakan yang spontan-ekonomis-fragmentatif bisa disatukan, yang statistik aksinya sudah puluhan per bulannya (dimana perempuan sering berada di garis terdepan dan paling militan), maka pergantian kekuasaan tidaklah mustahil dilakukan. Perjuangan pergantian kekuasaan di Bolivia dan Venezuela memberikan pelajaran pada kita, bahwa berjuang untuk sebuah kekuasaan baru dengan persatuan dan mobilisasi rakyat, tanpa kekuatan lama dan reformis gadungan, tidak mustahil dilakukan dan akan menguntungkan bagi perjuangan kaum perempuan. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Selamat Hari Ibu; bagi Kaum Ibu yang tak Lelah-lelahnya Berjuang!&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru 2008.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Desember 2007&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Vivi Widyawati&lt;br /&gt;Koordinator&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://us.mg1.mail.yahoo.com/dc/launch?.rand=b9cv1da4h2ip8#116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote1anc" rel="nofollow" name="116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote1sym"&gt;1&lt;/a&gt; Oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden No 316 tahun 1959.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://us.mg1.mail.yahoo.com/dc/launch?.rand=b9cv1da4h2ip8#116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote2anc" rel="nofollow" name="116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote2sym"&gt;2&lt;/a&gt; di Yogyakarta, 22 Desember 1928.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://us.mg1.mail.yahoo.com/dc/launch?.rand=b9cv1da4h2ip8#116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote3anc" rel="nofollow" name="116f243004d28311_116f242c13293d5d_sdfootnote3sym"&gt;3&lt;/a&gt; Sejak berkuasanya Soeharto, dengan disyahkannya UU penanaman modal Asing 1967, dimulailah penjajahan modal asing di Indonesia; dan agar jangan ada gangguan terhadapnya maka gerakan politik perempuan diberangus hanya sebatas pendamping suami yang patuh. -- Komite NasionalJaringan Nasional Perempuan MahardhikaMobile. [62] [815-8946404] -- Komite NasionalJaringan Nasional Perempuan MahardhikaJl. Tebet Dalam 2G No.1Telp/Fax. 021-8354513Mobile. [62] [815-8946404]&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1494747500099253515?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1494747500099253515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1494747500099253515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1494747500099253515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1494747500099253515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/pernyataan-sikap.html' title='Pernyataan Sikap:'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-2907704838723478945</id><published>2007-12-15T22:12:00.000+07:00</published><updated>2007-12-15T22:27:51.573+07:00</updated><title type='text'>Selalu Lirik-lirik lagu siptaan Piyu-Padi Menggetarkan dan reflektif,bukan melulu soal cinta yang biasa(h)!</title><content type='html'>&lt;a href="http://griyabudy.blogspot.com/2007/12/sang-penghibur.html"&gt;&lt;strong&gt;Sang Penghibur&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Ciptaan: Piyu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perkataan yang menjatuhkan&lt;br /&gt;Tak lagi kudengar dengan sungguh&lt;br /&gt;Juga tutur kata yang mencela&lt;br /&gt;Tak lagi kucerna dalam jiwa&lt;br /&gt;Aku bukanlah seorang yang mengerti&lt;br /&gt;Tentang kelihaian membaca hati&lt;br /&gt;Ku hanya pemimpi kecil yang berangan&lt;br /&gt;Tuk merubah nasibnya&lt;br /&gt;Oh..bukankah ku pernah melihat bintang&lt;br /&gt;Senyum menghiasi sang malam&lt;br /&gt;Yang berkilau bagai permata&lt;br /&gt;Menghibur yang lelah jiwanya,&lt;br /&gt;yang sedih hatinya&lt;br /&gt;Yang lelah jiwanya,&lt;br /&gt;yang sedih hatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugerakkan langkah kaki&lt;br /&gt;Dimana cinta akan bertumbuh&lt;br /&gt;Kulayangkan jauh mata memandang&lt;br /&gt;Tuk melanjutkan mimpi yang terputus&lt;br /&gt;Masih kucoba mengejar rinduku&lt;br /&gt;Meski peluh membasahi tanah&lt;br /&gt;Lelah, penat tak menghalangiku&lt;br /&gt;Menemukan bahagia&lt;br /&gt;Oh..bukankah ku pernah melihat bintang&lt;br /&gt;Senyum menghiasi sang malam&lt;br /&gt;Yang berkilau bagai permata&lt;br /&gt;Menghibur yang lelah jiwanya,&lt;br /&gt;yang sedih hatinya&lt;br /&gt;Yang lelah jiwanya,&lt;br /&gt;yang sedih hatinya&lt;br /&gt;Yang lelah jiwanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh..bukankah ku bisa melihat bintang&lt;br /&gt;Senyum menghiasi sang malam&lt;br /&gt;Yang berkilau bagai permata&lt;br /&gt;Menghibur yang lelah jiwanya…&lt;br /&gt;Bukankah hidup ada perhentian&lt;br /&gt;Tak harus kencang terus berlari&lt;br /&gt;Kuhelakan nafas panjang&lt;br /&gt;Tuk siap berlari kembali…&lt;br /&gt;berlari kembali&lt;br /&gt;Melangkahkan kaki…&lt;br /&gt;menuju cahaya&lt;br /&gt;(Bagai bintang yang bersinar, menghibur yang lelah jiwanyaBagai bintang yang berpijar, menghibur yang sedih hatinya)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-2907704838723478945?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/2907704838723478945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=2907704838723478945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2907704838723478945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/2907704838723478945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/selalu-lirik-lirik-lagu-siptaan-piyu.html' title='Selalu Lirik-lirik lagu siptaan Piyu-Padi Menggetarkan dan reflektif,bukan melulu soal cinta yang biasa(h)!'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1605069314048032098</id><published>2007-12-14T17:54:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:48.227+07:00</updated><title type='text'>Waria Tuntut HAM</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R2JjUvErubI/AAAAAAAAAIM/xXrRctGVp8Y/s1600-h/thumb-butuh-manager.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143782932295170482" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R2JjUvErubI/AAAAAAAAAIM/xXrRctGVp8Y/s200/thumb-butuh-manager.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;*Oleh: Ken Ratih Indri Hapsari S.Sos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik dari demonstrasi pada momentum hari HAM (Hak Asasi Manusia) yang diperingati secara internasional pada tanggal 10 Desember lalu. Demostrasi di Ibukota Negara yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari sektor tani, kaum miskin perkotaan, buruh, aktivis gerakan, juga turut serta sekelompok waria yang menuntut ditegakkannya keadilan HAM di bumi Indonesia.&lt;br /&gt;Tuntutan waria (atau wanita-pria) antara lain, diakuinya mereka sebagai manusia seutuhnya, sehingga tidak ada alasan untuk men-subalternkan/menyingkirkan kaum waria dari hak berpolitik, berorganisasi, bekerja, dan bersosialisasi maupun membangun relasi. Dan yang terpenting mereka menolak tegas Perda yang telah melarang dan membatasi waria untuk beraktifitas di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;Dalam pandangan masyarakat pada umumnya, waria merupakan penyakit seks atau kiondisi yang patologis sehingga harus diperangi sering dengan cara membabi buta. Waria distereotifkan negatif sama halnya dengan kaum gay, lesbian dan pelacur. Titik tolak penilaian yang sangat ditentutan oleh orientasi seksual ini yang menjadi sebab, sehingga apapun aktivitasnya, selalu waria terlihat aneh—bahkan terkadang seolah sangat menjijikkan.&lt;br /&gt;Menurut Suzanne Staggenborg (Gender, Keluarga, dan Gerakan-Gerakan Sosial, 2003) dalam perjalanan sejarah dan dalam lintas budaya, ditemukan bahwa hubungan-hunbungan sesama jenis sudah lama ada. Identitas homoseksual yaitu, gay dan lesbian semakin pesat seiring dengan perkembangan kapitalisme dan peralihan dari masyarakat desa ke kota.&lt;br /&gt;Pada awal abad dua puluh, di dunia barat, di kota-kota besar seperti Paris, Berlin, dan New York subbudaya homoseksual mulai tumbuh subur. Selama tahun 1920-an, kelompok Prohibition melakukan pembukaan kelab malam secara besar-besaran dan tempat nongkrong yang menjual minuman keras secara ilegal. Hal tersebut menarik perhatian laki-laki maupun perempuan kelas menengah ke atas dan kelas pekerja untuk mengunjunginya. Dalam kenyataanya, anggota kelas menengah di kota-kota mengambil bagian dalam menyebarluaskan hiburan-hiburan komersial lebih dari satu generasi, tapi orang-orang biasa membiarkan adanya eksperimen lebih jauh terhadap norma-norma publik dalam tingkah laku.&lt;br /&gt;Pada perkembangannya, keingintahuan publik terhadap kaum homoseksualitas sangat besar di tahun 1920-an. Laki-laki gay sangat dicari untuk menjadi penghibur di kelab-kelab malam New York, seperti dalam acara “Heboh Waria”. Beberapa waria berakting di jalam dan tentu saja kehebohan merambat ke kota-kota lain. Kehebohan waria mendorong kelas menengah yang suka kelab menunjukkan “kelebihan” mereka dan mengambil jarak dari reformis moral “berfikiran sempit”. Hingga tema homoseksualitas menjadi tema populer pada tahun 1920-an fiksi diantaranya novel karya Ernest Hemingway.&lt;br /&gt;Namun dalam konteks liberalisme seksual di tahun 1920-an terdapat ambivalensi besar dalam seksualitas sesama jenis, seperti terlihat, waria sering ditertawakan, ini menunjukkan pengkhianatan karena ada sebuah kesenangan dengan subbudaya gay sekaligus kecemasan terhadap masalah-masalah yang timbul sehubungan dengan peraturan-peraturan heteroseksual.&lt;br /&gt;Arus balik menentang homoseksual pertama kali muncul selama masa depresi, yakni ketika banyak laki-laki yang dikeluarkan dari pekerjaan dan angka rata-rata perkawinan turun drastis sebagai akibat orang-orang muda banyak yang menunda perkawinan karena alasan-alasan finansial. Pada waktu itu para pendidik dan Rohaniawan cemas jikalau hal ini akan menimbulkan “penyelewengan” seksual, dan hilangnya sifat kelaki-lakian.&lt;br /&gt;Fenomena tersebut relevan dengan analisa sang teroritikus revolusioner Foucault, yang menegaskan bahwa femininitas, maskulinitas dan seksualitas adalah “akibat praktek disiplin”, “the effect of discourse”. Maksudnya, menjadi perempuan atau laki-laki adalah murni kontruksi sosial—merujuk Foucault, adalah pendisiplinan yang ditegakkan oleh norma, agama dan hukum—dan tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin.&lt;br /&gt;Secara sosiologis, waria adalah suatu bentuk transgender. Maksudnya adalah mereka adalah kaum yang menentang konstruksi gender yang diberikan oleh masyarakat pada umumnya, yaitu laki-laki atau perempuan saja. Transgender disini mempunyai pengertian; perempuan yang terperangkap ke dalam tubuh laki-laki. Waria menentang konstruksi tersebut, yaitu secara fisik dia laki-laki namun dia berpenampilan perempuan. Peran-peran yang diambil pun peran-peran perempuan.&lt;br /&gt;Menurut sejarah, maraknya waria sangat dipengaruhi oleh konteks peralihan sistem ekonomi, seperti contoh di atas, jadi transgender merupakan fenomena yang tidak lepas dari konteks sosial. Pada posisi ini waria, gay dan lesbian bahkan pelacur tidak boleh jika ditempatkan dan dipandang secara misoginis(jijik) serta menjadi bulan-bulanan segudang stereotif negatif yang pada akhirnya merampas hak asasi mereka sebagai manusia pada umumnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1605069314048032098?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1605069314048032098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1605069314048032098' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1605069314048032098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1605069314048032098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/waria-tuntut-ham.html' title='Waria Tuntut HAM'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R2JjUvErubI/AAAAAAAAAIM/xXrRctGVp8Y/s72-c/thumb-butuh-manager.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1367828720440687378</id><published>2007-12-08T13:42:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:48.499+07:00</updated><title type='text'>Opini Pilihan:</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;ERTSBERG MENGGUGAT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;(SEBUAH REFLEKSI SEJARAH PROSES PENAMBANGAN DI DAERAH ERTSBERG PAPUA OLEH PT FREEPORT GOLD AND COPPER)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*Oleh: Sapto Raharjanto&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sis&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1pAJDpEDnI/AAAAAAAAAIE/IWnVNpyxzUg/s1600-h/_44277585_harmonyapbody203.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141492448937381490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 209px; CURSOR: hand; HEIGHT: 161px" height="161" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1pAJDpEDnI/AAAAAAAAAIE/IWnVNpyxzUg/s200/_44277585_harmonyapbody203.jpg" width="200" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;tem kapitalisme global yang terjadi saat ini yang cenderung mengikis rasa kemanusiaan dan frame kebangsaan karena yang terpenting dari sistem ini ialah bagaimana sebuah penguasaan negara bahkan bagaimana penguasaan dunia yang tanpa batas oleh sebuah dominasi pasar,…dalam perspektif Marxisme yang mengungkap bahwasannya hal yang melekat terhadap kapitalisme ialah adanya meerwarde/nilai lebih yang hanya dinikmati oleh beberapa kelompok kartel besar layaknya sebuah sistem oligarkhi, proses ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti penjajahan, baik klasik maupun modern.&lt;br /&gt;Secara teoritik, bentuk negara di bawah kekuasaan Orde Baru adalah sebuah negara otoriter birokratis yang juga berperan sebagai subordinat dari kepentingan ekonomi dan politik AS yang sangat berperan didalam proses pergantian kekuasaan di Indonesia pasca Soekarno. Pada fase ini berkembang jargon-jargon yang sifatnya Top down, seperti ide pembangunanisme. Dengan segenap instrument-instrument pendukungnya seperti militer dan juga berbagai macam budaya kekerasan pendukungnya seperti berlakunya label dan proses stigmatisasi dengan mengembangkan jargon politik: anti pembangunan, anti ideologi negara (Pancasila) dan berpaham komunis, OTB (Organisasi Tanpa Bentuk), GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) dan lain sebagainya. Karena itu bukanlah kebetulan jika bentuk negara otoriter birokratis ini didukung penuh oleh kekuatan militer. Derasnya arus investasi modal asing beserta berbagai produk dan imbasnya ikut meramaikan Orde ini dikarenakan adanya sebuah legitimasi serta perlindungan dari penguasa seperti adanya UUPMA 1967 serta berbagai penandatanganan kontrak karya yang merupakan contoh mutlak dari adanya sebuah legitimasi negara terhadap investasi modal asing.&lt;br /&gt;Berbagai macam produk perundang-undangan di atas adalah merupakan sebuah legalitas bagi masuknya investasi asing. Tidak dapat dipungkiri bahwa Negara-negara yang melakukan investasi tersebut pastinya mempunyai hidden motive. PT. Freeport Indonesia yang beroperasi di Papua adalah perusahaan multinasional milik Amerika Serikat dimana pada tahun 1967 setelah jatuhnya pemerintahan Soekarno yang anti Barat, Freeport Gold and Copper melakukan penjajakan investasi ekonomi. Penjajakan investasi itu dilakukan Freeport untuk menambang tembaga terbesar di dunia yang terdapat di Ertsberg, daerah pegunungan tengah Papua.&lt;br /&gt;Kepastian mengenai adanya tambang tembaga terbesar itu dibuktikan oleh Forbes Wilson, seorang geolog AS, melalui sample geologis Ertsberg yang ditelitinya pada tahun 1960. Berawal dari sinilah muncul kepentingan ekonomi politik AS. Dan untuk menjaga eksistensinya, pada tahun 1962 AS mengadakan sebuah pertemuan rahasia di Roma yang dihadiri wakil-wakil Indonesia dan Belanda dan berhasil dibuat The Secret Rome Agreement. Dimana salah satu isi dari perjanjian tersebut disebutkan bahwa AS berkewajiban melakukan investasi melalui badan usaha di Indonesia bagi eksplorasi mineral dan sumber daya alam lainnya. Hal ini yang kemudian menjadi inti dari semua masalah yang melatarbelakangi kepentingan ekonomi politik AS mengenai Papua. Emas dan batubara yang merupakan hasil penambangan dari Freeport sudah puluhan ton dieksplorasi dan di bawa untuk kepentingan AS.&lt;br /&gt;Imbas dari penambangan besar-besaran di wilayah ini ialah adanya pencemaran dan pengrusakan Sungai Ajkwa oleh limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) yang telah mencapai Laut Arafura. Akibatnya, sejumlah spesies telah punah karena keracunan. Penduduk Papua yang sebenarnya dapat menikmati hasil dari eksplorasi sumber alamnya, malah tetap dalam kondisi yang stagnan. Sehingga tak ayal lagi kemiskinan semakin melilit ditambah lagi dengan kerusakan dan kehancuran lingkungannya. Selain hal tersebut daerah Papua menjadi sebuah wilayah yang rawan konflik, dimana sampai saat ini belum ditemukan jalan terbaik mengenai penyelesaian konflik tersebut dikarenakan permasalahan di Papua bukan hanya sekedar masalah politik, tetapi merupakan konflik multidimensi di segala aspek kehidupan sosial masyarakat. Masalah-masalah tersebut seperti pelanggaran HAM yang kronis, kemiskinan penduduk yang merupakan peringkat pertama di Indonesia, pengembangan sumber daya manusia yang stagnan, operasi dan agresi militer yang tiada henti, korupsi, pembalakan liar, perusakan lingkungan yang parah, dan pencurian sumber-sumber ekonomi rakyat.&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan, AS sendiri memiliki hidden motive dari semua peristiwa politik di Indonesia pasca kejatuhan Soekarno (termasuk bagaimana AS melakukan intervensi dalam masalah-masalah yang sedang terjadi di Indonesia seperti keterlibatan AS didalam pergantian kekuasaan di Indonesia pada pertengahan dekade 60-an) karena sejak awal dekade 60-an AS sudah berminat untuk mengeksploitasi tembaga dan emas di Papua. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun kerjasama ekonomi antara pemerintah dan PT Freeport ini malah semakin memperparah masalah, karena kerjasama yang dilakukan oleh elite pemerintah yang terkenal dengan budaya KKN-nya dengan PT. Freeport yang adalah milik AS lebih membawa keuntungan bagi kepentingan segelintir elite pemerintah karena ada dugaan bahwa PT Freeport menyuap beberapa pejabat sipil dan militer Indonesia demi kelangsungan investasinya. Sedangkan nasib rakyat Papua yang semakin terpuruk akibat dari kemiskinan, pengembangan sumber daya manusia yang stagnan, operasi militer yang tiada henti, korupsi, pembalakan liar, perusakan lingkungan yang parah, dan pencurian sumber-sumber ekonomi rakyat sering berujung pada pertikaian dan konflik sosial, di mana rakyat Papua berusaha menuntut apa yang menjadi hak milik mereka sebagai reaksi dari ketidakadilan yang dilakukan oleh Freeport dan pemerintah Indonesia yang tidak melakukan tindakan hukum apapun maupun perbaikan dari kerusakan dan kehancuran ekonomi rakyat serta lingkungan hidup di tanah Papua.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;*Peneliti&lt;br /&gt;Centre of Local Economy And Politics Studies, Jember &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1367828720440687378?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1367828720440687378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1367828720440687378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1367828720440687378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1367828720440687378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/ertsberg-menggugat.html' title='Opini Pilihan:'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1pAJDpEDnI/AAAAAAAAAIE/IWnVNpyxzUg/s72-c/_44277585_harmonyapbody203.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-6571625091334724240</id><published>2007-12-02T19:52:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:48.714+07:00</updated><title type='text'>Pedagang Pasar Tradisional Tolak Carrefour</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1KrkjpEDmI/AAAAAAAAAH8/2oNdBUSQrL0/s1600-R/aksi+pedagang.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139358769314270818" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1KrkjpEDmI/AAAAAAAAAH8/USmaQOdsmws/s200/aksi+pedagang.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;TANGERANG -- Sekitar 500 pedagang Pasar Cileduk, Kota Tangerang, berunjuk rasa di halaman Gedung Pusat Pemerintah Kota Tangerang, Kamis (15/11). Mereka menolak keberadaan Carrefour di CBD Cileduk. Pasalnya, pusat belanja tersebut terletak tepat di depan pasar tradisional Cileduk, Jalan Raya Cileduk, Kota Tangerang.&lt;br /&gt;"Kami menolak keberadaan Carrefour di CBD," kata Ketua Koperasi Pasar Cileduk, H Tb Hasan. Carrefour dinilai para pedagang hanya akan mematikan pendapatan pedagang pasar tradisional tersebut. Hasan mengungkapkan, jika pasar tersebut tetap dipaksakan dibuka, maka para pedagang di Pasar Cileduk akan gulung tikar.&lt;br /&gt;Seorang pedagang, Ngadiran, menyatakan, keberadaan Carrefour tersebut menyalahi beberapa aturan. Menurut Ngadiran, salah satunya, yaitu Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Perindustrian dan Perdagangan 145/MPP/Kep/5/1997 dan nomor 57 tahun 1997 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan.&lt;br /&gt;Aturan tertanggal 12 Mei 1997 tersebut, ujarnya, menyebutkan, jika keberadaan supermarket harus berjarak 2,6 kilometer dari pasar tradisional. Tetapi, letak supermarket ini tepat berada di depan lokasi pasar tradisional dan hanya berjarak sekitar 24 meter. Untuk itu, Ngadiran juga mempertanyakan pemberian izin. "Ko' bisa dikasih izin?" tanyanya.&lt;br /&gt;Dia mengungkapkan, pihaknya bukannya tidak pernah menempuh jalur diplomatis guna menyelesaikan masalah ini. Para pedagang, sebut Ngadiran, sudah melakukan upaya perundingan dengan pihak CBD sejak Maret lalu. Bahkan, pihak DPRD Kota Tangerang juga memfasilitasi pertemuan tersebut. "Tapi, enggak ada solusinya."&lt;br /&gt;Jika Carrefour ngotot tetap beroperasi, maka pedagang minta beberapa syarat. Carrefour harus menutup akses masuk melalui Jalan Raya Cileduk atau di depan Pasar Cileduk. "Harus lewat jalan lain, entah dari mana," imbuhnya. Jika persyaratan tersebut tidak juga dipenuhi, maka para pedagang akan melakukan penyegelan dan menduduki Carrefour jika tetap diresmikan pada 1 Desember mendatang.&lt;br /&gt;"Itu upaya terpahit. Kami masih membuka jalur komunikasi," imbuh Ngadiran. Selain itu, para pedagang juga akan melakukan upaya hukum atau gugatan terhadap pihak Carrefour. Para pengunjuk rasa berdemo mulai pukul 11.00 WIB. Mereka membentangkan spanduk dan beberapa karton. Mereka berorasi selama lebih dari satu jam. Setelah itu, beberapa perwakilan mereka diterima Komisi C DPRD Kota Tangerang. Wawan Tavip Budiawan mengatakan, pihaknya akan melakukan memfasilitasi mediasi dengan Carrefour. "Akhirnya, menyepakati akan melakukan mediasi dengan Carrefour," kata anggota DPRD dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;berita &lt;a href="http://www.republika.co.id/"&gt;www.republika.co.id&lt;/a&gt;, foto &lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;www.kompas.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-6571625091334724240?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/6571625091334724240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=6571625091334724240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/6571625091334724240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/6571625091334724240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/pedagang-pasar-tradisional-tolak.html' title='Pedagang Pasar Tradisional Tolak Carrefour'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1KrkjpEDmI/AAAAAAAAAH8/USmaQOdsmws/s72-c/aksi+pedagang.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-818139566349509330</id><published>2007-12-02T15:47:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:48.991+07:00</updated><title type='text'>Mengejar Mas-Mas</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1Jx0jpEDlI/AAAAAAAAAH0/rfI2i3rNgOw/s1600-R/kisah+Sarkem.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139295272517766738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1Jx0jpEDlI/AAAAAAAAAH0/6voeQQyyL4w/s200/kisah+Sarkem.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Jenis Ulasan: Film&lt;br /&gt;Isi Ulasan:&lt;br /&gt;&lt;a title="Poster Mengejar Mas Mas" href="http://ruangfilm.com/?q=image/mengejar_mas_mas" rel="nofollow"&gt;&lt;/a&gt;Genre: Drama/KomediDurasi: 105 Menit&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sutradara: Rudi Sudjarwo&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cerita &amp;amp; Penulis Skenario: Monty Tiwa&lt;br /&gt;Pemain Dinna Olivia sebagai Ningsih, Dwi Sasono sebagai Parno, Poppy Sovia sebagai Shanaz, Ira Wibowo sebagai Linda (Mama Shanaz), Roy Marten sebagai Ridwan (Papa Shanaz), Elmayana Sabrenia sebagai Wardah, Eddie Karsito sebagai ToyoMarcell, Anthony sebagai Mika&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sutradara Rudi Sudjarwo kembali berduet dengan Monty Tiwa untuk film terbarunya yang berjudul Mengejar Mas-Mas. Seperti biasa, Monty Tiwa bertanggung jawab untuk urusan penulisan skenario, sementara Rudi Sudjarwo memegang posisi sutradara. Sama seperti film Rudi dan Monty sebelumnya yang berjudul Mendadak Dangdut, begitupun juga dalam Mengejar Mas-Mas, dimana kesamaan cerita mengenai benturan kelas sosial ekonomi dalam masyarakat Indonesia, ditonjolkan cukup lugas dalam film ini.&lt;br /&gt;Berkisah mengenai Shanaz (Poppy Sovia), gadis remaja ibukota yang melarikan diri ke Jogjakarta setelah bertengkar keras dengan Linda, mamanya (Ira Wibowo) mengenai rencana keinginan Linda untuk menikah kembali. Shanaz merasa bahwa sang mama tidak menghormati papanya (Roy Marten) yang baru saja meninggal delapan bulan yang lalu.&lt;br /&gt;Merasa tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hatinya, Shanaz memilih lari dari rumah untuk menyusul Mika (Marcell Anthony), sang kekasih yang sudah berada di Jogjakarta untuk mendaki gunung. Sial bagi Shanaz, ketika sampai di Jogja, Mika telah naik ke gunung sehari lebih cepat dari yang dijadwalkan.&lt;br /&gt;Terlunta-lunta di Jogja, Shanaz tanpa sengaja memasuki daerah pelacuran Pasar Kembang, dimana Shanaz bertemu dengan Ningsih (Dinna Olivia), seorang pelacur asal Madiun. Ningsih yang baik hati merelakan Shanaz untuk tinggal di tempat kost-nya, yang berbeda lokasi dari tempat pelacuran. Di tempat kost ini, Ningsih mengaku dosen kepada suami istri pemilik kost yaitu Pak Toyo (Eddie Karsito) dan Wardah (Elmayana Sabrenia).&lt;br /&gt;Tinggal di tempat kost tersebut, memperkenalkan Shanaz dengan beberapa orang di lingkungan tersebut, termasuk Parno (Dwi Sasono), seorang pengamen campur sari yang selama ini menaruh hati terhadap Ningsih. Parno pada dasarnya adalah pemuda yang baik, namun lambat laun mulai menaruh hati terhadap Shanaz. Terlebih juga Shanaz yang cuek diam-diam mulai terajut rasa suka terhadap diri Parno. Persoalan menjadi cukup rumit karena ternyata Ningsih juga masih menyimpan hati kepada Parno. Sehingga kisah cinta antara mereka, tampil cukup menarik dalam film ini.&lt;br /&gt;Mengomentari Mengejar Mas-Mas, film ini mempunyai nilai lebih yang kuat ketika berkutat pada budaya lokal, sebut saja budaya Jogjakarta yang menjadi tempat utama film ini. Pujian dapat dilayangkan kepada Monty Tiwa yang berhasil menghadirkan ide cerita yang orisinil serta dialog-dialog yang sering kita temui dalam kehidupan kita bermasyarakat. Kata-kata berbahasa Jawa yang terdapat di beberapa adegan film terasa menambah daya tarik dalam film ini, ditambah selipan budaya lokal yang coba diangkat lewat sosok beberapa tokoh dalam film yang sangat kental dengan kelokalan budaya Jawa, khususnya Jogjakarta.&lt;br /&gt;Sutradara Rudi Sudjarwo yang klop dengan Monty Tiwa, berhasil mentransformasikan skenario Monty Tiwa menjadi film yang sangat menarik untuk ditonton. Walaupun tidak semuanya, namun aroma khas Jogjakarta cukup terwakili lewat beberapa shoot-shoot yang menampilkan tempat-tempat khas Jogjakarta mulai dari adegan dimana Shanaz berjalan di pelataran Malioboro serta mengambil gambar Benteng Vrederbug. Terlebih Rudi Sudjarwo juga berhasil menampilkan area gang lokalisasi pelacuran pasar kembang.&lt;br /&gt;Selain itu, Rudi juga dapat dikatakan cukup selektif dalam memilih karakter-karakter pemain dalam film ini. Peran Ningsih yang dimainkan oleh Dinna Olivia cukup kuat pas, Peran Parno sebagai penyanyi campur sari yang diemban Dwi Sasono juga cukup pas, serta pemilihan Poppy Sovia yang cuek, cerminan remaja ala MTV, terlihat cocok dalam memerankan sosok Shanaz.&lt;br /&gt;Mengomentari akting para pemain, porsi pujian terbesar rasanya pas dialamatkan kepada Dinna Olivia yang berhasil tampil menawan dalam film ini dibandingkan pemain lainnya. Dinna berhasil mengubah dirinya layaknya seorang PSK/pelacur dengan cukup gemilang. Tidak hanya itu, ucapan-ucapan serta bahasa Jawa yang seringkali keluar dari mulutnya dalam adegan film terasa tidak kaku. Walaupun sebelumnya Dinna Olivia, mengaku bahwa menggunakan bahasa jawa merupakan salah satu hal tersulit dalam perannya sebagai Ningsih.&lt;br /&gt;Benturan kelas sosial yang terjadi dalam film ini, memang tdak jauh berbeda seperi kisah dalam film Mendadak Dangdut yang juga dibuat oleh Rudi Sudjarwo dan Monty Tiwa. Bedanya, kalau Mendadak Dangdut serang penyanyi Pop terkenal harus hidup miskin dengan menjadi penyanyi dangdut antar kampung, kali ini dalam Mengejar Mas-Mas seorang remaja yang berasal dari kelas atas harus terdampar pada tempat masyarakat kelas bawah dan terlebih berada tidak di Ibukota.&lt;br /&gt;Realita sosial tersebut berhasil tergambar dengan baik dalam film ini. Indonesia yang dalam kondisi terpuruk berhasil digambarkan oleh Rudi dan Monty. Mulai dari bagaimana Parno seroang pemuda dewasa yang sulit mencari pekerjaan sehingga harus rela hanya menjadi seorang pengamen campur sari dan juga terlihat dalam sosok Ningsih yang terhimpit kondisi ekonomi harus mengalami kenyataan pahit, yaitu menghidupi dirinya sebagai pelacur. Sosok Parno dan Ningsih dapat kita temui dengan mudah di lapisan masyarakat bawah pada saat ini.&lt;br /&gt;Cukup menarik adalah penggambaran perilaku masyarakat kita yang dangkal, yang memilih menghujat atau mengucilkan orang-orang seperti Ningsih yang hidup sebagai pelacur. Mengambil contoh Ningsih, Masyarakat seringkali berpikir bahwa hidup sebagai pelacur adalah pilihan. Padahal yang sebenarnya, hal tersebut terjadi karena kemisikinan yang tidak berhasil diselesaikan oleh Negara yang kaya-raya ini, sehingga munculah pelacuran. Seperti yang kita ketahui bahwa, pelacuran merupakan salah satu anak kandung dari kemisikinan. Dari kaca mata saya sebagai penonton film Mengejar Mas-Mas, Rudi Sudjarwo serta Monty Tiwa berhasil menggambarkan realita tersebut dalam film ini.&lt;br /&gt;Berbicara kelebihan film yang telah diutarakan di atas, tentunya film ini tidak luput dari beberapa kekurangan. Beberapa adegan cukup menganggu lewat cukup kuatnya goyangan-goyangan kamera dalam beberapa adegan. Walaupun hal tersebut dapat kita temui dalam film-film Rudi Sudjarwo sebelumnya, sehingga bisa saja Rudi menjadikan itu salah satu ciri khas-nya dalam membuat film. Kelemahan lain dalam film ini, beberapa dialog bahasa Jawa tidaklah diberikan teks bahasa Indonesia. sehingga hal tersebut tentunya dapat menyulitkan penonton yang tidak mengerti bahasa Jawa.&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, film ini tampil segar untuk para penonton Indonesia yang cukup bosan dengan tema horror “itu-itu saja” yang mendominasi film nasional. Ide cerita yang orisinil serta cukup kuatnya budaya lokal yang tersaji dalam film ini cukup baik. Yang tak kalah menarik beberapa lagu soundtrack yang dinyanyikan langsung oleh Monty Tiwa, serta alunan lagu bahasa Jawa yang dinyanyikan oleh penyanyi Geng Kobra asal Jogja, menambah menarik film ini. Selamat Menyaksikan !!!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh : John Tirayoh &lt;a href="http://ruangfilm.com/?q=ulasan/mengejar_mas_mas"&gt;http://ruangfilm.com/?q=ulasan/mengejar_mas_mas&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-818139566349509330?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/818139566349509330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=818139566349509330' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/818139566349509330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/818139566349509330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/mengejar-mas-mas.html' title='Mengejar Mas-Mas'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1Jx0jpEDlI/AAAAAAAAAH0/6voeQQyyL4w/s72-c/kisah+Sarkem.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-5238230597595107005</id><published>2007-12-01T09:32:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:49.282+07:00</updated><title type='text'>Nila “Pantas Bebas”</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1DI5TpEDkI/AAAAAAAAAHs/XsN8Tf0BQBo/s1600-R/nila+fitria.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138828061680340546" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1DI5TpEDkI/AAAAAAAAAHs/dGFIwwmwC9c/s200/nila+fitria.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-5238230597595107005?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/5238230597595107005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=5238230597595107005' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5238230597595107005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/5238230597595107005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/12/nila-pantas-bebas.html' title='Nila “Pantas Bebas”'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R1DI5TpEDkI/AAAAAAAAAHs/dGFIwwmwC9c/s72-c/nila+fitria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-4564198410200408088</id><published>2007-11-30T17:28:00.001+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:49.622+07:00</updated><title type='text'>Narsisme Tubuh Perempuan Dan Hipermarket</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R0_m6dHsQVI/AAAAAAAAAHk/TqMe22grvZc/s1600-R/COVER+calon++NOVELqMIMESIS.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5138579591776715090" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 168px; CURSOR: hand; HEIGHT: 206px" height="183" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R0_m6dHsQVI/AAAAAAAAAHk/ts4Vw718qQA/s200/COVER+calon++NOVELqMIMESIS.jpg" width="183" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh Ken Ratih Indri Hapsari&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan di seluruh dunia yang jatuh pada tanggal 25 November, masyarakat dan NGO yang peduli persoalan perempuan memperingatinya dengan cara melakukan pawai atau melakukan kampanye serta menyampaikan tuntutan-tuntutan yang memperjuangkan seputar isu-isu perempuan. Penindasan terhadap perempuan memang masih terpupuk dan tumbuh subur, meski saat ini adalah era yang mengagung-agungkan modernitas dan kemajuan tekhnologi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Penindasan perempuan bukan hanya melalui tindakan pelecehan dan kekerasan fisik, lebih daripada itu penindasan itu juga berbentuk kesadaran semu yang diinjeksikan kepada perempuan secara terus menerus oleh berbagai instrument-instrumen kekuasan demi kepentingan segelintir orang. Perempuan dengan mudah akan terhipnotis oleh semarak tawaran-tawaran pasar globalisasi, yaitu berupa berbagai macam aksesoris untuk memperindah penampilan, yang sebernarnya merupakan salah-satu usaha pemalsuan kesadaran perempuan menuju ideologi narsis.Bila kita cermati semakin hari, kian menjamurlah mall, pusat-pusat perbelanjaan dan swalayan di berbagai sudut-sudut kota besar. Seolah tidak mau ketinggalan, mini market juga telah merambah di kota-kota pinggiran. Hingga nasib mengenaskan melanda toko-toko kelontong milik masyarakat yang berbasis ekonomi keluarga. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pasar tradisional mengalami penurunan keuntungan penjualan dengan jumlah yang cukup signifikan. Padahal toko kelontong dan pasar tradisional adalah penyangga perekonomian mikro rakyat kecil, berbeda dengan swalayan dan jaringan mini market yang didesain dan dioperasikan oleh segelintir orang yang secara finansial memiliki kemampuan materiil lebih mapan.Ketika awal tahun 2006 hingga mendekati pertengahan tahun 2007 penambahan jumlah mall, swalayan dan mini market yang menjual kebutuhan hidup, cinderamata, pakaian-pakaian mode baru—yang hanya akan bertahan sebatas diiklankan produk tersebut, permainan elektronik, photo box, jumlahnya bertambah pesat jika dibandingkan jumlah toko buku di Indonesia. Jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia juga masih tertinggal jauh dari negara lain, setiap tahunnya hanya 10.000 judul buku yang diterbitkan di Indonesia, bandingkan dengan Inggris yang menerbitkan 110.000 buku setiap tahunnya. Hal itu mengindikasikan budaya masyarakat Indonesia yang masih minim untuk menyampaikan pemikiran dan gagasan baru, mereka telah terbiasa menonton dan mengkonsumsi dibanding mencipta dan melakukan proses kreatif.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mall dan swalayan juga menjadi tujuan rekreasi pemuda-pemudi, dalam hal ini perempuanlah yang lebih mendominasi karena memiliki kepentingan untuk terus berbelanja dan melakukan perbaikan-perbaikan pada setiap detail tubuhnya supaya semakin mendekati stradarisasi-stadarisasi cantik menurut ukuran pasar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perempuan akan kebingungan dan merasa kurang percaya diri ketika pakaiannya ketinggalan mode, perempuan akan mengalami krisis yang tidak terelakkan dalam hidupnya ketika ia tidak memakai lipstik dan pada akhirnya jiwa mereka akan tetap mengalami kegelisahan karena telah memutuskan untuk ikut arus yang sebenarnya tidak bisa ia mengerti dan menuruti aturan-aturan, standar-standar kecantikan yang dipaksakan pada mereka.Kesadaran perempuan diremehkan dan ditempatkan pada posisi serendah-rendahnya, perempuan berfikir dengan metode dangkal, mereka disibukkan berhias diri di depan kaca, menyempurnakan penampilannya, terkagum-kagum pakaian terbaru artis sinetron, berpose dengan senyuman dibuat-buat di dalam box foto, memandang dan mengevaluasi hasil foto kemudian siklusnya diulang lagi. Seolah eksistensinya sudah terpenuhi hanya dengan aktivitas-aktivitas pasif itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau perempuan terus-menerus hanya mempedulikan diri-sendiri dan akan memperhatikan orang lain yang lebih glamour sebagai referensi, ketika perempuan menganut ideologi narsistik atau ideologi yang memuja-muja tubuh sendiri, lantas kapan mereka menyempatkan untuk melakukan sesuatu pada orang lain yang mengalami kesulitan hidup? Kapan perempuan akan menuntut ketidakadilan yang menimpa mereka? Kapan perempuan memiliki perspektif maju tentang persoalan kehidupan?Sebagaimana manusia seutuhnya, perempuan memiliki hak untuk bebas dari lingkaran narsis yang akan menenggelamkan mereka menuju lubang gelap imajinasi dan kepuasan-kepuasan semu yang tidak memberikan efek positif apapun selain kesia-siaan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perempuan memiliki hak sekaligus kewajiban untuk berorganisasi dan memberi kontribusi terhadap lingkungan sosial. Perempuan berhak belajar dan lebih memiliki ruang untuk mengelola ide-ide kreatifnya, perempuan berhak bebas dari intimidasi serta tindak kekerasan. Perempuan berhak bebas dari pelacuran hubungan seksual—maupun yang dibungkus pernikahan— yang semata-mata bertujuan untuk memperoleh uang atau berbagai keuntungan materi dan keamanan, karena bentuk hubungan seperti itu terjadi pada situasi dimana perempuan mengorbankan perasaan kasih-sayang sejati, persahabatan dan kemurnian cinta.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu, apakah terlarang ketika perempuan merawat tubuhnya? Tentu saja jawabannya tidak! Yang menjadi persoalan adalah ketika seluruh waktunya dihabiskan untuk mengejar tubuh 'ideal' versi 'pasar' yang menyesatkan itu. Kecantikan muncul dari tubuh dan pikiran yang sehat, kecantikan bukan pemalsuan kepribadian yang telah mengubah konsep kebahagiaan diri guna memuaskan norma masyarakat dengan tujuan untuk memikat laki-laki dan supaya orang-orang sekitar menganggapnya normal. Sesungguhnya pada saat itulah terbukti penyebab tersingkirkannya perempuan untuk hidup mandiri dan tidak tergantung bukan disebabkan oleh kodrat maupun ajaran agama, namun sistem ekonomi dan sistem sosial-lah yang menyebabkannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dimuat di Radar Jember, 29 November 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-4564198410200408088?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/4564198410200408088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=4564198410200408088' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/4564198410200408088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/4564198410200408088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/11/narsisme-tubuh-perempuan-dan.html' title='Narsisme Tubuh Perempuan Dan Hipermarket'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R0_m6dHsQVI/AAAAAAAAAHk/ts4Vw718qQA/s72-c/COVER+calon++NOVELqMIMESIS.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-1175262293720855416</id><published>2007-11-23T11:09:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:49.951+07:00</updated><title type='text'>Mempedulikan Hak Kesehatan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R0ZVx9HsQUI/AAAAAAAAAHc/f54fSBmcN8k/s1600-h/history-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135886741771403586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 206px; CURSOR: hand; HEIGHT: 178px" height="159" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R0ZVx9HsQUI/AAAAAAAAAHc/f54fSBmcN8k/s200/history-1.jpg" width="198" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh: Ken Ratih Indri Hapsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada Tanggal 25 November 2007, kembali dunia memperingatinya sebagai Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. Anti kekerasan terhadap perempuan dimaknai sebagai sikap yang menjunjung tinggi hak perempuan. Antara lain hak perempuan untuk hidup sehat. Kesehatan bagi perempuan merupakan hal yang sangat krusial, terutama di negara dunia ketiga dimana angka kematian ibu sangat tinggi.&lt;br /&gt;Siapa yang tahu mengenai sebab kematian R.A. Kartini yang pedih itu? Dalam buku sejarah tidak pernah dibahas bahwa Kartini menghembuskan nafas terakhirnya ketika melahirkan. Kematian seorang ibu ketika melahirkan dianggap perihal wajar sebagai perjuangan demi melanjutkan generasi selajutnya, bukan dipandang sebagai persoalan proses reproduksi dan persoalan hak kesehatan reproduksi perempuan, demikianlah adanya budaya Jawa yang berkembang bahkan masih bertahan hingga di masa modern seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;Saat ini, seiring dengan meningkatnya jumlah kemiskinan perempuan yang mengalami nasib seperti Kartini kian banyak. Namun, pihak pemerintah belum bergeming dan memprioritaskan mensejahterakan perempuan. Karena kesejahteraan perempuan dengan akses kesehatan yang mudah untuk dijangkau dan murah, dengan pendidikan yang murah dan tidak diskriminatif, dengan kondisi alam yang kondusif untuk berlangsungnya kehidupan dan tidak membahayakan serta berlimpahnya bahan pangan akan mengurangi resiko perempuan mengalami persoalan kesehatan dan gizi buruk.&lt;br /&gt;Hak kesehatan reproduksi adalah menjadi salah satu bagian hak asasi manusia yang dijamin oleh berbagai perjanjian internasional, diantaranya seperti Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap perempuan (CEDAW). Namun hingga saat ini negara yang seharusnya pihak yang bertanggung jawab untuk memberi perlindungan tapi justru sebaliknya, lebih berpihak pada kaum pemodal dan pengusaha. Rakyat dibiarkan menjadi korban pencemaran limbah beracun pabrik-pabrik, rakyat dibiarkan menderita karena bencana kekeringan, bencana pemanasan global, atau pemerintah terkesan melindungi perusahaan yang mengakibatkan bencana Lumpur panas Sidoarjo.&lt;br /&gt;Persoalan kerusakan alam seperti krisis air telah menyumbang angka kematian sebesar 34,6% terhadap anak-anak khususnya pada negara dunia ketiga. Setiap tahunnya 5.000.000 anak meninggal karena terkena penyakit diare. Bekurangnya persediaan air bersih selain dikarenakan privatisasi air, pengalihan sumber air bagi AC bagi hotel-hotel mewah, air bagi industri perkotaan, air untuk coolant (cairan untuk pendingin mesin), atau terpolusinya air karena timbunan sampah-sampah industri, hingga tidak terelakkan mengorbankan kebutuhan air bersih bagi masyarakat luas dan anak-anak yang tak ubahnya sebagai tumbal atas nama pembangunan.&lt;br /&gt;Ancaman berbagai macam zat beracun yang disebabkan oleh limbah industri yang tidak bertanggung jawab terhadap kelangsungan ekologis akan menghancurkan kehidupan penduduk miskin. Dalam hal ini anak-anak sebagai korban pertama yang akan terkena dampaknya, karena anak-anaklah yang paling peka terhadap kontaminasi bahan kimia, selanjutnya pencemaran air yang disebabkan bahan kimia termanifestasi dalam kondisi kesehatan mereka. Misalnya, penyakit polio, diare, kolera akan semakin mudah menyerang anak, dimana mereka hidup pada situasi persediaan air yang tercemar.&lt;br /&gt;Maka, pada momentum Hari Anti Kekerasan Terhadap perempuan Sedunia ini, mari kita memaknainya dengan semangat untuk terus memperjuangkan kehidupan yang layak bagi masyarakat dan menuntut diberlakukannnya peraturan hukum yang memadai yang pro kepentingan perempuan dan kepentingan rakyat secara keseluruhan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-1175262293720855416?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/1175262293720855416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=1175262293720855416' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1175262293720855416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/1175262293720855416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/11/mempedulikan-hak-kesehatan-perempuan.html' title='Mempedulikan Hak Kesehatan Perempuan'/><author><name>NoPatriarKi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14290976586193210532</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-XNxSTcYUZVE/TtPBkC4PJRI/AAAAAAAAAXg/r-K1cXxepPs/s220/S4031303.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R0ZVx9HsQUI/AAAAAAAAAHc/f54fSBmcN8k/s72-c/history-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-684554579666440376.post-7178414401291857821</id><published>2007-11-20T14:05:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T05:42:51.111+07:00</updated><title type='text'>Remaja Indonesia Diteror!</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R0WWr9HsQSI/AAAAAAAAAHM/6PSUrJZZDGE/s1600-h/che+wisuda.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5135676631971283234" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_L35KGBQocRU/R0WWr9HsQSI/AAAAAAAAAHM/6PSUrJZZDGE/s200/che+wisuda.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oleh: Ken Ratih Indri Hapsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah seks bebas dikalangan remaja memang sudah menggejala di negeri ini. Di kabupaten Indramayu beberapa waktu lalu, diketemukan lagi rekaman adegan persetubuhan remaja SMP yang tersebar luas melalui internet maupun HP milik siswa. Maraknya rekaman adegan hubungan seks luar nikah yang dilakukan oleh para pelajar sebelumnya direspon bupati Indramayu. Untuk mengatasi hal tersebut bupati Indramayu menganjurkan supaya sekolah melakukan pemeriksaan keperawanan pada siswi SMU dan hasilnya harus disampaikan kepada orang tua murid yang bersangkutan. Tentu rencana tersebut langsung disambut protes keras masyarakat dan LSM perempuan. Pemeriksaan keperawanan yang—dipaksakan—sepihak oleh sekolah merupakan tindakan pelanggaran HAM berat dan justru melecehkan perempuan serta membuat kondisi kejiwaan para siswi tertekan dan malu.&lt;br /&gt;Menurut Giddens dalam Transformation of intimacy, keterbukaan seksual tidak seluruhnya sama dengan pembebasan. Keterbukaan seksualitas belum tentu sebuah kondisi yang membebasakan, tapi lebih merupakan cerminan gaya hidup liberal yang dipengaruhi oleh sistem ekonomi pasar bebas dikampanyekan secara halus melalui tanyangan televisi. Televisi layak diperhitungkan sebagai salah satu aktor yang bertanggung jawab, karena sebagai media yang secara intens dikonsumsi oleh masyarakat luas.&lt;br /&gt;Kaum remaja adalah kalangan yang paling banyak terkena imbas dari maraknya gaya hidup liberal. Kaum muda yang dalam fase pencarian jati diri akan mudah sekali terbawa arus. Terlebih dengan semakin menjamurnya tempat hiburan malam yang tak lain adalah dunia hedon dan rawan pergaulan bebas, juga gaya hidup yang diimitasi dari media TV yang sering menyuguhkan kehidupan para selebritis dimana gaya hidupnya berganti-ganti pasangan serta kawin cerai. Menurut Louis Althusser, seorang filsuf Prancis, media termasuk termasuk dalam kelompok institusi ideologis tertentu, selain tempat ibadah sekolah, dan lembaga keluarga.&lt;br /&gt;Yang terakhir misalnya konfrontasi tidak sehat yang diekspos secara vulgar oleh tayangan infoteimen. Misalnya, konflik yang terjadi antara Ahmad Dani dan Maya Ratu, sang istri, Maya tidak diijinkan pulang malam, dihukum dengan tidak diijinkan pulang ke rumah. Belum lagi penyataan Dani yang terkesan otoriter dan patriarkis meski dibungkus dogma agama, misalnya: “&lt;em&gt;Istri itu harus cantik dan nurut, percuma kalau cantik tapi tidak nurut suami&lt;/em&gt;”. Sayangnya sikap arogan Dani sama sekali tidak mempengaruhi kedigdayaannya dalam bermusik. Remaja-remaja putri justru berebut minta dicium oleh Dani yang saat itu posisinya sebagai komentator dalam acara Mamia.&lt;br /&gt;Sikap selalu ingin benar, sempurna dan dipuja merupakan karakter khas selebritis, meski dengan cara menjatuhkan dan melecehkan orang lain. Fenomena tersebut sedana dengan karya Fromm dalam bukunya yang berjudul akar kekerasan, bahwa watak masyarakat modern yang teralienasi dari dunia riil ditandai dengan sadisme dan narsisme akut. Manusia yang terjangkiti sadisme sulit konformis dengan mudahnya melecehkan untuk mempermalukan orang lain. Sedangkan narsisme adalah keyakinan subyektif mengenai kesempurnaan dirinya, keunggulannya atas orang lain, dan perasaan bangga atas citra dirinya, maka ia secara terus-menerus berusaha mempertahankan citra dirinya. Jika orang lain melukai perasaan narsistiknya dengan meremehkannya, mengkritik dan meralat ucapannnya yang salah maka akan direspon dengan kemarahan yang amat sangat dengan atau tanpa memperlihatkan kemarahannya itu.&lt;br /&gt;Selain TV, media cetak juga mengambil peran penting dalam pembentukan arah kesadaran masyarakat. Tidak diperhatikannya target konsumen oleh para penjual dan distributor majalah-majalah dewasa, membuat para remaja dengan mudahnya mendapatkan bahan bacaan yang tidak cocok dengan kebutuhan usia. Berbeda kondisi di Amerika, batasan umur konsumen bacaan, dikontrol secara ketat.&lt;br /&gt;Belum lagi cara penyampaian berita di tanah air pun tidak sesuai UU penyiaran. Seksisme dalam media yang tertuang dalam bentuk peyoratif, aturan semantik dan penamaan. Pada pemberitaan kriminal, melulu perempuan yang menjadi korban adalah suguhan di halaman utama dengan judul besar. Misalnya, &lt;em&gt;Janda Muda Imut-Imut Digagahi Sopir&lt;/em&gt;. Memperkosa sebagai tindakan asusila justru terdistorsi maknanya dengan kata-kata digagahi, seolah pelakunya adalah sosok yang kuat dan gagah, kemudian kata janda dan imut-imut sendiri menempatkan perempuan seolah hanyalah objek. Pemberitaan tersebut sama sekali tidak berpihak pada perempuan. Maka bukan mustahil, jika di kesehariannya semakin tinggi saja angka kekerasan terhadap perempuan.&lt;br /&gt;Mungkin perfilman tanah air mengalami kebangkitan secara kuantitas maupun substansi alur dan jalan cerita yang dimotori oleh sineas muda seperti Nia dinata, Mira Lesmana, Riri Reza dan sutradara muda lainnya melalui Soe Hok Gie, Berbagi Suami, Jablai dll. Namun berkebalikannya, lagu yang dipolulerkan oleh agen-agen industri musik tanah air akhir-akhir ini secara kualitas merosot tajam. Mafia dunia intertamen secara licik menancapkan kesadaran liberal, cuek, dan pasif di tempurung kepala masyarakat—terutama remaja—Indonesia. Misalnya lirik lagu yang diciptakan oleh Eros Sheila On 7: &lt;em&gt;‘…..hak manusia untuk berpesta..berpesta hinggga jadi gila...ampuni aku DJ di tengah lautan pesta..ampuni aku DJ di tengah para wanita’&lt;/em&gt;, Matta yang menyanyikan &lt;em&gt;Ketahuan&lt;/em&gt; dan Lobow lagunya yang berjudul &lt;em&gt;Salah&lt;/em&gt;, Kangen Band dengan lirik lagunya yang cengeng. Seolah-oleh di dunia ini kebutuhan yang paling mendesak di dunia remaja adalah pacaran, perselingkuhan dan balas dendam, Juga &lt;em&gt;Jadikan Aku Yang Kedua &lt;/em&gt;yang dinyanyikan Astrid dimana perempuan dengan kerelaan hati mau saja dimadu, sama sekali tidak punya posisi tawar selain mengabdikan diri pada cinta buta.&lt;br /&gt;Sedangkan dangdut remix pasca Kucing Garong diramaikan oleh Lolita yang menyanyikan Emang Gue Pikirin, dengan liriknya: &lt;em&gt;‘emang gua pikirin elu ga setia..elu punya gebetan baru gua juga bisa gitu, emang gua pikirin elu mau apa…elu punya cewek sepuluh..gua punya cewok seribu…e..ge pe- e ge pe.. emang gua pikirin..emang elu siapa…’ Keke &lt;/em&gt;dengan&lt;em&gt; Capek Dech,&lt;/em&gt; dengan liriknya&lt;em&gt;: ‘Capek dech ngurusin kamu… capek dech terserah kamu…capek dech bete bete aku, capek dech aku ga kuku..’&lt;/em&gt; . Sepintas lirik lagu yang dinyanyikan Lolita dan Keke menunjukkan kemampuan perempuan untuk tegar meski dikecewakan dan diabaikan, namun jika jeli maka lirik lagu tersebut tak ubahnya ekspresi kefrustasian (capek dech mikirin kamu) dan balas dendam (elu punya cewek sepuluh…gua punya cowok seribu).&lt;br /&gt;Yang menandakan digandrungi, lagu-lagu tersebut duduk di tangga lagu teratas, sebagai ringtone HP bahkan anak-anakpun pandai menyanyikannya, bukan hanya karena kosa katanya yang dangkal dan mudah dihafalkan, namun juga karena komposisi nada-nadanya yang dibuat sangat sederhana. Sedangkan lagu bertemakan cinta milik Iwan Fals yang lounching albumnya hampir bersamaan dengan lagu-lagu tersebut kalah populer. Kalah populer belum tentu karena kalah secara kualitas, namun lebih dipengaruhi pada pertarungan modal untuk mempromosikannya.&lt;br /&gt;Lirik-lirik lagu yang diciptakan dan dilantunkan sendiri oleh Iwan fals yang bertemakan cinta antara lain berjudul &lt;em&gt;Masih Bisa Cinta&lt;/em&gt;, berikut cuplikan liriknya: ‘&lt;em&gt;hari ini kau patahkan semangatku..entah mengapa ku masih bisa cinta..bisa cinta padamu..kumaafkan salahmu..berjanjilah..berjanjilah untuk datang padaku..lihat mataku..akan kucoba perhatikan kamu..datang padaku..rasa hatiku..akan kucoba terus cinta kamu. Air mata tak akan kuuraikan..hanya mengelus dada kumaafkan salahmu..berjanjilah untuk datang padaku&lt;/em&gt;. Relasi cinta yang tidak mungkin sempurna dan tanpa konflik dihadapi dengan sikap saling memaafkan, ketabahaan (air mata tak akan kuuraikan), dan yang terpenting instropeksi diri jelas tersirat dalam lirik lagu tersebut.&lt;br /&gt;’&lt;em&gt;...Kumaafkan..berjanjilah...&lt;/em&gt;’ demikian cuplikan lagu Iwan Fals yang berjudul &lt;em&gt;Masih Bisa Cinta&lt;/em&gt;. Kata berjanjilah memiliki makna penting untuk mempererat relasi, karena janji adalah awalan baru setelah relasi mengalami goncangan kepercayaan. Seperti yang diungkapkan Hannah Arendt, Bahwa lewat ke-awalan-baru itu diletakkan sebuah kemungkinan bagi manusia. Kemudian manusia akan membuahkan lagi awal baru-awal baru lainnya. Maksudnya, dengan menerjunkan diri ke dalam dunia, manusia akan selalu menjadi pemula, atau menjadi ”yang memulai”. Jadi, keterlahirannya selalu mengokohkan sebuah kelahiran berikutnya. Dalam hal ini kelahiran atau keterlahiran adalah sebuah keajaiban yang senantiasa datang untuk sejenak menyela perjalanan umat manusia. Maka keterlahiran adalah pengandaian ontologis yang harus ada, sehingga perbuatan atau tindakan manusia dapat terjadi. Karena kelahiran, tindakan manusia adalah unik dan istimewa. Sebab dengan kelahiran itu, tindakan manusia itu berarti memulai sesuatu yang baru, dan menggarisbawahi bahwa manusia itu adalah makhluk yang bisa menyatakan dirinya karena ia mengawali atau memulai kebaruan.&lt;br /&gt;Seperti album Iwan Fals sebelumnya, lagu yang berjudul &lt;em&gt;Negara&lt;/em&gt; mengkritik dengan keras kelalaian negara, berikut cuplikan liriknya: &lt;em&gt;negara haru bebaskan biaya pendidikan.. negara harus bebaskan biaya pendidikan., negara harus ciptakan pekerjaan negara harus adil tidak memihak.. itulah tugas negara.. itulah gunanya negara.. itulah artinya negara tempat kita bersandar dan berharap.. kenapa tidak..orang kita kaya raya baik alamnya maupun manusianya..hanya saja kita tidak pandai megolahnya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Sayang lagu-lagu Iwan Fals tersebut tergusur, kalah populer oleh lagu-lagu cinta yang cengeng dan memabukkan. Padahal usia remaja adalah usia puncaknya energi bersemayam, sangat percuma bila energi terbuang sekedar mengakomodasi watak sadis dan narsistik. Meskipun narsisme pada kondisi tertentu terpenuhi dengan pujian maupun usaha diri, namun jauh dari hakikat kemanusiaan—bahkan cenderung fasis, seperti yang dialami Himmler, Stalin, Hitler, terakhir penembakan massal oleh pelajar yang terobsesi paham nazi. Produktifitas yang jauh dari hakikat kemanusiaan adalah karya semu tak ubahnya seperti patung berhala yang disembah-sembah.&lt;br /&gt;Narsisme kelompok dikalangan remaja ditandai dengan maraknya geng, klub sepeda motor dan tawuran antar pelajar yang kian marak terjadi akhir-akhir ini, selain itu ketertekanan pelajar menghadapi UN ditandai dengan histeria massal. Perilaku pembebasan dari keterasaingan dan ketertekanan remaja selama ini belum memiliki wadah dan mekanisme yang sehat. Tentu bukan hal mustahil remaja Indonesia sehat jasmani dan rohani, kemenangan siswa-siswi di berbagai lomba olimpiade sains internasional adalah bukti konkrit bahwa manusia bukan diciptakan untuk menjadi buruk, tidak memiliki potensi dan kecakapan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/684554579666440376-7178414401291857821?l=ratih-indrihapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/feeds/7178414401291857821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=684554579666440376&amp;postID=7178414401291857821' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7178414401291857821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/684554579666440376/posts/default/7178414401291857821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ratih-indrihapsari.blogspot.com/2007/11/remaj
